After One Night

After One Night
[Ending]


Kebahagiaan Badai telah lengkap, Cheryl bersamanya, terlebih Ezra pun menganggap dirinya Papi terbaik meski tujuh tahun lamanya ia abai begitu saja.


Sang mertua yang dahulu sempat menjadi tameng istrinya, kini berpihak padanya.


Savira sang ibunda pun mantap untuk bercerai dari ayahnya.


Seandainya Gustav masih memintai bantuan, mungkin Badai hanya mampu memberikan dukungan moril dan materil saja, misalnya pengacara, karena sampai saat ini kasus Gustav masih berproses.


Namun, untuk bercerai dari Cheryl Arsya, Badai takkan pernah melakukannya.


Gustav memang ayahnya, tapi Cheryl dan Ezra juga sudah menjadi tanggung jawab di dunia dan akhiratnya.


Di tengah-tengah reriuhan para tamu undangan, satu tepukan di pundak membuyarkan lamunan Badai Laksamana.


Mata legamnya memindai sosok cantik yang dahulu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Eveline berdiri di hadapannya, ia melukis senyum yang di iringi semburat sendu.


Eveline datang ke sini juga ingin menghadiri pesta pertunangan Sandy dan Chika.


Badai berekspresi datar. Lama sudah mereka tak saking bertemu. Terakhir, saat Badai melihat wanita itu telanjang bulat di hadapannya.


Yah, Eveline kekasih pertamanya, ciuman pertamanya, dan wanita pertama yang mengerti luar dalam dirinya.


"Gimana kabar mu?" Tanya Eve. "Kamu bahagia bersama orang yang paling egois sedunia?" Tudingnya.


Badai mengangguk. "Aku bahagia."


Eveline terkekeh samar. "Kau lihat Bai. Hanya karena cinta tulus ku. Aku rela menolak puluhan pria karena mu, aku sudi menjadi perawan tua untuk mu. Di saat wanita yang kau cintai pergi meninggalkan mu dalam keadaan tersulit, aku bahkan bersedia menunggu kedatangan mu kembali. Ketika istri mu menyerah dan membenci tingkah tamak Gustav, aku justru menukarkan banyak uang untuk meluluhkan hati ayah mu yang penuh racun. Sekarang lihat baik-baik Badai, siapa yang lebih tulus padamu." Ujarnya.


Badai tersenyum, yah, senyum bahagia seperti pancaran dari dalam hatinya. Tak pelak, Badai memang sangat bahagia.


"Apa pun anggapan mu, wanita yang kau bicarakan itu jodoh ku. Ibu dari anakku. Dia juga wanita yang paling mengerti aku. Dia wanita yang sangat aku cintai juga mencintai ku." Katanya.


"Mengerti mu? Kau bilang Cheryl mengerti mu? Jika iya begitu, Cheryl tidak akan pernah menjalin kedekatan dengan pria lain Bai. Buka mata mu lebar-lebar, seandainya kau mampu melihat dunia lebih luas lagi. Kau pasti menemui begitu banyak wanita yang lebih tulus padamu, dari pada Cheryl mu."


"Sayangnya dunia ku hanya milik Cheryl Arsya saja. Sudah pernah ku coba beribu kali, aku berusaha untuk tidak memikirkan dia, tapi malam kesepian ku hanya di temani bayangnya. Mungkin sudah tercatat dalam takdir ku. Cheryl tak pernah bisa pudar dari hidup ku, terlebih hati dan pikiran ku." Badai tersenyum manis.


Ada kebanggaan tersendiri baginya. Akhirnya setelah sekian tahun pernikahannya hampir pupus. Asa seakan kembali menghujaninya.


"Kamu naif." Ketusnya.


Badai laki-laki ter naif yang pernah Eveline kenal, dan dia mengakui dia lah wanita Ter bodoh yang pernah bernapas di dunia fana. Kenapa juga harus menunggu pria angkuh seperti Badai? Sedang di luar sana, pria tampan nan kaya menunggu dirinya.


