Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 76


Sedang asik bernyanyi-nyanyi sambil melihat ke arah google maps tiba-tiba dua orang dengan wajah bertopeng menghadangnya. Jordy terkejut dan rem mendadak agar tidak menabrak dua orang itu.


"Siapa kalian? Kenapa kalian menghadang saya?" tanya Jordy dengan raut wajah yang sudah sangat ketakutan.


Jordy juga melihat di sekelilingnya yang sepi, itu membuat rasa takut Jordy menjadi-jadi.


"Serahkan semua paket itu dan kamu pergi dari sini!" ucap salah satu orang yang menghadangnya.


"Tidak, ini paket perusahaan. Jika saya menghilangkannya saya akan menanggung banyak ganti rugi," ucap Jordy menolak.


"Kamu terlalu bertele-tele Fernando!" ucap Rebecca dengan kesal.


Rebecca langsung mengeluarkan pisau dan bersiap bertarung dengan Jordy. Saat pisau yang tajam itu hendak menusuk perutnya, Jordy memohon ampun kepada Rebecca untuk tidak membunuhnya karena istrinya sedang hamil tua.


"Lepasin saja lah Rebecca, lagipula kasihan. Dia juga tidak ada masalah dengan kita," ucap Fernando yang merasa iba.


Rebecca yang dari kecil mendapat didikan yang keras tidak merasakan kesedihan seperti Fernando. Tanpa ragu Rebecca menusuk perut Jordy sebanyak dua kali dan menyebabkan Jordy bernafas untuk terakhir kalinya.


Fernando sangat syok melihat begitu banyak darah yang keluar dari tubuh Jordy. Dia melihat ke arah Rebecca dan melihat raut wajah Rebecca yang masih sangat tenang bahkan Rebecca masih bisa tersenyum setelah membvnuh Jordy.


'Wanita ini bukan wanita biasa. Sebaiknya aku harus berhati-hati,' batin Fernando ketakutan.


"A-apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Fernando gugup.


Rebecca menatap ke arahnya dengan tatapan mata yang menakutkan, dengan segera Fernando memalingkan wajahnya.


"Kamu bawa semua barang-barang itu dan masukkan ke dalam mobil!" ucap Rebecca sambil mencabut daun tumbuhan untuk menyingkirkan darah di pisaunya.


Fernando pun membawa barang yang berupa paket yang harus di kirim oleh Jordy. Diikuti oleh Rebecca yang masih sibuk membersihkan sisa darah di pisaunya.


"Rencana kita telah berhasil membuat berantakan perencanaan pengiriman mereka. Setelah ini dapat di pastikan Ayahnya Naila dan Naila akan bingung paket-paket yang belum sampai ke tangan pelanggan.


Selain itu mereka juga akan menanggung banyak kerugian karena paket mereka ada di sini. Dan mendapat banyak komplain karena perencanaan mereka berantakan dan membuat mereka bingung," kata Rebecca ketika sudah masuk ke dalam mobil.


"Selain itu juga, Ayahnya Naila akan mendapat masalah dari keluarga kurir tersebut. Keluarganya pasti tidak akan terima, terlebih lagi istrinya sedang hamil tua," imbuh Fernando.


"Itu sebabnya aku tidak mendengarkan ide konyol tadi. Aku sudah menyebut nama mu di depan dia, kalau sampai kita tidak menghilangkan nyawanya mungkin saja dia bisa melapor kepada Peter," kata Rebecca yang tampak kecewa karena mendapat teman grup yang b0doh.


"Yang kamu katakan benar juga ya," pikir Fernando.


'Huh! Pantas saja bisa di penjara karena Naila. Ternyata memang seb0doh ini,' batin Rebecca.


..._____๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ_____...


Teman-teman Jordy sudah berkumpul kembali di perusahaan untuk mengambil paket mereka. Akan tetapi, Jordy yang pengirimannya paling sedikit belum juga datang-datang. Peter menjadi curiga kalau Jordy berleha-leha dalam perjalanannya. Peter pun mencoba menelepon Jordy.


Tak ada jawaban setelah berkali-kali di telepon, Peter pun akhirnya mengecek paket-paket yang di bawa oleh Jordy.


