
" Tapi Tuan akan menghabiskan Ratusan Juta Dolar untuk itu.."
" Lakukan saja apa yang kuperintahkan , uang bukan masalah bagiku ... Aku juga tahu Harga minyak sedang tidak stabil Disebabkan Monopoli banyak negara akibat perang Besar Negara Rusia dengan banyak negara lainnya , Kamu jangan hawatir..aku punya perhitunganku sendiri "
Setelah mendengar penjelasan Bos misteriusnya Catherine Semakin yakin Bosnya bukan Orang biasa , Sedari Awal dia sudah mempersiapkan banyak cara yang di fahaminya untuk membantu Bosnya menyelesaikan Konflik internal dalam perusahaan besar itu , tapi pada kenyataannya Bos misteriusnya itu menyelesaikan itu hanya dengan satu perintah yang bahkan tidak memerlukan Waktu yang lama untuk memutuskan .
" Utuk saat ini aku mempercayakan semuanya padamu ,laporkan segala perkembangannya kepadaku " Ucap Udin mengakhiri pembicaraan telepon itu.
Tak lama terdengar dengkuran halus mengantarkan Udin kedalaman mimpinya.
" Selamat pagi ayah ...ibu... semuanya..." Wajah segar penuh bahagia mewarnai wajah Udin yang telah Rapi setelah sebelumnya mandi dan berganti pakaian santai ,menemui kedua orangtuanya yang sedang bersantai di temani Meilin dan Tedjo kakeknya.
" Kamu selalu saja bangun paling belakang , tidak baik membiasakan diri seperti itu , apalagi Ada kakek mertuamu yang sedang mengunjungimu ," Ucap Dina Ibunya menariknya duduk di sebelah Meilin yang berusaha nampak Biasa biasa saja .
" Eh... iya Maafkan Aku Kek ..." Udin berdiri membungkukkan badannya , membuat Tedjo yang duduk ikut berdiri memegang pundak Udin.
" Tidak perlu sungkan Tu...eh Cucu menantuku memang perlu sedikit lama beristirahat , banyak pekerjaan yang menguras tenaga dan fikirannya " Ucap Tedjo yang hampir saja salah menyebut Udin , Pandangannya terhadap anak muda yang setingkat bahkan mungkin melebihi almarhum Gurunya Dulu itu berbeda jauh , Dia sekarang bahkan Ikut bersandiwara mengenai hubungan Cucunya itu , di dalam hatinya dia berharap itu akan menjadi kenyataan .
Siapa yang akan menolak seorang cucu menantu yang mempunyai potensi sedemikian Besar.
" Terimakasih atas pengertian kakek , kedepannya aku akan berusaha lebih baik lagi untuk menyenangkan kalian.."
Udin yang hanya bisa Pasrah saat ini menatap Meilin yang nampak mulai terbiasa dengan sandiwara itu.
" Nak Meilin , ayo temani calon suamimu sarapan ,aku dan ayahnu sudah terbiasa sarapan agak siang , jangan perdulikan kami ..." Dina menepuk pundak Meilin memberinya isyarat utuk menemani Udin menikmati sarapan paginya , yang di setujui oleh anggukan kedua pria tua yang yang berada di sana .
" Baik.. tan..eh Ibu... " Meilin segera beranjak menarik tangan Udin untuk segera pergi meninggalkan kerumitan suasana itu.
Semenjak Pagi Kakeknya entah karna apa menjadi berubah , saat membicarakan Udin mata beliau menjadi berbinar binar , bahkan tanpa di sadari sering menyebutnya sebagai sosok calon suami yang Baik , membuat Meilin makin kebingungan dengan perubahan sikap kalekknya itu ,
" Mas... Keadaan ini semakin Gawat saja , aku merasa bersalah kepada mereka , bahkan Kakekku ikut ikutan sekarang , apa yang terjadi antara kalian tadi malam ,apalagi sempat kulihat Paviliun satu sudah di kelilingi pagar Seng yang tinggi , seperti akan di renovasi , dan juga kakek membatalkan niatnya untuk pulang ke Matrm hari ini..."
" Semalam aku sengaja memindahkan kakek ke paviliun dua , setelah melihat konstruksi bangunan yang kurang aman , tidak ada yang terjadi ,kami hanya berbincang bincanh mengenai Beberapa hal saja .
