Balas Dendam Sang Mafia (Mencintaimu Atau Membunuhmu)

Balas Dendam Sang Mafia (Mencintaimu Atau Membunuhmu)
Hal Yang Sulit Dimengerti


Reyhan? Kenapa dia bersama Jenny? Ada hubungan apa diantara mereka berdua? Hati Klara bertanya-tanya.


Sementara Reyhan langsung memalingkan muka, berpura-pura tidak mengenal Klara.


Jenny menyipitkan matanya, berusaha untuk mengingat siapa orang yang sudah memanggil namanya itu, "Emm... kak Klara?"


Rupanya Jenny tidak melupakan wajah Klara, padahal mereka sudah lama tidak bertemu, dia bangkit dari duduknya dan sedikit berlari menghampiri Klara, "Ini benar kan ka Klara?" seru Jenny.


"I-ya, benar, aku senang kau sama sekali tidak melupakan aku Jen." Klara saat ini sedang berdiri di belakang Reyhan, Klara terus melirik punggung Reyhan, dia tidak mengerti kenapa Reyhan bisa makan bersama Jenny, bukan kah Reyhan dulu terus saja mengatakn bahwa dia di fitnah Andreas? Tapi kenapa bisa makan malam bersama anaknya?


"Aku ingin bicara secara pribadi sama kamu, Jen, boleh kan?" tiba-tiba Klara mengatakan itu.


Jenny sedikit mengernyitkan keningnya, dia tidak mengerti kenapa Klara terlihat serius sekali ingin bicara berdua dengannya, "Emm... boleh ka,"


Klara memilih untuk memesan satu meja lagi agar dia bisa leluasa berbicara dengan Jenny.


Saat itu Klara dan Jenny sedang duduk di meja yang berbeda dengan Reyhan dan Andra, "Kenapa kamu bisa kenal dengan pria itu, Jen?"


"Emm... maksud kak Klara itu Reyhan?"


Klara mengangggukan kepala.


Jenny berbicara jujur saja pada Klara , "Kita sudah menikah, Kak."


Klara terkejut mendengarnya sampai dia membelalakan mata saat mendengar ucapan Jenny.


"Kalian menikah? Bukannya kamu akan menikah dengan calon pejabat itu?"


"Emm... panjang sekali ceritanya kak, yang pasti aku tidak ingin menikah dengan Leon."


"Tapi kamu gak dipaksa kan Jen? Atau pria itu memaksamu?" Klara takut Reyhan mendekati Jenny hanya untuk mempermainkannya saja karena dia tau Reyhan sepertinya memiliki masalah dengan Andreas sampai terus-terusan memfitnah Andreas bahwa Andreas yang telah membunuh ayahnya.


"Ti-tidak Kak."


"Boleh aku minta nomor ponsel kamu dan alamat kamu Jenny?"


"Emm... kebetulan ponsel aku rusak dan... "


Pembicaraan mereka terhenti saat Reyhan datang menghampiri mereka dan merangkul tubuh Jenny yang mungil itu, dia takut Jenny membicarakan semuanya pada Klara, "Kau lama sekali sayang."


Reyhan duduk disamping Jenny dan tersenyum sinis pada Klara yang duduk di hadapannya, cuma terhalang sebuah meja makan.


"Pesanan kita sudah datang , ayo kita makan! Bukannya kamu lapar?" Tiba-tiba Reyhan bersikap lembut pada Jenny, membuat Jenny menganga.


"Jenny, boleh aku bicara sebentar sama suami kamu," Tiba-tiba Klara mengatakan itu.


"Tapi kenapa kak?" Jenny tidak mengerti kenapa Klara ingin berbicara dengan Reyhan, apa mereka saling mengenal? itu yang ada dipikirkan Jenny.


"Kita dulu saling mengenal dan aku memiliki urusan dengannya." Jawab Klara.


Jenny pun terpaksa meninggalkan mereka, dia duduk di meja awal yang dia duduki bersama Reyhan sambil terus memandangi Reyhan dan Klara yang sedang berbicara dengan serius.


Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka? Apa yang ingin Kak Klara bicarakan pada Reyhan? Jenny sangat penasaran sekali.


"Kau mau bicara apa?" tanya Reyhan dengan tatapan dingin.


"Setelah sekian lama akhirnya kita bertemu lagi, aku berharap aku bisa menjebloskan lagi kamu ke penjara dan kamu mati membusuk disana." Klara mengatakan hal itu dengan nada bersungguh-sungguh dan mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Jadi cuma itu yang ingin kau katakan? Percuma aku bilang beberapa kali padamu kalau aku tidak membunuh ayahmu, kau tidak pernah mempercayaiku." Reyhan mengatakan itu dengan santai.


"Lalu kenapa kau tiba-tiba menikahi Jenny?" tanya Klara dengan tatapan serius.


"Aku rasa itu bukan urusanmu."


"Tentu saja menjadi urusanku, Jenny adalah anak dari sahabat ayahku dan aku juga sudah lama mengenal Jenny."


Reyhan hanya bisa tertawa kecil, "Benarkah hanya itu alasannya?"


"I-iya hanya itu, " Klara menghela nafas panjang, "Hmm... sepertinya Om Andreas tidak tau soal pernikahan kalian kan?"


