
Perut telah terisi dengan penuh waktunya pulang untuk Naila. Naila tak berfikir akan melihat Yuda setelah dia selesai makan. Namun tidak dapat di sangkal, Yuda memang masih duduk di tempat yang sama.
"Itu Tuan Yuda tidak capek apa ya duduk lama-lama?" gumam Naila pada dirinya sendiri.
"Kamu seperti tidak tahu dia saja. Tuan Yuda adalah orang yang sibuk, tidak pernah tidak sibuk. Tapi aku heran di usia yang semuda itu apakah Tuan Yuda tidak pusing mikirin perusahaan?" tanya Erni.
"Mungkin itu adalah hal yang paling dia sukai, aku juga ingin mengejar mimpi seperti dia. Namun sampai hari ini aku belum melakukan hal apapun untuk memulai pengejaran mimpi. Aku merasa seperti anak manja yang tak bisa berbuat apa-apa selain mengeluh," kata Naila kembali tak memiliki rasa percaya diri.
"Tidak bisa seperti itu, jika kamu memiliki mimpi maka kami harus siap mengejarnya. Tapi kalau kamu hanya berangan-angan silahkan saja tidur di kasur itu lebih nyaman daripada bertarung dengan dunia!"
Perkataan Erni cukup untuk membangun semangat Naila, dia sepertinya membutuhkan Erni sebagai penasehat yang handal.
"Kita pulang yuk! istirahat sebentar lagipula hari sudah mau gelap!" kata Erni mengajak Naila untuk kembali ke hotel.
Naila menyetujuinya, mereka mengendarai mobil yang mereka sewa. Tak lama kemudian, Naila dan Erni sudah sampai di hotel. Mereka merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Liburan kita tinggal 2 hari saja. Kamu sepertinya harus membangun kenangan yang berkesan untuk Angkasa agar dia tidak bisa melupakan kamu. Tidak mungkin kan kamu hanya berdiam diri saja di sini?" kata Erni mengingatkan Naila.
"Kamu tahu sendiri lah Er, Angkasa tidak pernah ada waktu untuk aku. Bagaimana caranya aku membuat kenangan yang berkesan, yang ada dia yang membuat kesan yang menyebalkan untukku!" kata Naila dengan wajah yang cemberut.
Ini pertama kalinya sejak berteman dengan Naila melihat wajah Naila menjadi begitu kesal. Biasanya Naila tak akan mempermasalahkan hal-hal kecil yang membuat dirinya kesal.
'Sepertinya Angkasa sangat berarti untuk Naila, lebih baik aku mengajak Kelvin bekerjasama besok ketika aku menemuinya. Sayang sekali aku tidak memiliki nomor handphone Kelvin,' kata Erni dalam hati.
Dia menyesali tidak menyimpan kontak Kelvin, namun dia juga bisa bersikap tenang karena sisa liburan mereka masih dua hari. Jika Kelvin setuju rencananya masih bisa di jalankan.
"Ya sudah kamu tunggu saja sampai Angkasa memiliki waktu Nai," ucap Erni ngawur.
"Oh ya, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada kamu Nai!"
"Kenapa begitu?" tanya Naila memalingkan wajahnya ke arah Erni begitupula dengan Erni.
"Berkat kamu aku bisa menikmati liburan ke sini dan tidak perlu bekerja!" ucap Erni.
"Itu juga atas usaha kamu. Ayahku tidak pernah tenang membiarkan aku pergi sendirian tanpa seseorang yang dia percayai," kata Naila.
"Itu artinya aku sangat di percayai oleh ayahmu? apakah aku mengatakan hal yang benar?" tanya Erni menunggu jawaban dari Naila.
"Tentu! bahkan Safira yang telah lama menjadi sahabatku tidak mendapat kepercayaan Ayah!"
