After One Night

After One Night
[Guru khusus]


Rok span merah di atas lutut dipadukan dengan blouse big size putih polos, sepatu heels hitam, juga tas selempang berwarna senada yang hanya ditenteng dengan satu lengan.


Cheryl cantik seperti biasanya. Badai mengiringi langkah istrinya dengan busana kasual, kaos ketat hitam, celana jeans, sepatu sneaker, tampan menawan.


Ezra sudah dititipkan di rumah utama Raka Rain. Menjelang pesta pertunangan. Di sana banyak anak-anak seumuran Ezra yang lahir dari kerabat besar Raka, seperti cucu Darren, cucu Darius dan cucu Andre.


Maka siang ini Cheryl dibawa suaminya memasuki rumah minimalis modern yang cukup menawan.


Hunian ini tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Abstrak monochrome adalah warna cat yang Badai pilih.


Selain modern, suasana sekitar juga masih cukup asri, penggabungan beberapa elemen membuat desain dari rumah ini berkesan.


Letaknya juga tidak terlalu jauh dari sekolah internasional Ezra. Terlebih untuk mendatangi pasar tradisional dan mall mereka tidak memerlukan waktu berjam-jam di mobil.


"Kamu suka? Ini untuk mu dan Eza." Cheryl memandang suaminya dari samping. "Jadi Kakak mau ajak kami tinggal di sini?"


Pria itu menoleh. "Tentu saja, tapi itu pun kalau kalian cocok dengan model dan suasana rumah ini. Karena sekarang, selain Mama, prioritas utama ku adalah anak dan istriku." Ungkapnya.


Cheryl tersenyum, ia lalu mengalihkan perhatian pada setiap celah bangunan yang dikelilingi dengan kaca transparan.


Badai peluk istrinya dari belakang. Lalu menenggelamkan dagu pada salah satu pundak wanita itu.


"Aku sengaja mencari rumah yang tidak terlalu besar, terpenting, bisa menampung aku, kau, Eza dan Mama. Tapi kita bisa cari hunian lain, kalau memang, rumah yang ini tidak terlalu Sayang sukai." Katanya.


Cheryl menggeleng. "Suka kok. Tidak perlu cari yang lain. Ini sudah cocok dan strategis. Tapi gimana sama rumah lama Kakak?" Tanyanya.


"Rencananya rumah utama akan dijual. Di sana terlalu banyak kenangan tentang Papa, kasihan Mama kalau terus menerus mengingat ingat mantan suaminya." Jawab Badai.


Cheryl mengernyit. "Apa mereka akan bercerai? Serius?" Ia berbalik menatap suaminya seksama.


"Mama sudah bulat." Angguk Badai. "Mungkin selama ini Mama banyak menahannya karena rasa cinta yang dia miliki, tapi semua melebur setelah sedemikian sakitnya."


"Apa tidak menyesal nantinya?" Sambung Cheryl lagi.


Dalam beberapa kasus, perceraian bukan satu-satunya hal yang akan menyelesaikan masalah. Seperti Cheryl dan Badai contohnya, mereka hanya mendapatkan kesalahan komunikasi saja.


"Kamu tidak mendendam?"


"Tidak."


"Terbuat dari apa hatimu? Kenapa bisa sebaik itu hmm?" Jujur saja, Badai sendiri tak mampu memaafkan segala perlakuan Gustav pada Cheryl dan Ezra.


Cheryl lagi-lagi tersenyum. "Tidak sebaik itu, hanya saja, Cheryl lebih ingin memaklumi sikap Papa."


"Dia terlalu jahat padamu." Sanggah Badai.


"Background masa kecil juga mempengaruhi psikologis seseorang. Dan kebanyakan kasus seperti ini, berawal dari ketidak sehatan keluarganya di masa lalu. Kemarin aku mencoba mendalami lagi kasus yang terjadi diantara Nek Laura, Grandpa, dan Grandma. Kenyataannya, dahulu Grandpa yang menorehkan luka di hati Nek Laura sampai menumbuhkan perilaku abusif Nek Laura itu sendiri. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah. Pada siapa pun, bullying tidak diperbolehkan. Selain hukuman. Papa mu juga memerlukan pendampingan. Psikolog yang tepat, akan membantu Papa beranjak dari dendam masa kelamnya. Jangan tinggalkan dia, tetaplah menjadi putranya, mendukungnya."


Badai tersenyum tipis. "Terima kasih kesempatan ke dua mu Baby."


Cheryl menjawab dengan senyuman dan raba tangan yang mengarah pada bagian inti suaminya. "Makan apa dia selama ini?"


Badai terkekeh. "Jangan menggodaku. Di sini sepi. Aku bisa memakan mu di mana pun ku mau."


