
Kriiiiiing...
Dering ponsel di atas nakas terus berbunyi, empat laki-laki tampan berbau alkohol itu masih pulas tertidur.
Satu orang pria lainnya baru saja memasuki kamar elit tersebut. Dia Jimmy yang harus mengondisikan anak majikan besarnya.
"Tuan muda." Kerap kali ia menepuk pipi Badai Laksamana demi melancarkan tugasnya. "Bangunlah Tuan muda."
Kriiiiiing....
Ponsel masih berbunyi, Jimmy memindai benda tipis sang Tuan. Sebuah nama tertulis Cheryl Arsya di sana.
"Istri Anda menelepon. Bangunlah." Badai yang sedari tadi tak berniat beranjak, kini berusaha membuka matanya.
"Cheryl?" Badai mencoba bangkit, lalu Jimmy membantunya hingga bersandar pada kepala ranjang. "Mana ponsel ku?"
"Ini Tuan." Jimmy memberikan gawai itu pada sang Tuan dalam keadaan sudah dalam mode panggilan.
"Baby." Badai tersenyum pucat. "Kamu menelepon ku?" Pusing di kepala tak lantas menghalau kebahagiaanya.
๐ "Bisa kita bertemu?"
"Tentu saja. K-kau di mana hmm?" Sahutan antusias itu membuat seluruh temannya terbangun satu persatu.
๐ "Aku di parkiran basement."
"Basement? Sayang tahu aku di hotel mana?"
๐ "Kak Sandy yang memberitahu."
Badai melirik ke sekujur tubuhnya, sungguh kondisinya masih tak keruan. Apakah pantas ia bertemu dengan istri tercintanya dalam keadaan acak-acakan seperti ini?
"Beri aku waktu sedikit saja. Aku turun secepatnya."
๐ "Aku tunggu." Badai mematikan sambungan telepon setelah mendapat jawaban penutup istrinya.
"Siapa?" Ernest bertanya dengan suara berat khas bangun tidur.
"Cheryl di depan. Aku harus segera bersiap!" Badai lalu beralih pada Jimmy. "Bantu aku Jimmy." Katanya.
"Baiklah." Jimmy mengangguk, lantas membawa serta Tuan muda arogannya masuk ke dalam kamar mandi.
"Bagaimana dengan Mama?"
Di tengah-tengah aktivitas mereka membersihkan tubuh dan mengganti pakaian, Badai bertanya nanar.
Jimmy tersenyum irit. "Nyonya sudah banyak yang menemani, termasuk lawyer-lawyer terhebat."
Badai menghela. "Mama merasa kecewa dan langsung menggugat cerai Papa setelah kebusukan Papa terungkap. Tapi Cheryl masih bertahan bahkan setelah aku memperlakukannya dengan tidak baik."
"Kadar cinta seseorang berbeda-beda dan berubah-ubah. Mungkin, Nyonya Cheryl terlalu mencintaimu Tuan." Sambung Jimmy.
"Terlebih aku." Badai menyahut lirih, yah karena sejatinya cinta Badai tiada pernah lekang oleh waktu. Acuhnya selama ini, hanya karena membela harga diri sebagai seorang laki-laki.
...โด๏ธ๐ธ๐ธ๐ธโด๏ธ...
Dalam mobil, Cheryl terus menghela napas berat. Ia berusaha memberanikan diri untuk mengutarakan sesuatu yang seharusnya sudah lama ia pinta dari suaminya.
Tak lama, Badai masuk ke dalam mobil dengan senyum manis. "Ezra tidak ikut?"
Badai menilik ke belakang demi memastikan keberadaan putranya. "Baby sendiri ke sini, di jam begini?" Cecar nya lagi.
"Ini sudah hampir jam makan siang. Kita bicara di tempat lain saja." Cheryl lantas menyalakan mesin mobilnya dan berlalu dari tempat itu.
Tak ada percakapan selama beberapa menit itu. Jujur saja Badai merinding, sikap dingin Cheryl membuatnya ketakutan.
Di atas joknya ia berasumsi macam-macam. Apakah mungkin Cheryl ingin memberitahu- kan kepadanya tentang perjodohan bersama Sandy?
"Ada apa ini? Apa yang aku takutkan kemarin benar-benar terjadi? Bicara sekarang, jangan membuatku takut." Badai tak kuasa menahan pertanyaan yang menggelitik rasa ingin tahunya.
Cheryl tak menggubris laki-laki itu, ia hanya fokus mengendarai mobilnya hingga sampai pada sebuah restoran.
"Turunlah. Kita bicara di dalam." Baru saja Cheryl mendorong pintu mobilnya, Badai menyeletuk kembali.
"Tidak usah mencari tempat yang bagus hanya untuk mengatakan kabar buruk, Cheryl Arsya!" Pekiknya.
"Yah! Ok, bicaralah!" Badai yang berwatak keras, ia berusaha kuat untuk mengesampingkan ego dan mengalah turun.
Keduanya berjalan beriringan memasuki bangunan estetika yang terletak di tepi kolam ikan super luas. Gemercik air dari beberapa pancuran begitu menenangkan.
Dari tahun ke tahun bangunan ini cukup digandrungi. Cheryl memilih tempat duduk yang paling dekat dengan kolam. Suasana asri ini semoga bisa mendinginkan hati Badai yang panas.
Keduanya duduk berdampingan. Sejenak mereka mengingat kenangan di masa-masa SMA. Di mana Badai masih menggandeng Eveline dan Cheryl hanya bisa melihat dari kejauhan.
