
Hari ini Reyhan memenuhi keinginan Jenny untuk berkencan dengannya, dia bukan sosok pria romantis, dia membiarkan saja Jenny yang mengatur acara kencan ini dan terserah dia membawanya kemana.
Jenny membawa Reyhan ke Mall, dia terus bergelayut manja menggandeng tangan yang kekar itu, sementara Reyhan tampak kaku.
Jenny menarik kedua pipi Reyhan, "Tersenyumlah, hari ini aku sedang jalan bersama suamiku bukan bodyguardku."
Reyhan terpaksa tersenyum pada Jenny dan merangkul tubuh mungil itu.
Jenny memilih-milih pakaian disana, dia memilih pakaian untuk Reyhan. Dan memilih kemeja untuk Reyhan, "Kemeja ini cocok untukmu."
"Aku memiliki banyak pakaian di rumah. Lebih baik kamu memilih baju untukmu sendiri."
"Tapi aku ingin memilih satu saja untukmu, boleh kan?"
Reyhan terpaksa menganggukan kepala, "Ya sudah."
Sepertinya dia benar-benar sudah di butakan cinta. Bahkan rasa dendam yang dia pendam selama 9 tahun ini hancur begitu saja semenjak kehadiran Jenny. Dia ingin menjadi pria biasa-biasa seperti dulu, yang hidup bahagia tanpa ada yang mengancam nyawa mereka.
Kemudian Jenny memilih baju untuknya dan beberapa kali Reyhan terpesona olehnya saat Jenny keluar dari ruang ganti dan meminta pendapat padanya apakah gaun yang dia pakai cocok untuknya.
Lagi-lagi Reyhan mengatakan kata yang sama, "Sangat cocok untukmu. Beli saja!"
Semua pakaian yg Jenny pakai memang selalu cocok untuknya, Jenny selalu terlihat sangat cantik memakai pakaian mana pun.
Kini Jenny menunjukkan beberapa lingerie pada Reyhan yang sangat sek si jika Jenny memakainya, jakun Reyhan naik turun membayangkan Jenny memakai pakaian haram itu.
"Jangan coba disini!" Reyhan mengatakannya dengan nada tinggi, dia tidak mau ada satu orang pun yang melihat tubuh Jenny yang terbuka seperti itu, selain dirinya.
"Tentu saja tidak," Jawab Jenny.
Masih di Mall, Jenny mengajak Reyhan berfoto bersama di studio foto.
"Aku tidak suka di foto." Reyhan menolak ajakan Jenny.
"Kita harus memiliki foto kenangan kita, bagaimana kalau kau tiba-tiba merindukan aku?"
"Untuk apa merindukanmu, kau akan tetap disisiku." Reyhan tetap menolak untuk di foto.
"Tapi aku yang akan merindukanmu, ada kalanya kamu pergi seperti minggu kemarin."
Lagi-lagi Reyhan pasrah saja menuruti keinginan Jenny, dia hanya diam memasang wajah dingin dan kaku saat kamera memotret dirinya.
"Ayolah romantis sedikit!" pinta Jenny dengan manja.
Reyhan terpaksa memeluk Jenny dari belakang dan tersenyum, pose seperti itu akhirnya bisa berhasil di abadikan dalam sebuah foto.
Setelah dari Mall, Jenny mengajaknya ke cinema drive in, disana bisa melihat film di mobil masing-masing.
"Aku tidak suka nonton film." protes Reyhan.
Reyhan mengeluh, "Apalagi film romantis, aku tidak mau. Nonton film action saja."
"Bagiku melihatmu itu sudah seperti nonton film action. Sekali-kali kau harus nonton film romantis, ini film komedi romantis, pasti kamu akan terhibur."
Reyhan mengalah saja, dia menuruti kemauan Jenny.
Saat menonton film... Reyhan tak bisa menahan tawa karena film yang di tonton begitu sangat menggelitiki perutnya.
Jenny tidak fokus menonton film, dia lebih fokus memperhatikan Reyhan, baru kali ini Reyhan tertawa seperti itu, dia tersenyum lega melihatnya.
Aku tidak tau sekarang ini perasaanmu seperti apa padaku, kadang aku berpikir kau mencintaiku tapi apa mungkin kamu bisa mencintai anak dari orang yang telah menghancurkan hidupmu. Aku tidak akan menuntut dan menanyakannya, aku hanya ingin mengobati lukamu, aku benar-benar tidak peduli nasibku berakhir seperti apa nanti. Yang penting aku mencintaimu, Reyhan.
Sayangnya film yang mereka tonton berakhir dengan sad ending, padahal dari awal sangat seru dan bisa membuat penonton tertawa. Seorang wanita mengorbankan nyawanya untuk kekasih tercinta. Membuat Jenny tidak bisa menahan air matanya, dia sangat menghayati scene akhir di film itu.
"Itu hanya film, kenapa kau harus menangis?" Reyhan mengusap air mata Jenny.
"Kau sama sekali tidak tersentuh?" Jenny merasa kecewa karena Reyhan tidak bisa menghayati pengorbanan peran wanita di film itu.
"Tidak!" jawab Reyhan dengan santai.
"Bagaimana kalau aku ada diposisi seperti itu? Kasihan sekali gadis itu ternyata pengorbanannya tidak di anggap sama sekali."
Reyhan menatap tajam padanya, "Aku tidak akan membiarkannya."
"Kenapa?"
Reyhan tiba-tiba memegang wajah Jenny dan menatapnya dengan tatapan begitu dalam "Karena aku mencintaimu, aku tidak akan membiarkan kamu terluka. Jadi jangan berpikir untuk berkorban untukku." Reyhan menyatakannya dengan sungguh-sungguh.
Perkataan itu membuat Jenny terbelalak, tak mempercayai dengan apa yang dia dengar dari mulut Reyhan.
Reyhan mengecup bibir Jenny sebentar, "Aku mencintaimu." Dia mengulang perkataannya lagi. Dia menatap dengan intens pada Jenny yang masih shock dengan apa yang diucapkan Reyhan.
"Besok, setelah kau bertemu ayahmu. Ayo kita pergi bersama ke Jerman, kita akan tinggal bersama disana dan mengganti identitas kita."
Jenny masih diam, dia masih tidak mempercayai ucapan Reyhan. Dia takut ini hanyalah mimpi.
Reyhan menyatukan kedua bibir mereka, ciuman itu begitu sangat lembut membuat Jenny memejamkan matanya mengkhayati ciuman itu. Perlahan dia membuka mulutnya, membiarkan Reyhan menerobos masuk ke dalam, saling berbelit lidah dengan sempurna, Reyhan menekan tekuk Jenny untuk semakin memperdalam ciuman itu.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...