
Di sisi lain, Kelvin telah melaporkan kepada Angkasa bahwa tidak ada yang terjadi di perusahaan Naila alias aman. Angkasa menjadi sangat lega setelah mendengar kabar dari Kelvin.
Almira yang tak sengaja mendengar percakapan tersebut menjadi marah dan menghampiri Angkasa.
"Angkasa, kamu benar-benar ya! Kamu diam-diam melindungi wanita itu bahkan dengan perusahaannya. Apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain sampai-sampai memiliki waktu luang untuk menjaga wanita itu. Bagaimana dengan Angelina yang sudah resmi bertunangan denganmu?" tanya Almira denhan nada marah.
Kelvin yang pertama kali mendengar Almira memarahi Angkasa menjadi canggung. Dia merasa bersalah karena kabar darinya malah membuat keributan di rumah Angkasa.
"Ma, aku sudah muak ya dengan pertunangan ini. Aku tidak lagi mau melanjutkan pertunangan ini, terserah Mama anggap aku anak durhaka atau apa. Aku sudah cukup menuruti semua perkataan Mama!" ucap Angkasa lalu meninggalkan Mamanya yang masih berdiri di ruang tamu.
"Angkasa, kamu telah di berikan apa sama wanita itu sampai-sampai kamu berani melawan Mama?. Dulu kamu tidak seperti ini, tetapi setelah mengenal wanita itu kamu menjadi anak yang pembangkang. Mama pastikan Mama tidak akan merestui hubungan kalina. Wanita itu pastilah bukan wanita baik-baik!" ucap Almira dengan panjang lebar menuturi anaknya yang telah pergi ke kamarnya.
Kelvin merasa iba dengan Angkasa, karena di satu sisi Angkasa sangat sayang dengan ibunya. Tapi di sisi lain, Angkasa juga telah menemukan cinta sejatinya. Hatinya sudah sepenuhnya di berikan kepada Naila, namun karena Ibunya Angkasa justru kehilangan wanita tersebut.
"Kamu lihat Kelvin, dia menjadi berubah sejak mengenal wanita itu. Katakan pada Tante, wanita itu pasti bukan wanita baik-baik kan?" ucap Almira dengan emosi yang menggebu-gebu.
Kelvin bingung menjelaskannya, akhirnya dia memilih untuk bercerita kepada Almira.
"Tante, saya telah mengenal Angkasa bertahun-tahun. Meskipun begitu, saya tahu Tante lebih lama mengenal Angkasa di banding saya. Bahkan Angkasa masih di dalam perut Tante, Tante sudah mengenalnya. Tapi sampai sekarang apa yang sudah Tante lakukan untuk Angkasa? selama ini Angkasa menuruti perkataan Tante demi menjaga perasaan Tante. Meski itu bukan kemauannya, akan tetapi Tante lebih penting daripada dirinya sendiri,"
"Tante, aku tidak bermaksud memberikan ceramah malam kepada Tante. Tapi aku mohon, Tante mengertilah Angkasa sekali ini saja. Tante tahu, cinta tak dapat di paksakan. Yang di cintai Angkasa adalah Naila bukan Angel," ucap Kelvin.
"Jadi, kamu bilang Tante tidak mampu memahami Angkasa? Tante yang sudah sejak kecil merawatnya tidak bisa mengerti Angkasa di bandingkan dengan kamu, begitu?" tanya Almira yang masih di selimuti emosi.
Kelvin mendengarkan sambil menuangkan air putih ke dalam gelas yang ada di depannya. Kelvin memberikan air putih tersebut kepada Almira yang masih tersulut emosi.
"Tante minum dulu, baru saya jawab!" ucap Kelvin menyerahkan segelas air putih.
Almira menuruti perkataan Kelvin, dia meminum segelas air putih yang di isi penuh oleh Kelvin.
"Bagaimana Tante? apa Tante sudah tenang? sudah bisa diajak berdiskusi kan?" tanya Kelvin.
Almira mengangguk, dia merasa bahwa dia memang lebih tenang setelah minum air putih. Emosinya pun semakin lama semakin berkurang.
"Yang barusan Tante katakan itu benar. Tante yang merawatnya dari dalam perut hingga lahir tidak lebih baik mengenal Angkasa daripada saya yang mengenalnya saat dia berumur 5 tahun!. Ini memang menyakitkan, tetapi inilah kenyataannya," ucap Kelvin.
Almira berfikir sejenak, apa yang di katakan oleh Kelvin memang ada benarnya. Selama ini Almira belum pernah mendengar Angkasa bercerita tentang kehidupannya. Almira hanya merasa jika Angkasa adalah anak yang kuat dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikannya. Oleh sebab itu Almira tak pernah menanyakan masalah-masalah yang telah di hadapi oleh Angkasa atau masalah yang saat ini di hadapi oleh Angkasa.
"Bagaimana Tante? apa Tante masih menyalahkan Angkasa yang sedang berjuang mengejar cintanya?. Seharusnya saat ini Angkasa mendapat dukungan dari Tante, bukan amarah yang meluap-luap yang Tante berikan kepadanya. Sekarang Naila telah memutuskan hubungan dengan Angkasa setelah dia tahu Angkasa bertunangan dengan Angel. Tante bisa menilai sendiri, wanita yang bukan wanita baik-baik tidak akan melakukan tindakan itu. Apalagi mereka saling mencintai," ujar Kelvin.
