Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 22


Usai kelas, Naila mengajak Erni untuk makan di kantin. Perutnya sudah lapar sejak tadi saat dia belajar.


"Banyak banget yang kamu pesan Nai," ucap Erni yang kagum dengan porsi makannya Naila namun tetap memiliki tubuh yang seksi.


"Banyak belajar membuat aku kelaparan Erni, sepertinya aku harus menyediakan makanan saat kelas sedang berlangsung agar tetap bisa fokus," ucap Naila dengan ekspresi mengeluh.


"Bisa-bisa kamu di hukum Nai," ucap Erni dengan tertawa kecilnya.


Mereka pun memulai menyantap makanan yabg sudah ada di depan matanya.


"Naila, tadi pagi saat aku baru sampai di kampus Vania cari-cari kamu. Kamu ada masalah apa lagi dengan Vania?" tanya Erni penasaran.


"Gak ada sih, tapi kamu tahu sendiri sifat Vania yang suka mencari masalah tanpa sebab. Biarkan saja lah, lagipula untuk apa aku takut dengannya," ucap Naila dengan lahap menyantap makanannya.


"Tentu saja! Tapi dia tidak tahu malu sekali, bahkan masih berani menyombongkan para fansnya!" kata Erni yang kesal.


"Itu yang di sebut tidak sadar diri. Kita jangan sampai seperti dia deh ya," ucap Naila.


"Makan, makan. Jangan gosip lagi, gak baik tahu!" ucap Naila lagi.


"Hei, aku boleh gabung dengan kalian?"


Tiba-tiba Angkasa datang menghampiri meja mereka dengan membawa beberapa makanan yang telah dia pesan di tangannya.


"Boleh!" ucap Naila menoleh ke arah Angkasa.


Setelah Angkasa duduk Naila kembali fokus pada makanannya dan melahapnya kembali.


"Ini semua lo yang pesan Nai?" tanya Angkasa yang terkejut melihat banyak bekas makan di meja makan.


"Sssttt! jangan ganggu Naila makan," bisik Erni yang telah kenal dengan sifat sahabatnya.


"Dia makan emangnya rakus gini ya?" tanya Angkasa dengan suara pelan.


"Bukan cuma itu, dia gak suka di ajak ngobrol yang gak penting saat makan!" kata Erni dengan suara pelan.


Kini Angkasa sudah mulai paham situasinya, Angkasa pun tak mengganggu Naila melahap makanannya.


'Aku gagal membuat penderitaan di dalam diri Naila. Tapi aku yakin suatu saat nanti pasti akan berhasil, aku tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang!' batin Fernando yang berdiri di antara kerumunan mahasiswa.


"Plak!"


seseorang menepuk bahunya dari belakang yang membuat Fernando terkejut.


"Safira!" ucap Fernando pelan.


"Lihat apa serius gitu? kamu gak makan?"


Safira melempar pertanyaan dua sekaligus, walaupun dia tahu Fernando menatap Naila entah itu karena perasaan cinta atau benci.


"Tidak ada, kamu mau makan bersama?" tanya Fernando.


"Boleh!" ucap Safira menerima tawaran Fernando.


Di sisi lain Tasya yang sudah keluar dari mall naik ke dalam taksi dengan banyak barang belanjaan.


'Apa sekalian gue beli mobil aja ya? daripada gue berangkat selalu pesan taksi online lebih enak punya mobil sendiri kan?' pikir Tasya.


Tasya mengubah alamat menjadi ke tempat pembelian mobil kepada sopir taksinya dengan bayaran tambahan.


Sesampainya di sana, Tasya sangat kagum melihat mobil-mobil mewah yang ada di sana.


"Wahhh! ini yang aku suka tampilannya mewah sekali," ucap Tasya sambil meraba mobil yang ada di depan mata.


"Mbak, jangan sembarang sentuh ya!" ucap salah satu petugas tersebut.


"Apaan sih Mbak, orang cuma sentuh dikit aja kok!" ucap Tasya.


"Apa kamu bilang? kampungan? kamu kira saya tidak mampu membeli mobil ini? sekarang juga saya bayar, nih atm saya!" kata Tasya yang langsung mengeluarkan Atm dari tasnya.