Naila teringat dengan kejadian di kehidupan sebelumnya. Tepat saat liburan Safira mengajak Naila untuk pergi ke negara K. Namun Peter tak mengizinkannya, itu terlalu jauh meskipun mereka sama-sama sudah dewasa. Saat itu Naila yang masih tunduk terhadap Safira memohon kepada Peter dan tetap tidak mendapat izin. Akhirnya Safira memarahi Naila karena hal itu.
'Apa mungkin Ayah tahu kalau Safira hanya memanfaatkan aku?' pikir Naila.
"Aku sangat senang mendengarnya!" kata Erni.
"Aku juga senang bisa bertemu sahabat seperti kamu. Aku tahu pilihan Ayah pasti selalu yang terbaik," kata Naila tersenyum.
"Nai, apa mungkin kita bisa menjadi sahabat setelah kita lulus kuliah nanti?" tanya Erni dengan wajah yang sedikit tidak ikhlas.
"Tentu saja, kenapa tidak? kita pasti akan menjadi sahabat selamanya!" sahut Naila dengan percaya diri.
Erni menjadi lebih baik mendengar jawaban Naila, karena dia sendiri tidak ingin kehilangan seseorang yang sangat dia sayang. Terlebih lagi Erni sangat susah mendapat teman, dia korban buli saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Itu sebabnya dia tidak berani memiliki teman sampai dia kuliah.
"Erni, aku boleh tanya?"
Tiba-tiba Naila mengatakan hal yang membuat Erni penasaran. Meskipun wajah Naila tidak lagi menghadap ke arahnya, Erni tahu pertanyaan yang akan di lontarkan oleh Naila pasti akan menjadi sesuatu yang sedih.
"Bagaimana rasanya memiliki Ibu sampai kita tumbuh dewasa? apakah itu sangat menyenangkan?" tanya Naila.
"Tentu Naila. Bagiku Ibu adalah pahlawan wanita yang selalu mengerti aku. Tapi juga wanita yang paling galak saat aku melakukan kesalahan sekecil apapun itu. Meskipun begitu aku tahu Ibu adalah orang yang paling menyayangi aku di dunia ini," kata Erni menjawabnya dengan senyuman manis.
Erni tak bisa mengatakan hal apapun lagi jika sudah berkaitan dengan seorang Ibu. Baginya Ibunya adalah orang yang sangat istimewa bahkan jika membahas kasih sayangnya, dia bisa mengatakan bahwa kasih seorang ibu tak terbatas.
"Naila, kamu jangan bersedih karena Ibu mu meninggalkanmu lebih dulu. Aku yakin Ibu mu juga tidak ingin meninggalkan kamu apalagi saat usiamu belum cukup. Namun beliau juga tidak bisa berbuat apa karena waktunya sudah habis maka dia harus pergi," ucap Erni.
"Tentu saja aku tidak sedih, selama Ibu merasa tenang di sana. Dan Ibu merindukan aku, menurutmu apakah Ibu memiliki rasa rindu yang sama denganku?" tanya Naila lagi.
"Itu pasti, bahkan lebih rindu daripada rasa rindu yang kamu rasakan. Mungkin saat ini Ibumu sedang menyaksikan di atas, ingin memelukmu namun tak bisa. Beliau bisa melihatmu senang dan tertawa itu sudah cukup. Jadi kamu tidak boleh bersedih karena beliau, jika itu terjadi maka Ibu mu akan merasa sangat bersalah!" jelas Erni.
Erni memberikan banyak pencerahan untuk sahabatnya karena dia tidak mau Naila merasa sangat sedih. Meskipun jika dirinya berada di posisi Naila tidak akan kuat untuk menjalaninya. Tapi Erni berusaha membangkitkan semangat Naila.
"Gak mungkin lah. Aku mana bisa menjadi motivator sedangkan diri aku sendiri juga banyak mengeluhnya," kata Erni tak percaya diri.
"Ayolah jangan merendah diri terus! sesekali akui kemampuanmu!" kata Naila.
