After One Night

After One Night
Part Sayang Dibuang 6


Setelah cukup lama bersahut sahutan nada cekcok. Sekarang Sandy tahu apa yang harus ia lakukan untuk membuat Chika bahagia.


Ia melajukan mobilnya kembali. Keduanya terdiam di masing-masing joknya dengan kemelut hati yang bercampur aduk.


Tepat di depan teras rumah keluarga Rain, Sandy memberhentikan mobilnya. Chika yang termenung, kini sadar bahwa ia sudah sampai di tempat yang tidak seharusnya.


Cinta yang hanya dirasakan, tanpa mengatakan, bagaimana bisa tersampaikan? Dan itulah kesalahan terbesar yang membelit pasangan beda usia ini.


Sandy menganggap, dirinya cukup memiliki, tidur di bawah atap dan di atas ranjang yang sama, maka hidupnya akan bahagia.


Awalnya ia mengakui, bahwa perjodohan yang ia sepakati, hanya untuk menghindari perjodohan lainnya, sekaligus membuat Badai dan Cheryl bersatu kembali.


Jujur..., saat itu, ia tak mau terus menerus menjadi orang ke tiga di antara hubungan kedua karibnya.


Perlahan, lambat laun, benih sayang muncul begitu saja. Sandy betah berlama-lama duduk dengan tunangannya, meski gadis itu selalu bicara ketus, ia suka kebersamaan mereka.


Tanpa ia sadari, bocah belia yang dahulu ia sebut Baby Girl, kini sudah bertranformasi menjadi gadis bertubuh seksi.


Seberapa pun Chika berubah rupa. Wataknya tak pernah ada sedikitpun perubahan. Selalu ketus, arogan, suka mencari gara-gara.


Terlepas dari itu semua, Sandy bangga memiliki istri yang cantik, lucu, dan menggemaskan.


Di balik sikap barbar gadis arogan yang menuruni watak Raka Rain itu, Chika cukup mampu menjadi mood booster baginya.


Lelah yang ia dapat dari kantornya, seolah hilang seketika Chika memanyunkan bibir di hadapannya.


Ada hal yang paling tidak Sandy sukai dari gadis itu, yaitu saat Chika tebar pesona di lapangan basket sebagai ketua cheerleader.


Itulah mengapa Sandy selalu tak mau membangunkan Chika saat Chika bilang harus bangun pagi karena akan ada pertandingan basket di kampusnya.


Sandy tak pernah mau menjemput Chika, karena gadis itu selalu marah-marah ketika dirinya dikerubungi mahasiswi cantik lain.


Sebagai seorang yang berparas tampan, berdompet tebal, dan memiliki kedudukan tinggi di perusahaan keluarganya, tentu Sandy menjadi idaman di kalangan para gadis-gadis.


Namun, sepertinya usaha Sandy untuk menjaga perasaan istrinya, justru di salah artikan, bahwa dia tidak peduli, dia acuh, dia belum bisa mencintai, bahkan belum bisa move on dari mantan tunangannya.


Sandy berusaha membuat Chika nyaman dengan tidak membatasi pertemanannya, dia pernah muda, dia tahu cara bergaul. Dan lagi-lagi, kepercayaan yang ia terapkan pun, disalah artikan kembali sebagai bentuk ketidak cemburuan-nya pada Gala.


"Turunlah, mungkin aku memang tidak pantas bersanding dengan mu," kata Sandy.


Chika memberengut, kemarin ia masih merasa sebal dengan suaminya. Kenapa sekarang, ia seakan tak rela pulang ke rumah orang tuanya?


Sandy keluar dari mobilnya, membuka pintu milik Chika, lalu meraih lengan gadis itu. "Kau bebas sekarang," ujarnya. "Jika bosan di sini, rumah kita masih terbuka lebar untuk mu."


Cukup lama Chika terdiam nanar, sedang Sandy dan mobilnya telah berlalu dari hadapannya.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Hari-hari berlalu, Rabu, Kamis, Jumat hingga Kamis kembali menyatroni. Hari terus berganti, namun tidak dengan perasaan Sandy yang selalu sepi.


Musik remix yang terdengar dari luar ruangan VVIP-nya, tak cukup mampu membuatnya bersorak di bar yang seramai ini.


