After One Night

After One Night
Part Sayang Dibuang


...Holaaaa mentemen After One Night, aku mau minta izin, buat up Sandy Chika yang udah aku rancang dari jauh-jauh hari......


...Sayang banget kalo part part ini dibuang gitu ajah, so aku up di sini yaaa... Semoga kalian betah dengan karakter sepasang suami istri yang bertolak belakang ini......


...OK, CEKIDOT.......


...✴️🔸🔸🔸✴️...


Istri pengganti, sepertinya itu kata yang tepat untuk menyebut posisi Chika di dalam rumah besar ini.


Di umur yang baru menginjak 21 tahun Chika harus menikah dengan pria tampan nan mapan berusia 32 tahun bernama Sandy.


Om Om gagal move on, menjadi sebutan yang selalu Chika gaungkan pada kekasih, tunangan, bahkan sudah resmi menjadi suaminya saat ini.


Tak ada cinta yang mendasari hubungan pernikahan mereka. Meski pertunangan sudah berjalan tiga tahun lamanya, Chika tahu Sandy masih mencintai Cheryl Arsya yang notabennya Kakak sepupu sendiri.


Tak mendapat cinta Cheryl, maka menikahi Chika pun jadi, memang seegois itulah laki-laki.


Hanya karena tak mau kehilangan pria mapan, tampan, dan sebaik Sandy, keluarga Chika sepakat untuk mengalihkan perjodohan yang awalnya untuk Cheryl Arsya menjadi pada Chika Putri.


Namun apa pun dasarnya, Sandy cukup yakin bahwa hanya bermodalkan tanggung jawab seorang suami, biduk rumah tangga mereka akan bahagia.


“Baby,” tepukan lembut di pipi membuat gadis cantik itu menggeliat tubuhnya.


Mata yang kadung terbuka kian menyipit, samar-samar ia melihat kelebatan raga bidang seorang pria berjalan ke arah jendela.


Seketika kening berkerut kuat tatkala sinar mentari menerjang masuk seiring dengan terbukanya jendela itu.


“Pagi istriku.” Sandy rapi dengan pakaian kantornya. Sesekali ia membetulkan posisi dasinya sendiri.


Disaat Sandy sudah memimpin perusahaan besar, Chika baru memasuki semester enam di universitasnya.


Chika bangkit dari tengkurap, pelan-pelan ia berbalik badan lalu bersandar pada kepala ranjang. “Udah jam berapa?” tanyanya.


“Delapan,” sambung Sandy.


“Apa?” Chika melotot seketika. “Kenapa baru bangunin Chika sih Om!” histerisnya, dan Sandy dibuat terkikik oleh gusarnya gadis cantik itu.


Malam tadi Chika sempat bilang akan ada pertandingan basket antar kampus, dan Chika ketua cheerleader untuk tim basketnya.


Namun lihat saja kelakuan musuh tampan Chika yang murah senyum itu, Chika berpikir Sandy pasti sengaja telat membangunkannya supaya tidak bisa ikut ke acara pertandingan.


Selesai sudah tugas membangunkan istri kecilnya, kembali Sandy keluar dari kamar, menapak lenggang menuju dapur beserta meja makan.


Seperti biasanya, jika untuk sarapan saja Sandy selalu membuatnya sendiri. Di rumah ini hanya ada satu asisten rumah tangga, itu pun datang saat pagi untuk bersih-bersih.


Sandy terbiasa melakukan apa pun sendiri, sama seperti saat dirinya tinggal di luar negeri.


Dua buah sandwich Sandy buat hari ini, yang satu tanpa sayur, sedang satunya lagi banyak sayur dan banyak daging tipis sesuai kesukaan Chika.


Sejauh pernikahan yang sudah hampir dua bulan, Sandy bertanggung jawab atas segala sesuatunya, dari keperluan makan Chika, kebutuhan skincare, bahkan hura-hura.


Sandy juga tak pernah menuntut Chika dari segi apa pun. Seperti melayaninya di atas ranjang ataupun di atas meja makan.


Tak lama setelah Sandy menyiapkan sarapan mereka, sepatu sneaker Chika terdengar gaduh kembali.


Sandy duduk pada kursi yang menghadap meja makan bundar miliknya sebelum Chika pun menyusul duduk di sisinya.


“Minum dulu air putih.” Sandy menyodorkan satu gelas minum pada istri kecilnya.


Chika menerima lalu meneguk. “Hari ini Om bisa anterin Chika kan?” desahnya setelah minum.


“Nggak bisa, Sayang.” Sungguh lembut penolakan dan sebutan Sandy untuk Chika, meski nyatanya kelembutan yang Sandy suguhkan padanya hanya karena Chika istrinya.


“Kenapa?” rengek Chika.


“Ada rapat pemegang saham.”


Chika mendengus. “Ya udah, kalo gitu Chika mau minta jemput Gala ajah,” juteknya.


“Hmm boleh,” respon Sandy yang menurut Chika tidak mencerminkan sikap seorang suami.


Kening nan mulus Chika berkerut keheranan, pasalnya sudah dua bulan pernikahan mereka, Sandy masih membebaskan dirinya bergaul dengan pemuda lain.


“Om nggak cemburu?” tanya Chika, jujur saja ia penasaran, sebenarnya apa yang membuat Sandy kekeuh menikahinya sedang tak ada kecemburuan yang Sandy pertontonkan sejauh ini.


Bukankah tidak cemburu sama berarti tidak mencintai?


Kemudian, untuk apa Sandy tetap melanjutkan pernikahan ini, padahal Sandy tahu Chika sering memiliki hubungan ambigu dengan teman sekelasnya.


“Cemburu?” Sandy terkekeh mendengar pertanyaan istrinya. “Sama siapa?”


“Gala lah, sama siapa lagi?” ketus Chika.


Sandy mengusap bibir dengan tisu. “Kalau Gala sudah lebih segalanya daripada aku, mungkin aku cemburu,” katanya.


“But, Gala lebih ganteng dari Om! Dia juga lebih muda dari Om!” Chika ketus.


“Tapi Gala tidak lebih kaya, tidak lebih mandiri, tidak lebih sukses dari...”


“Percaya!” potong Chika ketus. Entah apa posisinya di rumah ini, Chika masih merasa hanya menjadi teman sekamar saja.


Percuma cantik, percuma dinikahi, Chika merasa hanya dijadikan pajangan Om Om tampan itu saja.


“Kenyataannya Gala Cuma bisa hura-hura, dia masih tidak pantas bersaing dengan suami mu bukan?” tanya Sandy.


“Mungkin,” singkat Chika, dan Sandy menggeleng ringan dengan senyum yang juga ringan.


Sudah 3 tahun mereka bertunangan sampai berlanjut ke jenjang pernikahan, sepenuhnya Sandy percaya pada istri kecilnya.


Sandy yakin betul, bahwa Chika gadis yang tidak akan pernah tertarik pada pemuda mana pun selama ia bertanggung jawab penuh.


Wanita mana yang akan berpaling, dari lelaki sukses yang bisa memberikan kecukupan finansial?


Terlebih, ayah mertuanya sengaja menyetop fasilitas Chika agar lebih bergantung padanya.


Lihat saja, dunia seolah mendukung tindakannya. Sandy yakin seyakin-yakinnya, Chika akan jatuh sejatuh-jatuhnya, padanya.


Yah... Pada dirinya yang memiliki segalanya.