Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 50


Keesokan harinya, Kelvin meminta izin kepada Angkasa untuk tidak masuk kerja. Dia sudah memiliki janji dengan seseorang yang dia cintai. Tentu saja Angkasa sudah tahu siapa wanita yang di maksud itu. Dia memberikan izin kepada Kelvin untuk tidak bekerja pada hari ini. Lagipula hari ini adalah hari minggu, jadi Angkasa bisa seharian ngurusin perusahaan.


Beberapa menit setelah Kelvin pergi, Michael datang menemuinya.


"Wah, tumben sekali Tuan Michael datang tanpa mengabari terlebih dahulu. Ada masalah apa?" tanya Angkasa berdiri dari tempat duduknya menyapa Michael yang baru saja datang ke ruangannya.


"Tidak ada, hanya ingin meminta bantuan kepada Tuan Yuda!" sahut Michael.


Angkasa mempersilahkan Michael duduk sebelum melanjutkan perbincangan mereka.


"Oh bantuan apa Tuan Michael?" tanya Angkasa.


"Begini, saya ingin membuka cabang baru! rencananya saya ingin membuka di negara E ini. Ada satu tanah yang ingin saya beli, tetapi sudah di dahului orang lain yang juga dari negara E. Apa Tuan Yuda bisa membantu saya untuk mendapatkan tanah tersebut?" ujar Michael tanpa basa-basi.


"Dari perusahaan apa orang yang membeli tanah tersebut?" tanya Angkasa.


"Kalau tidak salah Cahaya Gempita Tuan," ucap Michael.


"Cahaya Gempita? sepertinya saya pernah mendengar nama perusahaan tersebut," kata Angkasa sambil mengingat-ingat kembali.


'Bukankah itu nama perusahaan Tuan Peter? ayah mertua ku?' batin Angkasa.


"Tuan Michael, apa tidak ada tempat lain yang Tuan inginkan selain tanah tersebut?" tanya Angkasa yang mencoba merubah lokasi yang di inginkan oleh Michael.


"Tidak bisa Tuan, ini juga bukan keinginan saya swndiri. Melainkan istri saya yang telah hamil muda, dia menginginkan tanah tersebut. Mungkin ini memang aneh tapi itulah yang terjadi," kata Michael yang mencoba membohongi Angkasa.


'Sepertinya Tuan Yuda tidak mau mengusik tanah tersebut, tapi dengan menggunakan wanita yang sedang hamil memancingnya pasti akan di setujui,' pikir Michael dalam hati.


Setelah beberapa menit berfikir, Angkasa memberikan keputusan yang mengecewakan. Dia berkata kepada michael bahwa dirinya tidak bisa memenuhi permintaan tersebut.


"Kenapa Tuan? bukankah Tuan yang berkuasa di negara Y? lalu kenapa hanya masalah sekecil ini tidak bisa Tuan lakukan?" tanya Michael dengan sedikit emosi.


"Maaf Tuan, ini memang masalah kecil. Tapi saya tidak menginginkan hal itu terjadi dan membela perusahaan luar lalu membuat perusahaan kecil tersingkirkan. Saya masih menghargai mereka," kata Angkasa dengan sopan.


"Tidak bisa begitu dong Tuan, kita telah bekerjasama. Dan saya juga telah membantu Tuan mencarikan tanah di negara E untuk Tuan buka cabang," protes Michael.


Dia masih tidak terima jika Angkasa menolak permintaannya.


"Tuan Michael jangan memancing emosi saya. Perusahaan Tuan Michael tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan perusahaan saya. Jika Tuan mau, saya bisa menghancurkan perusahaan Tuan dalam satu minggu!" kata Angkasa yang mulai mengancam Michael.


"Bukan begitu Tuan, tapi ini kurang adil bagi saya," kata Michael.


Angkasa merogoh sebuah laci dan mengambil sebuah dokumen. Lalu merobek isi dokumen tersebut.


"Ya sudah kalau begitu, untuk kerjasama kita di batalkan. Saya tidak jadi bekerjasama dengan Anda. Silahkan Anda pergi," kata Angkasa mengusir Michael.


Michael tak mampu berkata-kata lagi, dia terpaksa pergi dari ruangan Angkasa.


'Siapa sebenarnya wanita tersebut? kenapa sepertinya seorang Michael tidak dapat menyentuh perusahaan milik ayahnya?' batin Michael.


Angkasa menarik nafas panjang, dia memegang kepalanya yang sedikit pusing. Meskipun perusahaannya akan ganti rugi dengan jumlah yang cukup besar, tetapi itu cukup untuk mendapatkan seorang Naila.


"Ini semua demi ayah mertua, sepertinya aku harus sering-sering bekerja sama dengan perusahaan ayah mertua. Dengan begitu, tidak ada orang yang berani macam-macam dengan Ayah mertua," ucap Angkasa.


Di sisi lain, pagi-pagi Erni sudah berdandan dengan rapi. Dengan memoleskan sedikit make up di wajahnya sambil berkaca.


"Mau kemana sih putri Ibu? bukannya hari minggu libur ya?" tanya Ratna yang tidak biasa melihat tingkah putrinya yang sudah beranjak dewasa.


"Ini Bu, mau keluar sama teman," sahut Erni sambil sibuk menggunakan lipstik di bibirnya.


"Sama Teman ya? kenapa dandanannya seperti akan bertemu pacar?" tanya Ratna menggoda anaknya.


"Orang Kakak mau ketemu teman cowoknya kok Bu," celetuk Reno adiknya Erni.


"Beneran itu Erni?" tanya Ibunya.


