
Randi yang baru saja selesai mandi menghampiri Erni dan istrinya.
"Apa itu Bu?" tanya Randi sambil menunjuk ke tangan Ratna.
"Ini Pak, Erni belikan kita selimut lagi. Padahal kan kita sudah punya selimut di rumah," ucap Ratna mengadu pada suaminya.
"Selimut apa emangnya, coba di buka Bu," ucap Randi.
Ratna pun membuka selimut mahal tersebut, namun dia tak berani untuk merusak lipatan yang tertata rapi. Ratna hanya mengelus kainnya saja.
"Ini Pak," ucap Ratna memberikan suaminya untuk menyentuh selimut tersebut.
"Wah lembut sekali ya, adem lagi kainnya," ucap Randi setelah mengelus selimut tersebut.
"Sudah ku bilang sama Ibu Pak, tapi kata Ibu aku buang-buang uang saja," ucap Erni meskipun dia tahu maksud Ibunya tidak seperti itu.
"Ibu kamu itu hanya perkataannya saja yang seperti itu, di hatinya juga sangat senang di beliin selimut. Tapi ibu kamu hanya malu untuk mengakuinya," ucap Randi yang telah mengenal sikap istrinya.
"Bapak kok gitu sih," ucap Ratna yang tampak malu.
"Udah yuk Pak, Bu kita makan. Aku sudah lapar dari tadi," ujar Erni.
"Kalau begitu kita makan dulu, kebetulan Ibu masak sop jagung. Tadi ada tetangga yang berikan ke sini, katanya jagungnya sudah mau busuk jadi tidak bisa di jual lagi dan di kasih sama Ibu," kata Ratna bercerita.
Erni terkadang kasihan dengan keluarganya yang makan sisa-sisa dari orang lain. Tapi dia juga sungguh berterimakasih kepada tetangganya yang sering memberikan beberapa sayur yang sudah tidak bisa di jual kembali. Karena berkat itu, Erni dapat menikmati beberapa sayuran yang tak mampu ibunya beli.
Ketika akan menyiapkan makanan di dapur, Erni membangunkan adiknya yang tidur di kasur.
"Reno bangun Reno, makan dulu!" ucap Erni kepada Reno.
"Gak ah Kak, aku gak mau makan. Aku ngantuk sekali," ucap Reno sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Besok kamu lapar kalau tidak makan sekarang. Ingat Reno, sekarang kita harus irit demi rumah ini," ucap Erni.
"Tapi aku ngantuk Kak," kata Reno yang masih belum membuka matanya.
Ratna yang mengetahui hal itu menepuk bahu Erni dari belakang.
"Biarkan saja Erni, kasihan dia telah bekerja seharian. Mungkin Reno lelah, besok Ibu akan berikan dia bekal tambahan," ucap Ratna.
Erni pun menuruti perkataan ibunya, dia mengambil nasi dan piring untuk di hidangkan.
Keesokan harinya....
"Ngantuk sekali ini mata, akibat terlalu mikirin Angkasa kemarin jadinya gak bisa tidur," gumam Naila sendirian ketika sudah sampai di depan gerbang.
"Kenapa memikirkan ku?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul di belakang Naila.
Naila terkejut melihat kedatangan Angkasa, dengan wajah pucat dia berusaha melarikan diri.
"Mau kemana sih? Toh juga belum kelas. Gimana kalau kita ngobrol sebentar di balkon?" ajak Angkasa.
"Mau ngobrolin apa?" tanya Naila yang masih waspada terhadap Angkasa.
"Bicara masalah kontrak, emangnya kamu gak mau tahu isi kontraknya?" tanya Angkasa.
"Mau di tandatangani di kampus?" tanya Naila.
"Kalau kamu mau temani aku jalan-jalan sepulang kampus, kita akan bahas sekarang dan langsung tandatangan," ucap Angkasa.
"Kalau gitu nanti saja deh sekalian di kantor," tolak Naila.
Naila merasa jika dalam perusahaan lebih aman daripada di balkon kampus. Dia takut Angkasa akan berbuat sesuatu terhadapnya.