"Lokasinya cukup dekat-dekat, tapi kenapa Jordy belum datang juga?" tanya Peter pada dirinya sendiri.


"Ada apa Ayah?" tanya Naila pada ayahnya yang tampak serius memandangi laptopnya.


"Ini Nai, salah satu kurir yang mengirim ke selatan belum kembali. Padahal teman-temannya sudah kembali, bahkan dari arah yang sama juga sudah berangkat lagi kirim paket," ucap Peter tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


"Sepertinya sda yang salah," pikir Peter.


"Ayah masih simpan alamat dan nomor handphone pelanggan yang paketnya di kirim oleh kurir itu kan?" tanya Naila.


"Sudah ayah catat di laptop!" Ujar Peter.


"Coba saja telepon salah satu dari mereka, apakah paketnya sudah sampai. Kalau belum itu artinya kurir tersebut masih dalam perjalanan," ucap Naila.


"Coba deh ayah telepon dari lokasi yang terdekat dulu," ucap Peter.


Peter pun menelepon pelanggannya dan menanyakan paket yang di kirim. Namun jawaban dari pelanggannya bahwa paket belum dia terima sama sekali. Bahkan pelanggan tersebut berkali-kali mengecek keluar untuk memastikan kurirnya.


"Katanya tidak ada kurir yang datang Nai," ucap Peter.


Peter menjadi pusing karena kejadian ini baru pertama kalinya. Biasanya masalah pengiriman aman-aman saja, tapi hari ini entah kenapa Peter mendapat firasat buruk.


"Kita tunggu saja kurir itu Yah, nanti pasti dia balik lagi," ucap Naila menenangkan Peter.


"Iya Nai! Oh ya, ayah mau tanya kenapa kamu suruh Ayah mencatat paket-paket yang di kirim oleh setiap kurir?" tanya Peter.


"Untuk meminimalisir kehilangan Ayah. Jika ada paket yang hilang maka kurir yang terdata di laptop harus mengganti rugi," ucap Naila.


"Kamu memang anak yang pintar Nai," ucap Peter memuji putrinya.


..._____๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ_____...


Malam pun tiba, perusahaan sudah hampir mau di tutup namun kurir yang bernama jordy tak kunjung datang. Peter semakin khawatir dengan karyawannya.


Beberapa menit kemudian, seorang warga datang menemui Peter dan memberikan name tag Jordy.


"Apa benar pria ini bekerja di sini? Dari alamat perusahaan tertera di sini," ucap warga tersebut.


"Benar. Bapak menemukannya dimana? Dan dimana orangnya?" tanya Peter dengan panik karena dalam name tag tersebut berisi bercak darah yang telah mengering.


"Dia di larikan ke rumah sakit siang tadi, saya baru sempat datang kemari karena dokter baru saja menemukan ini di kantong bajunya. Dan orangnya sudah tidak bisa di selamatkan," ucap warga tersebut dengan raut wajah yang sedih.


Mendengar berita tersebut, Peter menjadi sangat gemetar. Salah satu stafnya menghampirinya dan memapah Peter untuk duduk di sofa tempat tunggu.


"Ba-bagaimana mungkin? Kenapa dia bisa kehilangan nyawanya? Apakah ada yang mencurigakan?" tanya Peter yang masih dengan raut wajah terkejutnya.


Wajahnya semakin pucat ketika melihat wajah karyawannya yang tertera di name tag tersebut.


"Ada bekas tusukan di bagian perut, sepertinya di tusuk berulangkali hingga tak bernafas lagi!" ucap warga tersebut.


"Baik, terimakasih informasinya. Tolong kasih saya alamat rumah sakitnya," kata Peter.


Karyawan yang memapahnya tadi mencatat nama rumah sakit yang di sebutkan oleh warga.


Naila dan Erni yang baru saja mendengar informasi tersebut langsung menghampiri ayahnya yang linglung. Naila menyuruh staf untuk membawakan air putih untuk di minum ayahnya.


"Ini Nona!" ucap staf tersebut memberikan sebotol air putih.


"Ayah, minum dulu Yah! Tenang dulu," ucap Naila sambil menyodorkan minuman tersebut ke arah bibir ayahnya.


