
Naila pergi dengan rasa kesal yang di milikinya kepada Angkasa. Terlebih lagi Angkasa memiliki begitu banyak rahasia.
'Kenapa sih dia tuh, kalau datang hanya ingin singgah kenapa harus aku? kenapa tidak wanita lain?' batin Naila.
Hatinya telah di patahkan oleh dua pria yang pernah dia cintai. Naila tak habis pikir mengapa dirinya begitu b0doh sehingga percaya begitu saja terhadap pria.
"Hei Nai!" ucap seorang wanita yang tiba-tiba memeluk Naila dari belakang.
Naila menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, melihat siapa orang tersebut.
"Ternyata kamu, bikin kaget aja!" ucap Naila yang sedikit terkejut.
"Maaf, maaf! lagipula kamu jalan sambil melamun. Mikirin apa sih?" tanya Erni.
"Enggak kok!" ucap Naila berbohong.
"Aku tahu kamu bohong! kamu pasti lagi mikirin Angkasa kan?" Erni mencoba menebak permasalahan Naila.
Akhirnya Naila jujur, dia menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Erni, aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Naila ragu-ragu.
"Tanya aja!" sahut Erni
"Erni, kalau kamu lebih pilih yang mana antara pria yang mencintai kamu atau pria yang kamu cintai?"
"Kalau aku sendiri lebih baik memilih pria yang mencintai aku, karena pria yang aku cintai belum tentu mencintaiku," sahut Erni dengan mantap.
"Emang kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Erni.
"Gak apa-apa, aku cuma nanya aja!" sahut Naila.
Kemudian Naila mengajak Erni masuk ke kelas bersama-sama.
Ting! Ting!
Suara handphone Naila berbunyi bersamaan dengan itu ada dua pesan yang masuk dari orang yang berbeda. Orang itu adalah Shaga dan Angkasa.
Naila membuka pesan yang di kirim oleh Shaga terlebih dahulu sambil menaruh tas di atas meja.
Shaga mengajaknya makan siang saat Naila pulang dari kampus. Naila bingung mau balas apa karena Naila tidak mau memberikan harapan apapun kepada Shaga.
*Maaf Kak Shaga, aku ada urusan pulang dari kuliah!* balas Naila.
Setelah membalas pesan yang di kirim oleh Shaga, Naila membuka pesan dari Angkasa. Angkasa juga mengajaknya bertemu di gerbang kampus setelah jam pelajaran Naila selesai.
Sudah dapat di pastikan jika Naila menolak untuk bertemu dengan mantan kekasihnya terlebih lagi Angkasa sudah memiliki tunangan. Naila tidak mau ada rumor yang beredar bahwa dia menjadi pelakor di kampus.
"Nai, lagi apa sih? sibuk banget!" tanya Erni yang geram karema di cuekin oleh Naila.
"Gak lagi apa-apa kok!" ucap Naila yang langsung menutup handphonenya.
Di lain tempat, Tasya yang kini sedang di cari-cari oleh Valen akhirnya bertemu juga dengan Valen. Seseorang menunjukkan rumah milik Ranza.
Tapi kali ini Valen tidak ingin memperpanjang masalah, dia hanya ingin Ranza menandatangani surat cerai tersebut. Setelah itu Valen pergi dari hadapan Ranza yang sudah tidak terurus.
Valen merasa j!jik melihat keadaan Valen yang saat ini. Penampilannya sama persis saat pertama kali bertemu dengan Ranza, dekil dan tak terurus.
'Ini pilihan kamu sendiri Ranza, semoga saja wanita itu mampu memberikan apa yang kamu mau!' batin Valen.
Sedangkan Ranza hanya terdiam namun juga bersyukur karena mantan istrinya tidak meminta apapun kepadanya.
"Syukurlah Valen tak berbuat apa-apa kepada kita," kata Ranza sendiri.
"Hei kamu! bikinkan aku kopi!" perintah Ranza kepada Tasya yang hanya berdiam diri di atas ranjang.
"Kopi habis, gula habis! semua habis. Kamu cari kerjaan dong," kata Tasya dengan kesal.
