
"Baiklah!" Ezra mengangguk setuju.
Deal, Badai mendapat kesempatan memiliki Cheryl sepenuhnya ketika malam tiba, biar saja pagi siang sore dia habiskan waktu di tempat kerja.
Tak lama, ketukan pintu kembali terdengar. Badai membuka pintu dan menerima paper bag putih dari salah satu pelayannya.
Di atas ranjang, Badai meletakkan paper bag berisi baju istrinya. "Mami ganti baju dulu. Papi sama Ezra tunggu di luar. Kita makan siang sama-sama. Lukas dan lainnya pasti sudah menunggu."
"Loh, aku kira kalian ke sini sama Mami Daddy?" Cheryl berkerut kening.
"Mereka masih sibuk di rumah Grandpa. Acara Sandy kan sudah mepet." Badai menyengir. "Lagian aku sengaja bikin kejutan untukmu. Kamu suka nggak?"
Di mata Cheryl, pria itu sudah kembali seperti Badai yang dahulu menikahinya. "Suka, tapi keciduk Eza." Bisiknya seraya tergelak.
"Katanya mau keluar?" Ezra melipat tangan, rupanya setelah ada ayahnya resiko yang dia ambil adalah, Ezra harus berbagi cinta.
"Ok ok, kita keluar." Badai membawa serta Ezra keluar dari kamar. Cheryl juga ikut keluar setelah mendapat pakaian yang benar.
Diiringi rintikan hujan tipis, mereka akan makan siang di bawah atap gazebo. Di sudut tempat beberapa koki sudah menyelesaikan tugasnya. Mereka mulai menyuguhkan satu persatu makanan siap saji.
"Ekm Ekm." Lukas berdehem. Ernest dan lainnya saling melempar tatapan. "Basah rambutnya, padahal udara di sini dingin."
"Berisik!" Badai duduk di kursi sebelah Lukas. Cheryl duduk di sofa bersama Ezra. Satu persatu sang pelayan meladeni semua orang.
"Sandy nggak datang?" Badai meraih sup ayam beserta sendok garpu nya. Cuaca lembab ini cukup mendukung.
"Chika menolak katanya." Sahut Ernest.
"Lalu?"
"Kita tunggu kabar selanjutnya. Sandy sulit di hubungi sekarang, meladeni anak kecil memang butuh upaya yang lebih." Imbuh Endre.
"Keputusan yang lumayan gila." Kata Ernest menimpali. Semuanya memulai ritual makan siang bersama sambil sesekali mengobrol hal random.
...✴️🔸🔸🔸✴️...
Di rumah utama keluarga Rain, gadis manis itu tengah bergelantungan pada tali yang ia buat dengan menggabungkan beberapa sprei.
Susah payah Chika menuruni lantai tiga, perjuangan ini ia lakukan demi kabur dari perjodohan terkutuknya.
"Lu udah siap di luar kan?" Chika bertanya pada Rara lewat earphone di telinganya. Tiada lagi jawaban dari seberang sana. "Halo, Ra, Lu tidur kah hah?"
Brugh...
"Ah!" Chika terduduk meringis di atas rumput hijau, ia berdiri mengelus pantat dengan kondisi celana pendek yang basah.
Sedari pagi kota ini diguyur hujan, tentu saja meninggalkan genangan air di sana.
"Ekm Ekm." Dahaman berat seorang pria terdengar. Mata Chika membulat sempurna, gegas ia menoleh ke belakang.
Dia sisir seluruh tubuh pria itu. Berawal dari sepatu kilat, celana blue jeans, t-shirts putih berbalut jaket hitam, lalu wajah tampan yang menyengir.
"Mau ke mana hmm?" Chika ternganga menatap kejut calon suaminya. Segera ia palingkan tubuhnya dan mencoba lari.
"Jangan kabur, besok acara pertunangan kita, Dedek!" Sandy mencekal lengan gadis manis itu.
"Ogah!" Chika meronta. Namun Sandy berhasil menyeretnya ke sebuah taman belakang rumah. "Jangan gila. Kamu tega mempermalukan semua keluarga kita hmm?"
"Om sendiri tega mengkhianati kesepakatan awal kita! Sudah Chika bilang, Chika nggak mau nikah buru-buru. Apa lagi sama Om-om!"
"Dih genit!" Chika menautkan alisnya.
