Reinkarnasi Cinta

Reinkarnasi Cinta
Episode 49


Sudah beberapa hari Tino dan Amanda tidak dapat menghubungi Tasya. Mereka sangat mengkhawatirkannya. Terutama Amanda yang merasa sangat bersalah dengan kejadian sebelumnya.


"Bagaimana ini Mas? Tasya masih tidak bisa di hubungi!" kata Amanda dengan raut wajah khawatir.


"Mas juga tidak tahu Amanda. Tasya benar-benar anak yang bandel, jika dia memang ingin meninggalkan kita serahkan saja dia pada Tuhan!" sahut Tino yang sudah sangat pasrah dengan pencarian anaknya.


Amanda terdiam, dia mencoba membuka sosial media berharap Tasya online di sana. Dia mencari akun milik Tasya dan melihat kapan terakhir online.


Tidak berguna, karena Tasya telah mem privasi akunnya. Semua orang tidak bisa melihat kapan dia terakhir online di sosial medianya.


"Gimana Amanda? apa ada tanda-tanda?" tanya Tino dengan wajah lesunya.


Amanda menggeleng lemas menatap ke arah Tino. Tapi tidak di sangka, saat dia tidak sebagai scroll ke bawah dia menemukan foto Tasya.


"Mas, lihat ini!" ucap Amanda sambil memperlihatkan layar handphonenya.


Mereka menemukan foto Tasya dengan caption di cari. Tidak hanya foto Tasya, di sampingnya juga berisi foto pria asing. Orang yang membuat postingan akan memberikan imbalan seharga 1M jika seseorang menemukannya.


Amanda menutup mulutnya, tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Apa Tasya menjadi buronan bersama pria tersebut? Nak apa yang kamu lakukan sebenarnya beberapa hari terakhir ini?" ujar Tino memegang kepalanya yang sudah pusing.


"Siapa orang ini Mas? kenapa dia mencari anak kita? bahkan memberikan imbalan yang sangat besar bagi yang menemukannya,"


Tino tak mampu menjawab pertanyaan yang di lemparkan oleh istrinya itu.


"Coba kamu hubungi orang yang membuat postingan tersebut," perintah Tino pada istrinya.


Amanda pun mulai mencatat nomor telepon yang tertera pada postingan tersebut.


"Halo, ini dengan siapa ya?" tanya wanita yang berada di telepon.


Amanda menggunakan loudspeaker agar suaminya mendengar apa yang di katakan oleh orang tersebut.


'Wanita Mas!' bisik Amanda.


"Halo, saya tadi menemukan postingan anda di salah satu akun media sosial Anda. Apakah benar bisa mendapat imbalan jika menemukan salah satu dari mereka?" tanya Amanda.


"Benar!" sahut wanita tersebut singkat.


"Kalau boleh tahu ada perkara apa ya Anda sama mereka? apakah mereka buronan atau bagaimana?" tanya Amanda kembali.


Untuk detik berikutnya Amanda dan Tino mendengarkan dengan seksama berharap mendapat jawaban yang pasti dari wanita tersebut.


"Kamu tidak perlu tahu itu, yang harus kamu lakukan hanya melapor jika menemukan mereka dan saya akan memberikan kamu uang!" kata wanita yang ada di dalam telepon.


"Tapi setidaknya kamu harus kasih tahu alasannya dulu bukan? kenapa kamu mencarinya?" ucap Amanda yang masih berusaha mencari informasi tentang Tasya.


"Kenapa? apakah kamu kira saya orang jahat? jika kamu tidak mempercayai saya, dan takut saya adalah orang yang bertindak kriminal, ya sudah jangan ikut mencarinya. Begitu saja, saya akan tutup teleponnya,"


Setelah mengatakan hal tersebut, wanita tersebut mengakhiri teleponnya. Amanda menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar. Dia menoleh ke arah suaminya dengan wajah yang lesu.


"Sudah Amanda, lebih baik sambil mencari sambil kita berdoa agar Tasya baik-baik saja di luar sana," kata Tino sambil memeluk istrinya.


"Iya Mas," sahut Amanda.