Di saat semua sibuk berjoget ria di tengah lantai dansa, Sandy duduk di sofa mengencani botol-botol bir-nya.


Ber botol botol sudah Sandy meneguk, bahkan menandaskan minuman memabukkan miliknya, berharap kisah pelik seputar asmaranya akan lenyap.


Endre, dan teman lainnya menggeleng ringan menyaksikan kelakuan karibnya. Rupanya, Sandy tak jauh berbeda dengan Badai yang budak cinta.


Mungkin memang begitulah sifat orang Indonesia. Jauh dari kata berganti ganti pasangan, atau mungkin, hanya kebetulan saja mereka bertemu dengan pria-pria BUCIN.


"Mungkin istri ku sudah bahagia di kamarnya sendiri. Menguasai ranjangnya seperti yang dia lakukan di rumah kami." Sandy meracau.


Endre terkekeh. "Berani benar memulangkan istrinya, sekarang dia sendiri yang berakhir menyedihkan," gerutunya.


"Gengsi saja dibesarkan!" timpal Lukas.


Ernest menginterupsi. "Kita telepon saja istrinya, mungkin Chika mau membujuknya pulang, sebelum tubuhnya hancur oleh minuman." Dan Endre manggut-manggut menyetujuinya.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Di kamarnya yang megah, Chika justru terdiam tak bersuara. Pulang dari rumah suaminya, bukan bahagia, ia justru merasa hampa seolah hidupnya tak berwarna.


Tak ada kegiatan seru, tak ada yang diajak cekcok, tak ada yang tertawa saat dirinya kesal, dan tak ada lagi yang menyuapinya saat dia malas keluar kamar untuk makan.


Ibunya sibuk mengurus pekerjaan di ratusan restoran keluarganya. Ayahnya lebih-lebih tak punya waktu senggang untuknya.


Kakek dan neneknya pun sudah jarang di rumah, mereka suka bepergian. Melakukan traveling dari negara satu ke negara lain, menghabiskan sisa tuanya bersama.


Abang satu-satunya pun sibuk ber pindah-pindah negara. Jujur saja, Chika kesepian di rumah yang sebesar ini.


Chika sendiri masih belum mengatakan pada ayahnya tentang dirinya yang sudah dipulangkan oleh suaminya. Chika tak mau membuat kekacauan.


Hening kamarnya dipecahkan oleh suara dering ponselnya. Chika mengerut kening menatap layar miliknya, sudah seminggu lamanya nomor Sandy tak menghubunginya.


Lalu, ada apa dengan malam ini? Di tengah malam yang diselimuti hujan deras ini, kenapa tiba-tiba saja Sandy menghubungi dirinya?


Apa terjadi sesuatu pada lelaki itu? Meski bingung, Chika tetap mengangkat teleponnya, dan suara Endre yang terdengar dari seberang sana.


"Bang Endre?" Ia terdiam, mendengar informasi dari teman suaminya. Tak berapa lama, Chika berlari keluar dari kamar miliknya.


Dengan lift transparan ia menuruni lantai tiga. Chika cemas, ia bahkan tak sempat mengganti dress tidurnya.


Baru saja, Endre memberitahukan bahwa Sandy suaminya berulah di sebuah kelab malam.


Entah lah, selama tiga tahun terakhir, Sandy yang selalu ada untuk dirinya. Dan untuk kali ini saja, biarkan Chika peduli pada pria itu.


Chika meminta sopir dan pengawal untuk menemaninya pergi. Awalnya sang sopir menolak karena mereka belum mendapat persetujuan dari Tuan besarnya.


Namun, Chika dan wataknya yang arogan, lagi-lagi gadis itu berhasil membuat semua orang ayahnya tunduk pada titahnya.


Dalam perjalanan Chika cemas. Entah kenapa, ia mengkhawatirkan manusia murah senyum yang selama ini, ia klaim sebagai musuh sekamarnya.


Apakah tanpa sadar, dirinya mulai menunjukkan tanda-tanda merindu dan mencinta? Entah lah, Chika tak peduli.


Tiba di parkiran, Chika turun. Sang pengawal dan sang sopir ikut berlari di belakangnya.


Di luar, hujan masih lebat, Chika tak peduli dengan rinai yang membasahi dress-nya ketika berlari dari mobil menuju kelab.


