
" Setelah mendapatkan perlakuan buruk itu apa yang ingin kamu lakukan sekarang..? , Apakah kamu ingin menuntut dan memenjarakannya...?! "
Ujar Udin melirik Irawati yang Nampak terkejut mendengarkan apa yang dia katakan.
" Saya... saya... akan...eeeh...Tii..tiiidak akan memperpanjang masalah itu tuan.." jawab Irawati Berbohong , padahal di dalam hatinya dia ingin membuat bajingan yang menamparnya ,dan sering membuat Dirinya serta rekan rekan kerjanya mengalami banyak kesulitan itu mati Membusuk di penjara. Terselip juga di hati kekhawatirannya jika dia melaporkan kejadian itu kepihak berwajib Tentu saja Nona dan Tuan yang sangat Baik kepadanya itu itu akan ikut terseret . Bagaimanapun kedudukan keluarga Losian di Bogor cukup tinggi , Cakra adalah generasi ketiga dari keluarga itu.
" Apa kamu yakin ....? Apa Kamu takut bajingan itu membalasmu..?..., aku punya beberapa cara untuk membantumu.." Udin memastikan jawaban Irawati,tentunya dia tidak mau repot repot mendukungnya jika dia sendiri tidak punya keberanian .
Sebenarnya itu hanya tes yang di berikan udin untuk Irawati ,Bagaimanapun Udin tetap akan membuat bajingan mesum yang berniat jahat kepada keluarganya mendapat ganjaran yang setimpal , jika di lepaskan begitu saja bukan tidak mungkin akan membuatnya semakin merajalela, tentu tidak sedikit gadis gadis yang akan di mangsanya... Dan dia juga sudah memutuskan untuk memberi keberkahan Irawati.
" Tuan ....apa...Tuan Mau membantuku..?!! " ada secercah harapan dalam nada suara Irawati , niat memperjuangkan haknya seketika menyeruak dalam hatinya .
" Tapi...apa...ka.."
" Sudah....jangan terlalu banyak berfikir ,ikuti aku saat turun dari pesawat ... Dan mulai saat ini panggil kami Kakak...aku tidak terbiasa dengan panggilan Tuan..." potong Udin sambil menatap Winda mengedipkan mata memberikan isyarat , Berlahan melangkah menuju seat Irawati di sudut kabin lalu duduk disana dengan santainya.
Winda tersenyum menatap Udin yang nampak memejamkan matanya ,
" Pria ini Tak pernah berfikir dua kali jika ingin membantu seseorang , tidak salah aku mengikutinya.." Winda membatin mengingat bagaimana udin begitu menyelamatkan beberapa kali .
" Eh....tunggu..!!! ,Bukankah dia tadi ketakutan saat naik pesawat...? tapi apa yang kulihat ini ..Dia malah nampak Biasa biasa saja..! ...tidak ..tidak... mungkin itu hanya trik liciknya untuk bisa menciumku..!! "
" Dasar penjahat mesum...kamu mengambil ciuman pertamaku..." lanjutnya winda dalam hatinya lalu menatap tajam kearah Udin.
Udin yang merasa ada yang menatapnya berlahan Membuka matanya melihat tatapan tajam winda yang di arahkan padanya ,membuat hatinya bergidik..
" Ada apa dengan Tatapan itu...? kenapa dia nampak akan menelanku hidup hidup ..gadis aneh...sebaiknya aku pura pura tertidur saja " gumam Udin menutup matanya lagi.
" System Berikan keberkahan pada Irawati media pulpen ini ." ucap Udin memerintahkan System.
" Baik Tuan sang terpilih akan mendapatkan keberkahan ketika pertama kali menggunakan pulpen itu "
Berlahan Udin memasukkan pulpen yang sudah terberkati kedalaman sakunya sambil terus memjamkan mata ,dia tidak ingin bertatap mata lagi dengan pandangan kejam itu,
Teringat Ciuman tadi walaupun tidak lama tapi Udin masih mengingat jelas rasa manis Bibir mungil itu lalu secara reflek meleletkan lidahnya menyapu bibirnya yang tiba tiba terasa kering.
Winda yang melihat kelakuan Udin dari seatnya termagu diam wajahnya sontak merona merah segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Nona.... Kenapa Tuan dudu..."
" Kamu lupa...? Panggil aku kakak..!" Potong winda menirukan ucapan Udin , bagaimanapun Gadis yang telah menghalangi Aksi pelecehan yang akan di alaminya tadi ia merasa Irawati sangat cocok menjadi saudari Barunya Bukankah sebuah keluarga akan saling melindungi , membantu , satu sama lainnya.
" Namaku Winda dan dia Udin mulai hari ini anggap kami saudara saudarimu, aku rasa umur kita tidak jauh berbeda " lanjut winda mengenggam tangan Irawati tampil tersenyum.