"Dia sudah tau dan aku sudah menyapanya, jadi kau tidak perlu khawatir. Urus saja hidup kamu sendiri. Jangan mencoba untuk mencampuri urusanku dan Jenny. Dan satu hal lagi, aku akan membuktikan kepadamu kalau aku tidak bersalah."


Klara tak menjawab apa-apa, tangannya bergetar saat mengambil kartu alamat dari Reyhan, hatinya jadi bertanya-tanya bagaimana kalau Reyhan benar bahwa dia tidak membunuh ayahnya?


Setelah berbicara berdua dengan Klara, Reyhan pun pergi meninggalkan Klara dan duduk kembali di dekat Jenny.


"Kenapa belum mulai makan?" tanya Reyhan begitu melihat Jenny belum makan sama sekali, "Katanya lapar!" ketusnya.


"Bukannya kita mau makan bersama? Karena itu aku menunggumu." Jenny berkata begitu sambil cemberut.


Perkataan Jenny membuat Reyhan tersentuh, "Hmm ya sudah , ayo kita makan. "


Klara sudah duduk di meja yang sama dengan Andra, tapi pandangannya fokus ke Reyhan dan Jenny yang sedang makan bersama.


"Bagaimana pertemuan kamu dan sahabat kamu itu? Sepertinya kamu mengenal pria yang sedang bersama teman kamu itu?" Andra bertanya seperti itu karena dia memperhatikan Klara tadi.


"Emm... Oh iya Andra, nanti hari Kamis aku ada harus ke kota B, kita mau melakukan penyelidikan sebuah kasus pembunuhan disana. " Tapi Klara malah mengalihkan pembicaraan mereka.


"Iya, Klara. Semoga kasus pembunuhnya cepat terungkap." Andra mencoba untuk menyemangati Klara.


****************


"Rey... "


"Hm?" Reyhan sedang fokus menikmati chicken steaknya.


"Apa kau dan Kak Klara saling mengenal?" tiba-tiba Jenny menanyakan itu. dia jadi kurang bernafsu untuk makan sampai tidak menghabiskan makanannya.


Reyhan menghela nafas , "Iya, dulu. Sekarang tidak. Cepat habiskan makananmu."


"Tapi ada hubungan apa kalian di masa lalu?"


Reyhan malah menyodorkan potongan steak pada mulut Jenny, "Buka mulutmu! "


Jenny terpaksa memakannya.


"Jangan banyak bicara sekarang kita sedang makan oke!"


"Tapi... "


Reyhan menyumpal lagi mulut Jenny dengan chicken steaknya, dia tidak ingin Jenny terus bertanya tentang hubungan dia dan Klara lagi.


"In kebanyakan sekali!" Jenny mengunyah chicken steak yang disuapin Reyhan dengan ukuran begitu besar sampai tidak muat masuk ke mulutnya.


Reyhan malah tertawa melihatnya, "Ukuran mulutmu terlalu kecil!"


Jenny hanya mendelikinya, "Hhh... "


Klara masih memperhatikan mereka berdua dari kejauhan, dia pikir sepertinya Reyhan memang menyukai Jenny bukan memanfatkannya, dia melihat dari sikap Reyhan pada Jenny. Klara jadi teringat dulu dia dan Reyhan sering bercanda seperti itu.


Kau gila Klara kalau sampai masih punya hati pada pembunuh ayahmu itu? Klara mengutuk dirinya sendiri.


****************


Ditengah perjalanan menuju pulang, Jenny menceritakan semuanya mengenai Klara dari awal pertemuan mereka dan sampai mereka bisa dekat.


"Ya seperti itulah pertemanan kami dulu saat masih kecil. Dia memang wanita yang pintar makanya ayah sering menyuruhnya untuk mengajariku. "


Reyhan tak menanggapinya karena dia sedang fokus menyetir, sampai dia tak mendengar lagi suara Jenny, dia penasaran kenapa Jenny berhenti bicara, saat dia menoleh ke samping, dia melihat ternyata Jenny sudah tertidur.


"Hmm... pantas dia berhenti mengoceh. "


Tiba-tiba kepala Jenny bersandar ke pundaknya, Hati Reyhan tergetar saat merasakan hembusan nafas Jenny, dia membiarkannya Jenny tetap tertidur di posisi seperti itu, tapi dia merasa ada yang tidak beres di dirinya, kenapa jantungnya berdetak kencang seperti ini?


Setelah sampai di depan rumah, Reyhan mencoba untuk membangunkan Jenny, tapi dia tidak tega untuk membangunkannya, pasti dia sangat kelelahan karena ulahnya. Reyhan terpaksa menggendong Jenny gaya bridal style ke ke kamarnya, tubuhnya begitu mungil jadi Reyhan sama sekali tidak merasa berat saat menggendonnya.


Reyhan membaringkan tubuh Jenny di atas kasur, sampai setengah badannya berada di atasnya, Jakun Reyhan naik dah turun memperhatikan Jenny yang tengah tertidur di kasurnya. Dia tak habis pikir kenapa wanita ini selalu tampak mempesona, walaupun dia sedang tertidur pun pesonanya tidak pernah hilang. Padahal dia sedang tidur tapi seperti sedang menggodanya.


Kenapa wanita selalu membuat aku menggila dan kehilangan akal? Dan kenapa hatiku biasa saja saat bertemu dengan Klara tadi? Apa aku sudah tidak memiliki perasaan pada Klara? Hati Reyhan penuh tanda tanya tapi dia tidak menemukan jawabannya.