After One Night

After One Night
Part Sayang Dibuang 5



...Cuplikan di atas sekedar pengingat gaess, gimana hubungan Sandy dan Cheryl dahulu, mereka sempat bertunangan yaa gaess... Biar enggak keder, soalnya dah lama bgt ceritanya......


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Pagi menghampiri, Sandy menggeliat dan mengerut kulit-kulit di keningnya. Badan lumayan sakit-sakit, rupanya ia tidur terduduk di sofa.


Mata yang baru saja mengerjap telah tertuju pada ranjang miliknya yang kosong. Sandy melebarkan tatapannya, ini situasi yang tak biasa ia jumpai selama dua bulan terakhir.


Di mana biasanya istri mungilnya masih mengisi ranjang itu dengan dengkuran halus dan posisi tubuh yang tak beraturan arahnya.


Sandy meregangkan otot, bangkit dari duduk, lalu berjalan menuju kamar mandi. Mungkin saja Chika diare setelah memakan makanan yang dipesan di luar rumah.


Chika terbiasa dengan masakan rumahan, itu lah kenapa ia selalu menyempatkan waktu untuk membuatkan istri kecilnya makan.


Chika masih terlampau manja, terlalu jauh jika dibandingkan dengan Cheryl Arsya yang mandiri dan serba bisa.


Chika istrinya tak bisa memasak, tak bisa berdandan feminim, tak bisa bicara halus, dan yah..., ia menerima gadis itu dengan segala watak buruk yang melekat pada kecantikannya.


"Baby...," panggilnya. Ia mengetuk pintu kamar mandi, lalu berani membukanya setelah tak ada sedikitpun sahutan dari dalam sana.


"Kamu sakit Yank?" Nihil... Chika pun tak ia temukan di dalam kamar mandinya. Sandy berdecak, selama berhubungan dengan gadis cerewet itu, Sandy tak pernah dibuat tenang.


"Apa lagi sekarang ulahnya?" Sandy keluar dari kamar, berlari kecil menuruni anak tangga, di sofa sana, Endre, Lukas, David dan Ernest masih tertidur tak beraturan.


"Pagi Tuan," sapa seorang perempuan.


Sandy menoleh, terlihat Mbak Weling sudah sampai rumahnya. Biasanya, Mbak Weling datang pagi hari lalu pulang setelah rumah dalam keadaan bersih.


"Istriku mana Mbak?" Sandy menyisir seluruh ruangan yang ada. "Mbak liat Chika?"


"Loh, bukannya biasanya jam segini Nyonya muda belum bangun?" tanya balik Weling.


"Di kamar tidak ada. Makanya aku turun."


"Mungkin sudah berangkat kuliah, soalnya dari tadi juga Mbak nggak liat Nyonya muda kok, Tuan."


Tak lama setelah ia memastikan keberadaan Chika, Sandy kembali ke dalam kamar. Ia meraih ponsel dari atas nakas, mengudara kan panggilan telepon pada nomor My baby girl.


Tubuhnya mondar-mandir tak jelas. Tentu saja khawatir yang ia rasakan, bagaimana dengan sarapan pagi Chika, bagaimana dengan uang jajan Chika, bagaimana dengan kendaraan Chika, ia berpikir cemas.


Tak mendapat jawaban, Sandy mendatangi meja kerjanya. Di mana ia bisa mengakses laptop untuk melihat rekaman cctv rumahnya.


Beberapa saat setelah mengutak-atik laptop buatan perusahaan mertuanya, Sandy mengernyit kuat keningnya.


Rupanya, Chika benar-benar bangun pagi-pagi sekali hanya untuk menjauhi dirinya yang kemarin membentaknya.


Sandy menghela napas, lalu mendengus pelan. "Okay Sandy, kau yang memutuskan menikahi gadis ini, sabar...," gumamnya.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Kriiiiiing...