 Ayahnya telah bertahun tahun hilang tanpa berita semenjak merantau ke luar negeri .
sedangkan Ibunya Hanya bekerja sebagai pelayan restoran yang berpenghasilan di bawah rata rata UMR ( upah minimum Regional ) serta kedua adiknya yang masih bersekolah tentu saja menjadi penyemangatnya untuk bekerja lebih giat,berharap kelak mereka menjadi orang orang yang sukses dalam kehidupannya.
Kota Barito Tempat asal Irawati memang terletak di ujung selatan negara Indola yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Maladita , Kota itu sebenarnya sebuah kota besar yang maju dengan banyaknya tambang nikel dan uranium yang tersebar di daerah itu.
Hanya saja Monopoli Perusahaan asing membuat warga lokal tidak merasakan imbal balik dari sumber daya mereka yang di keruk secara besar besaran , itu terjadi sebab pejabat pejabat setempat dan beberapa oknum pemerintahan Pusat,yang lebih mengutamakan mengisi pundi pundi kantong kekayaan mereka sendiri.
terdengar Klise memang tapi itulah yang banyak terjadi di hampir seluruh provinsi negara Indola.
Kedua gadis muda itu berpelukan sejenak lalu kembali berbincang akrab selama penerbangan,Irawati menunjukkan kinerja profesionalnya dengan masih tetap menjadi Caddy pribadi kabin itu ,dengan sesekali pergi untuk mengambilkan minuman dan berbagai makanan untuk kedua kakak barunya.
wajahnya ceria penuh semangat dengan senyum yang tak lepas di bibir tipisnya.
Di ruang kabin dengan sekat yang terpasang sepenuhnya tidak jauh dari tempat Wanda dan Irawati berada nampak Cakra yang mulai siuman melihat sekeliling beranjak bangun masih dengan posisi duduk di seatnya yang terpasang sabuk pengaman di pinggangnya,Tubuhnya masih saja lemas tenaganya terkuras habis entah kemana.
ia mulai mengingat apa yang terjadi padanya, hanya karna sebuah tamparan saja ia menjadi seperti ini ,padahal dia sangat di takuti di hampir separuh kota bogor karna di kenal sebagai petarung yang memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi ,Baru kali ini dia menemui lawan tangguh yang melumpuhkannya hanya dengan tamparan saja,hatinya di Penuhi dendam kesumat...
" Bangsat...!! tunggu saja pembalasanku,Saat guruku melumpuhkanmu aku akan memotong kedua tanganmu dengan tanganku sendiri dan gadis itu...Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian..." ucap Cakra menepuk sandaran kursinya dengan keras , Guru cakra mempunyai julukan pendekar angin timur biasa di panggil Mbah Suroto memang termasuk 5 besar pendekar sakti di kota Bogor, seringkali Gurunya membantunya melenyapkan musuh musuh kuatnya,baginya di Bogor tidak ada yang berani macam macam dengannya selain ayahnya Gurunya juga memegang andil penting dalam membentuk karakter cakra sekarang ini
Setelah puas bersumpah serapah meluapkan emosinya Lalu ia Menekan dengan gusar sebuah tombol hitam yang ada di sana untuk memanggil caddy pribadinya, taklama kemudian terdengar ketukan di pintu kabinnya.
" Masuk..!!" perintahnya ..
Nampak Januar memasuki kabin dengan menunduk Hormat di hadapan cakra.
Setelah bertanya beberapa hal menyangkut keadaannya saat pingsan dan siapa saja yang mengetahui kejadian itu , Cakra dengan tegas memerintahkan beberapa hal pada Januar yang harus dia sampaikan kepada rekan rekannya untuk menutup rapat rapat kejadian itu.Dia tidak ingin berita tentang iya yang kalah hanya oleh satu tamparan saja di dengar oleh
" Bawakan aku sebotol Vodka dan ingat. ucapanku tadi ...!!! kalau sampai kejadian ini bocor dan di ketahui orang Luar ,Kamu orang pertama yang aku cari..!!" bentak cakra mengancam Januar yang hendak keluar dari kabin itu.
Januar mengelus dadanya menenangkan diri sebelum melangkah menemui beberapa rekan kerjanya yang tadi bersamanya mengangkat Tubuh Cakra yang pingsan sebelumnya.
Tak dapat di sembunyikan raut kehawatirannya membayangkan apa yang akan terjadi kepada Irawati nanti.
Ia sudah menganggap Irawati seperti adiknya sendiri , sikap mandirinya , kejujurannya serta kelucuannya ..siapa yang tak menyukai gadis itu..? . seringkali Irawati menggendong putra bungsunya mengajaknya bermain saat istrinya datang menjemputnya pulang bekerja.
Ingin rasanya Januar membantunya , solusi yang dia berikan tidak di dengarkan sama sekali..Ia hanya bisa berdoa untuk kebaikan Irawati.
" Kuharap kamu bisa bertahan dan mengambil keputusan yang benar " sambil menghela nafas panjang Januar bergumam pelan.