
...~Happy Reading~...
Sementara itu, di balik dinding ruang tamu Khalifa yang mendengar percakapan antara suami dan ayah nya, hanya bisa terdiam dan menangis sambil memeluk perut nya. Bohong jika ia tidak sakit dan merindukan laki laki itu.
Khalifa sangat merindukan Hilal, termasuk Aca. Namun, entah mengapa hingga kini ia masih belum bisa menemui Hilal.
Rasa sakit dan kecewa nya sudah berada di ambang batas, dan meskipun Hilal sudah menjelaskan semuanya lewat abi Mike. Akan tetapi, Khalifa masih belum bisa menerima sepenuhnya.
Memang benar, manusia tidak ada yang bisa luput dari kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna, bahkan diri nya sekalipun juga pernah membuat kesalahan.
Namun, yang sangat di sayangkan oleh Khalifa, mengapa Hilal selalu mengabaikan nya dan bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di Pabrik yang mana ternyata laki laki itu berada dekat dengan wanita yang hendak di jodohkan oleh Mila.
Meskipun foto yang ia lihat beberapa hari yang lalu adalah hasil rekayasa Mila. Tapi tetap tidak membenarkan bahwa Hilal memang sering bertemu dengan Melly bahkan sering keluar berdua dengan dalih bertemu klien atau lain nya.
Di tambah Khalifa yang memang sedang hamil muda, membuat mood nya begitu sensitif dan berubah ubah. Jadilah, ia masih tetap pada penyendirian nya.
‘Sayang, bagaimana kabar kamu? Apakah kamu tidak merindukan Bunda?’ Khalifa bergumam dengan menahan tangis nya kala mengingat gadis kecil yang dulu selalu ia gendong dan ajak bermain, namun kini seolah menghilang dari dunia nya.
Begitu berat melepaskan Aca walau pun bukan darah daging nya, namun kasih sayang ia berikan kepada anak itu sejak bayi melebihi kasih sayang yang ia berikan pada ponakan nya sendiri. Mungkin ini sudah menjadi takdir bagi Khalifa, tapi mengapa semakin lama terasa begitu pahit.
...🍁🍁🍁...
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Aca saat ini tengah duduk seorang diri dengan kaki yang ia celupkan dalam air kolam ikan yang berada tepat di depan rumah Hasna. Sejak tadi gadis itu terus memikirkan ibu sambung nya, akan tetapi ia juga merasa takut untuk bertemu.
“Aca kangen sama Bunda, Tante. Tapi, Aca gak mau temu sama bunda,” gadis kecil itu bergumam lirih.
“Kenapa Aca gak mau ketemu sama Bunda? Apakah Bunda menyakiti Aca?” tanya Hasna dengan berhati hati.
Namun, Aca segera menggelengkan kepala nya, “Bunda gak sayang sama Ibu na Aca. Kata na tante, nanti Bunda mau buang Aca, Bunda gak sayang sama Aca juga, Bunda—“
“Sayang! Dengerin Tante Hasna ya,” Wanta itu kembai memeluk Aca dari samping, “Bunda Khalifa, bukan tidak menyayangi ibu Kirana, bukan. Bunda Khalifa juga tidak mungkin tidka menyayangi Aca apalagi sampai membuang Aca.”
“Coba Aca pikirin lagi, kapan kira kira, Bunda Khalifa marahin Aca? Inget gak, waktu dulu Aca sering main ke kamar Bunda di rumah Omma Chila? Waktu Aca rusakin Tab milik Bunda, ada gak Bunda marahin Aca? Ngaduin Aca ke Ayah, ada gak Sayang?”
“Terus lagi, saat Aca sakit. Siapa yang nemenin Aca? Yang gendong Aca dan nyuapin Aca makan? Kan waktu itu Aca gak mau sama Ayah.”
Aca terdiam, mencoba kembali mengingat dan mencerna semua yang di ucapkan oleh tante Hasna. Yang mana memang itu semua benar, tidak pernah bunda Khalifa marah padanya, karena begitu besar rasa kasih sayang yang di berikan wanita itu pada Aca.
“Sayang, Aca. Terkadang, ada hal yang orang besar tidak bisa jelaskan kepada anak kecil seperti Aca. Tapi, tante yakin, kelak saat Aca sudah besar. Aca pasti paham dan akan mengerti mengapa bunda Khalifa menurunkan foto ibu Kirana."
"Tapi percayalah sayang, bukan berarti bunda Khalifa tidak menyayangi ibu Kirana. Kami semua sayang sama Ibu dan juga Aca, hanya saja jika boleh Tante berpesan kepada Aca. Simpan foto itu di kamar Aca, biar Aca bisa lihat foto Ibu terus.” Jelas tante Hasna panjang lebar berusaha meyakinkan keponakan nya.
...~To be continue .......