Peter minum air dalam botol tersebut secara perlahan-lahan di bimbing oleh Naila. Setelah agak tenangan, barulah Peter kembali berbicara.


"Nai, bagaimana nanti Ayah jelaskan kepada keluarganya? Apa reaksi mereka nanti?" tanya Peter yang sudah buntu.


Beberapa kurir yang masih ada di sana juga berkumpul di tempat Peter. Mereka juga merasakan kesedihan yang amat dalam telah kehilangan teman dekat mereka.


Mereka juga tahu kalau Jordy memiliki istri yang tengah hamil. Teman-teman Jordy tak bisa membayangkan bagaimana histeris istrinya.


"Lebih baik kita datang ke rumah sakit terlebih dahulu," ajak Erni.


"Iya benar. Oh ya, di sini ada yang kenal gak atau tahu rumah kurir tersebut?" tanya Naila pada teman-teman Jordy.


"Saya tahu," sahut salah satu karyawan kurir.


"Tolong informasikan pada keluarganya ya, usahakan agar mereka tetap tenang dan katakan kalau perusahaan akan bertanggungjawab," ucap Naila mewakili ayahnya memberikan perintah.


Kurir tersebut langsung pergi ke rumah Jordy. Sedangkan Naila, Erni dan Ayahnya pergi ke rumah sakit untuk melihat Jordy. Peter masih tak tenang, dia tidak tahu akan menjelaskan seperti apa jika keluarga yang bersangkutan datang.


"Ayah, ayah jangan terlalu khawatir. Nanti Naila bantu memberi penjelasan kepada mereka," ucap Naila ketika sudah berada di dalam mobil.


Naila duduk di samping ayahnya sedangkan Erni duduk di samping sopir.


"Betul Tuan, lagipula itu bukan kesalahan Tuan. Kita sendiri tidak tahu kapan ajal akan menjemput kita, jangan terlalu menyalahkan diri Tuan sendiri," ucap Erni menoleh ke belakang.


"Yang kalian katakan benar, tapi tetap saja Ayah masih gugup menghadapi situasi ini," ucap Peter.


"Serahkan sama Naila, Ayah!" ucap Naila penuh percaya diri.


"Serahkan pada saya juga Tuan!" imbuh Erni.


Sesampainya di rumah sakit yang di tuju, Peter menuju kamar Jordy yang telah meninggal.


"Dimana suami saya? suami saya dimana?" jerit seorang perempuan dengan perut yang membengkak ke depan.


Wanita tersebut tampak menangis histeris setelah mendengar kabar suaminya meninggal dunia. Dirinya yang sedang hamil itu tidak siap kehilangan orang yang sangat disayanginya.


Di belakangnya tampak seorang wanita tua yang berusaha menenangkan wanita mudah itu. Khawatir akan kesehatan janin di dalam perut menantunya. Namun sepertinya, menantu tidak memikirkan hal itu lagi. Dia masih saja menangis menanyakan suaminya dimana.


Dokter yang mengetahui situasi tersebut menanyakan terjadi hal apa?. Wanita tua itu pun menerangkan tentang apa yang terjadi berdasar informasi dari rekan kerja anaknya.


"Pasien itu saya yang memeriksa tadi siang. Pasien dibawa dalam keadaan yang telah meninggal dengan bekas tusukan di perut," ucap seorang Dokter dengan wajah pasrahnya.


Mendengar hal itu, Wanita muda semakin berteriak histeris. Dokter hanya bisa menunjukkan pasien sudah di pindahkan ke ruang may@t.


Wanita tua tersebut pergi ke ruang m@yat bersama menantunya untuk melihat anaknya yang terakhir kali. Di depan ruang m@yat, dia melihat Peter, Erni dan juga Naila yang sedang berdiri di sana.


Wanita tua yang bernama Darmi bersama menantunya yang bernama Resti tampak mengabaikan keberadaan Peter, Erni dan Naila. Mereka membuka pintu ruangan tersebut dan melihat Jordy yang terkujur kaku.


Melihat tubuh anaknya yang telah penuh luka itu, barulah tangisan Darmi keluar. Dia menangis histeris seperti menantunya. Awalnya dia masih belum percaya jika anaknya benar-benar meninggal. Darmi berharap jika mereka hanya memiliki nama yang sama.


