Balas Dendam Sang Mafia (Mencintaimu Atau Membunuhmu)

Balas Dendam Sang Mafia (Mencintaimu Atau Membunuhmu)
Masakan Perdana


"Berapa lama kamu akan tinggal di kota B?" tanya Andra sambil membantu istrinya mengemasi pakaiannya ke dalam tas.


"Entah lah, sampai penyelidikanku selesai." jawab Klara dengan datar.


Andra memeluk Klara dari belakang, dia menciumi pundak Klara, "Aku pasti akan sangat merindukanmu, Klara." Dia membalikan badan Klara untuk mencium bibirnya, tapi Klara sedikit memundurkan badannya.


"Hari ini aku lelah sekali, maafkan aku!"


Andra mengangguk dengan penuh pengertian, "Hmm ya susah tidak apa-apa."


Maafkan aku, aku sudah berusaha untuk menerima kamu tapi tetap saja pikiranku tertuju pada Reyhan apalagi sekarang setelah aku tau semuanya tentang Reyhan. Tak bisa kah aku mengembalikan keadaan seperti dulu, saat Reyhan selalu ada untukku dan membuatku bahagia. Kenapa rasanya tidak adil untukku? Anak dari pembunuh ayahku harus hidup bahagia dengan Reyhan, sementara aku terpuruk seperti ini.


****************


Pagi ini... Jenny sedang mengganti perban yang ada di bahu belakang Reyhan, bekas luka tusukan itu sudah mengering. Setelah itu dia mulai mengobati wajah Reyhan yang terkena pukulan dari Alex kemarin.


Jenny tersenyum-senyum memandangi wajah Reyhan yang masih tertidur, saat tidur pun Reyhan sangat terlihat tampan, pesonanya sungguh tak ada habisnya.


"Rey, bangun sudah pagi!" Jenny membangunkan Reyhan, mengguncang bahunya dengan lembut.


Jenny tidak tau bahwa semalam Reyhan tidak bisa tidur gara-gara mimpi buruknya. Secara perlahan Reyhan mulai membuka matanya, dia tersenyum samar merasa lega karena wanita dihadapannya itu baik-baik saja.


"Sepertinya semalam kau memelukku begitu erat sampai aku hampir tidak bisa bernafas." goda Jenny.


"Hmm aku tidak ingat." jawab Reyhan dengan memasang wajah datar, dia malu untuk mengakuinya, dia segera pergi menuju kamar mandi.


Selama mandi dibbawah guyuran air shower, bayangan mimpi buruk semalam masih saja menghantuinya, dia tidak sanggup jika membayangkan Jenny akan terluka seperti itu apalagi sampai Jenny harus kehilangan nyawanya.


Setelah selesai mandi , Reyhan melihat Jenny yang masih duduk di tepi kasur, dia segera berdiri saat melihat Reyhan keluar dari kamar mandi. Reyhan tubuhnya hanya terbalut handuk saja dari pinggag ke pahanya. Tubuh pria itu tampak sangat sexy dan menggoda. Sampai Jenny menelan salivanya dengan kasar.


"Rey, hari ini aku belajar memasak untukmu." kata Jenny sambil tersenyum ceria. Sikapnya telah kembali seperti dulu, dia memang menginginkan Jenny selalu bersikap seperti itu.


Reyhan tercengang mendengarkan ucapan Jenny, "Wah benarkah?"


"Hmm iya karena itu kamu harus bersiap-siap untuk mencicipi masakan dariku." Jenny tersenyum sambil mengedipkan matanya, wanita itu selalu saja terlihat cantik dan manis.


Jenny berniat untuk ke luar dari kamar tapi Reyhan menahannya dengan memeluk badan Jenny dari belakang, membuat Jenny terpaku dan merinding karena badan Reyan masih basah.


"Aku hanya pergi sebentar, jaga dirimu baik-baik. Sandi akan menjagamu dan jangan pernah mencoba untuk kabur mentang-mentang aku tidak ada." Reyhan mengatakan itu dengan nada mengancam.


Reyhan tertegun mendengarnya, rupanya Jenny begitu sangat mempercayainya. Dia juga tau Jenny memiliki perasaan padanya dari Sandi.


Setelah berpakaian lengkap, dengan bersemangat Reyhan pergi ke ruang makan, dia sangat penasaran dengan masakan Jenny, Kira-kira Jenny belajar memasak apa dan bagaimana rasanya.


"Ta-da." Jenny meletakkan satu piring yang berisi terlur ceplok.


Reyhan melongo melihatnya, "Jadi kamu belajar memasak telur ini?" Reyhan menunjuk telur ceplok di hadapannya.


"Iya, aku sudah bilang aku tidak bisa memasak. Ini masakan perdana aku. Seharusnya kamu senang!"


"Tentu saja aku harus senang." Reyhan mengatakan itu dengan datar, dia memotong telur itu dengan garpu dan pisau, lalu mulai mencicipinya, ternyata rasanya sangat manis. Membuatnya terasa enek. Rupanya Jenny tidak bisa membedakan gula pasir dan garam.


"Bagaimana?" tanya Jenny sambil tersenyum manis, dia menopang dagunya dengan tangan sampai terlihat begitu sangat cantik.


"Emmm... enak!" Reyhan tak ingin membuat Jenny kecewa. Dia terpaksa memakan telur dadar yang manis itu sampai habis dan berusaha menahannya agar tidak keluar lagi.


Jenny tersenyum bahagia karena bisa memasak untuk Reyhan, "Wah pasti masakanku enak sekali ya sampai kamu memakannya dengan habis. Nanti aku masak lagi untuk kamu."


"Oh tidak perlu!" Reyhan merespon perkataan Jenny dengan cepat.


Jenny mengernyitkan keningnya, "Kenapa?"


Reyhan mencoba untuk mencari jawaban untuk tidak menyakiti Jenny, "Emm... nanti saja biar kita masak bersama."


Jenny tersenyum lebar mendengarnya, dia sangat bahagia karena Reyhan mengajaknya untuk masak bersama , dia tidak sabar untuk menantikan hari itu.


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...