
"Yah, aku pulang ya. Toh juga gak ada pekerjaan di sini," ucap Naila.
"Boleh, sekalian istirahat di rumah. Kamu kan besok harus kuliah pagi-pagi," ucap Peter sambil mengelus rambut anaknya.
Erni yang berdiri di samping Naila merasa iri dengan pemandangan tersebut.
'Udahlah Erni, tak apa menjadi mandiri. Syukuri saja apa yang di jalani hari ini, toh juga Ibu sama Bapak masih baik sama kamu,' kata Erni membatin pada dirinya sendiri.
Setelah di berikan izin oleh Peter, Naila pun berpamitan kepada sahabatnya yang masih harus bekerja.
"Semangat ya Erni, aku pulang dulu. Bye-bye," ucap Naila sambil melambaikan tangannya pada Erni.
"Iya, hati-hati ya!" ucap Erni.
Setelah kepergian Naila, Erni pun izin kepada Peter untuk kembali bekerja. Namun seingat Peter, Erni sudah tak memiliki pekerjaan lagi berdasarkan apa yang dia ucapkan siang tadi.
"Tunggu Erni!" ucap Peter kepada Erni yang baru saja membalikkan badannya.
Gadis itu membalikkan badannya kembali menghadap kepada Peter.
"Ada apa Tuan?" Tanya Erni.
"Kamu lebih baik pulang jika tidak ada pekerjaan. Lagipula kamu sangat lelah tadi membagikan brosur," ucap Peter.
"Yang benar Tuan?" tanya Erni yang tampaknya tidak percaya.
Peter menjawabnya dengan anggukan di sertai dengan senyuman.
"Terimakasih Tuan, kalau begitu saya izin pulang ya Tuan," kata Erni penuh semangat.
"Iya hati-hati Erni!" ucap Peter.
Erni pun kembali ke ruangannya untuk mengambil handphone dan juga tasnya. Erni sangat senang sekali karena dia bisa pulang lebih awal.
'Enak banget ya jadi manager, bisa pulang seenaknya,' ucap salah satu teman kerja Erni.
'Kemampuan Erni memang tak bisa di ragukan lagi, entah rayuan apa yang dia buat untuk menggoda bos kita lagi,' bisik yang lainnya.
"Emang kalian gak tahu ya, tadi kan dia bagi-bagi brosur. Tujuannya sih sudah jelas untuk cari muka, mungkin agar lebih cepat menguasai perusahaan ini," ucap salah satu teman kerja Erni yang sangat iri dengannya.
'Eh kamu kok keras-keras sih, nanti dia dengar gimana?' ucap yang lainnya yang merasa sedikit takut.
"Udahlah, ngapain takut sama dia!" sahut wanita yang tadi.
Erni yang sengaja berjalan pelan di depan mereka, kini melangkah mundur dan berhenti di depan beberapa wanita tadi.
"Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lagi ya sehingga ada waktu luang untuk bergosip? Kalau begitu proposal yang saya minta pasti sudah beres, besok siang saat saya datang kalian bawa ke meja saya ya. Kalau enggak, siap-siap saya laporin kepada Tuan Peter!" ancam Erni.
Beberapa wanita yang tadinya asik bergosip sekarang menjadi ketakutan. Mereka saling menyalahkan satu sama lain karena telah membuat Erni tersinggung.
Melihat hal itu, Erni tak heran lagi. Erni sudah sering memberikan ancaman kepada mereka, namun mereka tetap tak jera. Akhirnya Erni memilih untuk meninggalkan mereka.
Di sisi lain, Naila yang baru saja sampai di rumahnya langsung menuju kamar. Naila merasa badannya sangat lengket dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian, Naila keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil handphonenya yang berbunyi sedari tadi.
"Angkasa? Ngapain dia telepon aku?" tanya Naila pada dirinya sendiri.
Naila memutuskan untuk menjawab telepon dari Angkasa, dia tidak ingin menyinggung pria yang kini ingin bekerjasama dengan perusahaan ayahnya.
"Ada apa?" tanya Naila dengan nada ketus.