Di depan sana Raja dan Kimmy menggeleng geleng kepala. Putra putrinya memang tak ada yang penurut, termasuk Rega Abang satu-satunya Chika yang saat ini tengah menjalani pendidikan di California.
"Dedek mau kabur?" Raja menuding putrinya dengan tatapan menusuk. "Kamu lupa gimana kesulitan Kakak mu di luar sana tanpa orang tua?"
"Chika lebih kuat dari Kak Cheryl. Jangan meremehkan kemampuan bertahan hidup Chika, dan stop panggil Dedek, Chika sudah besar!" Sanggah Chika.
Sandy menghela napas dalam, rupanya calon istri kecilnya memiliki sikap yang arogan, tak ayal Chika memang cucu Raka.
"Chika nggak suka dijodohin, biar saja Abang Rega yang lebih dulu dari Chika! Kan dia lahir lebih dulu! Kenapa musti Chika duluan sih?"
"Dedek kok gitu?" Kimmy kecewa, putrinya terlalu nakal menurutnya, dahulu saat seumuran Chika, Kimmy paling takut teguran Ameer sang ayah. "Kamu berani melawan Papi mu setelah merasa mampu hidup sendiri, begitu?"
Chika meredup ekspresi. "Bukan itu. Chika cuma, ..."
"Pergi saja sana, jangan ingat lagi semua usaha Mami Papi untuk mu selama ini. Chika bisa hidup sendiri bukan?" Kimmy mulai memainkan drama, dan Raja paling paham akal-akalan istrinya. Ia hanya senyum-senyum kecil.
"Bukan begitu Mam." Chika tak enak hati mendapati ungkapan sedih sang Mami.
"Terserah." Kimmy lalu melengos pergi. Lantas Chika menyusul. "Mam, maafin Chika, Chika cuma nggak mau dijodohin sama Om Sandy."
"Apa kurangnya Sandy?" Kimmy kembali memberikan tatapan menusuk.
"Apa lagi alasan Chika, tentu saja karena dia tidak mencintai Chika! Mana ada gadis yang mau dinikahi tanpa cinta?" Sergah gadis itu.
"Yakin saja, cinta akan tumbuh setelah kalian sering bersama. Dulu Papi juga tidak suka di jodohkan dengan Mami. Kamu lihat, seperti apa perlakuan Papi sekarang?"
"Papi Mami seumuran." Sanggah Chika kembali. Ia kian memelas, menghiba pada ibunya.
"Kalau begitu terserah Chika mau gimana? Undangan sudah disebar, kalau Chika mau Mami Papi malu, silahkan saja batalkan." Kembali Kimmy melanjutkan langkah memasuki rumah besar suaminya.
Chika mendengus. "Kok jadi Chika yang salah sih?" Lirihnya.
Sandy menyengir mendekati calon istri kecilnya. "Gimana, masih mau melawan?" Bisiknya.
Ada kepuasan tersendiri saat Chika menghadapi ketidak berdayaan, sebab momen itu terlihat lucu bagi Sandy.
Chika menoleh sinis. "Ok, kali ini Chika menyerah, tapi ingat, kedepannya, Chika pastikan Om sendiri yang akan menyerah!"
Sandy mengangguk. "Fine. Aku terima tantangan mu." Cengiran gigi putihnya, lumayan menakutkan bagi Chika.
"Psikopat gila!" Chika pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sandy terkekeh, begitu juga dengan Raja yang masih berdiri di sudut tempat sana. Sandy lalu beralih pandang pada calon mertuanya.
"Sesuai janji mu, kau takkan pernah menyakiti putriku. Kamu lihat sendiri, dia bukan gadis yang mau ditindas. Perlakuan dia secara sabar. Dan jangan langgar kesepakatan kita."
Meski tiada rasa spesial pada gadis bar-bar seperti Chika, Sandy tetap menganggukkan kepalanya. "Sandy berjanji." Jawabnya.
Mungkin dengan menikahi Chika, ia tak perlu dijodohkan dengan wanita random yang belum tentu akan ia sukai nantinya.
Rasa tulus itu masih hanya teruntuk Cheryl Arsya saja. Setidaknya dengan menjadi bagian dari keluarga Rain, Sandy masih sering mendapatkan kesempatan berjumpa dengan kekasih tak sampainya.
"Kita makan siang sama-sama." Raja merangkul calon menantunya untuk kemudian memasuki hunian mewahnya.
Raja percaya Sandy laki-laki yang baik. Perkara cinta, ia akan tumbuh seiring berjalannya waktu.