"Yah, padahal kalau di bahas sekarang lebih banyak kesempatan. Takutnya kalau bahas di perusahaan tiba-tiba aku berubah pikiran dan membatalkan kontrak," ujar Angkasa yang kembali menggunakan ancaman yang sama.
Jika sudah seperti ini, Naila tidak dapat membantah perkataan Angkasa. Naila akhirnya mengikuti langkah kaki Angkasa menuju balkon yang ada di kampusnya. Pemandangannya cukup bagus sebenarnya karena ada di lantai dua, namun di sana cukup sepi. Karena para mahasiswa sangat jarang berkumpul di sana, kalaupun berkumpul hanya untuk foto-foto saja.
"Kita duduk di sini saja sambil melihat pemandangan," ucap Angkasa.
"Ya udahlah, jangan banyak basa-basi lagi. Kota bahas kontraknya sekarang," ucap Naila yang berusaha menahan rasa kesal yang sangat ingin dia lampiaskan.
"Buru-buru amat, emang kelas kamu jam berapa sih?" tanya Angkasa.
"Bukan urusanmu! Udah cepetan mana kontraknya? Aku mau baca isinya," ujar Naila yang sangat tidak sabaran.
Angkasa hanya tersenyum karena menurutnya Naila cukup imut. Dia mengambil sebuah dokumen yang berisi surat kontrak di dalam tasnya dan di berikan kepada Naila.
"Kamu baca dulu isinya," ucap Angkasa.
Naila menerima surat kontrak tersebut dan membacanya dengan serius. Naila tak ingin ada kesalahan dalam menandatangani kontrak, karena ini merupakan salah satu Tanggungjawab yang besar yang di serahkan kepada dirinya.
Sedangkan Angkasa memperhatikan Naila yang sangat serius. Sambil senyum-senyum menatap ke arah Naila.
'Kenapa wanita ini sangat imut sekali? Membuat orang-orang yang menatapnya tidak bisa memalingkan pandangan,' batin Angkasa.
'Jangan-jangan, di luar sana ada banyak pria yang menatapnya seperti ini. Tidak boleh, ini tidak bisa di biarkan,' kata Angkasa dalam hati.
"Naila, kamu lebih baik jangan sering-sering berada di luar," ucap Angkasa.
"Apa hakmu mengaturku?" tanya Naila tanpa memalingkan wajahnya dari isi kontrak yang dia baca.
"Karena kita sekarang telah bekerjasama, aku tidak mau karena sikap kamu di luar malah mencemarkan nama baik perusahaan ku," kata Angkasa berusaha mencari alasan.
"Lebay banget sih, lagipula sikapku yang mana yang akan membuat nama baik perusahaanmu tercemar?" tanya Naila yang mulai di buat kesal lagi oleh Angkasa.
"Seperti jalan dengan pria lain, atau berdandan yang tidak wajar!" ucap Angkasa dengan tenang.
"Kamu ini benar-benar ya! Alasannya sangat tidak masuk akal sekali!" ucap Naila menatap Angkasa dengan tatapan mata yang tajam.
'Wanita ini kenapa cepat sekali kesal denganku?' tanya Angkasa pada dirinya sendiri.
"Gimana kontraknya? Apa kamu setuju?" tanya Angkasa mengalihkan pembicaraan.
"Ini point 7 maksudnya apa sewaktu-waktu kamu membatalkan kontrak?" tanya Naila merasa ada yang tidak beres dengan isi kontrak tersebut.
"Ya kalau kamu membuatku marah kontrak otomatis di batalkan lah!" ujar Angkasa.
Naila menghela nafas dengan panjang, dia pikir setelah tandatangan kontrak ini urusannya sudah selesai dengan pria yang sangat ia benci.
"Tuan Yuda yang terhormat! Bisa tidak kita bekerjasama dengan profesional? Tidak perlu bawa-bawa masalah pribadi kita ke dalam bisnis ini?" ucap Naila yang sudah tak tahan dengan sikap Angkasa.
"Tidak bisa! Isi kontrak itu sudah tidak bisa di ubah lagi!" ucap Angkasa dengan tegas.
