
Erni telah sampai di lokasi yang di tuju oleh preman tersebut. Dengan mulut yang di dekap dengan plaster, Erni tak mampu berteriak untuk meminta bantuan. Lagipula tempat itu sangat sepi meskipun ada sebuah rumah yang cukup mewah baginya.
"Kita langsung saja bawa masuk, dan ikat dia sampai Bos datang!" kata salah satu preman tersebut.
Mereka memaksa Erni untuk melangkahkan kakinya menuju ke sebuah kamar yang mereka maksud. Setelah masuk ke kamar tersebut, Erni di ikat di kursi dengan mulut yang masih di tutup menggunakan plaster.
"Sebentar lagi Bos akan sampai, kita tunggu di luar saja!" ucap preman tersebut.
"Setelah menerima pembayarannya, kita lebih baik pergi ke "surga dunia" untuk mendapatkan wanita yang sangat cantik," ajak temannya penuh semangat.
Mereka meninggalkan Erni sendirian di dalam kamar. Erni sangat penasaran siapa orang di balik semua ini, kenapa dia menculiknya untuk mendapatkan target utamanya.
Beberapa menit kemudian, Erni mendengar suara kedua preman tersebut sedang berbicara dengan orang lain.
'Itu pasti Bos yang mereka maksud!' batin Erni.
Tak lama setelag Erni mendengar perbincangan mereka, preman tersebut masuk dengan kedua Bos mereka.
'Fernando, Safira? jadi mereka di balik layar semua ini?' kata Erni dalam hati dengan wajah yang terkejut sekaligus mata yang melotot.
Melihat ekspresi tersebut, Safira dan Fernando tersenyum.
"Gimana? apa kamu tidak menyangka?" tanya Fernando.
'Padahal beberapa hari yang lalu Safira telah meminta maaf kepada Naila, apa itu bohongan semua?' batin Erni.
"Sudah, jangan banyak basa-basi lagi. Kita lakukan saja langkah berikutnya!" ucap Safira yang tak sabaran.
Safira duduk di atas di kursi, yang berada di samping Erni. Lalu Fernando menyiapkan tali untuk mengikat Safira, lalu menutup mulutnya dengan plaster mirip persis dengan Erni.
"Bertahan ya sayang, demi rencana kita!" ucap Fernando berbisik di telinga Safira.
Lidahnya menjulur ke leher Safira yang membuat Safira merasa geli.
'Dasar tidak tahu malu,' batin Erni yang tak sengaja melihat adegan tersebut.
Fernando menghubungi Naila dengan video Call. Dia sudah mengirim pesan sebelumnya kepada Naila bahwa sahabatnya telah di culik dan berada di tangannya.
"Naila, kamu lihat sendiri kan? Sahabat dan mantan sahabatmu berada di tanganku sekarang. Kalau kamu tidak datang sekarang, mungkin salah satu dari mereka akan kehilangan nyawa-nya!" ucap Fernando saat Naila sudah menerima teleponnya.
Terlihat wajah Naila yang sangat khawatir, Safira memanfaatkan situasi tersebut berusaha berbicara dengan lakban di mulutnya.
"Sepertinya mantan sahabat mu ingin berbicara," kata Fernando sambil memeluk Safira lalu membuka lakban yang menutup mulutnya Safira.
"Naila, tolong selamatkan aku Naila. Aku takut, Erni juga sepertinya sangat ketakutan!" ucap Safira.
Fernando mengarahkan kameranya kepada Erni, namun Erni tidak bisa di ajak bekerjasama. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha untuk memberikan kode agar Naila tidak kemari.
"Kamu lihat? sahabat dan mantan sahabatmu sangat ketakutan. Apa kamu bisa tenang diam di rumah?" kata Fernando yang kembali memancing rasa takut yang di miliki oleh Naila.
"Aku akan ke sana sekarang, kirim alamatnya!" ucap Naila.
"Aku kirim, tapi kamu harus membawa uang minima 50 juta. Dan jangan bawa polisi atau bala bantuan, kamu harus datang sendiri. Mata-mataku selalu mengawasi setiap gerakanmu, kalau sampai ketahuan salah satu dari mereka akan habis!" kata Fernandi dengan ancamannya.
"Iya aku akan datang sendirian kesana!" ucap Naila.
Setelah Naila menutup teleponnya, Fernando dan Safira tertawa dengan senang.
Fernando melepas tali yang mengikat kaki dan tangan Safira.
"Safira, akting kamu tadi sangat bagus!" kata Fernando.