Dalam ruangan formal milik Sandy, telepon berdering pekak. Baru saja tiba di kantor, ia disambut oleh bunyi gawai hitamnya.


Segera ia menerima dengan mengangkat gagang telepon kantornya. "Sandy Cavalera di sini!" katanya.


Sandy mengernyit, informasi dari seberang sana benar-benar membuatnya gusar. Segera Sandy tutup telepon, keluar dari ruangan, melangkah cepat menuju lift kembali.


Detik ini juga, dia harus memastikan keamanan istrinya. Kantor polisi lah, tempat yang akan ia tuju setelah menaiki mobil mewahnya.


Tiba di tempat, benar saja Chika sudah duduk memberengut di salah satu kursi kantor polisi.


Sandy menghela napas sabar, lihatlah, baru naik transportasi umum satu hari saja, Chika sudah bermasalah dengan penumpang lainnya.


Hanya karena berebut kursi duduk, Chika dan teman kampus lainnya saling mendorong, berteriak, bahkan cakar-cakaran di tempat umum.


Mobil itu sampai harus menabrak trotoar jalan karena ulahnya yang tiba-tiba mengganggu fokus sang sopir.


Sebagai suami yang baik, tentu Sandy mengambil jalan termudah, yaitu menjamin istrinya, membayar kerugian dan lain sebagainya.


Kini, gadis itu sudah duduk tenang di jok sebelah kirinya mengemudi. Chika tak bicara sepatah pun kata, ia tetap kekeuh mengaku tak bersalah saat dituduh membuat onar oleh pihak kepolisian.


"Aku sudah mengembalikan fasilitas mu, please, mulai sekarang jangan membuat ku khawatir, kalau mau berangkat sendiri, setidaknya pakai taksi." Pelan, Sandy mencoba menuturi istrinya.


Bukan mengangguk atau mengiyakan, Chika justru tertawa. "Bercerai, lalu selesai urusan kita. Om nggak perlu lagi khawatir sama Chika," ujarnya enteng.


"Om tahu betul alasannya. Pernikahan kita tidak didasari rasa cinta!" pekik gadis itu.


Sandy menepi dan memberhentikan laju mobilnya, selain penasaran, ia perlu bicara tenang dengan gadis manja itu.


"Katakan bagaimana caraku membuat mu jatuh cinta? Setidaknya aku akan berusaha, lalu selesai perkara, tidak perlu bercerai."


Chika tertawa remeh. "Jadi cuma Chika yang wajib mencintai Om begitu? Om tidak?"


"Kamu bicara seolah tahu perasaan ku!"


Kesal dengan sanggahan suaminya, Chika meraba-raba saku celana bahan lelaki itu. Di tengah aksinya, Sandy justru dibuat meremang saat sentuhan sentuhan lembut Chika mengenai milik intinya.


"Sayang...." Ia terpejam, dan Chika berhasil meraih dompet hitamnya. Sandy pikir, Chika ingin memanjakan dirinya dengan sentuhan, rupanya tidak.


Chika mengerut kening tipis sembari membolak-balikkan dompet Sandy, jujur ia pangling dengan dompet yang ia pegang saat ini.


Sepertinya, benda itu berbeda dengan benda yang kemarin ia lihat di restoran. "Dompet yang kemarin ke mana?" tudingnya.


"Yang mana?"


"Yang kemarin, yang Om selipkan foto Kak Cheryl itu!" Chika meletup-letup.


"Foto?"


Lagi, Chika tergelak samar. "Nggak usah drama deh! Chika tahu, bukan hanya fotonya saja, tapi kak Cheryl, juga masih ada di hati Om!" tuduhnya ketus.


Sandy mengernyit, jadi rupanya ini alasan kenapa Chika marah padanya. Bukan karena dibentak, melainkan karena foto Cheryl Arsya yang pernah ia selipkan di dompet lamanya.


"Ya Tuhan..., sumpah demi apa pun Baby, ini tidak seperti yang...."


