
Minuman beralkohol dan camilan ringan, menjadi teman nonton bagi Sandy dan teman-teman bulenya.
Pukul dua pagi Endre, Lukas dan David tepar di masing-masing sofanya, hanya Ernest dan Sandy yang masih sanggup terjaga.
Mereka sengaja tak banyak meneguk minumannya. Ernest masih asyik chating dengan kekasihnya di London sana, sedang Sandy perlu menjaga istri gadisnya di kamar.
Di rumah ini tak ada satpam ataupun pelayan yang berjaga malam, benar-benar hanya ada Sandy dan Chika saja.
Andai Sandy ikut mabuk, entah akan seperti apa keadaan rumahnya. Yang pasti, Sandy tak mau terjadi sesuatu pada istrinya.
Terlebih, teman-teman bulenya sering hilang kendali saat dalam pengaruh minuman keras. Tentu Sandy tak mau mengambil resiko yang membahayakan Chika.
"Kalian pindah saja ke kamar tamu, aku harus kembali ke kamar." Sandy berpesan sedang Ernest hanya bergumam kecil tanpa beralih dari layar ponselnya.
Endre, Lukas, dan David sudah tak bisa menyahut. Mereka sama-sama mabuk dan tak berdaya lagi.
Sandy beranjak dari duduk. Ia berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar atas yang dihuni istri kecilnya.
Tiba di dalam, seperti biasanya Chika sudah tertidur. Dan seperti biasanya pula Chika selalu menghabiskan tempat di atas ranjangnya yang bahkan berukuran 200 x 230.
Ilustrasi....
Lekat Sandy menatapnya. Chika yang dia lihat masih seperti gadis mahasiswa pada umumnya, bedanya, kini gadis itu sudah boleh ia sentuh layaknya wanita dewasa.
Teringat bagaimana cara temannya menatap Chika, Sandy jadi peka pada kelebihan fisik gadis itu. Selain cantik, tak dipungkiri jika Chika sudah menggoda tanpa dibuat-buat.
Segala macam tonjolan pun mulai terlihat lebih besar dari sebelumnya. Chika sudah bisa dikatakan seksi.
Seharian penuh Chika tak mau bicara dengannya. Memiliki istri yang jauh lebih muda, mungkin inilah resikonya, dibentak sedikit saja, sampai berhari-hari ngambeknya.
Tiga tahun bertunangan bukan waktu yang singkat baginya. Meski terkadang jengkel dengan kelakuan kanak-kanaknya, boleh dijamin Sandy sangat menyayangi gadis itu.
Tak mau lelah berdiri, Sandy membereskan tempat tidur yang sesak oleh barang benda milik istrinya. Boneka, ponsel, bantal yang berceceran, ia letakkan di tempat seharusnya.
Sempat Sandy ke kamar mandi, kemudian mengganti pakaian dengan yang lebih ringan. Lantas, ikut menyusul masuk ke dalam selimut tebal yang membungkus tubuh istrinya.
Mereka memang tak pernah melalui kegiatan intim, tapi untuk tidur, keduanya selalu bersama di atas ranjang yang sama.
Sandy berbaring santai, matanya tertuju pada langit-langit kamarnya, tangan yang seharusnya memeluk sang istri, justru ia pakai untuk menyangga kepalanya.
Angan-angan menerawang..., jika dipikir secara waras, ia benar-benar naif. Dua bulan menikahi gadis cantik, selama itu pula tak ada usaha pendekatan, tak ada usaha merayu, tak ada usaha apa pun untuk bisa lebih intens.
Sandy merasa, tak cukup banyak memiliki alasan untuk menyentuh istrinya. Sedari awal menikah, Chika selalu tidur lebih dulu, lantas terbangun lebih siang darinya.
Mungkin itu salah satu alasan, kenapa Sandy tak pernah bisa menyentuh istrinya. Chika terlalu acuh untuknya yang belum bisa membuat gadis itu luluh.
"Hotdog-nya enak Bang..." Chika mengigau.
Sontak, Sandy beralih menatap wajah polos gadis itu. Sandy terhenyak, ia terdiam beku mendapati rangkulan Chika yang berlabuh pada dada bidang miliknya.
Selain memberikan tangan dan pelukan hangat, apa lagi memangnya? Sandy membetulkan posisi kepala Chika, agar berada di lengan nyamannya.
Sandy terkekeh pelan, ternyata nyaman juga punya istri, sekarang ia tak perlu lagi kesepian atau pun kedinginan. Pucuk kepala Chika dia berikan kecupan ringan.
"Sweet dreams," ucapnya berbisik.
"Ahh!" Baru saja menutup mata, jantungnya dikejutkan oleh kaki Chika yang tiba-tiba saja mengenai milik intinya.
Sandy menggigit geram bibir bawahnya. Ia dilema, antara ingin menyingkirkan kaki itu atau tetap menikmati gesekan-gesekan yang Chika ciptakan tanpa sadar.
