After One Night

After One Night
[Miris]


Jalanan macet, Badai semakin dibuat kesal oleh keadaan. Bocah tampan di sisinya hanya diam karena semenurut itu lah Ezra.


Tuk-tuk....


Kaca jendela Ezra diketuk, pria penjual es krim menyodorkan dagangannya pada Ezra. Kebiasaan para pejuang receh memang begitu, mereka menjajakan dagangannya saat ada kesempatan lampu merah.


Cuaca siang kian menggerah, Badai melirik kecil ke arah putranya. Memang Ezra tak bersuara seperti yang ia pesankan, tapi tenggorokan dan kecumik bibir Ezra seolah ngiler melihat es krim Abang-abang itu.


"Es krim." Ezra sampai keceplosan saking inginnya, padahal ayahnya tak membolehkan bicara atau bertanya jika tidak di tanya.


Lupakan soal kehausannya, Ezra hanya bisa meredup ekspresi saat es krim itu semakin jauh karena Badai melajukan mobilnya.


"Pasti enak makan es krim siang begini."


Tak berapa lama, mobil Badai menepi pada bangunan cafe terkenal. Ezra masih hanya diam saja tak bertanya atau pun bicara.


"Tunggu di sini, jangan ke mana-mana." Badai turun dari mobil dan menutup pintu setelah putranya mengangguk.


Selang beberapa detik, Badai kembali masuk ke dalam mobilnya dengan membawa satu kotak es krim coklat di tangannya.


"Makanlah es krimnya. Lalu minum dengan yang ini." Setelah membuka penutup kotak eskrim, Badai membukakan segel dari botol air mineral.


Wajah Ezra berbinar, tapi hanya sebatas itu saja, Ezra meraih kotak es krim coklat dari ayahnya kemudian melahapnya tanpa bicara.


Badai menghela napas. "Bukankah seharusnya Ezra bilang terima kasih hmm?" Ujarnya.


"Hmm, makasih." Angguk Ezra tanpa menoleh. Tangan dan mulutnya asyik menikmati eskrim pemberian ayahnya.


Badai lalu menyalakan kembali mesin mobilnya. Setidaknya anak kecil itu sudah tidak lagi kehausan.


Ezra melanjutkan makannya. Sampai di hotel milik Millers-Corpora group, Badai menepikan mobilnya.


Terlihat Ezra sudah selesai menyantap semua eskrim pemberiannya. "Lap semua sisa eskrim nya."


Badai meraih tisu lalu menyodorkannya pada Ezra. Ia turun dan berjalan memutar, lantas membukakan pintu milik Ezra. "Biasanya, di mana Mami mu Arisan?"


"Di lantai bawah, di restoran punya Mami Kimmy Eza." Jelas anak itu sembari mengalungkan tangannya pada tengkuk sang ayah.


Segera Badai melangkah memasuki bangunan megah tersebut dengan menggendong tubuh kecil putranya.


Logo Kimmy-food terlihat dari kejauhan, kaki Badai pun terayun menujunya. Tiba di dalam, Badai memesan satu ruangan VVIP dan duduk bersama putranya.


Sempat ia mengamati ruangan VVIP di sebelahnya. Inilah pertama kalinya ia kembali melihat secara langsung sosok seksi istrinya, duduk di tengah-tengah ibu-ibu muda sosialita.


Memang tak terdengar bagaimana Cheryl berbicara, tapi kelihatannya semua teman arisannya terkagum dengan penampilan dan perhiasan yang Cheryl kenakan.


Gegas ia meraih gawai tipisnya guna melayangkan panggilan telepon pada istrinya.


...✴️🔸🔸🔸✴️...


Di lain ruangan, Cheryl masih bersenda gurau bersama istri dari para pejabat, rekan kerja, relasi, dan kalangan sosialita lainnya.


Cheryl perlu bersosialisasi dengan perempuan-perempuan itu, pasalnya Cheryl juga sedang membangun bisnis selingan yaitu menjual barang-barang branded.


Sasaran utama Cheryl justru ibu-ibu kaya raya ini. Tentu saja Cheryl harus rela bergaya lebih glamor dari sebelumnya. Meski sebenarnya ia sendiri tak menyukai gaya itu sedari masih remaja pun.


"Kalungnya bagus Cheryl. Tante boleh kan pesan inisial khusus? Tapi dengan desain rantai kecil yang seperti ini dan bongkahan pink diamond." Wanita berbaju merah itu berpesan.


"Ok, Cheryl catat ya Tante." Ia terkikik. Lalu, beberapa ibu-ibu lainnya juga memesan masing-masing keinginannya.


Kriiiiiing...


Ponsel Cheryl berdering, segera Cheryl raih gawai yang meminta perhatian itu untuk diindahkannya. Sebuah nomor asing tertera di layar.


📞 "Aku tunggu di ruangan sebelah."


Cheryl memperbesar mata bulatnya, jantung tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Suara yang telah lama tak ia dengar kini terdengar. "Kakak."