"Kok gala banget sih? Biasanya juga kalau aku telepon kamu selalu senang," kata Angkasa merajuk.
Naila kembali mengingat masalalunya, dimana saat dia pacaran dengan Angkasa. Memang saat Angkasa meneleponnya, Naila merasa senang sekali karena saking rindunya. Terlebih lagi jika mereka sama-sama sibuk di kampus sehingga tidak dapat bertemu.
"To the point aja, ada apa kamu telepon aku?" tanya Naila tak menghiraukan perkataan Angkasa.
"Aku cuma pingin ngobrol aja sama kamu, kangen!" kata Angkasa yang membuat Naila merasa j!jik.
"Maaf aku tidak ada waktu, kalau tidak ada hal penting aku tutup ya!" ucap Naila.
"Tunggu, tunggu!" kata Angkasa dengan tergesa-gesa.
Naila tak jadi menekan tombol merah yang ada di layar handphonenya, dia kembali mendengar apa yang ingin di sampaikan oleh pria yang sangat ia benci.
"Ada apa lagi?" tanya Naila kesal.
"Aku mau video call sama kamu," ucap Angkasa.
"Tuan Yuda yang terhormat, saya tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni Anda. Jadi mohon maaf saya harus mengakhiri percakapan kita hari ini," ucap Naila.
Saat ingin menekan tombol merah tersebut, Angkasa mengancam membatalkan kontrak kerjasama dengan Ayahnya.
Naila berfikir sejenak, mengingat Ayahnya yang sangat menginginkan kerjasama itu Naila berfikir kembali.
"Ya udah, ya udah!" ucap Naila yang akhirnya pasrah.
Angkasa dengan senang hati mengubah panggilan menjadi panggilan video call. Angkasa terlihat tersenyum di layar handphone Naila.
"Kok cemberut gitu sih?" tanya Angkasa yang melihat raut wajah Naila yang tidak mengenakkan.
"Apa urusannya sama kamu?" tanya Naila kesal.
"Mungkin saja tidak ada, tapi ingat loh Ayahmu sangat menginginkan kerjasama ini. Kalau tidak ingin ayahmu kecewa, jaga sikap ya cantik," ujar Angkasa sambil tersenyum bangga.
"Mentang-mentang kaya seenaknya mempermainkan perasaan orang," ucap Naila masih dengan nada kesalnya.
"Siapa suruh aku suka sama kamu," ucap Angkasa yang kembali menggoda Naila.
Naila tak menanggapinya, dia memilih untuk memejamkan matanya agar tidak melihat kembali wajah Angkasa.
"Naila sayang, kamu tidur ya?" tanya Angkasa di telepon.
Naila tak merespon, dia sengaja pura-pura tertidur agar Angkasa berinisiatif mematikan teleponnya.
"Ya sudahlah, sepertinya kamu lelah. Aku matikan teleponnya ya, Bye!" ucap Angkasa.
Suasana menjadi hening setelah Angkasa mengatakan akan menutup teleponnya. Naila membuka matanya dan sialnya Angkasa hanya berpura-pura menutup telepon. Angkasa membisukan panggilan agar tidak ada suara-suara yang muncul.
"Awas saja ya kamu Angkasa!" kata Naila.
"Kenapa? Kamu ingin balas dendam, ingat kerjasamanya bisa-bisa batal loh," ucap Angkasa kembali mengancam.
"Kamu pria yang paling lemah yang pernah aku kenal. Bahkan hanya bisa mengancam dengan satu hal, menggunakan kelemahan orang lain untuk menindas," ucap Naila kesal.
"Ya sudahlah, sepertinya kamu sudah sangat marah. Lebih baik aku tutup teleponnya, sampai ketemu besok!" ucap Angkasa yang diikuti dengan menutup telepon.
Naila merasa tidak enak hati setelah Angkasa mematikan teleponnya. Dia merasa bahwa perkataannya terlalu melewati batas dan membuat Angkasa tersinggung.
'Apa aku terlalu berlebihan ya? Apa dia sakit hati mendengar omonganku?' tanya Naila pada dirinya sendiri.
