PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
ENAM PULUH TUJUH


Semua orang terkejut karena ukuran harimau itu yang lebih besar dari kuda, kakinya saja seukuran kepala manusia. Mereka tidak menyangka Xiao Lan bisa membunuh harimau itu.


"Mana hadiahku" ucap Xiao Lan datar.


•••


"Hadiah?" ulang kaisar Xiao.


"Ya. Kau mengatakan siapa saja yang mendapat hewan buruan terbanyak maka ia akan mendapat hadiah. Mana hadiahku?" ucap Xiao Lan.


"Apakah disini ada orang yang berburu sampai melebihi satu hewan ini?" tanya Xiao Lan lagi.


"Dasar tidak tau malu! Acara berburu itu sudah ditiadakan karena kalian bertiga yang membuat ulah menghilang itu" ucap putri Xiao Xi ketus.


Xiao Lan berbalik menatap putri Xiao Xi dengan tajam kemudian ia menaikkan salah satu alisnya.


"Aku membuat ulah? Apakah tidak salah Xiao Xi?" tanyanya.


"Kau yang membuat ulah. Jika kau tidak melemparkan buah kering itu ke arahku maka harimau ini tidak akan mencelakaiku Xiao Xi" ucap Xiao Lan dingin.


"Kau yang tidak tau malu dan tidak tau diuntung! Kau sudah kutolong tetapi berterimakasih saja enggan malah sekarang kau memakiku. Apakah ini didikan yang kalian berikan Permaisuri Juan dan Kaisar Xiao? Beruntung sekali aku tidak mendapat didikan dari kalian" ucap Xiao Lan tersenyum sinis.


"Jaga ucapanmu sialan!" bentak permaisuri Juan.


"Seharusnya kau mengucapkan itu kepada anak semata wayangmu karena aku hanya mengatakan apa yang sejujurnya. Dan bagaimana bisa seorang permaisuri membentak dan berkata kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang bangsawan kelas atas sepertimu?" tanya Xiao Lan sambil tersenyum tipis.


Seperti biasa, bisik-bisik sudah terjadi. Mereka tidak menyangka jika Xiao Xi menjadikan Xiao Lan tumbal harimau yang berukuran sangat besar itu.


"Cukup! Xiao Xi minta maaf dan berterimakasihlah kepada Xiao Lan" ucap kaisar Xiao tegas.


"Tapi ayah" ucap Xiao Xi yang sudah dipotong oleh kaisar Xiao.


"Xiao Xi" kali ini kaisar Xiao sedikit menggeram agar Xiao Xi mau menurut.


"Aku minta maaf dan terimakasih" ucap Xiao Xi malas.


"Wah permaisuri Juan dan kaisar Xiao sangat hebat mendidik anaknya. Bahkan ia tidak mau mengucapkan itu sambil melihat lawan bicaranya" ucap Xiao Lan lagi.


"Xiao Xi!" bentak kaisar Xiao.


Xiao Xi terkejut karena bentakan kaisar Xiao ia kemudian menatap Xiao Lan nyalang kemudian mengucapkan kata maaf lagi.


"Aku meminta maaf dan berterimakasih" ucapnya.


"Kepada siapa?" tanya Xiao Lan.


"Kepadamu" ucap Xiao Xi ketus.


"Aku tidak menerimanya. Jika mau bersujudlah di hadapanku seperti waktu itu" ucap Xiao Lan sambil tersenyum samar.


Xiao Xi sudah kehabisan kesabarannya. Ia kemudian maju ke hadapan Xiao Lan. Tangan kanannya sudah melayang di udara ingin mendaratkan dirinya menuju pipi Xiao Lan yang mulus itu.


Xiao Lan hanya diam. Ia tidak berniat menghalangi Xiao Xi saat tangan itu sudah mulai turun dari udara tapi tangan itu sudah dicekal oleh tiga orang sekaligus.


"Jaga tanganmu" ucap mereka bertiga serempak.


"Sakit gege, ah!" ucap Xiao Xi yang kesakitan karena tangannya dicekal dengan sangat kuat oleh pangeran Zhan, pangeran Gui dan pangeran Xian.


Pangeran Xian semakin mengeratkan genggamannya.


"Kalau kau berani melukai Lanlan ku maka aku tidak akan segan-segan mematahkan tulangmu. Aku tekan ini sedikit lagi sudah pasti tulangmu akan patah" ucap pangeran Xian.


"Kau bertindak sangat tidak sopan. Aku kecewa padamu" ucap pangeran Gui.


