After One Night

After One Night
Bonus chapter


Di atas ranjang bulat dengan cover putih polos, kelopak mawar merah bertaburan menghiasinya.


Juntaian kain organza beterbangan di setiap sisinya. Angin pantai yang berembus kencang menambah kesan romansa erotika.


Kamar yang di desain khusus untuk berbulan madu bagi sepasang insan yang merindu.


"Kau tahu, aku sangat menginginkan mu," ucap berat pria berusia 21 tahun itu. Pemuda yang tidak lain adalah Azriel Ezra Laksamana.


Di balik selimut tebal keduanya bergumul penuh peluh. Gesekan gesekan dari kulit kulit bagian bawah yang menyatu membuat wanita di bawah kungkungan Ezra melenguh.


"Ough ah, sumpah Zra, aku tidak tahan lagi, please, sekali kali sentuh aku sedikit saja, kiss me please," hiba wanita itu.


Mendengar kata-kata tuntutan dari lawan mainnya, Ezra bangkit dari pergumulan yang disaksikan oleh banyak pasang mata.


Secara acuh Ezra keluar dari selimut tebal lalu meninggalkan ranjang dan wanita cantik yang masih setengahnya telanjang.


"Cut!" teriak sutradara. Ia mengeluarkan gurat kecewa pada artisnya. "Aduuh, sedikit lagi Zra," tegurnya.


Pemuda bernama Ken memapas jalan sang Tuan muda. "Syuting belum selesai Bos," peringatnya.


"Aku tidak mood lagi," acuh Ezra, ia lalu memasuki kamar ganti, duduk bertelanjang dada di hadapan cermin besar berhiaskan bohlam lampu.


Ken menghela. "Kenapa? Padahal barusan sudah hampir selesai pengambilan gambarnya loh," tuturnya.


"Divana tidak profesional!" ketus Ezra. Ia raih botol minum miliknya untuk diteguk dengan telak.


"Ck!" decak Ken.


Artisnya ini benar-benar arogan, angkuh, juga dingin membeku. Hanya karena rengekan Divana, Ezra menyudahi aktingnya.


"Kita lanjut sekali take lagi saja ya Bos, untuk sementara, tolong kesampingkan dulu rayuan Divana," bujuk Ken.


Ezra terkekeh getir. "Kalo mau aku lanjut syuting, ganti pemainnya saja, gadis bodoh itu tidak profesional," cetusnya.


Ken mendelik. "Ganti? Yang benar saja Bos? Syuting sudah berjalan sejauh ini, gimana bisa ganti pemain lagi?" tanyanya heran.


"Aku tidak peduli!" tepis Ezra.


"Tuhan," dari balik pintu satu kru lagi mendengus perlahan. "Mentang-mentang cucu dari pemilik PH, segitu sombongnya," gerutunya pelan.


Kru pria itu kembali ke lokasi syuting, di atas ranjang bernuansa bulan madu, Divana merengut kesal. "Gimana syutingnya, lanjut enggak?" tanyanya.


"Bang Ezra minta ganti pemeran wanita!"


"What?" Divana memekik seraya mendelik. "Bisa-bisanya dia minta aku diganti. Memang apa salahnya aku?" tanyanya bingung.


"Kita sudahi saja dulu syutingnya, tunggu sampai mood Tuan muda kita membaik," usul sang sutradara.


Bekerja sama dengan cucu dari pemilik PH besar memang cukup merepotkan, mau bagaimana lagi, nyatanya film film Ezra selalu laris di pasaran.


Aktor tampan itu memang digemari banyak kaum hawa, tua muda semuanya menyukai karya karya Ezra.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Dalam ruangannya, Ezra terdiam menatap undangan pernikahan Rigie Priscilia dan Lucky pranata.


Sudah bertahun-tahun berlalu, Ezra masih belum bisa move on dari gadis pengkhianat itu.


Terlihat juga di seluruh sosial media Rigie, gadis itu tak segan memamerkan foto prewed bersama tunangannya.


"Bos masih stalking mantan? Mending lupain deh, Nona Rigie udah mau nikah," tegur Ken.


"Aku benci mereka, semoga pernikahannya tidak jadi, gagal total, dan gadis bodoh ini menangis," doa Ezra ketus.


Ken menghela napas. "Kalo kirim doa yang baik-baik Bos, jangan kejam begitu," tuturnya.


Tangannya membanting keras kartu undangan Rigie dan Lucky.


"Siang malam mengacau ku, ada PR dia datang padaku, mau ini itu dia merengek padaku, lalu tidak ada petir tidak ada guntur, tiba-tiba dia tunangan sama cowok lain, sial bukan?" imbuh Ezra merutuk.


Ken terkekeh. "Tidak jodoh Bos, ikhlas ajah udah, kalo selama itu, Bos cuma jagain jodoh orang,"


"Persetan!"


"Jadi gimana syutingnya?" tanya lanjut Ken.


"Aku bilang ganti pemainnya! Kalau tidak, jangan harap aku mau lanjut syuting." Ezra bangkit dari duduk, lantas berjalan menuju pintu keluar.


Semakin mengingat pose bahagia dan senyuman senyuman Rigie, murka pun kian membuncah dalam hati.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Tiba di rumah sang ayah, Ezra masuk dengan langkah arogan. Raut bengis tak pernah pudar dari wajahnya.


Meja makan yang ia tuju, di sana Keysha, Cheryl dan Badai sudah menunggunya untuk makan malam bersama.


Ezra sempat mencuci tangan di wastafel khusus sebelum kemudian ia kembali pada meja makan.


"Malam Keys Sayang." Kecupan lembut mendarat pada pipi gadis 6 tahun itu. Meski demikian dinginnya, Ezra kepada Keysha begitu hangat.


"Udah dapet undangan Rigie, Za?" tanya Cheryl.


"Hmm," angguk kecil Ezra seraya duduk, lalu satu pelayan wanita memberikan nasi pada piring Ezra.


Cheryl tersenyum. "Nanti kita dateng yah, udah lama loh kamu nggak nemuin Rigie, kali ini kasih dia selamat," ajaknya.


"Ezra masih banyak agenda," tolak Ezra. Lantas, ia memulai ritual makan malam dengan masakan Nusantara.


"Ya nggak apa-apa sih nggak dateng pun, Rigie juga pasti ngertiin kesibukan kamu, tapi setidaknya kado lah Sayang," sambung Cheryl.


Ezra manggut-manggut. "Mami ajah yang atur kadonya kalo begitu," ujarnya.


"Ucapannya apa?"


"Semoga tidak pernah berbahagia!"


"Ya Tuhan Ezra!" kejut Cheryl. Badai terkikik mendengar jawaban mind blowing putranya.


Ezra menatap ibunya. "Simple bukan? Itu lebih berkesan daripada ucapan lainnya," cetusnya.


"Jadi rupanya jagoan Papi belum bisa move on nih?" tanya Badai.


Ezra tak menyahut, namun dari goresan kekesalan yang dia tangkap, Badai tahu persis apa yang putranya rasakan.


"Masih banyak gadis cantik, kamu ganteng, ngapain dendam gitu, nggak baik," timpal Cheryl.


Lagi-lagi Ezra hanya terdiam tak menjawab terguran ibunya.


Cheryl selalu bilang, ikhlas dalam hal apa pun akan membuatnya bisa merasakan kedamaian, tapi sulit bagi Ezra untuk ikhlas pada pengkhianatan Rigie-nya


...鉁达笍馃敻 Thanks for reading 馃敻鉁达笍...


Visual Ezra di usia 21 tahun.