After One Night

After One Night
Part Sayang Dibuang 7


"Omhh!"


Nikmat remang-remang yang Chika rasakan terhenti, seketika Sandy menjatuhkan kening tepat di pundak gadis itu. "Don't leave me alone," lirihnya.


Sejenak, Chika menautkan alis tipis. Lelaki yang sedari tadi membuat dirinya melayang bersama lenguhan, kini tak lagi berdaya walau sekedar memberikan sentuhan pelan.


"Om?"


Hening..., dan Chika mendengus lemah kecewa, rupanya benar dugaannya, Sandy tertidur setelah cukup membuat dirinya candu akan keerotikan pria itu.


Mengingat kondisi tubuh mereka yang setengah telanjang, Chika berusaha membetulkan dress-nya.


Masih berada di bawah kungkungan Sandy, sebisa-bisanya Chika meraih jaket jeans yang terselampir di sandaran sofa, demi menutupi kedua tubuh mereka.


Baru beberapa menit yang lalu Sandy membuka pakaian atasnya, seolah olah ingin sekali menerkam dirinya dalam temaramnya lampu bar. Belum selesai pergulatan mereka, Sandy sudah dibuat tepar oleh minumannya.


Tak ayal, Sandy memang sudah terlalu banyak minum. Bagaimana caranya menggagahi, jika minumannya saja membuatnya lunglai.


"Don't go anymore, Baby," bisiknya lirih.


Lekat, Chika tatap pria mabuk berlebel suami itu. Rupanya Sandy begitu kacau saat tak ada dirinya yang bahkan hanya mampu menggoreskan luka.


Kediamannya, kesabarannya, senyuman tulusnya, semua yang ada pada Sandy, Chika baru menyadarinya, kini.


"Kenapa Om mau menikahi Chika?" Chika bertanya lirih pada akhirnya.


Orang bilang, mabuknya seseorang bisa mengatakan apa pun kejujuran yang dimilikinya. "Kenapa Om mau bertahan sama Chika?" cecarnya.


"Because of love." Sandy menyahut dengan mata yang masih terpejam.


Chika tersenyum menatap pahatan indah yang ditawarkan wajah suaminya. Bibirnya, hidungnya, alisnya, semua tahu selain baik dan kaya, Sandy sangat rupawan.


Selain ketampanan, kekayaan, perhatian, cinta, kasih sayang, dan kesetiaan. Apa lagi yang dia cari dari sosok suami?


Hanya karena Sandy yang tiba-tiba mau dijodohkan dengannya, Chika terus menerus berpikiran bahwa pria murah senyum itu hanya ingin menjadikan dirinya pelarian cinta.


Padahal, jika mengingat masa lalu, Sandy selalu bersikap romantis padanya. Sudah berapa kali dia kabur bersama Gala, pergi camping di tepi pantai, bahkan pegunungan terjal.


Kemudian, Sandy selalu membawanya pulang dalam keadaan selamat. Meski demikian arogan dirinya, Sandy tak pernah lupa mengembangkan senyum manis yang ia kutuk selama ini.


Chika menyerapah dirinya, kurang apa lagi? Segitu besar usaha yang Sandy tunjukkan selama kurang lebih tiga tahun bersama, dan dia masih terganggu oleh masa lalu prianya.


Chika tersenyum menerawang, ingatan lantas berlari pada masa di mana ia dan pria yang kini mengungkungnya masih berstatus tunangan.


Pohon tinggi menjulang, tanah dakian terjal, aroma asri, sepoy angin yang kadang lirih kadang kencang, semua itu Chika nikmati bersama Gala dan teman-teman kampus lainnya.


Pagi itu, cuaca cukup riuh oleh berbagai jenis kicau burung. Sore sebelumya ia memasang tenda, dan tidur dengan pulas semalaman.


"Euuugh!" Chika meregangkan otot tangan sesaat setelah keluar dari tenda miliknya.


"Kopi?" Suara yang seharusnya tak ada di lingkungannya, kenapa harus ia dengar saat itu juga. Chika menoleh dan tidak salah lagi, Sandy tersenyum menyambutnya.


"Om ngapain?" Nada Chika seperti baru saja mendapatkan petaka besar.


"Ikut camping."


Sandy menyengir. "Dari temen-temen kamu, lumayan, gratis," entengnya.


Chika menatap ke arah teman teman perempuannya. Dan hampir semuanya menatap kagum pada tunangannya.


"Nyampah ajah!" ketusnya. Kemudian, saat ia berpaling dan berjalan menjauh secara arogan, seorang gadis menghampiri Sandy.


Kecil ekor matanya melirik, di belakang sana Sandy tersenyum pada Hema, si paling seksi di antara teman yang lain. "Makasih cantik."


Hema tersenyum malu-malu. "Sama-sama Abang. Nanti kalau butuh apa-apa bilang ajah sama Hema."


"Of course!"


Chika mengingat, betapa ia sangat kesal ketika para gadis itu mengejar calon suami tak dianggapnya. Jadi apakah benar, dia sudah memiliki rasa, jauh sebelum Sandy menyerah?


Tuhan, tiba-tiba Chika takut jika sampai Sandy menyerah setelah tak lagi mabuk seperti sekarang ini.


...✴️🔸🔸🔸✴️...


"Baby!" Sandy yang baru sadar dari alam mimpinya, sontak ia membulat matanya lebar-lebar. "Chik..."


Mata yang masih lamur dipaksa menyisir seisi ruangan, dan yah..., ia masih berada di dalam ruang VVIP bar semalam. Sandy lekas menoleh ke sofa lainnya, di mana teman temannya juga duduk tertidur menemaninya.


Parah, ia bahkan tak mengingat apa yang membuat Chika berada di bar ini. Bagaimana jika semalam ia mengacau?


"Sudah bangun?"


Sandy beralih pada Endre yang tiba-tiba bersuara. Terlihat, mata sepat Endre memindai jam di tangan. "Sudah siang ternyata," gumamnya.


Perlahan-lahan, Sandy bangkit, ia melepas pelukan dari gadis cantik yang ia kungkung semalaman. Kembali ia kenakan kaos putih miliknya, sebelum menyelimuti Chika dengan jaket jeansnya.


"Chika ngapain di sini?" Hanya Endre yang bisa Sandy tanya. Yang lain masih pulas di masing-masing sofanya.


"Menyusul mu." Endre menyulut koreknya, membakar ujung rokok miliknya, menyembur tinggi-tinggi asapnya. "Dia panik semalam. Kami yang mengundangnya."


"Sial!" Sandy mengumpat. "Kalian tahu, dia tidak seharusnya di sini!"


Sesalnya semakin menyeruak, ketika melihat banyaknya tanda merah yang berlabuh di kulit bersih istrinya, gigitan gigitan kecil itu, sudah pasti hasil dari paksaannya semalam.


Sandy menekan kening yang masih terasa berat. Lalu, kembali menatap wajah Chika yang masih terlelap, lugu, polos, dan inilah moment yang ia rindu selama beberapa pagi tanpa gadis itu.


Sedikit keras pikirnya; kenapa Chika harus panik padanya, yang bahkan tak pernah dihiraukannya selama tiga tahun bersama.


Sandy....



Chika...



Thanks for reading....