
Kelvin masih mengamati perusahaan Peter hingga perusahaan tersebut di tutup dan semua karyawan pulang. Namun sampai saat itu, Kelvin tidak melihat ada Michael di sekitar sana.
Justru dia melihat gebetannya berjalan dengan seorang lelaki. Kelvin ingin menghampiri Erni yang berjalan dengan Rio, namun dia keburu ingat jika dia bekerja harus profesional. Tidak peduli apakah emosi atau marah, Kelvin tidak mau ketahuan oleh ayahnya Naila.
Kelvin masih memantau mereka berdua yang tengah asik mengobrol sambil tertawa.
"Bukannya habis kerja langsung pulang, malah ngobrol-ngobrol. Gak tahu apa dia bahaya," gumam Kelvin kesal.
Matanya terus tertuju pada Erni dan Rio yang saat ini berdiri di depan gerbang perusahaan.
Kelvin mengambil handphonenya, berinisiatif untuk menyuruhnya pulang setelah selesai bekerja.
"Semoga saja di baca!" ucap Kelvin ketika melihat Erni sedang menggenggam handphonenya.
Namun yang di lihatnya justru Erni hanya melihat sekilas handphonenya lalu melanjutkan obrolannya dengan Rio.
"Seberapa asik sih tuh cowok, sampai-sampai aku chat aja dia gak balas!" gerutu Kelvin kesal.
Detik berikutnya, Erni akhirnya pulang setelah sepeda motor tua berhenti di hadapannya. Ya, hari ini Erni memang di antar jemput sama ayahnya karena ayahnya memerlukan sepeda motor. Namun ini tidak setiap hari, dia kembali membawa sepeda motor tersebut esok hari.
Setelah naik ke atas sepeda motor, Erni berpamitan kepada Rio. Kelvin yang melihat Erni sudah pergi merasa lebih tenang karena akhirnya Erni tak lagi berduaan dengan Rio.
Kelvin pun memutuskan untuk pulang ke rumah Angkasa dan melaporkan semuanya yang dia lihat tadi.
Sedangkan Erni yang masih di jalan, menyuruh ayahnya berhenti di salah satu pedagang makanan.
"Mau beli makanan dulu ya Pak!" ucap Erni.
Setelah itu, dia pergi memesan beberapa makanan yang belum pernah di makan keluarganya. Bahkan dirinya juga belum pernah makan makanan tersebut.
Beberapa makanan yang di pesannya adalah ayam kentucky, bakso goreng, dan lainnya.
Setelah selesai menerima pesanan, Erni kembali ke Ayahnya yang sudah menunggunya di sepeda motor.
Melihat anaknya membawa beberapa bungkus makanan, Randi merasa terkejut. Hal ini karena dirinya belum pernah membeli banyak makanan seperti ini. Yang biasanya mereka makan di rumah hanya tempe dan tahu saja.
"Kenapa banyak sekali Erni?" tanya Ayahnya.
Ayahnya pikir, Erni akan kedatangan tamu malam hari ke rumahnya. Itu sebabnya Erni membeli banyak makanan. Randi tahu jika anaknya bukanlah anak yang boros, Erni sangat pintar menyimpan uang dan tidak suka menghamburkan uangnya.
"Untuk kita makan lah Pak! lagipula selama Erni kerja, kita belum pernah makan enak seperti ini," ucap Erni.
"Tapi ini terlalu banyak Erni," ucap Ayahnya yang tampak khawatir karena menggunakan uang anaknya.
"Tidak apa-apa Pak, lagipula ini sesekali saja. Ya udah kita pulang yuk Pak, Ibu sama Reno pasti sedang menunggu kita di rumah!" ucap Erni.
Beberapa menit kemudian, Erni dan Ayahnya sudah sampai di rumah. Mereka di sambut oleh Ibu dan Reno.
"Apa itu Kak? kok banyak sekali bungkusannya?" tanya Reno dengan polos.
"Ini makanan yang akan kita makan malam ini," ucap Erni.
"Wah banyak sekali Kak!" ucap Reno sangat senang.
Reno pun membantu Kakaknya membawakan makanan tersebut ke dalam. Sedangkan Ayahnya yang baru saja selesai memarkirkan sepeda motornya juga ikut masuk ke dalam bersama Ratna.
"Reno kamu siapin dulu makanannya ya, Kakak mau ganti baju sebentar!" ucap Erni berpesan kepada adik laki-lakinya.
"Iya Kak, siap!" ucap Reno.
"Erni, terimakasih banyak ya sudah membuat adikmu dan kami senang. Kamu sungguh anak yang berbakti Erni," ucap Ratna yang berdiri di samping Erni.
"Sama-sama Bu," sahut Erni.
Erni masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian, sedangkan Reno sibuk menyiapkan nasi dan makanan yang di beli oleh Erni.
"Syukurlah kita bisa makan hari ini, ibu sangat khawatir karena di rumah tidak ada lauk!" kata Ratna kepada suaminya.
