
Dhyrga sendiri tentu tak berani memisahkan Badai dan Cheryl setelah melihat adanya mis communication di antara mereka.
Poin yang Dhyrga ambil adalah, Badai lebih ingin menunjukkan sikap tanggung jawab sebagai seorang laki-laki dan menolak meminta perlindungan dari sang mertua karena suatu alasan.
Yah, alasan utamanya responsibility Badai itu sendiri. Cheryl bukan pula meninggalkan Badai karena tidak mau hidup susah, ia hanya gagal mengajak bicara suami arogannya agar setuju untuk keluar dari kubangan konspirasi seorang Gustav.
Kata-kata mis communication mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tapi pada kenyataannya, hanya karena satu perkara itu saja, cinta Badai dan Cheryl terombang-ambing.
Badai duduk gemetar di atas jok mobil mewahnya. Netra legamnya mengarah pada balkon kamar istrinya.
Dari sana bisa terlihat bagaimana Cheryl menunggu Sandy datang dengan sambutan baju menawan. Kimono Cheryl beterbangan tertiup angin, cantik sekali.
Memang tak ada ekspresi lebih, seperti cinta mendalam atau pun kebahagiaan yang tersuguh di wajah Cheryl. Hanya ada tatapan kosong kebingungan yang Badai tangkap.
Mungkinkah Cheryl tak benar-benar menunggu Sandy? Jika diingat kembali, ekspresi wajah Cheryl tak seperti saat wanita cantik itu menunggu dirinya pulang. Tak ada hasrat, tak ada makna apa pun yang tersirat selain sorot mata datar dan gersang.
"Dulu kamu berkorban untuk menyudahi kesulitan ku, dan sekarang, aku harus berkorban untuk kebahagiaan mu. Kita impas setelah itu." Gumamnya.
...✴️🔸🔸🔸✴️...
Di lain sisi. Sandy melangkah gamang menuju balkon kamar milik istri sahabatnya. Kakinya melewati ranjang yang ditempati Ezra.
Jantung berdegup kencang setelah mendapat panggilan dari Cheryl Arsya. Tangannya rajin mengepal lalu dibukanya kembali. Keringat dingin dahinya saat ini. Terlebih, tatkala sosok seksi Cheryl mulai terdapat di kedipan matanya.
"Kak Sand." Cheryl sengaja menanggalkan kimono tidurnya, ia hanya menyisakan satu helai lingerie tipis yang bahkan transparan.
"Cheryl." Sungguh, Sandy dibuat tercengang mendapatinya. Bibir merona itu, belahan dada itu, paha mulus itu, leher jenjang itu, Sandy berpaling dari pemandangan haram yang tidak seharusnya ia lihat.
Cheryl meredup senyum. "Apa hubungan kita tidak semesra itu? Kenapa Kak Sand tidak pernah mau tidur dengan ku? Kenapa Kak Sand tidak pernah mau menatap ku? Apa aku tidak lagi cantik seperti dahulu?" Cecarnya.
Cheryl berusaha menyudahi kebingungan yang akhir-akhir ini melanda dirinya. Ia mengingat Sandy adalah suaminya, tapi tak secuil pun Sandy menyentuh dirinya. Lalu ada apa dengan semua ini?
"Apa sebelumnya kita sering bertengkar dan hubungan kita tidak lagi harmonis? Kenapa aku merasa Kak Sand bukan suami ku?" Cheryl meraih pipi Sandy agar kembali menatapnya.
Sandy menelan telak salivanya. Ingin rasanya menerkam wanita seksi itu. "Apa aku tidak cantik?"
Sandy menggeleng, ia lalu berjalan mundur dan masuk ke dalam kamar, ia meraih sehelai selimut dari sofa putih, untuk kemudian menutupi tubuh molek istri sahabatnya.
"Pakailah, dingin kan?" Tak mungkin Sandy menolak jika terus dibujuk, karena sejatinya Sandy begitu menginginkan wanita itu.
Cheryl menatap hampa mata Sandy. "Aku sengaja menggoda mu." Polosnya.
Sandy tersenyum ia lalu mengajak Cheryl duduk, lantas tangannya membelai lembut pucuk kepala wanita itu. "Dengarkan aku."
"Pasti." Cheryl menjawabnya cepat.
Ia memang sengaja melakukan hal ini, mencoba merayu, menjajakan diri pada Sandy demi mendapatkan jawaban yang pasti.