"Aku tidak perlu berkata apa-apa karena sudah diwakilkan oleh pangeran Xian" ucap pangeran Zhan membuat Xiao Lan terkekeh.


"Cukup para pangeran, kalian bisa benar-benar mematahkan tulangnya nanti" ucap Xiao Lan.


Ketiga pangeran kemudian melepaskan cekalan tangannya dari Xiao Xi dan beralih menatap Xiao Lan.


"Mana hadiah untuk adikku?" tanya pangeran Xian dan pangeran Zhan bersamaan.


Kaisar Xiao sedikit tergagap ia kemudian memberi seribu koin emas untuk Xiao Lan.


"Apa ini? Kau hanya memberikan harga seribu koin emas untuk aku yang sudah berjasa menyelamatkan anak kesayanganmu?" tanya Xiao Lan.


"Xiao Lan itu sudah sangat banyak" ucap kaisar Xiao lembut.


"Sangat banyak apanya. Bahkan untuk cemilanku saja masih kurang" ucap Xiao Lan tidak bersemangat.


"Lala. Aku bisa mengembalikan semangatmu" ucap Jiang Yuan dari seberang sana.


"Tangkap!" ucap Jiang Yuan sambil melemparkan sesuatu ke arah Xiao Lan.


Xiao Lan lalu menerima lemparan itu dengan baik. Ia tersenyum tatkala melihat barang yang dilempar Jiang Yuan karena ia sudah mengatakannya kemarin.


FLASHBACK ON


"Kalian, lihatlah ini" ucap Jiang Yuan menunjukkan sesuatu.


"Apa ini?" tanya Yu Yan.


"Kalung dimensi anggrek" ucap Xiao Lan.


"Benar sekali" ucap Jiang Yuan sambil tersenyum.


"Bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Wang Yu Yan penasaran.


"Sebenarnya sebelum kau merengek ingin buang air tadi aku sudah menemukannya. Aku ingin berkata tapi Xiao Lan sudah memintaku untuk menemanimu" ucap Jiang Yuan tersenyum.


FLASHBACK OFF


Xiao Lan kemudian menunjukkan benda yang dibawanya ke seluruh orang yang berada disana.


"Kalung dimensi anggrek!" ucap mereka serempak.


"Kau mengatakan siapa saja yang bisa menemukan kalung ini maka ia bisa meminta apapun darimu kan?" tanya Xiao Lan.


"T-tentu" ucap kaisar Xiao sedikit terbata. Ia bahkan lupa jika sudah menyembunyikan kalung dimensi anggrek di hutan Kako.


"Karena kami menemukannya bertiga maka kau harus menuruti permintaan kami bertiga" ucap Xiao Lan sambil tersenyum misterius.


"Y-ya tentu saja" ucap kaisar Xiao lugas.


"Wang Yu Yan, apa yang kau inginkan dari kaisar keadilan?" tanya Xiao Lan tanpa menatap Wang Yu Yan.


"Tentu saja aku ingin keadilan tetapi tidak untuk sekarang. Mungkin beberapa hari lagi" ucap Wang Yu Yan sambil tersenyum penuh misteri.


"Lalu, Jiang Yuan. Apa yang kau inginkan darinya?" tanya Xiao Lan lagi.


"Aku belum menginginkan apapun untuk saat ini mungkin aku akan berpikir dulu" ucap Jiang Yuan kemudian.


"Baiklah. Mereka masih menunda hadiahnya tetapi aku ingin hadiahku sekarang juga" ucap Xiao Lan.


"Zhen akan mengabulkan permintaanmu tetapi dengan pengecualian yang Zhen ucapkan kemarin" ucap kaisar Xiao dengan niat bercanda.


"Siapa juga yang menginginkan tahta dan kekaisaranmu. Bahkan aku ingin pergi saja sejauh mungkin dari sini" ucap Xiao Lan datar.


Kaisar Xiao yang tadinya tersenyum berubah menjadi murung. Apakah istana ini sangat menyiksa Xiao Lan sampai-sampai ia ingin pergi jauh dari sini?


Ia menatap Xiao Lan sendu. Ia mengingat dulu setiap gadis di hadapannya ini meminta tolong ia tidak pernah menggubrisnya. Hanya pangeran Zhan serta ketiga pelayannya yang mau menolong Xiao Lan.


"Aku ingin menghilangkan marga Xiao di hidupku dan namaku akan berganti menjadi Xuan Lan" ucap Xiao Lan tegas.


•••


have a nice day everyone!