
sesampainya di Bandara, Udin Memang sengaja tidak menggunakan fasilitas pesawat pribadi miliknya yang di sediakan PT .Djuram ,karna dia berencana akan bertemu dengan Nyoman terlebih dahulu di Bogor.
Begitu menjejakkan kakinya Memasuki badan pesawat dan di sambut senyum ramah dan ucapan khas selamat datang perusahaan penerbangan mereka , Winda dan Udin kemudian arahkan oleh pramugari menuju first class tentu saja Winda yang mengatur semua itu , winda tidak menyadari Udin yang terlihat tidak nyaman saat duduk di kursi lebar dan empuk di sebelahnya.
Bagi Udin ini pertama kali dalam hidupnya menaiki sangkar besi yang besar dan bisa terbang itu . wajahnya berlahan memucat .
" Ha..ha.. Tuan terlihat sangat Buruk saat ini , Apa yang akan di katakan Nona cantik di sebelah Tuan Jika tahu bahwa Tuan Aviophobia pesawat terbang .."
Tiba tiba suara System Terdengar mengejeknya..
" Apa perlu System memberikan obat penenang untuk Tuan Agar tertidur sepanjang perjalanan ..?" kembali System menyindir Udin yang hanya terdiam mulai merasa gelisah saat terasa Roda pesawat berputar berlahan.
" Bisakah kamu diam..! Aku tidak butuh bantuanmu.." teriak Udin dalam hatinya ,tetapi sama sekali tidak bisa menyembunyikan raut kegelisahannya,tangannya berlahan mendengarkan sandaran lengan kursinya.
" Ha.. ha..ha.. selamat menikmati penerbangan anda Tuan... semoga AMAN sampai tujuan.." system menjawab sengaja menekankan kata aman membuat Udin semakin tidak nyaman. Bayangan bayangan buruk berseliweran di fikirannya saat ini,
Taklama winda menyadari perubahan yang terjadi pada Udinpun menoleh lalu berkata.
" Mas kamu baik baik saja kan..?"
" Ya aku baik baik saja " jawab udin berusaha tersenyum menutupi kegelisahannya yang malah terlihat sedang menyeringai aneh .
" Apa ini Penerbangan Pertamamu..? " tanya Winda melihat wajah Pucat Udin,tak ada jawaban dari Udin karna saat itu pesawat menambah kecepatan sesaat sebelum pesawat take off,gemuruh suara mesin pesawat yang terdengar semakin keras menambah suasana mencekam di hati Udin.
Winda yang akhirnya mengerti Apa yang terjadi dengan perubahan sikap Udin berlahan menggerakkan tangannya lalu mengeggam jemari Udin yang basah oleh keringat dinginnya,Lalu berbisik pelan.
Udin yang merasakan ada jemari lembut menggenggam tangannya berlahan membuka matanya lalu mendapati dua bola mata bening yang yang memancarkan ketenangan sedang menatapnya,ada perasaan aneh bergetar getar saat mata itu beradu pandang dengannya.
Berlahan kegelisahan itu berangsur angsur hilang berganti rasa hangat yang berpendar di dadanya , menatap mata itu Udin merasa nyaman seolah rasa hangat itu mulai mengisi relung relung hatinya.
Tidak berbeda halnya dengan yang di rasakan Winda , Debaran di dadanya terasa makin tak beraturan semakin lama beradu pandang dengan mata Coklat bening milik Udin semakin dia menyadari dia mulai mencintai pria ini,sikapnya yang polos ucapannya yang tidak pernah menyimpan maksud tersembunyi di baliknya, Rasa aman saat berada di dekatnya.. debaran itu semakin kuat saja rasanya.
Bagai Dua buah magnet yang berdekatan dan saling tertarik menarik, membuat kedua insan itu berlahan mendekatkan wajah mereka .
Winda berlahan menutup matanya saat terasa hembusan hangat dari nafas Udin mendekat menerpa wajahnya .
" Deg...!! " jantung winda terasa berhenti ketika sebuah benda kenyal basah menyentuh bibirnya yang merekah basah...seluruh tubuhnya Tiba tiba bergetar saat ******* hangat itu semakin menyedot kesadarannya ,menimbulkan sensasi rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
" Rasa ini...basah ...Dan kenapa begitu nikmat " Hanya itu kata yang berputar putar di kepalanya saat ini.
" Tiing...Tiiing " Tiba tiba terdengar suara tanda peringatan yang cukup keras di barengi lampu hijau yang menyala berkedip menandakan penumpang boleh melepaskan Seat belt ( sabuk pengaman ), suara itu mengejutkan Winda yang segera menarik mundur kepalanya lalu menatap ke arah lain dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di dadanya saat ini.
" Maafkan Aku.. " Ucap Udin setelah menyadari apa yang telah di perbuatnya ,walaupun dia sama sekali tidak menyesalinya, bahkan berharap bisa mengulang lagi.
" Aku tidak berniat buruk padamu...tadi.. aku..sebenarnya.. eh.. anu..karna...soalnya tadi.." Udin berkata gugup tidak beraturan berusaha menenangkan Winda yang masih saja membuang muka tak menjawab permintaan maafnya tadi..
Saat mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu Genggaman tangan winda yang sedari tadi masih di jemarinya sedikit mengeras dan bergoyang mengisyaratkan Udin untuk diam.
" Syukurlah dia tidak membenciku " udin membatin melihat jemari lentik itu masih menggegam erat tangannya.