Namun Erni hanya tersenyum, dia sungguh tidak bisa untuk memiliki rasa percaya diri yang begitu tinggi untuk dirinya sendiri.
...***...
Keesokan harinya, Erni mengajak Naila untuk bertemu dengan Angkasa. Namun Naila tak ingin menemuinya, Naila takut di tolak oleh Angkasa.
"Coba sekali lagi Nai, tidak ada salahnya kan kita mencoba?" ucap Erni membujuk Naila.
Belum sempat Naila menjawab suara Angkasa yang tengah memanggil namanya terdengar di depan pintu.
"Aduh bagaimana ini? Angkasa sudah datang, aku belum mandi," kata Naila panik.
"Jangan panik! Kamu pergi ke kamar mandi dulu nanti aku bilang kepada Angkasa!" kata Erni menenangkan Naila.
"Makasih ya Erni, kamu memang sahabat terbaik aku," kata Naila dan bergegas ke kamar mandi.
"Dasar Naila, tadi malah santai-santai tidur di kasur. Sekarang tahu rasa kan," ucap Erni.
Erni membukakan pintu untuk Angkasa, terlihat Angkasa dengan penampilan yang rapi. Di belakangnya berdiri Kelvin yang juga mengenakan pakaian yang rapi.
"Naila mana? kok tumben dia tidak mengetuk pintu ku? apa dia masih marah ya?" tanya Angkasa tanpa basa-basi.
Erni bingung menjawab yang mana dulu.
"Naila lagi mandi, dia mungkin hanya kesal denganmu karena beberapa kali kamu menolak ajakannya," kata Erni.
"Sudah ku duga!" ucap Angkasa memijat dahinya.
"Lebih baik kamu belikan dia bunga untuk meredakan amarahnya," kata Erni memberikan saran.
"Kalau aku memberinya Bunga apakah dia tidak marah? nanti bagaimana jika tambah marah karena menganggap sebagai pasangan?" kata Angkasa penuh kekhawatiran.
"Lalu sampai kapan kamu mau menyembunyikan perasaanmu kepada Naila? Naila sudah menunggu sejak lama," kata Erni yang tampak kesal dengan Angkasa.
"Maksudmu?" tanya Angkasa yang belum paham dengan situasinya.
"Sudahlah kamu berikan dia bunga. Lalu nanti malam kamu siapkan kejutan yang romantis, bukannya kamu sudah lama memendam perasaan terhadap Naila? kamu tidak bisa membohongiku lagi!"
"Tapi aku takut Naila tambah marah,"
Angkasa masih saja memikirkan hal yang sama, itu membuat Erni menjadi jengkel.
"Mana mungkin dia marah? seorang Angkasa adalah pria yang dia inginkan dan cintai," kata Erni dengan geramnya.
"Kamu yakin? kamu tidak berbohong kan?" tanya Angkasa bersemangat untuk memastikannya sekali lagi.
"Jam 11 harus sudah ada bunganya, kamu lebih baik jangan menundanya lagi. Ini sudah jam 10.45 loh!" ujar Erni lalu menutup pintu di depan Angkasa.
'Selama ini tidak ada yang berani menutup pintu di depan Tuan Yuda, apakah Tuan Yuda beneran suka dengan Naila?' batin Kelvin.
"Kelvin!"
"Siap Tuan!" sahut Kelvin.
"Kamu belikan saya seikat bunga yang besar dan mewah!" ucap Angkasa.
"Baik Tuan!"
Kelvin langsung berjalan, namun Yuda kembali memanggilnya.
"Ada apa Tuan?" tanya Kelvin.
"Saya saja yang pergi, kamu tinggal di sini ya!" kata Angkasa.
Dia tidak percaya dengan pilihan pria lain. Dan ini untuk orang yang spesial jadi Angkasa berfikir harus dia yang turun tangan untuk membelinya.