Dokter bilang dia mengalami gegar otak ringan. Jika ada hal yang tak mampu ia ingat, ia ingin kembali mengingatnya.
Sandy mengikis jarak. Tatapannya begitu lekat menuju mata biru Cheryl. "Kau tahu Cheryl. Jika hari ini menjadi malam terakhir ku bersama mu. Aku ingin sekali saja, kau memelukku sebagai seorang kekasih."
"Hah?" Lirih sekali celetukan spontan Cheryl Arsya. Tiba-tiba dahinya berkerut, semakin kebingungan.
"Aku tertarik padamu Cheryl, aku tergoda padamu, aku sangat mencintaimu, aku menyukai suara mu, menyukai bentuk tubuh mu, terlebih kepribadian mu." Kata Sandy.
"Lalu?"
"Tapi aku tidak mungkin menyentuh istri sahabat ku. Aku tidak akan tega mengkhianati sahabat terbaik ku."
Degup...
Cheryl mengernyit. "Istri sahabat mu?"
"Yah." Sandy menurunkan pandangannya. Ia tak memiliki keberanian untuk menatap mata Cheryl Arsya. "Maaf jika ini membuat mu terlalu banyak berpikir. Tapi mari kita sama- sama sudahi permainan ini." Lirihnya kembali.
"Kenapa begitu?" Cheryl mengusap keningnya, ia berusaha kuat mengingat sesuatu yang seharusnya ia ingat. Bukan ingatan justru sakit kepala yang ia dapat.
"Buket bunga, coklat, gaun, perhiasan dan semua yang kau dapatkan selama ini, itu bukan dariku Cheryl, tapi Badai sendiri yang menyiapkan hadiah-hadiah itu." Cheryl menangis.
"Dia pandai mengetahui apa kesukaan mu. Dia manusia arogan yang paling mengerti dirimu. Aku akui itu." Sandy menggenggam tangan Cheryl. "Kamu menolak mengingat kenangan bersama Badai. Aku juga tahu ini terjadi karena trauma berat yang kau alami."
"Kak." Seketika Cheryl mendapatkan kembali rentetan peristiwa yang membuat kepalanya berdenyut nyeri.
"Kalau kau ingin sentuhan lembut ku, aku bersedia memberikannya. Bahkan jiwa ku pun, milik mu malam ini. Tapi mari kita sama- sama menyudahi hubungan lama mu!" Kata Sandy lagi.
"Kak!" Air mata Cheryl mengalir deras. Entah apa yang wanita itu rasakan, Sandy tak mau menghentikan kata-katanya. Biar saja malam ini Cheryl tahu semuanya.
"Kau masih istri Badai Laksamana, Cheryl Arsya. Kau menjaga baik-baik nama Badai yang terukir indah di hatimu. Kau menjaga pertalian sakral mu bersamanya dengan merendahkan diri di matanya, kau rela dipandang materialistis demi itu semua!"
"Bukan karena silau oleh uang-uang perusahaan Badai. Sejatinya kau meminta hak itu, karena kau tak mau ada perpisahan di antara kalian, kau sangat mencintainya!"
"Hiks." Cemeos hati Cheryl berhasil meloloskan kembali satu isakan tangis.
"Tapi jika kau benar-benar ingin melupakan semua kenangan tentang nya, dan yakin mau menjalani hubungan bersama ku. Mari selesaikan dulu hubungan mu dengannya." Imbuh Sandy merujuk.
"Hiks." Tak ada lagi suara selain dari pada tangisan sesal Cheryl Arsya. Setega itu ia melupakan Badai setelah bertahun lamanya menunggu dalam keadaan setia.
"Urus saja perceraian mu dulu. Karena aku tidak mungkin tega menyentuh istri sahabat ku sendiri." Tambah Sandy kembali.
"Mungkin kau ingat. Sebelum kecelakaan menimpa mu. Kau sudah mengajak Badai bertemu, dan meminta perceraian padanya."
"Sekarang, bagaimana kau saja. Yang pasti aku masih sudi menunggu mu." Lanjutnya.
"Bicara soal rasa. Aku sangat mencintai mu Cheryl Arsya. Tak ada wanita lain yang berhasil mengalihkan duniaku, selama ini."
📣 Kalo ada typo tolong kasih tau gess, ini aku lagi kejar tayang, wkwk...