"Sekalian saja pajang fotonya di meja kerja Om, nakas, bahkan ruang tamu, Chika tidak peduli," potong Chika, Sandy bahkan tak diberikan kesempatan menjelaskan.


"Asalkan lepaskan Chika, biar Chika hidup tanpa paksaan, biar Chika bebas menjalani hidup yang seperti Chika mau!"


Sandy menggeleng. "Apa tidak ada pilihan yang lebih baik dari cerai?" tanyanya.


"Sayangnya tidak ada," sergah Chika. "Chika yakin Chika akan lebih bahagia tanpa Om!"


Sandy tercenung, matanya nanar menatap dalam-dalam wajah cantik istrinya. Di mana ia tak bisa menemukan cinta tulus seorang wanita, dan yah... kisah cintanya selalu berakhir dengan penolakan.


"Kenapa diam?" Chika bertanya ketus.


"Sakit," jawab lemah Sandy yang membuat Chika tergelak kembali. "Om yang menjadikan Chika pelarian, lalu Om sendiri yang bilang sakit?"


"Kamu tidak pernah menyukai ku, makanya sulit mengerti rasa sakit ku." Lagi, Sandy bersuara sangat pelan.


"Ditolak, dikerjai, diteriaki, bahkan diperlakukan seperti Om Om yang tidak tahu diri, kamu pikir mudah menjalani itu semua selama tiga tahun lamanya hmm?"


Ada getaran suara yang tiba-tiba Sandy tunjukkan. "Kalau tidak ada rasa sayang seperti yang kau tuduhkan, apa aku harus membuang waktu untuk hidup dengan gadis arogan yang selalu membuat ku marah?"


Chika terdiam, jika dipikir ulang, selama tiga tahun terakhir, ia memang tak pernah berhenti mengerjai tunangannya.


Membocorkan ban mobil Sandy, sengaja pergi hura-hura dengan teman prianya menggunakan fasilitas kartu kredit dari Sandy, dan masih banyak lagi yang bahkan lebih mengerikan dari itu.


Itu semua dia lakukan, demi membuat Sandy marah dan menyerah. Namun tidak, Sandy tetap bertahan hingga menikahinya.


"Aku punya uang, punya kuasa, aku punya modal untuk mencari gadis di luar sana, kenapa harus bersama mu yang tidak pernah menganggap aku baik? Aku juga bisa sakit."


"Om pikir menyimpan foto mantan tunangan nggak nyakitin Chika hah?"


Sandy menghela dalam. Ia percaya, ini hanya salah satu alasan Chika untuk menyudutkan dirinya, meminta perceraian, meminta kebebasan, dan lain sebagainya seperti yang sudah-sudah.


Dirinya saja tahu banyak bagaimana perangai gadisnya. Lalu, apakah ia perlu menjelaskan, bahwa dia memang sering bergonta-ganti aksesoris.


Bukankah sebelum menikah, Chika dan dirinya sudah berhubungan tiga tahun lamanya. Apa tak cukup membuat Chika peka dengan rasanya?


Dirinya memang tidak pernah mengatakan cinta seperti orang-orang, bukan tak mau, tapi... Chika terlalu arogan untuk mendengar suara batinnya. Chika jauh berbeda dari Cheryl yang senang mendengar isi hati pasangannya.


Tak apa ... Sandy berusaha keras untuk bersabar, setidaknya dengan perilaku baiknya di rumah, mengurus istri kecilnya, menjaga, merawat, bahkan tak memaksanya melakukan kegiatan intim, berharap Chika luluh dan ternyata tidak.


Kemarin, ia tak sengaja memakai dompet lamanya. Dompet yang bahkan tak pernah ia pakai selama kurang lebih empat tahun berselang.


"Apa sesulit itu mengerti ku? Kalau iya, akan aku pulangkan kamu ke rumah orang tua mu. Mungkin, itu bisa membuat Baby bahagia."