"Ah sudahlah! Aku tidak mau pusing-pusing lagi mikirin pria itu!" ucap Naila yang kembali cuek dengan Angkasa.
Di sisi lain, Angkasa yang merasa takut karena membuat Naila marah. Dia telah melupakan pesan Kelvin yang mengatakan bahwa dia tidak boleh memaksakan kehendaknya.
Namun sangat susah untuk Angkasa mengendalikan hal itu, baginya Naila adalah wanita yang sangat imut ketika marah. Jadi, Angkasa lebih suka membuatnya marah daripada membuatnya merasa senang.
...***...
"Hari ini adalah hari pertama rumah di renovasi, jadi ayah dan ibu tidur di luar. Sedangkan aku tidur di dapur dengan adikku. Aku singgah ke toko selimut sebentar deh," ucap Erni sambil mengendarai sepeda motornya.
Dia mencari sepanjang jalan toko selimut, matanya melirik ke kanan dan ke kiri berharap toko tersebut ada di sekitar jalan yang dia lalui.
"Kenapa gak ada toko selimut ya? Aku coba cari di google map deh," gumam Erni sendirian.
Erni menghentikan sepeda motornya dan membuka handphonenya mencari toko selimut terdekat dengan lokasinya. Setelah ketemu, Erni pun melihat jalan yang di tunjukkan oleh google map sambil mengendarai sepeda motornya.
Lokasinya cukup dekat, sehingga Erni hanya perlu waktu sebentar untuk sampai di toko tersebut.
Erni parkir di tempat yang telah di sediakan dan kemudian masuk ke dalam toko selimut tersebut. Ada banyak orang yang datang pada hari itu, para karyawan terutama kasir bergerak cepat untuk melayani pelanggan yang melakukan pembayaran.
Erni mengabaikan hal itu, dia berjalan ke arah selimut yang di pajang. Di sana sudah di berikan sample untuk melihat dan meraba kain selimut tersebut.
Erni memilih selimut tebal dengan bahan berbulu sehingga saat di raba terasa hangat di tangan. Bagi Erni itu sangat cocok untuk Ayah dan Ibunya agar tidak kedinginan saat tidur.
Namun saat melihat harganya yang begitu mahal, Erni mengurungkan niat untuk membelinya. Erni mencoba untuk mencari harga yang standar dengan kualitas yang cukup bagus. Sambil meraba-raba sample yang di pajang di sana, Erni menemukan satu selimut lagi yang menurutnya sangat pas.
"Ini aja deh, lagipula harganya juga murah cuma 100 ribu," ucap Erni.
Erni memilih motif bunga berwarna-warni dan membawanya ke kasir. Erni perlu mengantri untuk melakukan pembayaran karena di sana hanya ada satu kasir saja.
Antrian yang cukup panjang membuat Erni cepat bosan. Erni memutuskan untuk memainkan handphonenya. Sedang asik memainkan handphone, tiba-tiba seorang ibu-ibu menyerobot antrean dan berdiri di depan Erni.
Dengan ragu-ragu Erni menepuk bahu Ibu tersebut dengan pelan.
"Bu, tolong antre dong. Saya sudah lama loh menunggu di sini," ucap Erni dengan bersikap tenang.
Namun Ibu-ibu yang tidak di kenal Erni itu tidak merespon Erni, hanya menoleh ke arah Erni lalu mengabaikan Erni kembali.
Erni sangat kesal dibuatnya, dia lalu menepuk bahu ibu itu sekali lagi. Mencoba untuk memberikan peringatan yang kedua kalinya.
"Kamu ngalah untuk saya saja kenapa sih? Toh juga hanya satu orang tidak akan membuat kamu menunggu satu jam," ucap Ibu-ibu tersebut dengan nada marah.
Pelanggan yang ada di depan menoleh ke arah Erni, namun mereka tak satupun membela Erni, hanya menonton mereka berdebat.
"Tapi kan belanjaan Ibu cukup banyak itu," ucap Erni sambil melirik ke keranjang Ibu-ibu itu.