"Tentu saja!" ucap Safira.
Safira dan Fernando duduk di atas ranjang yang ada di samping kursi Erni. Erni yang masih di ikat di sana merasa jijik melihat kedua orang tersebut.
'Ternyata tujuan mereka adalah Naila, tak heran kalau aku yang mereka culik!' batin Erni.
"Kenapa lo lihat-lihat? baru ngerasain ya menjadi orang sial karena berteman dengan Naila?" ucap Safira.
'Dasar tak tahu malu!' batin Erni yang merasa sangat muak dengan tingkah mereka.
"Sabarlah Sayang, malu di lihat orang!" kata Safira malu-malu.
Fernando tak menghiraukan perkataan Safira, dia menjelajahi leher Safira dengan lidahnya. Membuat Safira merasa geli dengan rintihan halus. Tak puas sampai di sana, Fernando beralih ke bibir Safira. Dia melahap semuanya tanpa memikirkan Erni dan kedua preman tersebut masih berada di sana.
"Dimana mereka?"
Naila berteriak dan menerobos masuk ke dalam kamar tersebut. Di sana ada satu kamar jadi tidak heran Naila dengan mudah menemukan tempat tersebut.
Namun tak di sangka Naila justru melihat adegan yang tak tahu malu dari Safira dan Fernando.
"Dasar kalian orang-orang yang menjijikkan!" ucap Naila kepada Safira dan Fernando.
"Hai mantan sahabat, bagaimana rasanya kalau di khianati oleh sahabat sendiri? sakit ya?" tanya Safira yang telah merapikan penampilannya itu.
"Safira kamu benar-benar tidak tahu malu! kamu beberapa hari lalu meminta maaf kepadaku, dan sekarang Hahaha aku benar-benar bodoh telah mempercayai kamu lagi!" kata Naila yang sudah masuk ke dalam perangkap Safira dan Fernando.
"Aku tidak suka basa-basi lagi, sekarang entah siapa yang akan lolos keluar kamu yang tentukan!" ucap Safira.
"Tentu saja sesuai perjanjian, aku sudah membawa uangnya! Erni harus lolos bersama dengan aku!" ucap Naila dengan marah.
"Hahaha! benar-benar bodoh!" Safira tertawa melihat kebaikan Naila.
Safira memerintahkan kedua preman tersebut merampas koper yang ada pada Naila beserta menangkap orangnya.
"Ikat dia!" perintah Fernando.
Kedua preman tersebut dengan mudah dapat mengikat Naila di kursi sebelah Erni.
"Kalian mau apa? kalian memanfaatkan ku ya?" ucap Naila.
"Kamu saja yang b0doh! ya kami manfaatkan lah!" ujar Fernando sambil tertawa bersama Safira.
'Tertawa Lah, semua akan musnah setelah beberapa detik lagi' batin Naila.
DORRR! DOORRR! DORRR!
Suara tembakan terdengar dari luar, Fernando dan Safira terlihat sangat panik. Begitupula dengan kedua preman tersebut.
"Tangkap mereka semua! mereka telah melakukan penculikan," kata ketua polisi yang di undang oleh Naila.
"Kamu membawa polisi kemari?" ucap Fernando dengan marah.
"Tentu saja, aku akan melepas kalian jika dalam 10 menit saja aku keluar dari kamar ini. Tapi tak di sangka kalian merencanakan ini semua dengan rapi, tentu saja aku juga berlaku demikian!" kata Naila yang telah berdiri di samping Safira.
Para polisi yang tidak menangkap mereka membantu Erni melepas ikatannya.
"Sialan kamu Naila! tunggu saja pembalasan dari kami!" ucap Fernando dengan raut wajah yang menampakkan sangat kesal.
"Kamu nikmati saja dulu kehidupan di penjara baik-baik, baru berfikir untuk balas dendam!" kata Naila.
"Oh ya Safira, awalnya aku bersyukur karena kamu telah memilih jalan yang benar. Tapi sekarang aku bersyukur karena bisa melihat kamu mendapatkan karma mu sendiri!" kata Naila tersenyum.
"Pak bawa saja mereka ya!" perintah Naila.
"Kalau seperti itu kami pergi dulu ya!"
"Iya terimakasih Pak!" kata Naila.
Setelah para polisi keluar, Erni memeluknya dengan sangat erat.
"Naila terimakasih banyak! kamu hebat sekali Nai," kata Erni.
"Sama-sama Erni!" ucap Naila tersenyum.