Balas Dendam Sang Mafia (Mencintaimu Atau Membunuhmu)

Balas Dendam Sang Mafia (Mencintaimu Atau Membunuhmu)
End


Reyhan tidak membawa Jenny pulang ke Indonesia, tapi membawanya liburan ke Jerman, negara yang awalnya akan menjadi sebuah tempat pelarian untuk mereka. Tapi mereka memilih untuk tidak lari tapi memilih untuk menghadapinya tetua bersama-sams saat tetua masih hidup kala itu. Karena Andreas sudah mati dan Leon mendekam di penjara, tetua terpaksa menerima kehadiran Jenny, bagaimanapun juga Reyhan bagi tetua adalah salah satu orang terpenting baginya, bahkan Jenny yang merawat tetua sampai menghembuskan nafas terakhirnya. Setidaknya Jenny bisa sedikit menebus kesalahan sang ayah pada tetua Dego.


Hal yang pertama ingin Jenny kunjungi adalah adalah Gerbang Brandenburg, sebuah gerbang yang indah dan terdapat empat kuda yang menarik kereta yang ditunggangi oleh dewi kemenangan bertengger di bagian atasnya.



Mereka tak hentinya mengabadikan moment mereka berdua dalam sebuah kamera. Kini Reyhan tidak canggung lagi saat di foto, dia memeluk Jenny dengan erat, bahkan tiada henti mencium kening, pipi, dah bibirnya Jenny . Dia begitu sangat merindukan sang istri.


Rencananya mereka akan satu bulan tinggal disana, selama menikah mereka belum pernah berbulan madu, karena itu Reyhan ingin mengganti moment bulan madu yang tertunda itu sekarang.


Malamnya, mereka menginap di sebuh hotel mewah di sebuah pulau kecil yang terletak di Danau Constance . Pulau itu terkenal dengan nama Lindau.



Jenny membuka jendela kamar hotel, memandangi keindahan pemandangan malam hari yang indah di negara yang dijuluki fatherland itu.


Dia memakai lingerie yang begitu sangat sek si untuk menyenangkan sang suami. Lalu Reyhan memeluknya dari belakang, dia terus saja mencium bahu Jenny.


"Besok kau ingin pergi kemana?"


"Kemana saja, asalkan terus bersamamu." Jenny membalikkan badannya. Membuat mereka saling berpandangan.


Jakun Reyhan naik turun memperhatikan penampilan sang istri, begitu sangat sek si apalagi memperlihatkan bela han di dadanya, dua benda favoritnya. Dia sudah berpuasa selama 2 bulan ini.


"Aku memiliki kejutan untukmu!" Kedua tangan Jenny melingkari leher Reyhan dengan manja.


"Apa itu?" Reyhan penasaran kejutan apa yang akan diberikan Jenny padanya.


Jenny menujukan sebuah testpack, Reyhan langsung merebut testpack itu dari tangan Jenny, dia berseru saat melihat ada dua garis merah di testpack itu, "Kau hamil?"


Jenny mengangguk dan tersenyum lebar.


"Wah aku akan menjadi seorang ayah!" seru Reyhan, Reyhan langsung memeluk Jenny dan mencium wajahnya berkali-kali, saking senangnya. "Kenapa baru memberitahuku?


"Karena aku ingin memberikan kejutan ini secara langsung,"


"Berapa usia kandunganmu?" Reyhan berjongkok dan mengusap perut Jenny lalu menciuminya beberapa kali. Perut Jenny masih rata.


"Mau memasuki tiga bulan, sepertinya aku hamil beberapa minggu saat mau berangkat jadi Dokter relawan."


Reyhan berdiri kembali, membelai rambut Jenny dengan lembut "Setelah ini kau jaga kesehatanmu, jaga banyak beraktivitas."


Reyhan mencium rambut Jenny, dia benar-benar bahagia dengan kejutan yang diberikan oleh Jenny. Mereka tersenyum saling berpandangan dan mulai menyatukan bibir mereka, dengan lembut, dan menyesapnya dengan pelan. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut sampai Reyhan mencumbunya dengan rakus. Rasanya sangat lapar seperti sudah lama dia tidak makan, dia terus me-lu-mat bibirnya dengan rakus. Sampai nafas mereka saling berbaur dengan begitu berat.