"Ahh, Baby...."
"Lucu...," igau Chika kembali.
Bahkan, Chika juga meraih miliknya dengan tangan polos. "Sayang," panggilnya.
Chika menyengir tanpa membuka mata lelapnya, ia memegang, menarik-narik, juga memainkan roket miliknya. Entah harus dicegah atau dinikmati, Sandy lagi-lagi dilema. "Babyhh...," desahnya.
Sandy membelalak nikmat. Ini pertama kalinya Sandy merasakan sentuhan lembut di area-pribadinya. Sampai berusia sematang itu, milik Sandy tak pernah disentuh wanita manapun.
Jantung yang berdetak kencang mengiringi rembesnya keringat yang menghiasi pori-pori kulit berbulu halusnya. "Sayanghh." derunya.
Sudah dua film thriller yang Sandy tonton malam ini. Kedua film tersebut sama-sama banyak suguhan adegan dewasa.
Normalnya lelaki sudah pasti terangsang. Dan sekarang, ia harus menerima sentuhan langsung dari permainan tangan istrinya.
"Beibhh...."
"Lucu hamster-nya. Lihat, bulunya lembut banget, Chika suka." Sesekali Chika menoel, bahkan menggaruknya dengan kuku.
"Chika...."
"Sssttt, jangan berisik!" desis Chika. "Nanti hamster Chika lari!" Namun, meski saling bersahutan, Chika masih terpejam pulas.
Sandy berdesah. "Kalau ditarik begitu sakit, Yank...," keluhnya merengek. "Aw!"
Chika mengerut kening. Sandy merasa Chika sudah akan tersadar dari mimpi yang entah apa isinya. "Jangan kasar begitu...."
Mendengar rengekan Sandy, sontak mata bermanik biru Chika terbelalak lebar.
"Aaaa!" Sandy menutup telinga dengan kedua tangannya. Sepertinya Chika cukup terkejut dengan aksinya sendiri.
Chika bangkit secara reflek, lalu memukul perut Sandy dengan hentakan kasar. Yang pasti gerakan tak disengaja itu membuat Sandy mengeluh. "Sakit, Baby!"
"Om ngapain hah?" Chika mengendus-endus tangannya. Lalu, meluah-luah seperti mau muntah. "Jangan harap Om bisa menyentuh Chika!"
"Kamu yang menyen...,"
"Tidur di sofa!" Chika mendorong tubuh kekar suaminya. Kemarin masih membuatnya kesal dengan foto Cheryl Arsya, sekarang beraninya lelaki itu menyentuhnya. "Sana, cepetan, tidur di sofa!" berangnya.
Sandy menepis. "Kita suami istri bukan? Apa salahnya saling menyentuh?"
"Iya, suami istri. Tapi nggak saling mencintai! Om menikahi Chika, cuma buat pelarian aja, Om pikir Chika nggak tahu?"
"Huff..." Sandy mendengus setelah niat buruknya berhasil dikuliti istrinya.
"Pindah!" titah Chika. Mata dan wajahnya kian memerah, sepertinya Chika teramat murka padanya. "Pindah Chika bilang!"
"Okay-okay!" Sandy berteriak.
Tak mau membuat Chika terus mendorong tubuhnya, Sandy bangun dari tempatnya, lalu berjalan gontai menuju sofa kamarnya.
Dug... bantal pun ikut melayang menyusul punggungnya. Sandy menoleh memelas, di ranjang sana Chika sudah membelakanginya, bahkan menutup rapat-rapat tubuh mulusnya.
"Hays!" Sejenak lelaki itu merutuki nasib. Rupanya selemah itu dia pada gadis yang bahkan sangat bergantung padanya.
Dari makan, jajan, skin care, uang kuliah, dan lain sebagainya, Chika masih meminta padanya. Tapi, sedikit saja Sandy tak berani saat gadis itu meneriakinya.
Sandy duduk di sofa. Roket yang semula berdiri tegak, kini lemas setelah mendapat pukulan dan jeritan murka istrinya.
"Huh..." Meski sebentar, setidaknya Sandy pernah merasakan bagaimana meremang-nya ketika milik intinya dimainkan istri mungilnya.
"Sial!" Sandy duduk meringkuk di sofa, sedang matanya terus menatap gundukan selimut yang menggulung istrinya.
Ia jadi berpikir, sebenarnya apa salah dan dosanya? Perasaan dirinya selalu berbuat baik pada siapa pun.
Kenapa harus memiliki istri yang mengerikan seperti Chika? Ernest salah besar, jangankan mempraktekkan adegan di film yang mereka tonton, untuk tidur saja Chika tak mau dekat.
...📌 Yeeee, akooh terharu, ternyata masih ada yang baca... hihi Makasih yaaa mentemen......