After One Night

After One Night
[Rumor]


Badai kehilangan arah, ia tak tahu harus mendatangi siapa selain dari pada teman- teman setianya di kelab malam.


Gemerlap lampu temaram yang melingkupi ruangan VVIP tersebut seolah menjadi teman penyesalannya.


"Kau ke mana saja hah?" Lukas berteriak keras di depan wajahnya.


Musik remix dari DJ terbaik menggema lebih nyaring. Tubuh yang setengah melayang tak mau diam, ia bergoyang-goyang menurut irama dentumannya.


"Ternyata banyak wanita cantik di Indonesia. Mereka seksi, eksotis, menggemaskan. Aku mau tahu siapa yang akan menyerahkan diri padaku malam ini." Tak mendapat jawaban dari Badai namun Lukas terus saja mengoceh.


"Huaaa!" Badai berteriak sekeras-kerasnya. Persetan dengan wanita-wanita itu, Badai tengah kacau, ia hanya bisa berakhir dengan minuman saja malam ini.


Tak tanggung-tanggung, Badai meneguk minumannya langsung dari botol. Sekali teguk ia tandas di kerongkongan.


"Presdir kita kenapa?" Endre mulai peka terhadap ekspresi wajah dan perilaku sahabat arogannya.


"Mungkin Cheryl lagi." Sahut Ernest.


"Bai, kamu terlalu banyak minum!" David menegur saat Badai meraih kembali minuman dari botol lainnya.


"Ingat, kau tidak terbiasa minum banyak seperti kami!" Timpal Ernest.


"Persetan!" Badai lagi-lagi menenggak minuman miliknya tanpa mau peduli apa pun lagi.


"Aku kacau, Badai hancur, kenapa aku harus selalu menganggap Cheryl ku bukan wanita yang baik, bahkan setelah berbulan- bulan tinggal bersamanya?" Badai meraih lengan berisi Endre. "Kenapa Endre, kenapa hah?" Teriaknya.


Endre berkerut kening. "Cheryl kenapa? Kau dari mana? Kenapa pulang-pulang kau jadi kacau seperti ini?" Tanyanya.


Badai terkikik geli. "Papa ku sendiri menginginkan harta putra kandungnya! Apa menurut kalian masuk akal?" Ia terkekeh sumbang.


"Apa tidak puas dia memiliki putra yang sangat kaya? Kenapa Papa harus picik seperti itu? Aku malu menjadi putranya!"


Banyak awak media yang mulai muncul dan merekam kejadian itu. Sore tadi media sosial digegerkan oleh berita penyatuan Badai dan Eveline, sekarang awak media juga ingin mengorek momen untuk bisa dijual.


Ernest sadar akan hal itu, ia lalu meraih Badai dan membekap mulut sahabatnya. "Kita bawa Badai ke hotel." Ajaknya pada David.


Badai meronta. "Badai belum selesai bicara bodoh!" Teriaknya.


"Kau mabuk, kau tidak terbiasa minum sebanyak ini!" David menegur dengan sentakan.


"Kau meragukan ku?" Badai meremas pipi sahabatnya, kemudian ia terkikik. "Tapi aku memang pecundang!" Umpatnya.


"Yah benar kau pecundang, dan kami sudah mengingatkan mu dari dulu." Ernest terkekeh mengumpat temannya. "Ternyata pecundang kita sudah taubat."


Gegas sekawanan laki-laki tampan itu keluar dari kerumunan orang. Mereka memasuki satu mobil sport kecil yang sama, sebab hanya Endre yang masih bisa sadar menyetir.


Brugh...


Endre menutup pintu mobil setelah Badai duduk dengan tenang di jok penumpang bagian depan.


Ernest dan Lukas melompat ke jok penumpang bagian belakang, dan David duduk di atas kap mobil dengan kaki yang mengapit Ernest dan Lukas


Sesekali David berdiri lalu berteriak-teriak seperti orang gila saat Endre mulai melajukan mobilnya.


Bahkan ia juga membuang jaket dan t-shirt mahalnya sembarangan. Rupanya mereka cukup menikmati suasana alam Indonesia yang begitu bergairah.


Sampai di hotel, sekawanan laki-laki tampan itu memasuki kamar termahal. Mereka sengaja memesan satu kamar yang difasilitasi dengan beberapa kamar seperti apartemen. Tenang, Badai yang akan menjamin pengeluaran mereka.