Naila melempar kertas kontrak tersebut lalu pergi dari hadapan Angkasa dengan raut wajah yang menunjukkan Bahwa dia sangat kesal.
"Coba saja kamu cari, apakah bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku?. Kita tunggu saja, siapa yang akan bertekuk lutut nantinya," ucap Angkasa sombong.
Naila yang berjalan sambil ngedumel tiba-tiba menabrak seorang pria yang tidak di kenalnya dan sangat asing baginya.
"Maaf, maaf! Saya tidak fokus saat berjalan," ucap Naila memohon maaf kepada pria tersebut.
Namun pria itu tak menjawab, dan langsung melewati Naila begitu saja.
"Cih sombong banget! Kenapa sih hari ini semua orang ngeselin," ucap Naila kesal.
Naila memilih untuk masuk ke kelas lebih dulu untuk menenangkan dirinya. Beberapa menit kemudian, dosen yang mengajar datang dan pelajaran pun di mulai.
...***...
Setelah selesai mendapat kelas, Naila memiliki panggilan tak terjawab beberapa kali dari ayahnya. Tidak membuat Naila kaget, karena Naila sudah tahu apa yang terjadi.
Naila tergesa-gesa untuk pulang dari kampusnya dan langsung pergi menuju perusahaan ayahnya.
"Ayah!" ucap Naila setelah masuk ke ruangan ayahnya.
"Naila, tadi Tuan Yuda menelepon Ayah dan mengatakan jika kamu tidak menyetujui kontraknya. Ada apa sebenarnya Naila? ayah rasa kamu seperti sangat tidak suka dengan Tuan Yuda. Padahal kamu tahu Tuan Yuda sempat menolong mu dan sekarang dia ingin membantu perusahaan ayah lagi," ucap Peter.
"Bukan seperti itu Ayah, Naila hanya tidak ingin perusahaan sewaktu-waktu akan di rugikan oleh dia. Apalagi di dalam isi kontraknya itu tertulis kalau investasi akan di cabut jika dia merasa tidak senang," ucap Naila memberikan alasan yang sebenarnya.
"Itu hal wajar Naila dalam berbisnis. Jika investor tidak merasa senang dan merasa di rugikan sudah pasti dia akan mencabut investasinya. Oleh karena itu setiap pebisnis pasti akan berusaha menyenangkan hati investornya. Dan untuk itu Ayah sudah sering melakukannya jadi itu hal yang mudah bagi Ayah," ucap Peter yang menunjukkan rasa kecewanya terhadap Naila.
"Tapi Ayah...,"
"Sudahlah Naila, sepertinya kamu masih terlalu dini untuk di ajak masalah bisnis. Bisnis bukan mainan untuk kamu Nai, lebih baik kamu fokus belajar dulu!" kata Peter.
Seketika hati Naila hancur mendengar perkataan Peter yang membuatnya semakin tidak percaya diri.
"Baik Ayah jika itu mau Ayah. Aku pulang dulu," ucap Naila dengan lesu.
Peter menatapnya dengan rasa iba, namun dia tidak bisa membiarkan anaknya seperti ini terus. Peter merasa bahwa dia terlalu memanjakan Naila, dia berharap anaknya bisa semakin baik dalam hal yang dia sukai.
'Padahal Ayah tak tahu jika Angkasa terus menerus mengancamku. Aku menolaknya karena aku takut Ayah akan ganti rugi akibat ulahku,' batin Naila sambil meneteskan air matanya.
'Aku memang tak sebanding dengan Erni yang bisa mengerti dalam dunia perbisnisan. Bahkan tak sedewasa dia, aku benar-benar anak yang tak berguna!' batin Naila.
Saat berjalan keluar perusahaan, Naila tak sengaja menabrak Erni di pintu perusahaannya. Erni menyapa Naila dengan semangat, namun di abaikan oleh Naila.
Erni melihat sahabatnya yang tampak sedang sedih, namun dia juga tidak bisa mengejar karena jamnya hampir membuat ia terlambat.
"Ada apa dengan Naila ya?" pikir Erni.
Erni masuk ke ruangannya, saat dia hendak duduk salah satu karyawan yang kemarin menggosipkan nya membawa laporan yang dia inginkan.