"Saya gesek dulu, siapa tahu uangnya tidak ada. Penipuan semacam ini sudah banyak sekali terjadi," kata petugas tersebut dengan sombongnya.


"Apaan sih, pelayanannya sangat buruk!" gerutu Tasya kesal.


"Tapi harga mobilnya berapa ya? dia belum kasih tahu," gumam Tasya bingung.


Beberapa saat kemudian, Petugas tersebut datang dengan alat penggesek kartu di tangannya.


"Harga mobil ini berapa ya?" tanya Tasya.


"700 juta, gimana sudah menyesal ya? takut ketahuan?" ucap Petugas tersebut.


"Gesek saja! uang segitu masih kecil bagi saya!" kata Tasya dengan angkuhnya.


Wanita itu meminta Tasya mengisi kata sandinya, lalu pembayaran pun selesai.


"Sudah lihat kan, saya mampu beli mobil ini bahkan mampu membeli harga diri kamu yang rendah itu!" kata Tasya dengan angkuhnya.


"Maaf, Maaf Mbak! saya salah!" ucap wanita tersebut.


Wanita itu telah mendapat pelajaran dari Tasya, dia tidak lagi berani menyinggung Tasya.


"Bukannya kalau sudah beli mobil saya perlu isi data diri seperti alamat nama dan nomor handphone ya? ini kenapa gak? kamu anak magang ya?" teriak Tasya yang emosi.


"Iya Kak saya anak magang, sebentar saya catat data diri Kakak," ucap wanita itu yang langsung berlari mengambil pulpen dan selembar kertas.


"Astaga, benar-benar parah. Mana anak magang yang layani, buruk sekali perusahaan ini. Bisa-bisa di hancurkan sama anak yang bau kencur itu," ucap Tasya kesal.


Setelah mengisi alamat dan nomor handphone, Tasya kembali naik ke dalam taksi yang sengaja di suruh menunggu di sana.


"Jalan Pak!" ucap Tasya.


Mobil hitam yang berada sedikit jauh dari mobil taksi Tasya ikut bergerak mengikuti pergerakan taksi itu.


"Kesal banget sih, masa anak magang tidak di ajari sopan santun bahkan prosedur penjualan saja tidak tahu. Untung saja aku ingat kalau tidak mau di kirim kemana mobil itu?"


Tasya mengoceh terus menerus di dalam taksi, hingga sopir taksi menghentikan mobilnya dengan rem mendadak.


"Aduh Pak, bisa bawa mobil gak sih?" ucap Tasya yang sudah kesal menjadi semakin kesal.


"Maaf Dek, di depan ada orang yang mencegat kita!" ucap sopir tersebut.


Orang-orang itu keluar dari mobilnya dan menghampiri taksi tersebut.


"Keluar atau saya pecahkan kaca mobil ini!" ucap pria yang sejak tadi mengikuti Tasya.


"Ka-kamu?" Tasya terkejut melihat pria tua yang menagih uangnya kembali.


"Maaf Dek demi keselamatan saya lebih baik kamu keluar," kata sopir taksi membuka kunci pintu mobilnya.


"pintunya sudah bisa di buka tapi tolong jangan sakiti saya, ada anak istri yang menunggu saya di rumah!" kata sopir taksi itu ketakutan.


Pria tua dan beberapa pengawalnya membuka pintu dan menyeret Tasya keluar. Namun Tasya terus meronta-ronta, dia tidak ingin ikut dengan pria itu.


"Barang-barang ku masih ada di taksi itu!" kata Tasya yang ingat dengan barang belanjaannya.


'Dasar wanita aneh, bukannya mencari keselamatan dulu justru menyelamatkan barang,' batin sopir taksi tersebut.


Sopir taksi itu memberikan semua barang-barang Tasya kepada pengawal Jean. Setelah itu Tasya di bawa pergi oleh Jean, dia duduk di samping Tasya yang terus meronta-ronta.


"Bos apa perlu kita menggunakan obat bius?" tanya pengawalnya yang sedang menyetir.


"Tidak asik kalau menculik orang dengan obat bius!" kata pria tua itu