System Berbagi Keberkahan

System Berbagi Keberkahan
Lalat Nakal...


Semua mata yang ada di lounge itu tertuju kepada pria yang baru saja masuk mengenakan seragam lengkap nampak di pundaknya lambang pangkat Dua melati menunjukkan pangkatnya saat ini adalah Ajun Komisaris Besar Polisi ( AKBP ) dengan langkah bergegas mendekati Adik dan keponakannya yang nampak menyedihkan tidak jauh dari sana.


Melihat pamannya sudah datang Cakra nampak bahagia bergegas bangun menyambutnya..


" Paman ..akhirnya kamu datang ..Bajingan itu mematahkan jari ayah dan hendak membunuh guruku ,Aku sendiri sudah berusaha melawannya sekuat tenaga tetapi dia terlalu kuat.." lapor Cakra melebihi lebihkan ceritanya sembari melihat Udin dengan penuh kebencian.


Bardi sendiri sudah mendengar apa yang di alami adiknya jadi tidak terlalu terkejut akan hal itu ,yang membuatnya kaget justru mendengar guru sombong keponakannya itu di buat sekarang oleh pemuda di hadapannya itu.


" Akhirnya orang tua yang sombong itu ambruk juga " Batin Badri melihat sosok tanpa daya tergeletak tak jauh Darinya. di keluarga losian Tedjo kusumo ayahnya yang menjadi kepala keluarga losian lebih menghargai kata kata Suroto ketimbang anak anaknya sendiri , hal ini yang menyebabkan ketidak sukaan mereka kepada Suroto.


Melihat sosok Udin hanya seorang pemuda yang Berlatar belakang biasa biasa saja dan kebetulan ahli kanuragan Badri Memerintahkan beberapa anak buahnya untuk segera menangkap Udin ,Negara ini negara Hukum ..siapa yang berani melawan hukum..?


" Tangkap pemuda itu Bawa ke kantor untuk penyelidikan...!!" Ucapnya keras nampak garang memerintah beberapa petugas bersenjata lengkap yang di bawanya.


" Tunggu... Atas dasar apa kamu berani menangkap Tuanku..!!!"


" Tak..tak..tak..." terdengar banyak langkah Kaki menerobos dari belakang Badri ,terlihat seorang lelaki memakai Jas panjang berlilit sombong Di kepalanya berjalan sedikit bergegas melewati Badri begitu saja menuju kehadapan Udin ,lalu membungkuk Hormat.


Ruangan lounge itu kembali ramai oleh bisik bisik orang orang yang ada di sana.


" Bukankah itu tuan nyoman Direktur PT Surya Indah yang terkenal itu..?" ujar seorang pria yang nampak seperti seorang pengusaha dengan pakaian jas hitam lengkap yang di kenakannya.


" Benar itu beliau lalu kenapa Nampak begitu Hormat pada lelaki muda yang bertarung tadi..? ."


jawab rekan di sebelahnya memastikan ucapan temannya.


" Apa kamu tuli..!! tidakkah kamu mendengar perkataanya tadi ,berteriak mengumumkan pemuda itu tuannya..?" kembali seseorang menimpalinya.


Ruangan Lounge itu seketika gempar ...


" Maaf Tuan Perkenalkan saya Nyoman arya mendengar tuan dalam kesulitan tadi saya berusaha secepatnya untuk datang ,semoga saja belum terlambat.."


Nyoman memperkenalkan dirinya ,bagaimanapun ini adalah pertemuan pertamanya dengan Udin Tuan barunya.


" Ah...senang berjumpa dengan anda pak nyoman , anda jangan hawatir ...tidak terlambat sama sekali , saya bisa mengatasi sendiri masalah ini " ujar Udin menjabat erat tangan Arya .


" tiit ..tit... sang terpilih terdeteksi ..!"


" nama : Nyoman Arya"


" umur : 55 tahun ".


" kemampuan : ( penguasaan bisnis tingkat bumi , Tabib Kuno tingkat Bumi ..)