" Apa kamu tidak menyukai keadaan ini...? Aku akan memanggil mereka sekarang untuk menjelaskan keadaan ini .." sambung Udin dengan Nada bersalah .
" Bu...bukan itu maksudku mas... Kapan kamu akan mengenalkan Kekasihmu kepada mereka ,jadi akan lebih mudah untukku ...." Meilin menggantung ucapannya , ada getaran kecewa dalam suara itu .
" Aku akan secepatnya mengenalkan Winda pada ayah dan ibuku , untuk sementara aku membutuhkanmu di sini , setelah itu apapun yang kamu minta akan kuturuti,.."
" Apapun...? "
" Ya apapun yang kamu inginkan ..." janji Udin penuh keseriusan...
Meilin yang mendengar janji Udin berlahan mengulas senyum penuh arti , tak ada yang tahu isi hati seseorang .
Beberapa waktu kemudian , setelah Bermusyawarah dengan kedua orang tuanya dengan Meilin yang selalu ada di sisinya , mereka memutuskan Udin dan Darmaji ayahnya akan berangkat ke Kota Barito yang berada di ujung Barat yang berbatasan dengan Negara Maladita, untuk menjemput Tiara dan Elis yang tinggal bersama Bibi dan pamannya di sana .
Sedangkan Meilin akan meneman Dina ibunya di Villa taman Indah.
Hal itu di putuskan secepatnya setelah Nomor ponsel paman dan bibinya itu tiba tiba tidak bisa di hubungi sejak kemarin , terkahir mereka mengabari ayahnya untuk meminta Biaya yang cukup besar guna membayar sekolah kedua adiknya itu.
Muncul sedikit kehawatiran di hati Udin yang kemudian di tepisnya jauh jauh , bagaimanapun mereka masih keluarga terdekatnya.
Darman yang mendapat perintah untuk mempersiapkan segala sesuatu mengenai transportasi dan kesiapan perjalanan itu dengan cepat menyelesaikan Tugasnya , sebuah pesawat Jet pribadi sudah menunggu ayah dan anak itu di bandara yang akan mereka gunakan menuju Kota Barito.
Kejadian langka Mendaratnya sebuah Jet pribadi mewah di bandara kecil tak urung membuat Petugas dan para penumpang di sana berebut untuk melihat siapa orang besar yang mendatangi Kota kecil mereka .
" Bisa di bayangkan sekaya apa Tuan besar yang datang kekota kita ini , lihat saja Iringan mobil mewah yang menunggu mereka sudah ada sejak pagi di sini , Mereka Pasti pejabat dari ibukota.."
terdengar celetuk seorang pemuda yang ikut berdasarkan di antara banyak orang di sana.
" Bukan ...kalau pejabat , yang menyambutnya pasti petugas polisi atau pejabat daerah , kamu lihat sendiri tidak ada mereka di iring iringan mobil tadi , dia pasti seorang bangsawan dari keluarga besar di ibukota. "
" Benar...lihat mereka turun ...ah pemuda itu sangat tampan ..." seru seorang gadis manis berkulit sawo matang melihat Sosok Udin yang Di kawal Dua orang Gadis di depannya.
" Pengawalnya saja Gadis sexy dan cantik , aku rela menjadi simpanannya " sambung seorang gadis berbadan penuh dengan riasan tebal yang di sambut suara cibiran banyak orang lainnya.
Udin yang datang memang sengaja membawa dua Droid miliknya ditugaskan Husus mengawal ayahnya , berjalan cepat kearah mobil Jip wrangler Rubicon yang sudah menunggunya melihat keramaian yang di timbulkan akibat kedatangannya menggunakan pesawat pribadi membuatnya sedikit tidak nyaman .
Harga mobil Jeep Wrangler Rubicon melebihi 1 Miliar Rupiah. Yah harganya sangat mahal, namun sebanding dengan spesifikasi yang dimilikinya. Mobil ini mengusung mesin 3.0 Liter V6 dengan 24 katup berteknologi VVT yang mampu menghasilkan tenaga sebesar 231 Horsepower dan torsi mencapai 285 Nm. Hanya tersedia varian transmisi otomatis yang berpadu dengan sistem penggerak all wheel drive (4WD). Sistem penggerak yang dimilikinya membuat Jeep Wrangler Rubicon mampu diajak ke mana pun ( di kutip dari berbagai sumber )
Iringan mobil jeep berbagai tipe itu berlahan keluar dari bandara, diiringi ratusan pasang mata dan kamera ponsel yang merekam kejadian itu .