"Apa kamu bilang? aku cari kerjaan? terus membiayai kehidupan kamu gitu? mimpi kamu! kamu kira siapa kamu? istri bukan, saudara bukan. Kamu cuma wanita yang numpang hidup sama aku!" kata Ranza yang ikut kesal sambil memberikan tatapan tajam ke arah Tasya.
"Ya sudah kalau begitu! aku akan pergi dari sini, aku tidak perlu tinggal denganmu lagi. Lagipula kamu sudah tidak ada gunanya lagi," kata Tasya lalu beranjak merapikan pakaiannya.
"Jangan berfikir untuk kabur ya! kamu lupa kalau hidupmu sekarang punyaku?" ucap Ranza yang langsung menghadang Tasya.
Meski perjanjian itu telah di buat atas kesepakatan mereka berdua, namun tidak ada bukti bahwa perjanjian itu di buat. Sehingga Tasya dengan mudah untuk pergi dari hadapan Ranza saat ini.
"Tidak ada bukti, kamu mau apa? mau lapor polisi? yang ada kamu yang di penjara karena penculikan orang!" kata Tasya mengancam kembali Ranza lalu pergi dari hadapan Ranza.
Ranza hanya bisa diam, dia tidak bisa menahan Tasya untuk pergi dari sana. Kali ini hancur sudah kehidupannya, istri sudah tidak punya, wanita juga sudah tidak ada.
"Selama ini aku baru sadar kalau aku telah membuang sebuah berlian demi sampah. Dan sekarang sampah itu pun meninggalkan ku sendirian. Aku benar-benar pria b0doh!" kata Ranza menyalahkan dirinya sendiri.
Tak mampu membayar taksi, Tasya memutuskan untuk mencari pangkalan ojek di sekitar sana.
Lama berjalan, hingga Tasya merasa keram kakinya. Akhirnya Tasya menemukan juga ojek yang sedang nongkrong di pangkalannya.
"Bang, ojek ya!" ucap Tasya.
"Kemana Neng?" tanya tukang ojek tersebut.
"Nanti saya arahkan!" kata Tasya sambil membuka maps di handphonenya.
...***...
Di rumah, Amanda dan Tino terus menunggu kepulangan putrinya. Mereka tidak memiliki biaya untuk melakukan pencarian lebih dalam. Terlebih lagi saat itu putrinya sedang menjadi buronan dari orang kaya. Amanda sangat khawatir jika terjadi apa-apa dengan Tasya.
"Mas, bagaimana ini? sudah seminggu lebih anak kita belum pulang!" kata Amanda yang tidak bisa tidak mengkhawatirkan putrinya.
"Aku juga tidak tahu, apa kita coba hubungi nomor itu lagi kali ya? siapa tahu putri kita berada bersama wanita itu?"
"Tidak Mas, yang ada nanti dia curiga sama kita. Kita tidak bisa mengaku jika kita adalah orang tuanya, kalau kita di tangkap siapa yang akan menyelamatkan Tasya nanti?" sahut Amanda yang tidak setuju dengan ide suaminya.
"Yang kamu katakan benar, kita tunggu saja info dari rekan-rekan kerja Mas ya!"
Amanda hanya mengangguk lemas, dia berkali-kali mengecek sosmednya. Berharap Tasya akan membalas pesan yang di kirim beberapa kali olehnya.
10 menit kemudian, terdengar suara motor yang terhenti di depan rumahnya. Amanda dan Tino saling bertatap muka, kemudian menyelidiki keluar rumah.
Betapa senangnya Amanda ketika dia melihat putri satu-satunya yang akhirnya pulang ke rumah dengan pakaian yang lusuh. Amanda segera memeluk Tasya dengan tangisan harunya.
"Akhirnya kamu pulang Nak, kamu kemana saja selama ini?" tanya Amanda kepada Tasya.
Tasya tak menjawab, bahkan tak membalas pelukan dari Amanda.
"Kamu darimana saja Tasya? kami sangat khawatir denganmu!" kata Tino.
