
...📣 Holla, Pasha menyapa, dengan bonus chapter seperti yang aku janjikan pada kalian sebelumnya......
...Kehidupan manis Badai dan Cheryl setelah 15 tahun pernikahan, yang dibagi menjadi tujuh tahun berpisah sebelum delapan tahun mereka bersama......
...Biar nggak lupa deskripsi wajah mereka, aku kasih visual biar lebih gampang deh......
...Menurut kalian pas gede, Eza mirip siapa?🤭...
Badai Laksamana 35 tahun.
Cheryl Arsya 33 tahun.
Badai yang biasanya cool, gagah, macho, kini lelaki itu melemah di atas ranjang miliknya.
Sedari satu bulan yang lalu Badai mengalami kehamilan simpatik. Entah benar atau tidak, tapi ada yang namanya Couvade Syndrome.
Setelah penantian panjang, akhirnya Cheryl diberikan kesempatan untuk hamil anak ke dua.
"Makan dulu, nanti lama-lama Papi kurus loh. Ini gimana mau jadi suami siaga kalo gini ceritanya sih?" seperti wanita pada umumnya Cheryl merutuki suaminya.
Badai menghela pelan, tak seperti saat awal pernikahan, Cheryl gemar merutuk setelah 730 pekan pernikahan.
Lumrah, semua wanita mungkin mengalami masa rewel dalam berumah tangga. Bahkan handuk basah saja bisa menjadi bahan percekcokan setiap paginya.
"Mungkin saking sayangnya Papi ke Mami, makanya gini. Papi takut Mami yang ngidam, makanya sekarang Papi yang gantiin," sahut Badai.
Cheryl mencebik. "Tapi gara-gara Papi gini. Kita jadi nggak ikutan Axel sama Lily bulan madu kan?" sambungnya.
"Sayang marah?"
"Enggak, cuma berasa sayang-sayang ajah, kita enggak ikutan jalan-jalan sama mereka ke Dubai," timpal Cheryl.
"Nanti kalo baby ke dua kita udah lahir, kita sekeluarga ke Dubai deh," Badai beringsut, kepalanya ia rebahkan di atas pangkuan istrinya. "Lagian di kamar ini juga masih bisa bulan madu."
"Inget, Mami lagi hamil muda," Cheryl cubit bahkan menarik hidung mancung suaminya.
Badai menyengir. "Tapi punya Papi udah bangun Yank, gimana dong?"
Cheryl menghela. "Heran, akhir akhir ini sering banget punya Papi bangun tanpa aba-aba deh," rutuknya.
Badai terkekeh. "Abisnya Mami seperti candu."
Cheryl mengulum senyum, suaminya ini dingin di mata sahabatnya, galak di mata bawahannya, bijaksana di mata Ezra Laksamana, tapi tukang merayu di dalam kamarnya.
"Dari luar dulu mau?"
"Boleh," segera Badai membuka celana miliknya.
...✴️🔸🔸🔸✴️...
Ezra Laksamana 14 tahun.
Di halaman rumah utama Badai Laksamana, pemuda tampan nan muda itu asyik mendribble bola orange.
Cucuran peluh membasahi sekujur tubuh putih bersihnya, di usia 14 tahun Ezra sudah kelas dua SMA. Seperti keluarganya yang lain Ezra juga lompat kelas.
"Eja!" bersamaan dengan teriakan itu, bola Ezra terlempar jauh.
Brakkk...
"Hiks hiks," gadis bernama Rigie merengut mendapati kue ditangannya jatuh berserakan di lantai.
Ezra memutar bola mata. "Ya Tuhan," gerutunya.
Rigie semakin besar semakin cantik, namun menurut Ezra semakin rapuh pula hatinya, sering ngambek, merengut, cemburu nggak jelas, padahal mereka sahabat.
"Eja, kamu mah!" lihat saja saat gadis berpakaian serba pendek itu memunguti puing-puing kue miliknya, bibirnya cemberut maju.
"Ck," Eza berlari kecil menyatroni sahabat rewelnya. "Ngapain bawa-bawa beginian ke sini sih?" tanyanya ketus.
Rigie merengut. "Ini aku buat sendiri, sengaja pagi-pagi aku nonton tutorial membuat kue, khusus buat kamu, tapi malah di lempar bola!"
Rigie menghela napas. "Ini jerih payah ku loh Za, kamu mah sulit banget buat minta maaf doang," gadis itu melengos pergi setelah mengatakan itu.
Ezra menatap sisa kue-kue yang sudah terjatuh, dari bentuknya, sepertinya kue ini cukup rumit saat dibuat.
