Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 58


Saat ini Angkasa berdiri di depan pintu gerbang seperti menanti seseorang. Benar, dia sedang menunggu Naila setelah kelasnya berakhir.


Angkasa tidak akan menyerah untuk Naila, meskipun Naila telah menolak untuk bertemu dengannya tetapi itu tidak bisa mematahkan semangat Angkasa.


Angkasa ingin sekali menjelaskan semua kesalahpahaman yang saat ini terjadi. Angkasa juga berharap Naila masih berada di sisinya. Dia tidak ingin kehilangan Naila, wanita yang di cintainya.


'Naila pasti akan lewat sini, lebih baik aku bersembunyi dulu. Jika Naila tahu kalau aku menunggu di depan gerbang pasti dia tidak akan ke sini,' pikir Angkasa.


Angkasa bersembunyi di balik beberapa tanaman yang di tanam di kebun dekat gerbang. Dengan begitu, saat Naila datang ke pintu gerbang dia tidak terlihat oleh Naila.


Lama menunggu, hingga 30 menit kemudian Angkasa kembali mengintip dari belakang tanaman. Dia segera bersembunyi kembali ketika Naila datang ke arahnya.


Dengan jantung yang berdegup kencang, dia mengawasi langkah kaki Naila yang berjalan sendirian.


"Naila tunggu!" ucap Angkasa yang telah berdiri dan menangkap tangan Naila.


Naila terkejut dengan kedatangan Angkasa yang secara tiba-tiba.


"Ada apa lagi? bukannya aku sudah bilang, aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" ucap Naila yang langsung melakukan penolakan terhadap Angkasa.


"Naila, aku mau menjelaskan semua kesalahpahaman ini," kata Angkasa memohon supaya mendapat kesempatan yang di inginkannya.


"Tidak perlu! aku sudah tahu semuanya dari Kelvin," ucap Naila kembali menolak Angkasa.


"Tidak! Kelvin mungkin kurang lengkap menjelaskannya. Aku mau kamu mendengar semuanya dari aku," Angkasa kembali membujuk Naila agar memberinya sedikit waktu untuk menjelaskan.


"Apapun penjelasannya tidak dapat mengubah fakta bahwa kamu sudah memiliki tunangan. Jadi, lebih baik kamu menjauh dariku sebelum gosip sebelumnya kembali kepadaku!" kata Naila lalu pergi dari hadapan Angkasa dengan langkah besar.


Angkasa kembali di tinggalkan oleh Naila, dia mengacak-acak rambutnya pertanda pusing. Angkasa tidak tahu bagaimana caranya agar dia bisa menjelaskan kepada Naila secara langsung tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Nai, aku harus melakukan apa supaya kamu tahu apa yang sebenarnya?" keluh Angkasa yang masih berdiri di depan pintu gerbang.


Orang-orang telah berlalu lalang di hadapannya, namun Angkasa tidak peduli untuk menampilkan wajah gusarnya.


Angkasa memutuskan untuk kembali ke perusahaan. Dia berinisiatif untuk menanyakan solusi kepada Kelvin.


Di sisi lain, Naila yang baru saja meninggalkan Angkasa tak henti-hentinya menoleh ke belakang. Naila takut jika Angkasa kembali mengejarnya.


"Sepertinya Angkasa tidak berniat untuk mengikuti ku. Hah capek, aku beli minum dulu deh," kata Naila yang kemudian masuk ke toko swalayan yang berada di samping kirinya.


Naila mencari minuman favoritnya ke dalam kulkas. Sambil ngadem karena tubuhnya berkeringat dan mengeluarkan bau tak sedap.


"Ternyata di sini cukup lengkap. Lebih baik aku cari barang-barang keperluan dulu deh," ucap Naila setelah mengambil minuman di kulkas.


Naila berjalan di setiap lorong dari rak-rak tersebut, melihat berbagai macam kebutuhannya seperti parfum, shampoo, perawatan wajah dan lainnya. Naila juga mengambil beberapa snack yang terpajang di sana.


Tangannya sudah tidak muat, Naila memutuskan untuk mengambil keranjang belanja yang di taruh di sekitar pintu masuk dan keluar.


Setelah selesai mengambil barang sesuai kebutuhannya, Naila pun akhirnya membawanya ke kasir dan melakukan pembayaran.


"Hari ini panas sekali ya, aku pesan taksi online aja deh!" gumam Naila setelah keluar dari toko tersebut.