Meskipun bukan anak kandungnya, namun Amanda tetap memperlakukan Tasya seperti anaknya sendiri. Amanda sangat menyayangi Tasya, bahkan lebih daripada Tino. Namun Tasya yang hanya di selimuti dengan kemarahan dan kebencian tidak dapat melihat kasih sayang dari Amanda. Dia hanya menganggap Amanda telah merebut Ayahnya dan perhatian Ayahnya.


...***...


"Kenapa lo Pan?" tanya Ranza melihat temannya melamun.


"Tadi Valen telepon gue dan nanyain tentang lo!" kata Panji.


"Terus lo jawab apa?"


"Gue jawab kalau gue tak tahu tentang keberadaan lo. Dan dia akan melakukan pencarian lewat sosial media. Gue saranin lo jangan terlalu sering keluar rumah deh, atau gak lo akan di tangkap sama orang-orang," ucap Panji.


"Baiklah! lo tenang saja gue pasti berusaha sembunyikan diri kok!" kata Ranza.


"Eh, itu wanita mau lo apakan?" tanya Panji berbisik melihat ke arah Tasya yang sedang sibuk main handphone.


"Eh Tasya! beliin kita kopi sana!" perintah Ranza.


Tasya melihat ke arah Ranza dan Panji dengan tatapan yang jengkel. Lalu kembali melihat ke layar handphonenya. Tentu saja itu membuat Ranza merasa kesal.


"Tatapan apa itu? cepat berdiri! kamu gak dengar apa yang aku katakan?" ujar Ranza dengan nada tinggi.


"Emang lo siapa suruh-suruh gue? Bokap nyokap gue aka gak pernah tuh nyuruh-nyuruh gue di rumah!"


"Lo kira ini rumah bapak ibu lo? lagipula siapa yang mau jadi budak lo di sini? kalau lo gak mau ikut perintah gue keluar dari rumah gue! Saat lo di tangkap nanti jangan harap gue tolongin lo,"


"Lo kira gue b0doh seperti Lo? gue bisa saja kasih alamat lo sama Valen kalau gue ketangkap!" balas Tasya.


"Udah bro sabar!" kata Panji menenangkan temannya.


"Awas saja lo minta makan sama gue, gak akan gue kasih!" kata Ranza lalu pergi ke teras rumahnya.


Panji mencoba mengambil kesempatan untuk menggoda Tasya. Dia sudah menginginkan Tasya sejak tadi, namun tak kunjung sempat mencari kesempatannya.


"Hai Cantik!" sapa Panji mendekat ke tempat Tasya duduk.


"Ada apa?" tanya Tasya dengan wajah judesnya.


"Jangan galak gitu dong, nanti aku takut loh!" ujar Panji.


"Jangan pegang-pegang!" kata Tasya menghempaskan tangan Panji.


Panji yang tadinya lembut berubah menjadi kasar setelah mendapat bentakan dari Tasya.


"Jangan sok suci deh kamu! sudah tidur dengan banyak pria juga masih mau belagu!" kata Panji yang terus memaksa Tasya.


"Terus apa hubungannya sama lo? gue lakuin itu semua demi uang, lo kira gue mau secara gratis di nikmati banyak pria?" ujar Tasya yang terus menolak sentuhan dari Panji.


Namun Panji tak mau kalah, dia terus memaksa Tasya dan merobek pakaiannya satu persatu.


"Lo mau uang kan? kalau gitu gue kasih lo uang sekarang gimana? bukannya lo lakuin ini semua demi uang?" ucap Panji.


"Gak usah! gue gak butuh uang lo!" kata Tasya.


Ranza yang mendengar beberapa teriakan dari Tasya segera masuk kembali ke dalam rumah. Dia melihat Tasya dan Panji yang sudah berada di atas ranjang.


"Bro lo gak ngajak-ngajak gue!" kata Ranza menghampiri mereka sambil membuka satu persatu pakaiannya.


"Dasar Brengsek! lepasin gue!" teriak Tasya.


Detik berikutnya, Tasya tak mampu lagi melawan. Dia merasa dirinya sudah cukup hancur dan tidak bisa kembali seperti semula. Dia membiarkan kedua pria tersebut menikmati tubuhnya untuk yang terakhir kalinya. Tasya ingin terlepas dari siksaan yang tidak ada akhir ini dan menghilang dari dunia ini. Tentu saja tanpa sepengetahuan orang-orang.