Ezra melangkah gontai mengikuti arah kaki Rigie mengayun. Gadis itu duduk di sofa tepi kolam renang setelah membuang potongan kue kotor ke dalam tong sampah.
Ezra menyusul duduk di sisinya. "Maaf deh," ucap Ezra, setidaknya dia merasa perlu meminta maaf.
"Aku nggak suka kata deh di ujung maaf Eja. Kayaknya enggak ikhlas banget. Mending nggak usah minta maaf," tampik Rigie.
Ezra berdecak. "Cewek tuh kalo ngambek maunya apa sih? ribet bener deh hidupnya. Tadi nyuruh minta maaf, sekarang bilang nggak usah!"
Rigie diam, dan itu membuat Ezra semakin merasa bersalah. "Kamu mau aku goyang kayang biar dimaafin?" tanyanya.
Bibir Rigie melengkung samar, seperti menahan tawanya. "Pokoknya denda Za, kamu udah buat kerja keras ku sia-sia."
Ezra menghela napas. "Denda apa? kiss hmm?" ledeknya.
"Dih, maunya kamu itu sih!" Rigie menaikan ujung bibirnya. "Rigie mau nonton film horor terbaru di bioskop berdua, titik!"
"Ogah!"
"Ih bagus tahu!"
"Bukan genre gue Rigie!"
"Ya kan ini denda, jadi mau nggak mau harus mau Eja!"
Ezra berdecak. "Emang nggak ada film lain selain horor? setan kok ditonton! suka aneh-aneh ajah orang-orang ini!"
"Hiburan Eja!"
"Hiburan itu yang menghibur, bukan yang nakut-nakutin!" ketus Ezra.
Rigie menyipitkan matanya mendengar ungkapan Ezra barusan. "Kamu takut yaaaah?" godanya.
"Enggak!" Ezra berpaling, raut wajah mulai berubah dari yang cool menjadi ciut.
"Itu bilangnya nakut-nakutin?" Rigie menusuk pinggang pemuda itu dengan jari telunjuk.
"Ck," Ezra menatap tajam Rigie. "Jangan mulai deh, nanti kalo aku yang giliran pegang kamu, katanya kurang ajar!"
"Ya iya lah Ejaaaa," Rigie memutar bola mata dengan gesture malasnya. "Kalo cowok gereppein cewek ya nggak boleh lah!"
"Cewek bebas?"
"Iya!"
"Serah Lu!" Ezra bangkit seraya melepas kaos basketnya untuk kemudian melemparkannya pada wajah Rigie. "Tutupi paha mu! Besok-besok kalo pake celana yang panjangan dikit? celana sobek-sobek belum jadi dipake!" rutuknya.
Perlahan Rigie beralih menatap celana miliknya, perasaan celana ini sudah sangat sopan baginya, tapi masih saja Ezra protes.
"Besok aku pake sarung deh," sambung Rigie, dan Ezra memutar bola mata malasnya.
"Pulang sana!"
Rigie mencebik. "Kok ngusir sih? terus nontonnya gimana? jadi kan? kan ini sebagai tanda minta maaf Eja ke Rigie."
"Hmm," sahutan Ezra yang mampu membuat Rigie memamerkan gigi putihnya. "Ok, Rigie siap-siap deh!" antusnya.
Dari dalam kamarnya, rupanya Badai dan Cheryl menatap sepasang sahabat itu. Badai seperti bernostalgia dengan kisahnya dahulu.
Di mana Ezra mungkin sudah memiliki rasa pada sahabatnya, sama seperti saat ia juga menyukai Cheryl Arsya dalam kedinginannya.
"Eza beruntung bisa dekat dengan Rigie," ucap Badai. "'Dulu Papi harus diam-diam suka sama Mami, ngumpet-ngumpet simpan benda-benda dari Mami, cuma karena Papa punya dendam sama Grandpa," lirihnya.
"Jodoh sudah ada yang mengatur, sekarang percaya kan?" Cheryl tersenyum, pelukan hangat ia dapati dari sang suami.
"I love you, Cheryl Arsya," kecupan manis pun mendarat pada pucuk kepala wanita itu.
Cheryl bahagia, akhirnya setelah sekian drama di masa lalunya, biduk rumah tangga mereka bisa seharmonis sekarang ini.
Tiada yang sanggup goyahkan kesetiaan Badai Laksamana. Seperti namanya, suaminya begitu kuat terutama untuk hal pendiriannya.
...Terima kasih sudah membaca bonus chapter ku ini, semoga kalian jadi tahu, Badai dan Cheryl masih langgeng yaaa......