"Anak kita sungguh baik hati Bu, dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri tapi juga memikirkan keluarganya!" sahut Randi.
"Udah siap makanannya Reno?" tanya Erni yang sudah selesai mengganti pakaian.
"Tinggal ambil piring saja Kak!" ucap Reno yang tengah sibuk menata makanan kedalam beberapa piring yang dia ambil.
"Biar Ibu saja yang ambilkan!" ucap Ratna bergegas pergi ke dapur untuk mengambil tambahan piringnya.
Setelah semuanya siap, mereka berempat duduk bersila di lantai dengan beralaskan tikar.
"Makanannya pasti enak-enak Kak, aku sudah ngiler dari tadi!" ucap Reno sangat senang.
"Biasanya Reno hanya bisa mencium baunya saja dan melihat orang-orang makan ini di jalan. Tapi sekarang, Reno bakalan bisa nikmati ayam ini Kak," ucap Reno lagi.
"Kamu ngoceh saja, makan cepetan keburu dingin. Jangan lupa berdoa," ucap Erni.
Ratna dan Randi hanya tersenyum melihat kedua anaknya yang sangat akur sekali. Mereka bahkan tidak tahu cara mendidik kedua anak itu hingga menjadi anak-anak yang berbakti dan tidak terlalu banyak meminta.
"Ibu dan Bapak juga makan yang banyak ya!" ucap Erni sambil mengambilkan beberapa potong ayam ayah dan ibunya.
"Kami bisa sendiri kok Nak!" ucap Ibunya yang merasa tidak enak hati.
Mereka di layani dengan baik oleh kedua anak-anaknya.
'Mereka tidak hanya mengerti keadaan kami, tapi mereka juga sangat sayang terhadap kami,' batin Ratna dengan perasaan yang penuh haru memiliki anak-anak yang berbakti seperti Erni dan Reno.
Mereka menyantap makanannya dengan lahap hingga perut mereka merasa sangat kenyang. Reno sangat suka dengan makanan tersebut dan bersyukur masih bisa makan makanan yang lezat itu.
Begitupun Ratna dan Randi, lidah mereka yang biasanya hanya tersentuh Tempe dan tahu kini bisa menyentuh dan menelan makanan orang kaya walaupun hanya ayam.
"Reno, tolong beresin ya. Kakak mau bicara sama Ibu dan Ayah!" ucap Erni kepada Reno.
"Baik Kak!" sahut Reno yang langsung bergerak.
"Makasih ya adikku sayang!" ucap Erni tersenyum ke arah adiknya.
"Ih geli," ucap Reno yang tak biasa di panggil seperti itu.
"Dasar!" kata Erni pelan sambil melirik ke arah adiknya yang tengah menumpukkan piring-piring yang kotor.
"Sudah, sudah! apa yang ingin kamu katakan Erni?" tanya Ratna mengalihkan pembicaraan Erni dengan Reno.
"Mmm gimana ya ngomongnya Bu, aku bingung!" ucap Erni.
"Bicara saja apa yang ada di pikiran kamu, nanti kamu pasti akan menemukan kata-kata lain!" ucap Randi.
"Aku rencana mau renovasi rumah kita Bu, Pak! beberapa bulan bekerja, aku sudah menyimpan banyak uang. Tapi aku ragu, dananya tidak cukup untuk membayar tukang. Menurut Ibu sama Bapak bagaimana?" tanya Erni.
"Emang kamu sudah berapa punya tabungan Erni?" tanya Randi.
"Sedikit sih Pak, baru 45 juta!" ucap Erni ragu.
"Itu uang yang aku simpan sebelum menjadi manager sampai sekarang aku menjadi manager Pak. Tapi untuk uang segitu kira-kira cukup tidak ya?" tanya Erni lagi.
"Mmm Bapak hitung-hitung dulu ya," ucap Randi.
Randi mulai menghitung dengan jarinya sambil komat kamit. Menghitung biaya tukang sekaligus biaya renovasi rumahnya yang tidak terlalu besar itu.
Setelah beberapa menit, Randi telah selesai menghitung semuanya.
"Untuk rumah kecil seperti ini, pasti cukup kok Erni. Nanti untuk pelayan tukangnya biar Ibu sama Bapak saja. Kita sewa tukang saja ya," ucap Randi.
"Kalau begitu Bapak saja yang urus ya, soalnya Erni tidak terlalu mengerti!" ucap Erni.
"Baiklah, kebetulan sekali Bapak punya teman sebagai tukang. Nanti coba Bapak cari ke rumahnya," kata Randi.
"Erni, Ibu dan Bapak sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan keinginan kamu belum bisa kamu penuhi. Kamu lebih mementingkan tempat tinggal kita daripada ego kamu sendiri. Terimakasih banyak ya Erni," ucap Ratna dengan perasaan terharunya yang kembali lagi.
"Asalkan Ibu sama Bapak senang, aku pasti senang kok!" ucap Erni memeluk kedua orang tuanya.