Reyhan langsung melahap pa yu dara Jenny dengan rakus seperti bayi yang sudah sangat kehausan. Sudah dua bulan dia tidak menyentuh dua benda favoritnya itu. Dia semakin berutal menyesap bongkahan kenyal itu. Me-lu-matnya dan terus menyedot pu tingnya dengan kencang.


"Akhh... Rey, pelan-pelan." protes Jenny.


"Aku sangat lapar, ingin terus memakanmu. Apalagi anak kita pasti ingin sekali bertemu ayahnya!" Bisik Reyhan sambil kembali melahap su su yang kenyal itu. Sementara tangannya, melesat dengan bebas ke bawah , bermain disana, bergerak maju mundur dengan pelan.


"Akhhh... " Sudah lama Jenny tidak merasakan sentuhan itu.


Reyhan menggerakan jemarinya dengan ritme cepat, maju mundur dengan sempurna, Jenny semakin terbuai dibuatnya, merasakan kegelian di dada dan d bawah sana, sampai dia menggerinjal dengan hebat, terus memeluk kepala Reyhan yang tak ada hentinya menyedot pu tingnya, seakan terus saja merasa kehausan.


Jenny sedikit membuka mulut dengan mendengadah ke atas merasakan dirinya terbang ke angkasa. Di dadanya tidak hentinya Reyhan menyesapnya dengan kuat, sementara dibawah sana begitu sangat mendominasi permainannya sampai Jenny mengerang mehanan ada yang keluar dari miliknya.


"Akh... Rey. "


Tanpa menunggu lama Reyhan langsung kebagian intinya, menyatukan kedua tubuh mereka dengan penuh cinta dan naf su yang membara.


Reyhan langsung menggekan pinggulnya dengan cepat penuh berirama, di iringi dengan suara de sa han indah dari Jenny dan suara erangan yang terus menerus keluar dari mulutnya. Malam ini sungguh rasanya sangat berbeda, begitu sangat bergerola di setiap sudut jiwa terus membuat mereka melayang, mungkin karena sudah lama tidak saling menyentuh membuat rasa rindu itu begitu mengebu.


"Akhh... Akhh... Akhh... "


******* itu menggema di kamar hotel yang mewah itu.


Rasa rindu sedikit terobati dengan kedua tubuh itu menyatu, Reyhan mencium kembali bibir Jenny, sementara yang dibawah terus mendominasi bergerak tiada henti, maju mundur dengan sempurna, Reyhan terus mengerang seakan milik Jenny terus memijatnya dengan lembut , rasanya begitu membuatnya terus melayang, "Artrgtttt Jenny!"


Jenny mengimbangi permainan Reyhan, memeluk dadanya dengan kuat, dia tidak ada hentinya mendesah beberapa kali merasakan miliknya dihantam dengan kuat terus menerus begerak disana. Begitu memabukan. Reyhan tak ada hentinya membawa dirinya terbang melayang-layang tak tentu arah, di bawah sana terus bergerak membuatnya terus men de sah menyebut nama pria yang dicintanya.


Sampai akhirnya mereka mencapai pelepasan mereka secara bersamaan.


"Akhhh.... Rey...han!"


Reyhan mengecup bibir Jenny.


"Aku mencintaimu, Jenny! Begitu sangat merindukanmu!" Reyhan mengatakan dengan lembut dan mencium kening Jenny, "Aku ingin kita hidup bersama selamanya denganmu, aku tidak akan membiarkan lagi kamu terluka, dan aku juga berusaha untuk tidak terluka demi kamu. "


Jenny tersenyum dengan penuh rasa bahagia mendengarnya, "Aku juga sangat mencintai kamu, Rey. Aku juga ingin sampai tua kita selalu bersama selamanya dengan anak-anak kita nanti."


"Tentu saja!"


Mereka berciuman dengan penuh mesra dan mengulang kembali ade gan pa nas di ranjang itu, menyalurkan seluruh kerinduan yang mereka miliki.


...____________TAMAT_____________...