"Aku tidak takut." Cheryl menerbitkan senyum meledek. Ia justru menarik kepala gesper suaminya untuk dibukanya. "Kita coba suasana baru. Di rumah yang baru." Ajaknya.


Badai terpejam pasrah membiarkan Cheryl memakan bibir ronanya. Tangan besarnya mulai merengkuh, meremas punggung, turun ke pinggang kecil itu, lantas berlabuh kepada kedua gundukan besar.


"Kau membuat ku gila." Deru napas kian bergelora. Badai membalas ciuman dengan kadar kegilaan yang sama buasnya.


Rok span itu Badai tarik ke atas. Lalu, melakukan kembali penyatuan inti keduanya dengan cara kegemaran mereka. Cheryl mengernyit menerima sesuatu yang masuk dari belakang dan cukup sulit bersatu.


"Apa di sini sudah ada tukang kebun hmm?" Cheryl takut kalau-kalau ada orang lewat di taman sana. Sebab seluruh dinding kaca bangunan ini transparan.


"Tidak ada, kalau pun ada, biar saja mereka melihatnya." Tersengal-sengal Badai berujar.


...✴️🔸🔸🔸✴️...


Malam harinya, Badai dan Cheryl sampai di kediaman keluarga Rain. Orang-orang sudah meramaikan hunian mewah bag istana ini.


Gaun hitam Cheryl sangat cantik, Tuxedo milik Badai pun tak kalah menawannya. Keduanya berjalan bergandengan memasuki ballroom pesta.


Tepatnya malam Senin Sandy dan Chika akan melangsungkan pertunangan. Bulan depan ulang tahun Chika yang ke 17, dan bersamaan dengan bulan itu Sandy pun memasuki usia 29 tahun.


Tak seperti Sandy yang selalu tersenyum. Chika justru menekuk wajahnya terus menerus. Padahal, gaun pesta, sepatu heels, dan tatanan rambut yang Chika miliki begitu indah.


"Selamat yah Dedek." Cheryl mencium pipi adik sepupunya. "Dedek cantik banget." Pujinya.


Chika diam merengut. Rasanya ingin sekali berteriak sekerasnya, dan lari dari acara terkutuk ini, lalu hidup bahagia bersama orang yang dia suka.


"Selamat Sandy." Badai memeluk sahabat terbaiknya.


"Selamat Kak Sand." Cheryl beralih pada Sandy. Yang mana membuat Chika semakin melirik sinis.


"Bukankah seharusnya kalian cekik Chika biar jadi Wewe gombel? Dari pada harus menyeret Chika ke dalam drama konyol ini."


"Acara pernikahannya kapan jeng?" Chika beralih fokus pada satu wanita paruh baya bergaun silver blink-blink.


"Mungkin tahun ini juga." Kimmy tersenyum menjawabnya.


"What?" Chika mendelik penuh. Tahun ini? Yang benar saja, lalu bagaimana dengan kegiatan belajarnya?


"Uh, pantesan kemarin Papanya Sandy nyari guru terbaik untuk program home schooling. Jadi rupanya mau buat Chika?"


Kimmy tergelak ramah. "Begitulah. Sandy mau yang terbaik untuk calon istrinya."


Chika lagi-lagi terperanjat. "Home schooling? Emang ada gila-gilanya ni Om Om, dia beneran mau rusak masa depan Gue."


Tak peduli pada apa pun lagi, gegas Chika mendatangi dan menarik tangan Sandy yang masih sibuk berbincang dengan teman- temannya. "Ikut Chika!"


"Chika, ..." Sandy berkerut kening. Begitu pula dengan semua tamu dan kerabatnya.


Tak seperti yang sudah-sudah, tumben gadis itu mau memegang kulit Sandy, biasanya di sentuh sedikit saja Chika menepis.


"Ada apa ini hmm?"


Di tempat sepi, Chika memberhentikan langkah. Ia tatap dalam-dalam netra coklat kehitaman milik calon suami dengan penuh intimidasi.


Sandy mengulas senyum tipis saat Chika menepuk-nepuk dada bidangnya. "Chika mau tanya. Jadi bener Om mau cari guru home schooling buat Chika hah?"


Sandy mengangkat kedua bahu. "Bukankah kita sudah mau menikah. Lalu kenapa memangnya?"


"Hhh!" Chika terkekeh sumbang dengan gesture mencibir. "Jadi Khammmuu nannnyaaa? Khamu bertannyyya-tannyyya?"


Sandy terkikik mendapati raut aneh Chika.


"Ini nggak lucu Om! Chika nggak mau home schooling, Chika masih mau bebas bermain sama temen-temen!"