Selang di jam berikutnya. Badai sudah terkapar di atas ranjang. Badai memang sering menjauhi minuman keras sebab ia tak bisa mengendalikan pusing saat minum.


Lukas dan lainnya duduk di sofa, mereka mulai mencari informasi terkait dengan sahabat arogannya sambil menikmati hidangan sup pengar yang mereka dapatkan dari jamuan hotel.


"Jadi rupanya berita ini yang membuat teman gila kita semakin gila." Ujarnya.


"Eve? Bukankah Badai dan Eveline sudah lama tidak bertemu? Kenapa bisa Papa Badai mengumumkan hubungan mereka?" Sambung David.


"Ada konspirasi di sini." Ernest menimpali. Mereka sudah seperti detektif dadakan saja.


Endre berasumsi. "Mungkinkah Eve juga menjadi dalang dari perpisahan mereka selama ini?"


"Kehidupan mereka terlalu drama." Lukas tertawa mencibir. "Kasihan Eza dan Cheryl. Mereka menjadi korban yang paling dirugikan." Katanya lirih.


"Aku tidak usah menikah saja. Punya anak istri tidak menjamin kebahagiaan." David menyerah sebelum berperang.


Semua orang tergelak renyah. Kehidupan pelik sahabatnya lumayan menorehkan trauma bagi mereka.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...


Waktu berlalu, mentari kini menggantikan tugas sang malam yang mulai beralih tugas ke belahan bumi lainnya.


Pagi hari yang cerah, namun tidak secerah hati Cheryl Arsya. Berita yang menyambut pagi ini sungguh menyentak kewarasannya.


Acara gosip di media televisi benar-benar sukses menggemparkan seluruh sudut rumah milik Dhyrga Miller.


Sudah empat tahun lamanya Eveline menjadi selebriti tanah air, tentu saja menjadi sorotan saat hubungannya diketahui publik, apa lagi kali ini yang diduga kekasihnya masih suami Cheryl Arsya Kiehl Miller.


Cheryl kacau, tidak seharusnya Badai mengumumkan hubungan dengan wanita lain disaat dirinya masih berstatus sebagai seorang istri.


"Mami, jadi Papi mau menikah lagi? Mami, kenapa Papi mau menikah lagi? Mami bilang Eza harus panggil dia Papi!" Ezra berlari menarik-narik blouse ibunya setelah melihat stasiun televisi menyuarakan kabar ayahnya yang katanya berhubungan dengan Eveline.


"Eza!" Cheryl sampai kelepasan menyentak dan melototi putranya. "Cukup nakalnya, diam dan duduk di kursi, habiskan sarapan mu!"


"Cheryl." Queen menegur.


Siapa yang bodoh, siapa yang memilih berakhir seperti ini? Siapa yang menyuruh bertahan? Tidak ada, selain Cheryl sendiri.


"Kamu boleh marah, tapi tidak dengan Eza!"


Ezra mencebik dan menunduk. "Maaf."


Cheryl menghela napas ia lalu berjongkok dan memberikan kecupan pada putranya.


"Tolong biarkan Mami menyelesaikan urusan Mami sendiri, Eza cukup menurut sama Mbak Mila, bisa kan? Ada hal orang dewasa yang boleh Eza campuri, tapi ada yang tidak. Paham kan hmm?" Tanyanya.


"Paham." Ezra mengangguk.


"Bagus, Eza pintar." Ezra sendu saat menerima kecupan singkat ibunya.


Cheryl lalu beralih pada Queen. "Cheryl titip Eza Mam. Cheryl harus bertemu dengannya sekarang juga." Ujarnya.


"Kamu yakin?" Queen memastikan. Mungkin saja setelah itu, Cheryl berakhir menjanda.


Setelah beberapa kali menghela napas, Cheryl mengangguk. "Semua perlu diselesaikan bukan?" Lirihnya.


Queen mengangguk. "Mami harap apa pun nanti keputusan kalian berdua. Akan menjadi hal yang bisa diterima Eza dan mentalnya." Katanya.


"Cheryl yakin Eza anak yang pintar juga kuat. Dia pasti mengerti semua keputusan kami." Cheryl sesak, tapi mungkin keputusan ini satu satunya tindakan yang paling dibenarkan.


...鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍 鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍鉁达笍馃敻馃敻馃敻鉁达笍...