"Ini Bu laporannya," ucapnya dengan gugup.
"Baik, saya cek dulu!" ucap Erni.
Erni membaca beberapa point penting dari proposal yang di buat oleh karyawannya.
"Sudah Pas, silahkan kembali ke meja kerja!" ujar Erni dengan wajah yang datar.
Karyawan tersebut menghela nafas lega, dia bersyukur Erni adalah manager yang profesional. Meskipun dia tahu kalau Erni kesal dengannya, tapi Erni masih memperlakukan karyawan tersebut dengan baik. Bahkan tidak ada niatan untuk mengerjai balik atau menyuruh membuat ulang laporan tersebut.
Erni mengerjakan pekerjaan yang telah di terimanya. Matanya sangat fokus menatap komputer yang ada di depannya. Hingga waktunya dia untuk istirahat, Erni keluar dari ruangan dan bertemu dengan Peter.
"Tuan Peter!" panggil Erni kepada Peter.
"Ada apa Erni?" tanya Peter menoleh ke arah wanita yang memanggilnya.
"Tadi saya lihat sepertinya Naila lagi ada masalah, apa Tuan tahu?" tanya Erni.
Peter mengangguk dan menyuruh Erni untuk tidak memikirkan sahabatnya itu.
"Baik Tuan, kalau seperti itu saya permisi dulu!" ucap Erni lalu meninggalkan Peter.
Erni membawa bekal yang disiapkan oleh Ibunya agar tidak terlalu boros jajan di kantor. Dia berjalan menuju ke ruang istirahat, saat itu kursinya hampir penuh semua karena semua karyawan sedang istirahat. Untung saha masih ada dua kursi yang tersedia sehingga Erni bisa menyantap makanannya.
Beberapa menitnya, Peter juga datang dan melihat ada sebuah kursi yang tersisa yaitu di samping Erni. Di sana hanya ada satu meja dan dua kursi, sehingga tampaknya sekarang Erni dan Peter seperti dua orang yang sedang berkencan.
Beberapa karyawan menatapnya dengan curiga kepada Erni, rumor bahwa Erni menggoda Peter masih belum hilang di kepala mereka.
"Kamu makan ini saja?" tanya Peter.
"Iya Tuan, ini masakan Ibu saya di rumah!" ucap Erni.
"Kenapa tidak pesan di online saja? kan lebih praktis!" tanya Peter.
"Lebih baik ini Tuan, soalnya lebih hemat!" sahut Erni.
Peter merasa iba dengan keadaan Erni, jadi dia membagi lauknya ke kotak makan Erni.
"Tidak usah Tuan, saya makan ini saja!" ucap Erni yang merasa sungkan.
Terlebih lagi teman-temannya melihat saat Peter menambahkan lauk ke kotak bekalnya Erni.
"Tidak apa, makan saja!" ucap Peter.
Erni tidak ingin banyak berdebat lagi karena takut akan menjadi pusat perhatian. Erni makan dengan perlahan bekal yang di bawanya.
Sangat tidak nyaman bagi Erni untuk makan berduaan dengan Peter. Dia merasa akan ada gosip baru keesokan harinya setelah dia makan berdua bersama Ayah sahabatnya sendiri.
"Saya duluan ya Erni," ucap Peter yang telah selesai makan.
"Baik Tuan," ucap Erni.
Erni menghela nafas lega setelah Peter pergi. Erni merasa lebih nyaman duduk sendiri di bandingkan bersama dengan Peter.
"Ciee, habis makan berduaan!" ejek salah satu wanita.
"Jangan cari masalah, dia manager loh. Nanti di ancam dan di pecat bagaimana? emang kalian tidak takut sama backingannya?" sindir yang lainnya.
Namun Erni tak menghiraukan mereka karena sudah sangat biasa perkataan-perkataan seperti itu terdengar di telinganya. Padahal Erni dan Peter hanya sebatas hubungan karyawan dengan Bos saja. Peter juga sangat baik kepada Erni karena Erni sahabat anaknya.
Tapi layaknya netizen, para karyawan di sana hanya sok tahu. Dan menilai sebelah mata saja tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.