After One Night

After One Night
[Villa]


Gemercik air mulai terhenti setelah perempuan seksi itu mematikan keran kamar mandi.


Cheryl membalut tubuh polosnya dengan handuk kimono putih, kemudian surai panjang yang basah dia keringkan dengan handuk kecil. Senandung lagu ia gumam kan.


Baru saja kakinya keluar dari kamar mandi, dering panggilan terdengar mengganggu telinga. Cheryl melenggangkan langkah menuju ranjang berukuran super king, tempat di mana ia meletakkan ponselnya.


Ia raih gawai itu, nomor tak dikenal tersuguh di layar. "Iya selamat siang, dengan Cheryl di sini."


📞 Tuuutt, sambungan terputus. Cheryl berkerut kening.


Klik....


Sebuah pesan bergambar telah sampai. Segera Cheryl membukanya, dan mata biru miliknya mendelik penuh mendapati foto putranya berada di tempat asing bersama pria asing.


"Eza!"


📩 "Datang ke sini, jika mau bertemu dengan putramu." Terdapat pula pesan teks bernada datar yang membuat bulu kuduk bergidik.


Apakah ini dampak dari pencabutan laporannya kemarin? Apakah Gustav justru mendendam setelah mendapat kebebasan bersyarat? Atau kah, oh Tuhan Cheryl berpikir liar.


"Ya Tuhan Eza!" Sontak Cheryl berlari keluar dari kamar, persetan dengan handuk kimono miliknya. Ia harus segera mengambil alih putranya dari tangan orang asing.


Kaki kaki polos itu menapaki satu persatu anak tangga. Sepanjang ia berlari, tak ada satupun manusia di dalam rumah besar ini.


"Ke mana semua orang? Daddy, Mami!" Cheryl berteriak. Bukankah seharusnya mereka semua berkumpul di hari libur? Nihil, tak ada satupun manusia di ruangan luas ini selain dirinya.


Cheryl berlari keluar. "Pak! Orang-orang ke mana?" Cheryl bertanya pada satu penjaga yang anehnya hanya satu orang itu saja.


Pria itu menunduk. "Orang-orang sedang berada di rumah besar Tuan Raka. Apa Nyonya muda lupa, besok malam acara pesta pertunangan Tuan Sandy dan Nona Chika."


"Ya Tuhan, ..." Cheryl tergagu. Pantas saja rumah Dhyrga Miller sepi, semua orangnya ada di rumah Raka sang kakek.


"Memang ada apa Nyonya?"


Cheryl berteriak. "Cepat antar aku ke suatu tempat, Eza putraku diculik!"


"Diculik?" Gegas pria itu berlari menuju sebuah mobil, setelah Cheryl memasuki pintu penumpang bagian belakang.


Brugh....


Sang sopir mengambil alih kemudi, "Ke mana kita Nyonya?"


"Villa Anggrek, alamatnya di puncak! Ini titik lokasinya. Ikuti arahnya." Gegas Cheryl membagikan lokasi pada perangkat dasbor mobilnya supaya sopir itu lebih mudah mengarahkan tujuannya.


"Baik." Mobil pun melaju dengan kecepatan yang tidak menentu, tergantung dari situasi jalanan yang sesekali terjeda oleh kemacetan.


Cheryl duduk dengan cemas, sesekali membetulkan posisi handuknya, ia begitu panik hingga melupakan pakaiannya.


Di sela perjalanan Cheryl terus menghubungi seluruh nomor telepon keluarga, dari ayah, ibu, kakek, nenek, adik-adiknya, sepupunya, juga Sandy Cavalera.


"Ya Tuhan, mereka pasti sibuk." Gumamnya. Tak ada satu pun dari keluarganya yang mau mengangkat.


Satu jam perjalanan, pemandangan mulai berubah, dari yang gedung perkotaan menjadi pepohonan asri menyejukkan mata.


Sungguh hijaunya daun-daun yang tertiup angin sepoi-sepoi tak mampu mengurangi kecemasan wanita cantik itu.


Sampai tibalah mobil hitam mengkilat Cheryl Arsya memasuki pekarangan luas estetika yang terletak di tengah-tengah perkebunan. Sebuah rumah klasik berlantai tiga juga terdapat di dalamnya


"Belum sampai puncak kan Pak?" Cheryl memastikan bahwa mereka berada di tempat yang benar.


"Tapi ini lokasinya." Kata sopir yakin.


Klik...


Setelah satu jam ia tak bisa menghubungi nomor asing itu. Cheryl kembali mendapatkan pesan.


Cheryl mengerut kening. "Sebenarnya siapa yang bersama Eza Pak? Kenapa harus membuat permainan konyol seperti ini? Dia bilang, dia meninggalkan petunjuk, di setiap jalannya." Ia curiga, kenapa bahasa orang ini begitu sopan, bahkan terkesan seperti berbicara kepada keluarganya.