Tak.membuang waktu Udin memerintahkan pengemudi untuk langsung menuju Alamat Bibinya yang berada cukup jauh dari bandara tempatnya saat ini.
Udin juga Memutuskan hanya menggunakan dua Jeep saja untuk menghindari perhatian berlebihan dari orang orang , yang membuatnya sangat tidak nyaman ,kalau saja perjalanan ini di tempuhnya seorang Diri Udin akan lebih menyukai perjalanan Darat atau pesawat komersial saja.
Satu jam berlalu tanpa istirahat sampaikan mereka di depan sebuah Rumah berlantai dua yang cukup besar dengan tembok berwarna ungu yang mencolok , Darmaji bergegas turun setelah memastikan Rumah di hadapannya adalah memang benar milik Irfan Suganda Istri dari wati Suganda saudarinya.
Dalam ingatannya rumah yang dulu didatanginya mengantar kedua putrinya tidak sebesar ini , juga tidak bertingkat .
" Syukurlah mereka menjadi sukses ..." Ucap Darmaji, sembari menekan Bell pintu yang ada di tembok gerbang rumah itu.
Tak lama berselang muncul seorang wanita paruh baya membuka gerbang menanyakan maksud kedatangan Darmaji .
" Aku Darmaji, saudara Wati suganda pemilik rumah ini , kedatanganku kemari untuk menemui mereka " Jawab Darmaji sopan Kepada wanita itu yang berbalik dengan angkuhnya , melambaikan tangannya mengisyaratkan dengan lambaian penghinaan mengusir mereka .
" Mas irfan Masi berada di luar kota ,tak tahu kapan akan kembali sedangkan si lumpuh wati itu tidak berada di sini lagi... jadi kalian bisa pergi sekarang , aku sedang tidak ingin menerima tamu .."
Udin yang sudah merasa ada yang tidak beres tak tinggal diam lagi , memerintahkan Droid miliknya menangkap wanita angkuh itu untuk menyeretnya kehadapan Udin.
" Brak....!!! " gerbang dari kayu ulin tebal itu hancur berantakan menerima tendangan Droid , sedangkan droid lainnya melesat mencengkram bahu wanita yang terkejut mendengar ledakan pintu yang hancur menimbulkan suara menggelegar.
" Lepaskan aku wanita sundal... " Jerit wanita itu menyumpahi Droid yang menyeretnya dengan Paksa mendekat kearah Udin.
" Plak....plak...!! " Dua buah tamparan yang Cukup keras Di lepaskan Udin mendarat dengan mulus di pipi wanita itu membungkam ucapan kotor yang di keluarkannya tanpa henti sedari tadi.
" Aku tidak segan Membunuh wanita ****** sepertimu , Berani menghina ayahku di depanku sudah cukup sebagai alasan bagiku untuk mencabut nyawamu ,
Surti nama wanita congkak itu seketika merinding setelah melihat jelas orang orang yang di singgunya barusan , Karna sifat sombongnya ia tidak pernah menganggap orang lebih baik dari dirinya ,
2 buah jeep mewah dengan sopir berjas hitam nampak berdiri garang , bahkan 2 wanita tanpa ekspresi menatapnya dingin membuat jantungnya berdebar ketakutan , terlebih tamparan yang diterimanya membuat matanya berkunang kunang cukup lama.
" Aku tidak suka berbasa basi , Apa yang terjadi dengan Wati Bibiku , di mana kedua adikku Elis dan Tiara .. Sedikit saja selip lidahmu berbohong kematianmu akan sangat menyakitkan..."
Darmaji yang melihat anaknya bisa berubah menjadi sekejam itu sempat terperangah ingin menghalangi tindakan anaknya itu ,tetapi setelah mendengar apa yang di katakan Udin ia menyadari ada hal buruk yang terjadi pada saudari dan anak anaknya.
" Di...di...mana anak anakku...!"