Naila memutuskan untuk duduk di kursi yang telah disediakan oleh toko tersebut untuk tempat makan. Sambil menunggu taksi yang di pesannya, Naila menikmati minuman dan snack yang dia beli dari toko tersebut.


Beberapa menit kemudian, Taksi datang dan Naila memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya. Kebetulan, hari ini Naila memiliki banyak tugas yang harus di selesaikan. Naila tidak ingin menunda pekerjaannya, terlebih lagi dia harus mempromosikan beberapa barang dari toko online shop.


...***...


Sedangkan Angkasa yang telah sampai di perusahaan melihat Angel yang telah menunggu di ruangannya bersama Kelvin.


Angel memperlihatkan wajah masamnya kepada Angkasa karena telah lama menunggu Angkasa di ruangan. Kelvin yang sudah tahu apa yang akan terjadi segera melarikan diri dengan alasan akan makan siang.


Berharap Angkasa akan senang, namun yang terjadi justru sebaliknya. Angkasa bahkan tak menggubris kedatangannya, bahkan hanya sekedar menyapa pun tidak.


Angkasa justru langsung menuju ke meja kerjanya dan berpura-pura melakukan sesuatu di komputernya. Semakin menjadi, Angel akhirnya melampiaskan semua emosinya karena merasa Angkasa akan takut kehilangannya.


"Angkasa! kamu kok baru datang sih? Aku sudah lama duduk di sini menunggu kamu tahu!. Tapi saat kamu datang, kamu bahkan tidak menyapaku dan bersikap cuek denganku. Aku tunanganmu loh, semua orang juga tahu. Kamu romantis dikit dong!" ucap Angel dengan nada marah.


Mendengar suara yang begitu keras, emosi Angkasa menjadi meningkat.


"Aku memang seperti ini, sikapku cuek, dingin dan gak romantis. Seperti yang kamu bilang kita masih tunangan dan belum menikah, lebih baik kamu mencari pria yang sesuai dengan kemauanmu daripada nanti menyesal!" sahut Angkasa.


Angkasa yang di kenal lemah lembut dan tidak akan pernah membentaknya meskipun dirinya melakukan kesalahan, kini telah berubah. Angel melihat Angkasa berbeda dengan yang dulu, bahkan sekarang lebih cuek di bandingkan dulu saat mereka masih remaja.


"Angkasa, kita baru beberapa hari bertunangan. Tapi kamu sudah bersikap seperti ini, apa kamu dari awal tidak menyukai ku? lalu apa artinya kamu menyetujui pertunangan ini?" tanya Angel.


"Suka atau tidak, itu bukan urusanmu!" sahut Angkasa yang semakin cuek dengan Angel.


"Oke kalau begitu, aku mengerti sekarang!" kata Angel.


Setelah mengatakan hal itu, Angel bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan Angkasa di ruangannya.


'Lihat saja! aku akan mengadu kepada Tante Almira. Tante Almira sangat mendukungku, pasti dia akan membelaku!' batin Angel dengan kesal.


Sesampainya di sana, Angel merengek layaknya anak kecil kepada Almira.


"Tante," ucap Angel yang langsung memeluk Almira ketika pintu sudah di buka.


"Ada apa sayang? kamu kenapa menangis?" tanya Almira yang kebingungan melihat calon menantunya tiba-tiba menangis.


"Angkasa, Tante, dia sepertinya tidak mencintaiku lagi!" kata Angel sambil menangis di depan Almira.


Almira mengajaknya untuk duduk terlebih dahulu di sofa.


"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu? bukankah kalian saling mencintai?" tanya Almira.


"Mungkin sekarang Angkasa sudah tidak cinta lagi sama aku. Dia bahkan cuek denganku saat baru sampai di perusahaan. Padahal aku sudah menunggu lama di sana, dan juga dia bentak aku Tante, huhuhu!"


Almira mengelus rambut Angel berharap Angel bisa tenang terlebih dahulu.


"Mungkin Angkasa sedang banyak pikiran Angel, kamu tahu sendiri bukan? Angkasa itu super sibuk, selain kuliah dia juga harus mengurus perusahaan. Jadi kamu harus banyak sabar ya menghadapi Angkasa," ujar Almira.


"Lagipula, mana mungkin Angkasa tidak mencintaimu lagi? bukankah dia setuju untuk menjadi tunanganmu?" lanjutnya.


Angel berfikir sejenak, memikirkan apa yang di katakan oleh Almira ada benarnya juga.