Mereka juga memindai sebuah pintu bertuliskan toilet. Dahulu Cheryl menemui Badai di depan sana. Cheryl memberikan ucapan selamat ulang tahun, dan Badai menolak kue kecil pemberiannya secara tidak sopan.
"Kamu ingat, di sini banyak sekali kenangan pahit ku bersama mu." Cheryl membuka obrolan dari masa lalu dulu.
"Apa kau sengaja mau membuat ku semakin hancur karena rasa bersalah ku hmm?" Badai tak pernah bisa menahan amarah jika ekpektasi tak sesuai harapan.
Cheryl mengernyit. "Rasa bersalah? Apa setelah mengumumkan hubungan mu dengan Eveline, kamu merasa bersalah?"
"Papa yang membuat pengumuman itu!" Badai menyentuh bahkan menggenggam tangan mulus istrinya.
"Jadi kau sudah sadar bahwa ada nama Gustav di antara kita?"
"Aku minta maaf." Semudah itu ia katakan, setidaknya ia mencoba meski terlambat terlalu banyak.
Cheryl terkekeh di tengah desiran angin yang menerpa surai ikalnya. "Kakak tahu, ibarat kaca, benteng cintaku terlalu kuat untukmu, ia terus kokoh meski penolakan, hinaan, cacian, dan semua perlakuanmu mengguncang ku."
Cheryl terdiam sejenak. "Tapi lama kelamaan, kaca juga bisa retak, dan kau sudah berhasil menciptakan keretakan selama tujuh tahun lamanya." Ujarnya kemudian.
Badai terkekeh. "Kau yang meninggalkanku begitu saja! Meski aku tahu kamu sudah beberapa kali berbicara tentang Papa, tapi, ..."
"Kau tak mempercayai ku, Badai!" Tukas Cheryl.
"Ok, itu salah ku. Aku minta maaf. Jangan katakan apa pun yang membuat ku frustrasi." Badai tak mau jika sampai Cheryl meminta sebuah perpisahan.
"Tapi aku yakin tidak ada masa depan bahagia untuk kita. Karena sampai sekarang, aku mencoba kuat dan berakhir menyerah."
"Please jangan katakan itu." Sekali lagi Badai mencoba menghalau ucapan perpisahan istrinya. "Bukankah selama ini perusahaanku mencukupi semua kebutuhan kalian? Kita masih suami istri yang sah. Apa tidak ada satu kesempatan lagi saja?"
Cheryl membuka tas bahunya. Ia tetap mengambil surat gugatan yang telah lama ia pesan dari pengacaranya. Dan baru hari ini Cheryl berani melayangkannya.
"Tanda tangani surat ini. Kita bertemu di pengadilan Badai. Seperti kemarin, kau masih boleh memberi hak nafkah untuk putramu. Aku tidak akan pernah memutuskan tali darah antara kau dan Eza. Tapi Kita, sudah cukup, kita selesai sampai di sini."
"Cheryl." Badai memelas. Ia mendekat dan merangkum kedua rahang wanita itu. Aroma damainya masih sama. Ia lalu melabuhkan kecupan pada bibir meronanya.
Cheryl terdiam. Jujur saja Cheryl bahagia mendapatkannya. Tapi rasanya, sudah tiada lagi hasrat yang membara seperti dahulu.
"Balas aku." Badai berkata lirih saking frustrasinya. Berapa lama ia memakan bibir itu, namun Cheryl tak merespon sentuhannya.
"Kamu lupa, aku bukan gadis 18 tahun lagi, aku wanita yang sudah bisa berpikir lebih matang, aku tahu kau tidak menginginkanku, aku tahu kau bukan untukku, aku cukup sadar diri atas itu."
Badai mengernyit. "Tahu apa kamu tentang perasaan ku?"
"Aku memang tidak pernah bisa tahu bagaimana perasaan mu. That's the point! Kita tidak berjodoh! Kita tidak secocok itu Badai Laksamana!" Cheryl sedikit berteriak.
"Sayang." Lirih Badai.
"Cukup Bai. Keras mu meruntuhkan keretakan yang ku miliki. Sampai tahun kemarin aku masih berharap bahwa pengorbanan ku mendapatkan perjuangan mu. Tapi tidak, kau kembali dengan gelar mu, just to insult me!"
"Maafkan aku."
"Kita masih bisa menjadi ayah dan ibu yang baik untuk Eza kita. Tapi tidak harus bersama. Putra kita pintar, dia tidak cengeng, dia mengerti. Aku yakin Eza pun paham dengan keputusan kita ini."
"It's your decision! Not me!" Badai berteriak histeris, dan itu berhasil menyita perhatian sekitar.
"Tapi kau juga harus menyetujuinya Badai. Ini demi kebaikan bersama." Sambung Cheryl.
"Bulsyyit!" Tampik Badai. "Aku tahu kau begitu kekeuh, karena sudah ada Sandy yang akan menggantikan aku."
"Terserah apa katamu!" Cheryl bangkit dari duduknya. Bukan Sandy, tapi sikap keras Badai lah penyebabnya.
"Cheryl Arsya!" Kembali Badai memaksakan sebuah ciuman.
Plakk!
Cheryl berlari setelah melayangkan tamparan keras pada pipi suaminya. Badai bergeming pilu di tempatnya. Surat gugatan cerai kini terbang tertiup angin hingga masuk ke dalam kolam.