
Mobil hitam melaju kencang. Sandy dan Chika duduk bersisian di jok penumpang bagian belakang.
Matahari semakin terik. Chika yang seharusnya berangkat kuliah dari rumah sang Ayah, kini harus kembali ke rumah suaminya.
Kelab malam elit yang mereka tinggalkan, meminta sewa yang cukup besar. Tak apa, setidaknya Sandy jadi melihat semungil bibir yang ingin sekali ia kecup.
"Kenapa menyusul?" Rasa ingin tahu Sandy tergelitik. Sebenarnya apa yang membuat gadis itu cemas? Ini langka.
"Chika yang harusnya tanya, ngapain Om clubbing? Cari wanita?" Belum selesai ucapannya ia tertawa sinis. "Ya jelas, kan Sandy Cavalera banyak duit, punya modal, cari wanita cantik mah sebentar jentikan jari!"
Sandy mengerut kening, jika sudah begini, dirinya tak cukup banyak kesempatan untuk berkata-kata. "Baby cemburu?"
"Apa hak Chika?" Kemarin minta dipulangkan, sekarang meletup letup. Sandy masih bodoh dalam urusan mengerti Chika, rupanya.
"Sekarang apa maunya?" tawar Sandy.
"Maksud Om?" Chika sampai memutar tubuhnya untuk menghadap seksama suaminya.
"Aku bingung dengan sikap mu, tadi Endre bilang semalam kamu cemas, sekarang, sama sekali aku tidak melihat kecemasan mu..., katakan apa yang harus aku lakukan? Setidaknya aku tahu, apa arti dari marah-marah mu selama ini. Apa sama, seperti saat aku membenci kegiatan cheerleaders mu? Atau hanya karena kau sangat membenci ku. Aku mau tahu," kata Sandy, keduanya terdiam sekejap.
"Kadang, aku merasa kamu cemburu, tapi kemudian, aku sadar aku tidak pernah mendapat balasan perasaan dari mu," lirih Sandy kembali.
"Aku antar jemput, kamu malah lebih sering marah-marah, aku biarkan kau bebas bersama Gala, juga salah. Kau justru bertanya Om nggak cemburu? ... Jadi aku harus apa?"
Chika tertegun. Yah... sepertinya dia benar-benar cemburu saat melihat Sandy dikagumi wanita lain. Semalam Sandy mabuk, bagaimana jika ada wanita yang menggoda?
Sontak, ingatan Chika lantas beralih pada beberapa bulan lalu, dirinya menyaksikan bagaimana permainan basket seorang Sandy, mampu menyihir puluhan penonton di stadion andalan timnya berlatih.
Siang itu, lapangan basket elit itu ramai dikunjungi para gadis. Dan Sandy yang menjadi satu-satunya objek perhatian mata kagum mereka.
Di tengah lapangan, Sandy memainkan bola hitam. Melompat tinggi mendekati tiang ring, memasukkan bola, dan mencetak skor untuk mengalahkan Gala yang tak pernah sekalipun menang melawannya.
Meski dengan pakaian kantor, dada bidang yang tercetak di balik kemeja putih tipis lelaki itu cukup mampu menyentak kewarasan para gadis.
Mereka berteriak, bersorak, bahkan histeris melihat aliran peluh yang mengaliri dada Sandy. Tuhan, kancing baju yang terbuka dua itu, semua gila dibuatnya.
Keringatnya, ayunan kakinya, lompatannya, Sandy menguasai seluruh jantung setiap penontonnya. Sesekali, senyum itu Sandy lempar pada Chika yang memberengut di tepi lapangan.
Pujian-pujian yang terdengar, tentang kerennya Sandy, peluh seksinya Sandy, bahkan ada yang sampai membayangkan bagaimana saat Sandy berkeringat di atasnya, Chika benar-benar dongkol mendapatinya.
"Kamu sering marah tanpa sebab yang jelas, sekarang katakan, apa yang membuat mu marah? Hari ini, kemarin, kemarinnya lagi."