Cheryl menoleh ke ruangan sebelah. Kaca transparan membuatnya melihat sosok Badai dan putranya duduk berdampingan.


📞 Tuuutt. Badai mematikan panggilan secara sepihak.


Cheryl beralih senyum pada ibu-ibu arisan yang masih sibuk melihat-lihat katalog barang dagangannya. "Maaf, Tante, Jeng, Cheryl keluar dulu, anakku menyusul." Pamitnya.


Secara bersamaan, Ibu-ibu itu menoleh ke ruangan sebelah, "Ya ampun, suaminya pulang Ryl?"


"Iya." Cheryl menyengir. Tak tergambarkan bagaimana bahagianya, setelah sekian lama tak bersua tiba-tiba ia melihat kembali suaminya.


"Pantesan mukanya bercahaya, ternyata si ganteng sudah pulang." Satu ibu-ibu yang paling tua di antara mereka menyeletuk.


"Baru kumpul sebentar sudah di susul." Satu lagi menimpali dengan senggolan menggoda.


"Maklum kan selama ini LDR." Imbuh ibu lainnya. "Jadi setelah bersama, seperti pengantin baru lagi." Tambahnya.


"Kalian bisa saja." Cheryl tergelak. "Ya sudah, sambil menunggu pesanan datang, Cheryl ke sebelah dulu." Pamitnya lagi.


"Ok."


Cheryl beranjak dari ruangan tersebut, berjalan gemetar menuju ruangan VVIP milik suaminya. Dag Dig Dug sudah barang tentu, rasanya seperti baru pertama kali berkencan.


Cheryl tersenyum pada Badai yang kini berdiri menatapnya lekat. "Kakak di sini?" Ucapnya, sembari membetulkan penampilannya.


Badai menyisir seluruh lekukan tubuh seksi istrinya. Rindu, namun sudah tak lagi pantas ia tunjukkan. "Jangan gunakan Eza untuk merayu ku."


"Maksudnya?" Cheryl memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah.


"Berapa banyak yang kau butuhkan untuk bisa bergabung dengan ibu-ibu sosialita mu? Aku berikan semuanya. Asal jangan sekali kali menggunakan putramu untuk merayu ku kembali." Badai berujar tanpa beringsut dari wajah bingung istrinya.


"Kau tahu Cheryl Arsya, hari ini peresmian jabatan ku, dan Ezra datang mengacaukan- nya." Ketusnya.


Cheryl melepas smirk samar. "Aku bahkan tidak tahu Eza menemui mu." Katanya.


"Apa begitu? Lalu bagaimana anak sekecil itu tahu di mana perusahaan ayahnya?" Sanggah Badai kembali.


Cheryl mengangguk. "Iya memang, Cheryl yang kasih tahu di mana perusahaan mu, di mana kuliah mu, siapa dan bagaimana dirimu, Cheryl rasa Eza perlu tahu semua tentang ayahnya bukan? Tapi jika itu juga sebuah kesalahan. Aku minta maaf." Ia meninggikan suaranya.


"Mami." Ezra memeluk ibunya. Ia merasa ia yang menjadi alasan ibu dan ayahnya bertengkar.


Cheryl berjongkok menatap nanar putra kecilnya. Usapan sayang ia berikan seperti biasanya.


"Lain kali bicara dulu sebelum melakukan apa pun. Sekarang Eza pulang sama sopir yah, Mami masih sibuk, Papi juga banyak kerjaan, Eza tahu kan kesibukan orang tua?"


Ezra sendu. "Maaf ya. Eza buat Mami di marah Om ini." Tangannya menunjuk lurus pada tubuh ayahnya.


Cheryl dan Badai sempat berkerut kening bersamaan. Om ini? Kenapa bisa Ezra memanggil Om?


"Eza kira, Om ini baik seperti yang selama ini Mami bicarakan. Ternyata tidak, dia bahkan tidak menyebut Mami istriku seperti Daddy besar ke Mami besar kan? Dia juga tidak mengatakan putraku tapi putra Mami."


Badai tercekik, rupanya di balik kediaman Azriel Ezra Laksamana, tersimpan intaian dugaan yang terpendam. Ezra mengamati setiap perilaku yang terlihat di matanya.


Cheryl tertawa pilu. "Hey, jangan berasumsi seperti itu Sayang. Papi begitu karena kesal sama kerjaannya yang kamu ganggu."


"Tapi dia tidak membiarkan Eza bercerita, tidak seperti Om Sandy yang selalu bertanya semua kegiatan Eza di sekolah. Bukankah itu berarti orang itu tidak peduli sama Eza?"


Cheryl terenyuh mendengarnya hingga kaca-kaca pilu meluap dimatanya. Terlebih Badai yang cukup miris dengan pandangan peka anak itu. Dirinya tidak lebih dari orang asing yang lalu dipanggil Om dan Orang Ini.