" tingkat berkah : 85 ( tinggi ) .


" penunjuk : Empu Suartaji


" skill : Kutivator tenaga dalam (tinggi)


                                : Kutivator inti sejati (menengah)


                                : Ahli pencak kertas wisesha


" media : Tombak Anusapati ( Langit )


" Menarik..." Gumam Udin menatap status terberkati nyoman yang baru saja di tampilkan System,


Dengan tingkat berkah mendekati sempurna sedikit dorongan saja dia sudah bisa memasuki alam Langit ( nirwana ), bahkan dengan melakukan Semedi ( meditasi ) Vipassana yang benar dia bisa bersinergi dengan Dewa.


Nyoman melihat sekelilingnya berusaha memahami Apa yang terjadi di sana memperhatikan satu persatu orang orang yang ada di sana ,Tatapannya terhenti pada Santoso yang terlihat Gemetar tersurut berusaha menutupi dirinya di belakang Cakra,


" Apa perlu aku yang mendatangimu...?" kembali terdengar suara yang menggetarkan hatinya debaran jantungnya bahkan bisa terdengar di telinganya sendiri , melihat Cakra di hadapannya, akhirnya ia menemukantempat untuk pelampiasan kekacauan dan kekesalan hatinya..


" Buuk...!!... Buuuk..... Buuuk...!!"


" Bajingan Menyingkir dari jalankan..!" Pukulan dan tendangan di mendarat dengan keras pada wajah dan tubuh cakra, Dalam keadaannya yang sekarang tentu saja membuatnya pingsan dengan cepat , tanpa tau apa penyebab sebenarnya kekesalan ayahnya.


Santoso bergegas mendekat lalu menghempaskan tubuhnya bertekuk lutut di hadapan Nyoman .


" Tuan Ampuni aku... Mataku sungguh buta sampai tidak mengenali Tuan tuan yang Mulia di hadapanku..." Bergetar suara Santoso yang masih saja berusaha mengambil hati dengan bersilat lidah karna memang itulah salah satu keahliannya.


" Cukup ... jangan merusak suasana hatiku , aku sudah cukup memberimu banyak kelonggaran, Hari ini kamu bahkan berbuat yang lebih buruk Pada Tuan mudaku , menurutmu aku masih bisa berbaik hati..? "


" Sebaiknya kamu diam Dan tunggu hukumanmu di situ jangan kamu kira aku tidak tahu apa yang ada di fikiran busukmu ..!" sambungnya sinis..


Nyoman memang pernah memberikan kesempatan yang cukup untuk Santoso membenahi diri ,menjadi lebih jujur dalam bekerja mengiangkan sifat menindas yang sering ia lakukan,itupun Ia lakukan karna permintaan Tedjo kusumo sahabatnya yang adalah kepala keluarga Losian.


" Dan kamu ... Bardi Aku sudah memanggil seseorang untuk mengurusmu, karna aku menghargai seragam yang kamu kenakan.."


Hening sesaat setelah Nyoman menyelesaikan kata katanya,


Badri terpaku diam ,dia tidak tau lagi apa yng akan dia lakukan ,otaknya tiba tiba membatu...yang dia tahu hal buruk akan menimpanya sebentar lagi.. lalu beberapa saat kemudian


" Tak..tak...tak... " Suara nyaring sepatu bergema di luar ruangan lounge, semua mata tertuju pada seorang beseragam kepolisian Dengan 4 bintang di pundaknya di tangannya tergenggam tongkat komando menambah gagah tampilannya ,di kiri kanannya ajudannya nampak garang berwajah tegas berjalan mengikutinya sedikit di belakang.


Beberapa anggota polisi yang datang bersama Badri serentak berdiri tegap lalu memberikan Hormat kedinasan.


Tidak ada yang memperhatikan Wajah Badri yang seketika menjadi Pucat bak mayat..