Tubuh seksi gadis itu, tentu saja menjadi sasaran empuk mata-mata liar lelaki hidung belang.


Di depan meja bartender, Endre dan David telah menyambut kedatangannya. Lalu, mengantar, menunjukkan ruangan VVIP Sandy Cavalera.


Chika dibiarkan masuk sendiri, dibiarkan mendapat privasi bersama suaminya yang dalam keadaan mabuk.


Tiba di ruangan, Chika berhenti langkah mengatur napasnya. Rasa khawatir yang semula tak pernah ia sadari, kini mereda setelah melihat sosok lunglai suaminya.


Melangkah pelan Chika mendekat, duduk dan membawa tangan basahnya menyentuh pipi lelaki mabuk itu. "Om banyak minum?"


Sandy mengernyit, mata yang enggan terbuka, ia paksa terbuka demi menatap pemilik suara menggemaskan itu. "Baby?" Mimpi atau tidak, Sandy tersenyum manis mendapatinya.


"Kita pulang," ajak Chika. Dan Sandy menggeleng dengan gerakan lengar. "Tidak mau."


"Kenapa?"


Sandy tergelak ala pria mabuk. "Di rumah, aku sepi tanpa ocehan mu," jawabnya. "Di sini ada koktail yang membantu ku tenang."


Chika terdiam nanar. Jujur saja, ia juga merasakan hal yang tak biasa, ternyata jauh dari Sandy, tak membuatnya mendapat kebahagiaan seperti yang ia bayangkan selama ini.


"Maaf kalau aku selalu membuat mu marah, maaf kalau aku tidak pernah bisa menyetarakan pikiran kolot ku dengan gadis belia seperti mu." Sandy berucap pelan, tangannya menyentuh pipi mulus istrinya yang terdiam.


"Maaf, karena aku...."


"Chika juga minta maaf." Chika memangkas ucapan suaminya. Terlihat, gadis itu menunduk, lalu meredup sendu.


Sandy melihat penyesalan di manik biru gadis itu. Mungkinkah ini khayalan pria mabuk? Jika iya, betapa indahnya. "Aku mencintai mu Baby girl!" ucapnya.


Chika semakin menunduk, dan Sandy justru gagal mengalihkan pandangan dari dua buah dada yang terlihat menyembul di balik baju tidur basah istrinya. "Kamu seksi Baby," pujinya dengan senyum hasratnya.


Beriringan dengan mendekatnya bibir Sandy, Chika membelalak, tiga tahun berhubungan, tak pernah ia mendapat serangan seperti ini.


Bahkan, ia tergagu saat bibir mungilnya menyatu dengan bibir pria itu. Merasakan remasan di paha basahnya, dan ini ciuman pertama baginya.


Tak hanya itu saja, ia terdiam pasrah di sandaran sofa hitam, meski Sandy mengobrak abrik isi bibirnya dengan benda tak bertulang.


Yang lebih membuat Chika melebarkan belalakan matanya adalah, gerakan tangan Sandy yang menggiring tangannya kepada benda ekslusif milik suaminya. "Lakukan seperti yang kemarin, Yank."


"Om!" Sandy terkekeh saat berbisik di telinganya. "Sumpah, yang kemarin sangat luar biasa. Sepertinya aku ketagihan dengan permainan tangan mu."


"Om!" Chika tahu semua ini terjadi di luar kendali seorang Sandy. Tapi, rasanya sulit menolak sentuhan memabukkan lelaki itu.


Chika meremang di sela pasrahnya. Lehernya, dadanya, perutnya, bahkan area di bawah sana telah Sandy sentuh dengan remasan dan jilatan liarnya.


"Hentikan, Om!" Chika sibuk menatap ke arah pintu, takut, kalau-kalau ada yang masuk ke dalam secara tiba-tiba.


Sandy yang masih dalam pengaruh minuman, tentu tak punya sedikit pun inisiatif untuk menuruti penolakan istrinya. "Biar aku mendapatkan mu malam ini, Babyhh."


Sandy menindih hingga Chika terbaring terlentang di bawah kungkungannya. Bukan tak kuat meronta, melainkan tak ingin mengakhiri kenikmatan yang baru pertama kalinya ia rasakan.


Yah... Nikmat yang ia dapatkan, dari seujung lidah yang menyisir lekukan tubuh seksinya.


"Omhh...."