"Naif memang di sandang oleh sebagian orang yang jatuh cinta. Dan yah, dari dulu sampai saat ini, aku hanya mencintai Cheryl Arsya saja."


Eveline berpaling. Lalu memilih untuk pergi dari tempat terkutuk itu. Mendengar kata perkata Badai, panas kian menjalari tubuhnya.


"Kak." Tak lama dari kepergian Eveline, Badai merasakan rengkuhan hangat di lengannya. Badai tersenyum kemudian mengecup pucuk kepala wanita itu. "Eza mana?"


"Sudah tidur di kamar atas." Cheryl menatap lekat wajah suaminya. Pria yang hampir ia gugat cerai itu masih begitu tampan lagi gagah.


Sampai detik ini, ia sendiri tak mengerti, kenapa dahulu ia berusaha kuat untuk menolak mengingat kenangan bersama pria itu.


Kenapa ia sempat melayangkan gugatan cerai pada pria itu. Sementara dirinya sendiri tidak sesempurna yang dia pikir selama ini.


"Terima kasih atas kesetiaan mu. Terima kasih, masih mau mencoba kesempatan ke dua bersama ku yang egois ini." Lirihnya kembali.


"Egois?" Badai menautkan alisnya.


Cheryl mengangguk. "Eve benar, selama kau jauh, bukannya menjelaskan, aku justru selalu berlindung di balik cinta dan kasih sayang semua orang, termasuk Kak Sandy. Bukankah seharusnya aku tidak boleh membuat mu merasa tidak berguna lagi?"


"Sudah berlalu." Badai tersenyum sembari menempatkan kepala Cheryl pada belahan dada bidangnya.


...✴️ After One Night ✴️...


...✴️ Sudah Ending musim pertama ✴️...


Mendengar keberatan Chika, mediasi pun di mulai. Pernikahan mereka akan di langsung kan setelah Chika benar-benar lulus SMA.


Sandy setuju usulan Chika, tak apa, sambil menunggu usia Chika legal dinikahi, Sandy bersabar menjadi kekasih saja.


Malam pertunangan selesai. Senin pun tiba seperti hari-hari sebelumnya. Pagi ini Sandy sudah rapi dengan setelan kasual.


Sengaja Sandy berbusana seperti ini, demi tak terlihat formal dan lebih tua dari kekasihnya. Mungkin usahanya ini pelarian terhebat yang pernah ia lakukan.


Sandy memarkir mobil sport berwarna merah miliknya tepat di depan teras rumah sang calon mertua.


Gadis itu acuh, dan sama sekali tak menoleh pada mobil mewahnya. Chika menaiki skateboard kesayangannya menyusuri jalan porselin menuju pintu gerbang.



"Chika, ..." Sandy menyalakan kembali mesin mobilnya. Ia melaju pelan di sisi tubuh mungil tunangannya.


Di sudut tempat, Raja dan Kimmy menghela napas berat, sama-sama mereka teringat masa lalu. Begitu lah dahulu kisah mereka di mulai. Tak ada harapan untuk bersama namun terikat cinta yang kuat setelahnya.


"Kakak antar pake mobil." Sandy menekan klakson secara beruntun. Sesekali mata Sandy memindai kaki mulus calon istrinya. Kulit Chika teramat kencang, pori-pori seakan tak nampak di retinanya. "Baby."


Chika mendadak mual mendengar sebutan Baby dari Om ini. "Enggak usah. Chika bisa sendiri!" Ketusnya.


"Kamu nggak takut bau matahari sama bau polusi hmm?"


"Chika lebih takut bau Om Om." Sanggah gadis itu.


Sandy terkekeh, jujur ini lah salah satu alasan yang membuat Sandy bersemangat menemui Chika, gadis itu begitu segar dan selalu menarik perhatian.


Chika terus mengayuh kakinya, mendorong papan beroda itu agar membawa raganya berselancar di jalanan komplek sampai keluar ke jalan raya.