"Coba saja Nyonya ikuti petunjuk. Sebentar lagi, semua orang-orang kita akan segera datang ke sini. Nyonya masuklah, dan tenang saja. Saya ada di belakang Anda." Kata sopir kembali berusaha menenangkan.


"Baiklah." Cheryl mendorong pintu, keluar dari mobilnya, di atas rumput-rumput hijau itu, ada satu tanda panah yang dibentuk oleh kepingan kelopak bunga mawar merah menyambut kaki-kaki mulusnya.


Ia tak ragu mengayunkan langkah menyusuri jalan yang sudah di penuhi dengan bunga- bunga. Pikiran yang semula cemas, entah kenapa sedikit lebih berkurang. Apakah ini ulah suaminya?


Dahulu saat tinggal bersama, Badai pun acap kali memberikannya kejutan-kejutan kecil, dan kurang lebih seperti inilah cara Badai menunjukkan kepuitisan nya.


"Eza, Kakak!" Cheryl ragu-ragu, tapi lantas ia memberanikan diri untuk memasuki sebuah pintu bertuliskan MASUK KE SINI.


Brakkk....


Terdengar suara hentakan pintu di ruangan lainnya. Cheryl berteriak. "Ini nggak lucu Eza, Badai, ini konyol!"


"Happy anniversary." Suara berat membisik di telinga, diiringi dengan sentuhan lembut yang melingkar di bagian perutnya.


Aroma maskulin dari parfum andalan Badai, kini menguar kuat hingga menusuk indera penciuman.


Tak perlu waktu lama, Cheryl mengklaim bahwa laki-laki di belakangnya adalah suami arogannya. "Ini nggak lucu!" Ketusnya.


"Aku mencintai mu." Badai menghirup dalam-dalam aroma damai dari tubuh istrinya yang hanya dibalut dengan handuk kimono.


Cheryl berbalik. "Eza di mana, jangan main-main Kamu!" Tak tahu bagaimana cemasnya seorang ibu, teganya Badai bermain-main seperti anak kecil.


Badai terkekeh lalu memeluk Cheryl yang menangis takut. "Dia ada di luar, ... tenang lah. Dia aman bersama keluarga kita yang lain."


Sejenak Cheryl terdiam, syukurlah Ezra baik-baik saja. "Happy anniversary, ..."


"Susah lewat lima Minggu!" Cheryl menimpali dengan ketus.


"Aku tahu." Badai mengusap pipi mulus istrinya, tatapannya begitu lekat. Cheryl mendongak, mereka saling bertukar tatapan rindu.


"Aku tahu ini terlambat dan aku tahu aku jahat, sebanyak emam kali anniversary kita, aku acuh padamu. Tapi terima kasih untuk kado terindah yang kau berikan setiap tahunnya. Enam kali ku acuhkan, enam kali juga kau bertahan." Lirih Badai.


Cheryl terkekeh samar. "Kenapa aku merasa semudah itu kau menganggap semua yang terlewat baik-baik saja?"


Badai menggeleng. "Aku juga hancur. Bermusim aku lewati tanpa mu, itu juga membunuhku."


"Kau baik-baik saja tanpa ku Badai. Kau bahkan bisa mencapai kesuksesan tanpa aku dan Eza."


Badai meredup ekspresi. "Lalu apa yang harus aku perbuat? Kamu masih menuntut perceraian?"


Setelah mencabut perkara Papa, apakah barter yang Cheryl inginkan perceraian?


"Apa kau akan mengabulkan nya?" Tukas Cheryl. Badai bergeming menatap wajah protes istrinya.


"Jawab Kak!" Cheryl meninggikan suaranya.


Mata Badai berkaca-kaca. "Aku tidak sanggup. Inginku memberikan semua yang kamu pinta. Tapi ini sulit Sayang. Beri tahu aku bagaimana caranya melepasmu, setelah penyesalan yang ku dapatkan ini?" Lirihnya.


"Kakak mau melepas ku?" Sergah Cheryl menceku. Ia geram dengan sikap tidak peka suaminya.


Yah, tapi tak dipungkiri semua ini berawal dari trauma yang Badai alami sepeninggal Cheryl tujuh tahun lalu. "Tentu saja tidak."


"Kalau begitu jangan." Setelah cukup lama keduanya hening, Cheryl menyeletuk. "Jangan lepaskan aku lagi, jangan acuhkan aku lagi, bahagiakan aku seperti janjimu dulu!"


Binar frustrasi yang sedari tadi Badai miliki, berangsur menjadi kebahagiaan yang hakiki.


"Kau mau memaafkan ku?" Terlebih saat Cheryl mengiyakan dengan anggukan kepalanya.


"Aku mencintaimu." Badai melabuhkan kecupan memabukkan di bibir merona istrinya, Cheryl pasrah saja. Setelah sekian lama tak bersentuhan, kini keduanya kembali mencecap manisnya saliva yang tertukar.