'Mungkin Angkasa sedang banyak pikiran, kalau tidak kenapa dia cuek denganku tiba-tiba?. Lagipula, untuk apa Angkasa bertunangan denganku kalau dia tidak cinta denganku?' batin Angel.


"Udah, jangan di pikirin lagi ya. Tante minta maaf untuk Angkasa!" kata Almira kemudian.


"Iya Tante," ucap Angel.


Angel yang baru saja tenang, tak sengaja melihat lukisan yang cukup menarik perhatiannya. Angel berdiri dan melihat lebih jelas lukisan yang di tempel di dinding tersebut.


"Lukisan ini beli di mana Tante?" tanya Angel yang masih memandang lukisan yang indah itu.


"Tante gak beli, itu Angkasa sendiri yang lukis!" sahut Almira yang datang menghampiri Angel.


"Oh ya? aku tidak tahu kalau Angkasa juga jago melukis. Setahuku, dia tidak pernah memperlihatkan hobi melukisnya dulu!" kata Angel.


"Mungkin ketertarikannya dengan lukisan tersebut muncul pada saat SMA. Soalnya Angkasa sendiri mulai menulis kelas 11 SMA," kata Almira.


"Hebat banget Angkasa!" puji Angel.


'Memang lelaki idaman. Cocok sekali denganku, kapan-kapan aku minta dilukiskan ah sama Angkasa,' batin Angel


"Masih ada gak lukisan yang lain?" tanya Angel kepada Almira.


"Mungkin di ruang lukisnya masih banyak, Tante tidak pernah di izinkan untuk masuk ke sana. Katanya itu privasi," sahut Almira.


"Aku mau ke sana Tante. Tante tahu letak kuncinya kan?" tanya Angel bersemangat.


"Pintunya tidak pernah di kunci sih karena mungkin dia percaya sama Tante. Tapi, kalau kita masuk diam-diam takutnya Angkasa akan marah!" kata Almira yang sedikit takut merusak privasi anaknya.


"Tidak apa-apa Tante, lagipula Angkasa sedang tidak rumah. Please ya Tante, boleh ya?" pinta Angel kepada Almira.


Almira tak enak hati untuk menolaknya, jadi Almira mengizinkan Angel untuk masuk ke ruangan tersebut. Tentu saja itu membuat Angel menjadi sangat senang.


Angel mengikuti langkah kaki Almira, dan saat Almira membuka pintu bau cat yang sangat pekat tercium di hidungnya Angel. Angel menutup hidungnya karena tidak kuat dengan bau cat tersebut.


Sambil memandangi lukisan-lukisan yang di buat oleh tunangannya, Angel sangat kagum. Semua yang di lukis oleh Angkasa semuanya sangat indah.


"Bagus-bagus banget Tante, ingin bawa pulang deh!" kata Angel manja.


Almira tidak fokus dengan Angel, dia justru fokus pada dua lukisan yang tertata rapi di tempatnya. Lukisan tersebut adalah bentuk wajah wanita yang sangat cantik, di pojok kanan bawah tertulis nama 'Naila'.


"Tante ada apa?" tanya Angel yang menghampiri Almira.


Angel melihat lukisan wajah seorang perempuan tersebut. Di lantai pun dia melihat sebuah foto cetak yang jatuh. Angel mengambil foto cetak tersebut dan mencocokkan dengan lukisan tersebut.


Alhasil wajahnya sama persis, pikirannya kembali over thinking.


"Siapa wanita ini Tante?" tanya Angel dengan curiga.


"Tante juga baru pertama kali melihat wajah wanita ini," ucap Almira yang juga tidak tahu.


"Apa mungkin wanita ini yang di cintai Angkasa?" tanya Angel kembali.


"Tidak mungkin, kamu jangan berfikiran yang tidak-tidak ya. Menantu Tante hanya kamu seorang. Sudah yuk, kita keluar di sini bau sekali!" kata Almira mengalihkan perhatian Angel.


"Tapi Tante...,"


"Sudah, Tante tidak kuat lagi. Lagipula takut ketahuan sama Angkasa," kata Almira mendorong Angel untuk keluar dari ruangan tersebut.


Dengan langkah terpaksa, akhirnya Angel keluar dari ruangan tersebut. Hatinya sungguh bimbang, dan beberapa pertanyaan mulai muncul di benaknya. Tentang siapakah wanita itu? apakah wanita itu yang di cintai oleh Angkasa sehingga dirinya mendapat perlakuan dingin dari Angkasa?. Angel tak mampu menebak itu semua, dia memutuskan untuk mencari tahu sendiri nantinya.