
Jenny tidak mau menerima kartu black card yang diberikan Reyhan padanya, "Aku tidak akan pergi, waktu kontrak kita tinggal dua minggu lagi. Kau melanggar aturanmu!" Jenny mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir.
Aku ingin membuat kamu bahagia dulu Rey, aku ingin membuat kamu tersenyum. Agar aku tidak merasa bersalah padamu. Aku tidak peduli kedepannya aku akan bernasib bagaimana nanti sekalipun aku mati ditanganmu. Yang penting aku bisa mengobati lukamu. Aku janji aku akan membujuk ayah untuk menyerahkan diri pada polisi.
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran!" Reyhan menatap Jenny dengan tatapan dingin. "Bukankah kau ingin bebas? Kau bisa jadi mengejar cita-citamu untuk menjadi dokter yang hebat, kau bisa menikmati hidupmu semaumu, dan... "
Reyhan menghela nafas sebentar, "Kau bisa menikah dengan pria yang baik-baik yang masa depannya terjamin."
"Aku tidak akan pergi! Aku masih mau tinggal denganmu, bahkan kau belum menepati janjimu untuk memasak bersama denganku." Jenny tetap pada pendiriannya.
Reyhan sedikit menundukan kepala, mengusap kasar wajahnya. "Di luar sana ada bodyguard yang menunggumu, aku akan hitung sampai ketiga. Kalau kau tidak pergi juga aku tidak melepaskanmu selamanya."
"Tapi Rey... "
Reyhan mulai menghitung, "Satu!" Reyhan mengacungkan jari telunjuknya.
Reyhan menghela nafas berat karena Jenny malah diam tak ada tanda-tanda dia akan pergi.
"Dua" Kini Reyhan mengacungkan jari tengahnya.
Tapi Jenny tak bergeming, dia malah terdiam memandanginya, membuat Reyhan gugup.
"Ti.. "
Belum juga ucapan Reyhan selesai, Jenny malah mengecup bibirnya sebentar, membuat Reyhan terdiam merasakan bibir Jenny menempel di bibirnya.
"Aku sudah bilang tidak akan pergi, lebih bagus jika aku menjadi istrimu selamanya. Bahkan kita belum pernah berkecan sama sekali. Hanya berhubungan ba dan di atas ranjang saja, sangat tidak asik. Dalam pernikahan itu banyak sekali yang harus kita lakukan, Rey." Jenny malah tersenyum manis padanya.
"Aku belum selesai mengucapkan kata tiga." Reyhan memperlihatkan kedua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah, pertanda dia baru menghitung sampai dua.
"Nah tadi kamu mengucapkan kata tiga." seru Jenny. Jenny memegang tangan Reyhan dan mengangkat jari manisnya, hingga ada tiga jari yang terangkat dan menunjukkannya pada Reyhan,
"Sekarang sudah tiga!" Jenny memegang tangan Reyhan. Lagi-lagi Jenny tersenyum manis pada Reyhan. Jenny memang sengaja menyembunyikan kesedihannya, dia tidak ingin Reyhan tau bahwa sebenarnya Jenny tau apa niat Reyhan menahannya untuk terus disisinya.
Reyhan dibuat salah tingkah oleh sikap Jenny, dia segera menarik tangannya dari gengam Jenny dan pergi menuju kamar, tapi Jenny malah mengikutinya.
"Tidur denganmu, bukan kah kau sudah meresmikan pernikahan kita bahwa kita akan hidup bersama selamanya."
"Aku akan menarik ucapanku kembali!"
"Tidak bisa, aku sudah mengingat ucapanmu di kepalaku. "
Pada akhirnya mereka pun tidur bersama, Reyhan susah terbiasa kalau tidur memang tidak mengenakan baju, hanya menggunakan celana panjang saja, agar tidak gerah walaupun kamar itu berAC. Tapi kali ini dia tampak kegerahan karena Jenny terus memeluk tubuhnya, ingin sekali rasanya dia menerkam wanita itu tapi dia sudah terlanjur terus bersikap dingin padanya dari tadi.
"Rey!"
"Apa?"
"Tubuhmu banyak bekas luka, kau pasti sangat kesakitan." Jenny mengusap-usap dada Reyhan yang bidang itu.
"Tidak. Aku sudah terbiasa terluka." Reyhan menarik nafas berat, tangan halus itu mambuat tubuhnya terasa panas "Lebih baik kau tidur."
Jenny mulai menguap, "Tentu saja, aku akan tidur." Jenny mempererat dekapannya memeluk Reyhan.
Sementara Reyhan hanya terdiam dengan kondisi badan menegang, sampai akhirnya dia tidak mendengar Jenny bersuara lagi.
"Dia benar-benar sudah tidur!" gumamnya. Perlahan-lahan Reyhan mengecup rambut Jenny dengan lembut dan mendekap tubuh mungil itu.
Aku mencintaimu, Jenny. Aku ingin sekali mengucapkannya, tapi memang lebih baik aku tidak mengatakannya padamu, kau tidak perlu tau isi hatiku. Aku takut aku makin tergila-gila padamu dan semakin sulit untuk berpisah denganmu, karena aku belum tau apa yang harus aku lakukan pada hubungan kita ini.
...****************...
...Maaf gak dulu adegan ranjang part ini soalnya pikiran othor lagi loading ini hehe......
...Mohon maaf kalau up nya gak bisa banyak, othor belum bisa bagi waktu antara menulis dan pekerjaan. Mohon dimaafkan othor gadungan ini 🙏🙏😁...
...Jadi ampun jangan demo othor, othor suka grogi kalau di demo para teteh yang cantik luar biasa 😁🙏...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah dan terimakasih untuk yang sudah memberikan itu semua. Othor selalu baca komen kalian, terimakasih atas komenan yang selalu membuat othor semangat 🙏🙏...