Tapi takdir berkata lain, Jordy memang harus pergi meninggalkan dirinya bersama menantunya.


Rekan kerja Jordy yang mengajak Darmi ke rumah sakit menyusul ke dalam dan menyuruhnya keluar karena Peter ingin berbicara.


Darmi pun keluar bersama dengan Resti bertemu dengan Peter dan juga Naila.


"Dia siapa?" tanya Darmi pada rekan kerja anaknya.


"Dia bosnya Jordy Tante," sahut pria itu.


"Perkenalkan saya Peter, bos dari Jordy. Saya sangat menyesal atas kejadian yang menimpa Jordy. Dan saya minta maaf, saya akan bertanggungjawab untuk biaya pemakaman Jordy nanti," ucap Peter.


"Oh, jadi kamu! Jadi kamu yang Bosnya Jordy? kenapa kamu membuat anak saya seperti ini? kenapa kamu tidak bisa menjaga anak saya? tidak menjaga nyawanya? kenapa?" Darmi melemparkan banyak pertanyaan dengan tatapan yang penuh kebencian.


Tangannya menarik pakaian Peter sekuat tenaga sambil mendorong Peter yang masih lemas.


"Saya mohon maaf Ibu! saya sendiri tidak tahu akan terjadi hal ini, saya mohon maaf untuk semua hal yang terjadi pada anak ibu," ucap Peter sekali lagi.


"Maaf? kenapa gampang sekali Anda minta maaf? Anda tahu saya sedang hamil tua, ini anak pertama saya dengan Jordy. Kami telah menantikan ini selama 2 tahun pernikahan. Dan saat saya akan melahirkan, Anda justru merampas nyawa Jordy!" ucap Resti yang juga tersulut oleh emosinya.


"Saya akan menanggung biaya persalinannya," kata Peter dengan suara yang mulai melemas.


Peter sudah tak kuat dengan serangan dua wanita yang ada di depannya saat ini. Naila berusaha menenangkan Peter berkali-kali.


"Di pikiran kalian semua masalah bisa di selesaikan dengan uang! kalian orang kaya sangat sombong, kami tidak memerlukan uang kalian melainkan Jordy!" ucap Resti dengan benci.


Naila yang telah geram dengan kedua wanita tersebut menitipkan Peter pada Erni untuk memegangnya.


"Kalian benar-benar dua wanita yang sangat b0doh. Jika kalian marah-marah seperti ini kepada Ayah saya apakah Jordy kalian hidup kembali?. Ayah saya bukan dewa, jadi stop menyuruhnya untuk menghidupkan Jordy kembali. Umur Jordy memang pendek, melalui pekerjaannya dia diambil nyawanya. Kami sudah mau bertanggungjawab karena merasa tidak hati, tapi kalian semakin ngelunjak," ucap Naila yang tak kalah tajam matanya menatap kedua wanita tersebut.


"Kalian seperti ini hanya membuat Jordy merasa sedih di alam sana dan tak dapat tenang. Kita semua sedih kehilangan Jordy yang kita sayangi. Tapi umur tidak ada yang tahu, oleh karena itu mari kita ikhlaskan Jordy bersama-sama. Saya tahu itu sulit, tapi saya ingin kalian mau menerima kenyataan. Menjalani hidup baru yang bahagia tanpa Jordy, saya yakin Jordy akan tersenyum di sana. Jordy tak perlu khawatir meninggalkan anak bersama istrinya di sini," jelas Naila menasehati kedua wanita tersebut.


Resti dan Darmi memikirkan nasehat Naila. Pikirannya telah terbuka, mereka telah sadar apa yang mereka lakukan adalah usaha yang sia-sia.


"Saya minta maaf pada kalian dan juga Tuan Peter. Tapi Tuan juga pasti mengerti bagaimana perasaan orang tua yang kehilangan anaknya, secara Tuan sendiri memiliki putri yang Tuan sayangi," ucap Darmi merasa bersalah.


"Saya yang harusnya minta maaf, tapi saya juga tidak bisa melakukan apapun" ucap Peter.


Mereka akhirnya saling maaf-maafan dan belajar untuk mengikhlaskan Jordy bersama-sama.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...