Tasya hanya terdiam, dia merasa bersalah dengan kedua orang tuanya. Terlebih lagi dengan Ibu tirinya yaitu Amanda, terakhir kali dia menyinggung Amanda dengan begitu keras. Namun tak di sangka, kepulangannya justru membuat Amanda sangat bahagia hingga menangis.
"Sayang, kamu sudah makan? Ibu masak makanan kesukaan kamu ya?" ucap Amanda dengan senang.
Melihat Tasya yang sedari tadi terdiam, Amanda menjadi bingung. Amanda menatap ke arah suaminya.
"Amanda, kamu kenapa Sayang? apa yang terjadi sama kamu?. Kita masuk dulu yuk!" ajak Amanda sambil memapah Tasya.
Tasya mengikuti langkah kaki Amanda, berjalan dengan pelan dan lemah.
'Ibu maaf, sepertinya aku tidak lagi membenci Ibu Amanda. Semoga Ibu di sana tidak membenci Tasya, dan bahagia melihat keluarga ini ya Bu,' batin Tasya berdoa kepada Ibunya.
"Tasya, minum air dulu ya!" kata Amanda penuh perhatian.
Amanda menyodorkan segelas air putih yang baru saja dia tuang ke dalam gelas.
Tasya pun meminumnya dengan pelan setelah duduk di samping Amanda.
"Tasya apa yang terjadi sebenarnya? coba ceritakan kepada kami agar kami tahu beban apa yang di alami kamu sehingga kamu menjadi seperti ini," bujuk Amanda dengan lembut.
Amanda berharap Tasya mau bercerita dengannya, karena Amanda yakin kalau Tasya memiliki banyak masalah. Dan juga Tasya kurang mendapat perhatian dari Ayahnya, sehingga semenjak Amanda masuk ke dalam keluarganya Tasya berfikir kalau Amanda merebut Tino darinya.
"Bu, aku minta maaf. Ayah aku juga minta maaf!. Aku telah membuat kalian malu, yang terjadi sebenarnya sangat rumit," kata Tasya mengaku salah kepada Amanda dan Tino.
"Coba kamu ceritakan dengan pelan-pelan, kami pasti dengar semuanya kok. Dan kami janji apapun yang kamu alami, apapun yang kamu ceritakan, kami tidak akan memarahi mu!" kata Amanda.
"Benar Tasya. Kadang kami tidak dapat menjadi teman cerita yang baik, mungkin kami yang salah karena Ayah kurang perhatian. Coba cerita Nak," bujuk Tino.
Tasya akhirnya menceritakan semuanya dari dia berkencan dengan Jean hingga dia meminta uang 3M untuk membayar kepada Jean. Tasya berfikir hidupnya akan menjadi lebih baik saat dia bersama dengan Ranza. Tidak sesuai rencana yang menyebabkan dia menjadi seperti ini.
Syukurnya Tasya masih bisa kabur dari pria tersebut, meskipun saat ini Tasya belum bisa tenang.
Setelah mendengar semua kisah Tasya dari awal hingga akhir, Amanda dan Tino terkejut. Mereka tidak menyangka jika putrinya mengalami kehidupan yang seperti itu.
"Tasya, jadikan semua ini pengalaman kamu ya, dan jangan ulangi lagi!" pesan Amanda kepada Tasya.
Tasya hanya menjawabnya dengan anggukan kepala sambil menunduk.
Sedangkan Tino, dia pergi duduk di samping Tasya sehingga posisinya Tasya berada di antara Tino dan Amanda.
"Sayang, maafin Ayah ya! Kamu mengalami hal berat seperti ini juga pasti karena kesalahan Ayah yang kurang dalam memberikan dukungan kepada kamu. Tapi, Ayah minta satu hal seperti yang Ibu kamu katakan. Kamu jangan ulangi dan kembali menjadi putri Ayah yang baik, dan singkirkan semua pikiran buruk yang kamu miliki," kata Tino sambil memeluk anaknya.
"Makasih Ayah! akhirnya Ayah kembali kepadaku. Aku pikir, Ayah tidak akan sayang denganku lagi. Maafin aku ya Ayah," ucap Tasya.
Amanda tersenyum melihat Tasya berkata seperti itu. Amanda ikut memeluk putrinya dari samping bersama dengan suaminya.