Kelvin berharap, dengan mengatakan hal tersebut Almira menjadi sadar akan kesalahannya.
"Sepertinya Tante butuh ruang untuk memikirkan semua yang saya katakan. Saya akan masuk ke kamar, semoga saja Tante bisa mengambil keputusan yang tepat!" ucap Kelvin sekaligus pamit untuk pergi.
Keesokan harinya....
"Bu, apa Ibu masih memiliki nomor handphone Kak Hendra?" tanya Ruby yang sedang sarapan dengan suami dan ibunya.
"Ibu menyimpannya di tas Ibu tapi Ibu belum pernah menghubunginya karena tidak memiliki kesempatan untuk mengambil handphone Ayah kamu," ucap Jayanti.
Jayanti pergi ke kamarnya untuk mencari selembar kertas yang dia simpan di dalam tasnya. Beberapa menitnya, Jayanti kembali dengan kertas yang di lipat kecil.
"Ini nomornya, semoga saja masih aktif!" ucap Jayanti menyerahkan nomor handphone milik Hendra.
Ruby mencoba menelepon nomor tersebut dengan perasaan yang sangat tegang.
"Syukurlah nomornya masih aktif, semoga saja Kak Hendra mengangkat teleponnya!" ucap Ruby bahagia campur cemas.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara pria dari dalam telepon.
"Ini siapa ya?" tanya suara pria tersebut.
"Ruby? siapa Ruby?. Saya memang Hendra, tapi saya tidak mengenal Ruby!" ucap Hendra bingung.
"Kak aku Safira Kak, adik Kakak!" ucap Ruby.
"Siapa Safira? saya tidak memiliki adik. Saya anak tunggal," ucap Hendra.
Mendengar hal itu Ruby menjadi sangat cemas, dia pun meminta untuk di alihkan dengan panggilan Video Call.
"Kak, coba lihat baik-baik wajahku dan ini Ibu kita Ibu Jayanti!" ucap Ruby sambil mengarahkan kamera kepada Ibunya.
Hendra terlihat bingung, dia tidak mampu mengingat kedua wanita yang ada di layar handphonenya.
"Atau mungkin Kakak masih menyimpan foto-foto kita di galeri Kakak. Pasti ada wajahku di sana," ucap Ruby.
"Maaf, saya tidak mengenal kamu. Kamu siapa, aku tidak tahu!" ucap Hendra lalu menutup telepon.
Ruby merasa sangat cemas, dia pun menelepon kakaknya beberapa kali. Namun Hendra terus menolak panggilannya.
"Coba sekali lagi," gumam Ruby dengan raut wajah khawatir.
"Saya sudah bilang, jangan ganggu saya! Saya bisa laporkan kamu loh karena kamu sudah mengganggu kenyamanan saya!" ucap Hendra.
"Kakak dimana? aku ingin ketemu sama Kakak!" ucap Ruby.
Namun Telepon keburu di matikan oleh Hendra. Ruby mencoba menelepon dan ternyata dia sudah di blokir oleh Hendra.
"Bu gimana ini? sepertinya Kakak tidak ingat dengan kita!" ujar Ruby sambil menangis di pelukan ibunya.
"Kamu tenang Ruby. Lagipula sepertinya hidup kakakmu lebih baik sekarang. Lihatlah penampilannya tadi dan juga dia menunjukkan wajah yang segar. Itu artinya Kakak masih baik-baik saja, mungkin orang yang merawatnya sangat baik dengannya!" ucap Jayanti.
"Tapi Bu, aku sangat ingin bertemu dengan Kakak!" ucap Ruby yang tak mampu menahan rasa rindunya dengan sang kakak.
"Kakak sudah bahagia di keluarga barunya Ruby. Jangan mengusiknya lagi ya," ucap Jayanti.
Namun Ruby masih menangis, rasa sakit di hatinya tak mampu dia tahan. Ruby tak ikhlas jika Kakaknya hidup di keluarga baru.
"Sayang, sudah jangan menangis. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah!" ujar Michael yang sedari tadi diam.
"Kamu benar Mas, kamu tolonglah lakukan sesuatu. Kamu kan memiliki banyak anak buah Mas," pinta Ruby beralih pada suaminya.
"Ruby tak pantas kamu begitu. Michael pasti juga susah untuk mengerahkan anak buahnya," ucap Jayanti menarik tangan Ruby yang saat ini memeluk suaminya.
"Tidak Bu! aku ingin Kak Hendra kembali!" ucap Ruby.
"Iya Sayang, nanti Aku akan mencoba untuk melakukan pencarian. Kamu tenang saja ya," ucap Michael menenangkan istrinya.
"Beneran Mas?" tanya Ruby bersemangat.
Michael menjawabnya dengan senyuman. Tentu saja Ruby menjadi sangat senang karena suaminya mau membantunya.
"Maaf ya Michael, kami merepotkan mu lagi," ucap Jayanti yang tak enak hati dengan menantunya.
"Tidak apa-apa Bu, lagipula saya sangat menyayangi Ruby. Saya tidak mau melihat Ruby menangis," ucap Michael.
"Ruby sangat beruntung mendapatkan suami yang baik seperti kamu Michael," ucap Jayanti lega.
'Tidak sepertiku, tidak sayang denganku dan juga masih memukul anak-anakku,' batin Jayanti.