Chika kikuk. "Pikir ajah sendiri!" Selain itu, apa lagi yang bisa dia ucapkan? Bisa besar kepala nanti Om Om ini.
Sandy mendengus pelan. Mungkin, sampai tahun depan pun, misteri kemarahan tiba-tiba Chika tak bisa ia pecahkan.
...✴️🔸🔸🔸✴️...
Sampai di kamarnya, Chika segera masuk kamar mandi, sementara Sandy duduk di sofa; sibuk dengan ponsel dan video cctv yang sengaja dia minta dari pihak kelab.
"Ya Tuhan, Baby!"
Alangkah terbelalak mata almondnya, melihat semua tindakan mabuknya semalam. Jadi, bukan karena paksaan, melainkan Chika juga begitu menikmati setiap sentuhan erotis-nya.
Sandy bergemuruh, sampai tiga tahun lamanya, dirinya tak pernah mencicipi bibir mungil gadisnya. Dan Sandy si pemabuk, telah lancang mendahuluinya.
Ia beranjak berdiri. Langkah gusar yang penasaran berbolak-balik tak mau diam barang sebentar. Pandangan sesekali ia arahkan pada pintu, di mana suara kericikan air terdengar.
"Baby!"
Ah, rasanya terlalu lama jika menunggu sampai pintu itu terbuka. Segera Sandy ayunkan langkah gagahnya, mendorong dan masuk ke dalam kamar mandinya.
Ia perlu memastikan, apa dan bagaimana perasaan istrinya yang arogan. Apa yang membuat Chika diam saja saat disentuhnya?
Cinta kah? Atau sekedar kebutuhan hasrat saja. Bukankah Chika sudah dewasa?
"Baby!"
Di bawah air shower yang mengucur, Chika terbelalak lebar. "Om!" Lalu, ia terbungkam oleh bibir yang tiba-tiba saja mendarat.
Chika tersentak, ada apa dengan kecupan ini? Belum lagi, kondisi tubuh polosnya telah berhasil dikuasai remasan lembut lelaki itu.
"Euuugh."
Sandy melerai kecupannya, di bawah air yang mengucur tipis, keduanya terdiam saling menatap lekat-lekat. Seksi, nuansa romantis, dan Chika paham, untuk yang terjadi kali ini atas kesadaran sang suami.
"Kenapa Om ini?" Bibir itu membiru, bergetar, mungkin karena shock. "Keluar," lirihnya.
Sandy tak peduli, ia justru lancang memberi sentuhan demi sentuhan yang lebih dari pada semalam. "Kamu menikmatinya kan?"
Kaos putih Sandy tanggalkan, bahkan separuh celananya ia turunkan sampai ke lutut. Sandy yakin, tidak akan ada penolakan kali ini, dan benar saja, Chika terdiam tanpa perlawanan, meski tubuh mereka menyatu.
"Kenapa diam hmm? Baby suka?" Pertanyaan lirih Sandy dijawab oleh lenguhan serak Chika saja. "Yang ini, suka?" remasnya. Dan lagi-lagi hanya desah gadis itu yang terdengar.
Sandy tersenyum puas. Semalam Chika sempat kesal saat dirinya menyudahi sentuhannya, sekarang, tak akan Sandy biarkan gadisnya kecewa.
"Biar aku mendapatkan mu, Baby." Gigitan yang baru saja mendarat di pucuk dada segera ditepis gadis itu. "Apa Om gila?"
Sandy terkekeh geli. "Kenapa memangnya? Barusan kamu merem melek."
"Chika mau mandi!" Chika mendorong dada suaminya sampai keluar dari bilik kaca yang memburam. "Biar Chika mandi dulu!"
Sandy menyeringai, kata biar Chika mandi dulu, seperti ajakan tersirat dari gadisnya.
Thanks for reading.... Terima kasih partisipasi komentarnya... Lopeee...