" Saudarku.... Hal apa yang membuatmu begitu gusar sampai mengundang datang kesini...? "


Dengan penuh semangat Ruslan Jayadi menepuk pundak Nyoman penuh keakraban , Jayadi Memang sangat di kenal di negara ini sebagai Jendral Temuda kepolisian, dengan segudang prestasi yang mengikutinya, Mereka Berdua sudah Berikrak menjadi saudara selamanya setelah Nyoman Berhasil menyelamatkan Istri dan satu satunya Putri kesayangannya dalam sebuah kecelakaan maut Beberapa tahun yang lalu.


" Ha...ha...ha..Kamu selalu seperti ini...terlalu bersemangat , Aku mengundangmu kesini untuk mengenalkan tuan mudaku yang pernah kuceritkan padamuaku waktu itu.. " ucap Nyoman sembari mengarahkan pandangannya ke pada Udin ..


" Dan ingin menunjukkan padamu Lalat lalat nakal yang mencemari lingkunganmu ..." sambung Nyoman tersenyum penuh arti.


" Ohh... Baik..baik.. kamu memang sangat perhatian kepadaku ,tentu saja akan kusingkirkan lalat lalat itu ..! " Jendral ruslanJayadi sengaja membesarkan suaranya menatap ajudan pribadinya yang langsung mengerti,Lalu segera melakukan satu panggilan singkat memanggil Polisi Militer dan beberapa mobil tahanan Menangani situasi itu.


Jayadi Mengulurkan tangannya yang kemudian disambut udin dengan ramah lalu berkata .


" Perkenalkan nama saya Ruslan Jayadi...Maaf kedatangan tuan ke bogor mendapat sambutan buruk seperti ini...katakan saja Hukuman apa yang ingin anda berikan untuk mereka ,saya Pribadi yang akan mengawasinya untuk anda.."


Ucap Ruslan sambil menjabat tangan Udin dengan Hormat.


Ruslan tentu seorang yang Cerdik , seorang Nyoman saja bisa membantunya mencapai Posisi saat ini dengan mudah hanya dengan satu panggilan telefon ,apalagi Tuannya.. tentu saja dia tidak akan menyia nyiakan peluang ini.


" Udin Muna ,Bapak bisa memanggil saya Udin terasa lebih akrab...Untuk masalah mereka saya percaya Bapak lebih mengerti apa yang harus di lakukan .." Jawab udin ramah ,Dia cukup lega tidak harus repot repot menangani masalah itu,bagaimanapun dia punya banyak hal yang lebih penting untuk di lakukan.


" Baik..baik...Dik Udin sangat bijak ... Ini kartu nama saya, selama masih di negara ini saya akan dengan senang hati menunggu undanganmu saat mempunyai waktu luang..,akan sangat menyenangkan bisa berbincang bersama..." Ujar Jayadi penuh makna di baliknya , Udin tentu saja mengerti Lalu menanggukkan kepalanya , menyimpan kartu nama Ruslan di balik jasnya kemudian meraih tangan winda dan Irawati Lalu mengajaknya berjalan dengan santai keluar dari lounge menuju sebuah Mobil limousine yang terletak tak jauh dari sana .


Tentu saja semua itu di persiapkan oleh nyoman untuk mereka.


Nyoman sendiri menaiki mobil yang lain setelah memberikan hukuman pemecatan dan Mengirim Santoso ke penjara dengan banyak bukti bukti Kejahatannya , itu juga bisa memberikan waktu udin untuk beristirahat ,sebelum pertemuan nanti.


" Kak Udin ...kamu mau membawaku kemana...? ,A..aku masih belum mengganti seragamku ...sedangkan koperku masih di Bandara..." Tanya Irawati sambil menggosok gosokkan telapak tangannya di seragamnya berusaha merapikan tempat tempat yang Kusut.


" Ke hotel ... Ada yang Aku persiapkan Untukkmu ,Bersiaplah...jangan mengecewakanku.." Jawab udin singkat.


" Hahh....A...a...apa...? " Jawab kedua Gadis itu Dengan Pemahaman yang berbeda beda .