Namun tak di respon kembali oleh ibu-ibu itu.
"Ya sudah kalau Ibu tidak mau antre tolong pinjamkan saya uang 100 ribu ya," ucap Erni.
"Untuk apa saya pinjamkan uang sama kamu? Saya kan gak kenal sama kamu," sahut Ibu-ibu itu dengan amarah yang sudah semakin tinggi.
"Lalu? Saya tidak kenal dengan Anda jadi untuk apa saya mengalah?" ucap Erni lalu dengan cepat mengambil alih posisinya dan mendorong wanita tua itu ke belakang.
Wanita tersebut sangat marah dan merengek untuk mendapat perhatian orang-orang.
"Sudahlah Dek, kasih saja. Lagipula dia sudah tua, turuti saja kemauannya," ucap salah satu orang yang mengantre.
"Benar tuh! Kamu lebih muda dari dia kenapa tidak mau mengalah saja sih?" ucap yang lainnya.
Wanita tua tersebut tampak senang karena merasa puas mendengar Erni di salahkan.
"Kalau begitu kenapa bukan kalian saja yang mengalah? Bukannya dia juga lebih tua daripada kalian?" Ucap Erni melawan perkataan dua wanita tadi.
Dua wanita yang tadi mendadak sunyi karena mereka juga tidak ingin mengantre lebih lama lagi. Alhasil wanita tua itu tak ada lagi orang yang membelanya, dan dengan rasa malu dia bangkit dan kembali mengantre di belakang Erni.
Kini giliran Erni yang membayar, setelah menerima struk Erni membalikkan badannya menghadap ke arah wanita tua tersebut.
"Selain membiasakan diri untuk membaca, kita juga harus membiasakan diri untuk mengantre. Sudah berumur lebih baik banyak-banyak perbaiki diri," kata Erni lalu pergi meninggalkan wanita tua itu.
Pegawai kasir yang ada di depannya hanya bisa senyum-senyum melihat raut wajah kesal wanita tua itu. Sebab, dia tahu siapa yang salah dan siapa yang benar.
Setelah mendapat insiden itu, Erni memutuskan untuk kembali ke rumah dengan segera. Dia masih tidak habis pikir kenapa semakin hari dia bertemu lebih banyak orang sombong daripada orang yang rendah hati.
Erni mendoakan dirinya sendiri agar kelak ketika sedang berada di atas, dia masih bisa hidup sederhana dan rendah hati. Karena dia tahu roda akan berputar, dan Erni tidak ingin mendapat rasa malu dari perilaku dirinya sendiri di masalalu.
Hari sudah semakin larut, Erni buru-buru pulang ke rumah agar tidak terlalu malam. Sesampainya di rumah, dia telah melihat rumahnya sudah di robohkan sebagian. Sedangkan dapurnya masih tetap utuh karena dapur tidak menyatu dengan kamarnya.
Erni juga melihat ayahnya yang memasang tenda di halaman rumahnya. Tenda yang cukup besar yang atapnya terbuat dari terpal. Di dalamnya berisi sebuah kasur yang di alasi dengan bale tempat tidur.
Erni merasa lebih lega karena ayah dan ibunya tidak akan terlalu kedinginan oleh angin malam.
"Bu, aku beliin ibu selimut sama ayah. Di pakai ya biar gak kedinginan nanti," ucap Erni menyerahkan selimut yang baru saja dia beli.
"Kenapa kamu repot-repot beli ini Erni? Lagipula Ibu sama Bapak kan sudah punya selimut," ucap Ratna yang tak enak hati.
"Tapi kan itu bahannya tipis, sedangkan ini bahannya tebal dan sangat hangat kalau di pakai," ucap Erni.
"Kamu ini buang-buang uang saja," ucap Ratna.
Perkataannya beda dengan isi hatinya, kata-kata yang tajam itu Erni tak memasukkannya ke dalam hati. Karena dia tahu bahwa ibunya masih sangat senang di belikan selimut, tetapi Ibunya masih malu karena merasa merepotkan dirinya.
'Ibu memang beda dari yang lain,' batin Erni sambil tersenyum.