Erni tampak malu-malu untuk menjawab karena ini adalah pertama kalinya bagi dirinya untuk bertemu dengan seorang pria.


"Iya Bu, tapi cuma teman kok!" sahut Erni.


"Ya sudah, ketemunya jangan di tempat yang sepi-sepi ya. Cari tempat yang aman dan ramai," pesan Ratna kepada anaknya.


"Iya Bu, tenang saja," sahut Erni.


Kini Erni sudah siap untuk berangkat. Dia berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ratna mengantarkan Erni sampai di depan pintu rumah. Dia melihat putrinya yang sangat cantik ketika berdandan. Dengan menaiki motor bututnya yang sudah tua.


"Erni, kamu hati-hati ya!" ujar Ratna.


Ratna menatapnya dari teras rumahnya, hingga tak terlihat lagi punggung Erni. Randi menghampiri istrinya yang masih berdiri di teras rumahnya.


"Jangan di lihat lagi, Erni pasti bisa jaga diri kok!" ucap Randi.


"Iya Yah! aku cuma kasihan melihat Erni yang ikut banting tulang demi keluarga kita. Aku sebagai Ibunya merasa malu karena itu," kata Ratna.


"Sudah jangan di pikirkan lagi. Ayah sudah merencanakan sesuatu untuk ulang tahun Erni yang akan datang. Kita akan memberikan sebuah kejutan kepada dia," kata Randi.


"Oh ya, bentar lagi Erni ulang tahun ya! Mari kita rayakan sama-sama, biasanya Erni sangat jarang merayakan ulang tahunnya. Sekarang kita harus merayakannya dengan meriah," ucap Ratna.


"Tidak perlu mewah, yang terpenting sangat berkesan untuk Erni," sahut Randi.


"Ayah, Ibu suatu saat nanti kalau aku sudah tamat SMK aku akan seperti Kakak. Membantu kalian dan membahagiakan Kalian dan Kakak," kata Reno yang dari tadi mendengar percakapan kedua orang tuanya.


Ratna dan Rendi membalikkan badannya dan menghampiri Reno.


"Kamu belajar yang rajin dulu, setelah itu baru bisa seperti Kakak ya!" ucap Ratna.


"Kami bersyukur memiliki anak-anak yang berbakti seperti kalian. Semoga kelak kalian menjadi anak-anak yang sukses ya," kata Randi mendoakan anaknya.


Seketika air mata Randi menetes, dia sangat bahagia memiliki dua anak yang berbakti kepada dirinya.


Namun dia juga merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh istrinya. Dia menjadi ayah yang tidak bisa memenuhi kebutuhan anaknya, bahkan anaknya banyak membantu untuk masalah perekonomian mereka.


Tetapi meskipun Randi tak sanggup menghindari itu semua, Randi masih bisa membalasnya dengan kasih sayang yang cukup untuk kedua anaknya.


...***...


Erni dan Kelvin telah bertemu di sebuah tempat yang telah di tentukan. Meskipun sedikit grogi tetapi suasananya cukup tenang.


"Erni, kamu mau pesan apa?" tanya Kelvin memberikan menu makanan kepada Erni.


"Samain saja sama kamu, lagipula aku jarang makan di tempat yang seperti ini," kata Kelvin.


"Ya udah, mbak pesan Ayam kecap, nasi putih, Gurami goreng dan Ikan bakar ya. Masing-masing dua porsi ya," ujar Kelvin kepada Pelayan.


"Itu gak kebanyakan?" tanya Erni yang takut nantinya makanannya menjadi mubazir.


"Tenang saja Mbak, di sini makanan sisa yang mau di bawa pulang boleh di bungkus kok!" ujar Pelayan tersebut.


"O-oh iya Mbak, maaf kurang tahu saya. Soalnya pertama kalinya," kata Erni sambil tersenyum malu kepada Pelayan tersebut.


"Untuk minumnya apa Mas, Mbak?" tanya Pelayan tersebut.


"Saya pesan Jus jambu, kamu apa Erni?" tanya Kelvin kepada Erni.


"Aku jus jeruk aja deh," sahut Erni.


"Baik, kalau begitu mohon di tunggu ya!" ucap Pelayan tersebut.


"Ngomong-ngomong, pacar Mas cantik dan juga sederhana. Jaga baik-baik ya," ucap Pelayan tersebut sambil tersenyum.


"Kita bukan,..."


"Iya pasti kok Mbak, terimakasih ya!" ucap Kelvin memotong pembicaraan Erni.


"Sama-sama," kata pelayan tersebut lalu pergi meninggalkan Kelvin dan Erni.


"Kamu kok gitu sih? kita kan gak pacaran?" protes Erni.


"Gak apa-apa, toh juga gak penting kan?" ujar Kelvin.


"Tapi bagi aku penting," kata Erni nyolot.


"Ya udah kalau gitu, kenapa kita gak pacaran beneran? lagipula pelayan saja bisa menilai kalau kita cocok," kata Kelvin.


"Kata-kata macam apa itu? berarti nanti kalau kamu jalan sama cewek terus ada orang yang bilang kalian cocok kamu jadian sama cewek itu?" tanya Erni dengan nada tinggi.


"Gak mungkin! kalau aku sudah punya kamu, aku gak akan jalan sama cewek lain!" sahut Kelvin yang membuat Erni tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Udahlah, malas debat sama kamu!" ujar Erni.


Kelvin hanya tersenyum-senyum melihat raut wajah Erni yang cemberut.


'Seandainya kamu tahu Er, aku suka sama kamu. Aku ingin nyatakan cinta aku ke kamu, tapi aku taku kamu nolak aku mentah-mentah!' batin Kelvin yang terus menatap Erni sambil tersenyum.