
Paginya...
Jenny terbangun dari tidurnya, namun kesadarannya belum sepenuhnya 100 persen, dia meraba-raba ke samping untuk meraih guling tapi yang di dapati sebuah kulit yang berotot di sampingnya.
Jenny sedikit terbelalak saat menyadari kalau dia sedang tidur di samping Reyhan, rupanya semalam Reyhan membawanya tidur di kamarnya.
Jenny tersenyum memandangi wajah Reyhan yang masih tertidur hanya memakai celana panjang saja, sementara dia tidak memakai baju sama sekali samping otot-otot perutnya tampak begitu menggoda.
Tanpa di sadari Jenny mengecup bibir Reyhan, sampai Jenny mengutuk dirinya sendiri, Apa yang kau lakukan Jenny? Jenny segera melepaskan kecupan itu.
Namun Reyhan menahannya, dia menahan tengkuk Jenny untuk terus membiarkan bibir Jenny menempel di bibirnya lalu saling membuka mulutnya untuk memperdalam ciuman itu. Jenny kaget saat mendapatkan balasan ciumannya. Dia pikir Reyhan masih tidur.
Jenny segera melepaskan ciuman itu, "Rey kamu sudah bangun?"
"Bukan sudah bangun tapi tidak bisa tidur!" ucap Reyhan dengan nada menyentak.
"Kenapa?" Jenny penasaran mengapa Reyhan tidak bisa tidur.
"Tentu saja karena... " Reyhan tidak meneruskan perkataannya.
Jenny mengernyitkan keningnya, "Karena apa?"
Reyhan menggeleng, "Ah tidak lupakan."
Karena tidak ada pembicaraan penting lagi, Jenny memilih untuk pergi dari kamar Reyhan tapi Reyhan malah menahannya dia memeluk badan Jenny dari belakang dan tangannya melingkari perutnya "Kau mau kemana? Kau tidak bertanggung jawab sekali setelah mencuri-curi kesempatan untuk menciumku!"
Jenny kelalabakan mendengarnya, "A-aku gak bermaksud kurang ajar, beneran! Mungkin karena aku masih mengantuk jadi tidak sengaja mencium kamu!"
Reyhan mencium leher Jenny bagian belakang, membuat Jenny kegelian "Setiap kamu melakukan kesalahan, kamu harus di hukum!"
"Mana bisa begitu? Hanya perkara ciuman saja masa harus di hukum, bahkan kita sudah melakukan lebih dari ciuman!" sewot Jenny.
"Oke, kita bahas hukumannya nanti aja, aku mandi mandi dulu. Bukannya aku mulai hari ini jadi dokter pengganti di Markas Satu?" Jenny memilih untuk pergi sebelum di terkam lagi oleh Reyhan.
Namun Reyhan menggendong Jenny membawanya ke kamar mandi, "Rey, kamu mau bawa aku kemana?"
"Bukannya kamu mau mandi, aku akan memandikanmu!" ucap Reyhan dengan santai.
"Tapi... "
"Jangan menolak!" Reyhan menyalakan air shower membahasi tubuh mereka, Reyhan segera membuka kancing baju Jenny satu persatu.
Padahal Reyhan sudah melihat semuanya di tubuh Jenny tapi tetap saja dia merasa malu jika Reyhan memandangi seluruh tubuhnya, apalagi dalam keadaan berdiri. Jenny menahan tangan Reyhan, "Biar aku mandi sendiri, kau tidak perlu memandikanku."
Reyhan tak menggubris ucapan Jenny, malah dia dengan cepat membuka seluruh pakaian Jenny sampai tubuh itu begitu terlihat sangat polos tanpa sehelai kain pun.
Tangan kanan Jenny menutupi pa yu daranya sementara tangan kirinya menutupi bagian bawahnya. "Rey, aku malu!"
"Aku sudah melihat semuanya jadi gak perlu malu." Reyhan membilas sabun cair di tangannya dan mulai membersihkan tubuh Jenny dengan tangannya.
Reyhan memeluk Jenny dari belakang sambil menggosakan tangannya yang dipenuhi busa sabun mandi ke perut Jenny dan menciumi leher Jenny dari belakang.
"Akhh... Rey...." Jenny mendesah saat Reyhan membersihkan dia bongkahan kenyal di dadanya. Reyhan terus mere mas nya dan memilin putingnya dengan tangannya yang di penuhi busa sabun. Sensasinya sangat luar di dukung dengan aliran air yang terus mengguyur tubuhnya.
Reyhan sengaja menggunakan air dingin untuk meningkatkan gairah mereka. Reyhan membalikan tubuh Jenny sehingga berhadapan dengannya, dengan nafas yang bergitu berat dia membersihkan sabun yang menempel di seluruh tubuh Jenny dengan aliran air shower sampai tubuh itu bersih dan sangat wangi.
Reyhan merengkuh pinggang Jenny mengikis jarak di antara mereka dan langsung mencium bibir Jenny dengan penuh naf su. Dia mendorong tubuh Jenny ke dinding kamar mandi dan mencium bibirnya kembali.
Jenny sudah menduga pasti bukan hanya sekedar memandikannya saja pagi ini.