Tak terasa napas Chika sedikit tersengal- sengal. Keringat sudah sedikit keluar, leher Chika basah.


Sandy sempat mengutuk keras otak ngeres nya. Bagaimana bisa gadis sekecil Chika membangkitkan gairah lelakinya.


"Sial!"


Setelah masuk ke jalan raya, Sandy begitu kesulitan, untuk mensejajarkan mobilnya dengan tubuh tunangannya.


Tak mampu bersabar lagi, Sandy pada akhirnya memberhentikan mobilnya lalu turun dari kendaraan beroda empatnya.


Ia mengiringi laju skateboard yang membawa serta kaki Chika dengan berlari.


Chika mengernyit kaget. "Ngapain ikutan turun?" Tukasnya seraya tergelak. "Bukanya Om nggak suka Chika? Ngapain juga berlaku seperti laki-laki yang sangat mencintai dirikyuuu?" Cibirnya.


Sandy lagi-lagi terkikik. "Beneran? Nggak capek hmm?"


"Nggak capek kok, makasih deh perhatian palsunya, tapi dari pada ngintilin Chika, nempel mulu kayak plak gigi, mending pergi sono! Kerja yang bener, buat modal nikah. Chika bisa berangkat sekolah sendiri!" Usir Chika.


"Kamu lupa. Aku sudah kaya." Sanggah Sandy.


"Kurang kaya! Soalnya selera Chika tuh tinggi banget. Jadi Om musti lebih giat lagi kerjanya biar duitnya menuhin satu pulau!"


Sandy berhenti langkah sambil menghela napas dalam. Chika benar-benar keras kepala, entah mirip siapa.


Satu yang pasti, ia bosan memakai cara baik-baik, Sandy kemudian berlari dan meraih paksa tubuh mungil calon istrinya hingga terlepas dari skateboard putih itu.


Chika berteriak meronta. "Om!" Tak terpikir olehnya, Sandy berani menggendong tubuhnya tanpa izin. "Turunin nggak?"


Sandy menyeringai. Ia lalu menepi pada selokan. "Turun di sini hmm?" Ancamnya.


Chika mendelik. "Ogah, nggak mau, Om gila hah? Om mau aku kecebur got? Emang dasar psikopat ya!" Teriaknya.


Sandy tergelak. Begitu pula dengan semua orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Wajah Chika memerah, seperti ingin meledakkan amarah.


Namun dia hanya bisa pasrah di dalam gendongan calon suaminya. "Turunkan Chika baik-baik!" Pintanya.


Tak menghiraukannya, Sandy membawa tubuh Chika, dan mendudukkannya di jok penumpang bagian depan mobil sport tanpa atap miliknya.


"Setelah antar kamu ke sekolah, aku baru bisa tenang ngantor. Sekarang menurut, duduk manis di sini, atau aku nekad menikahi mu."


Sumpah demi apa pun, Chika lebih takut ancaman dinikahi Om ganteng ini dari pada di hempaskan begitu saja ke selokan.


...✴️ Nyambung di judul yang baru kalo jadi ✴️...


...Silahkan tuliskan keluhan kalian, tapi sesuai janji, akoh mau meneruskan S2 nya di judul yang baru. Di sini cukup kisah peliknya kehidupan Badai dan Cheryl saja ya. Kalo pun ada bonus chapter, hanya seputar kelanjutan kisah Badai, dan Cheryl saja....


...Oya, sebenarnya kisah Cheryl sedikit melenceng dari outline awalnya, sepertinya itu berubah karena mood ku yang tidak terlalu baik....


...Dave Kiara akan tayang lagi yah, sambil nabung bab untuk karya baru ku. Tadinya aku mau pindah lafak mentemen, tapi gpp di sini dulu ajah, walaupun enggak byk yg baca....


...Terima kasih sebelumnya buat yang sudah mengikuti kisah berantakan ini, aku akui aku gagal membuat cerita ini menarik, Maaf kan aku mentemen......