
Tabib Bao tidak bisa lagi mengatakan bagaimana rasa sayang dan rindunya kepada Xuan Lan dan juga pangeran Zhan. Dua kakak beradik itu sudah memberinya arti sebuah keluarga yang sesungguhnya. Mereka berdua hidup di tengah-tengah situasi yang sangat sulit, tabib Bao sendiri tidak bisa membayangkan jika ia menjadi salah satu di antara mereka berdua mungkin ia akan memilih bunuh diri karena begitu kejamnya kehidupan istana yang sebenarnya.
•••
Di setiap kekaisaran sedang terjadi sedikit guncangan karena ada sepucuk surat yang menyatakan pesan secara tersirat bahwa perang besar akan segera terjadi. Seluruh kekaisaran mau tak mau harus segera berkumpul ke kekaisaran Zhong karena letaknya yang berada di tengah-tengah seluruh kekaisaran.
"Apakah kalian semua mendapatkan surat itu?" tanya kaisar Wang saat melihat seluruh kaisar sudah berkumpul di hadapannya.
"Ya, Zhen mendapatkannya" ucap kaisar yang lainnya serempak.
"Apakah masih ada orang yang hidup dari kekaisaran Moon saat itu? Kenapa suratnya menyatakan bahwa kekaisaran Moon akan segera bangkit?" tanya kaisar Tang.
"Kita juga tidak mengetahuinya dengan pasti tetapi kemungkinan itu bisa saja terjadi" ucap kaisar Li sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Saat itu kita masih menjadi putra mahkota bukan? Pasti kaisar Moon saat itu sudah menyelamatkan paling tidak satu dari keturunannya agar bisa membalaskan dendamnya" ucap kaisar Zhong mengutarakan pikirannya.
"Benar, jika kita diserang seperti itu kita pasti juga akan melakukan hal sama dengan menyelundupkan satu keturunan kita untuk keluar dari istana dengan aman meskipun entah nanti hidupnya akan seperti apa" ucap kaisar Tang.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya kaisar Xiao yang sedari tadi masih diam.
"Tentu saja kita akan menyiapkan banyak sekali pasukan. Jangan lupa jika kita juga harus memberi penjagaan yang ketat di setiap kekaisaran. Kita tidak tau jika mereka juga ingin menghancurkan kekaisaran milik kita" ucap kaisar Wang.
"Apakah Gold Tiger sudah mengetahui hal ini?" tanya kaisar Zhong.
"Entahlah, tetapi mereka masih diam saja. Apakah kita perlu bantuan dari mereka?" tanya kaisar Xiao.
"Aku rasa tidak perlu. Mereka pasti akan turun dengan sendirinya jika mereka sudah merasa tidak beres dengan perang ini" ucap kaisar Tang.
"Untuk sekarang masih belum ada pergerakan di daerah manapun. Jika dari daerah kekuasaan kalian sudah ada pergerakan yang mencurigakan maka kita harus segera menghubungi satu sama lain" ucap kaisar Li.
"Baik" ucap para kaisar serempak.
Setelah pertemuan singkat itu para kaisar kemudian kembali ke kekaisarannya masing-masing untuk menyiapkan pasukan yang akan mereka kirim untuk berperang juga pasukan yang akan mereka kirim untuk menjaga kekaisarannya masing-masing.
Gold Tiger sebenarnya sudah mengetahui jika akan ada penyerangan besar untuk seluruh kekaisaran. Sang vice reine masih memilih untuk diam dan belum bertindak sedikitpun. Menurutnya, semua harus dipikirkan dengan matang dan tidak terburu-buru. Tabib Bao dan para ketua di Gold Tiger akan mengadakan rapat terlebih dahulu untuk menentukan langkah mereka selanjutnya.
Lain halnya dengan pangeran Zhan. Ia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang rencana perang besar yang akan terjadi. Ia hanya sibuk berlatih dan menunggu Xuan Lan untuk kembali dari balik air terjun itu.
"Cukup, Zhan. Besok kau harus beristirahat dari latihanmu. Kau sudah terlalu banyak berlatih hari ini" ucap kakek Shi saat melihat pangeran Zhan yang belum beristirahat sama sekali sejak tadi pagi.
"Tapi kek" ucap pangeran Zhan ingin menolak.
"Turuti saja ucapanku!" ucap kakek Shi kemudian pergi begitu saja.
Pangeran Zhan menatap kepergian kakek Shi. Bagaimanapun ia harus tetap menurut padanya karena kakek Shi lah yang mengajarinya untuk sampai ke tahap ini. Tidak berlatih satu hari tidak mungkin akan membuat ototnya beku bukan? Pangeran Zhan sudah berpikir bahwa besok ia hanya akan melakukan peregangan seperti yang biasa Xuan Lan lakukan.
"Zhan, kau ingat bukan gua yang biasa kita datangi saat kau ingin berlatih kultivasi pada masa awal kau latihan?" tanya kakek Shi kepada pangeran Zhan.
"Tentu saja ingat" jawab pangeran Zhan.
"Jika Xuan Lan nanti kembali. Ajaklah ia kesana tetapi saat menemui dua lorong maka kau harus ke kiri dan bukan malah ke kanan seperti biasanya" ucap kakek Shi lagi.
"Memangnya kenapa?" tanya pangeran Zhan penasaran.
"Nanti kau juga akan tau" ucap kakek Shi sambil tersenyum.
"Tanyakan saja" ucap kakek Shi merasa tidak keberatan.
"Kenapa saat itu kau mengatakan bahwa kau akan menuju gunung harapan untuk ketiga kalinya?" tanya pangeran Zhan.
"Karena sudah menjadi tugasku untuk menjemput tamuku yang ketiga" ucap kakek Shi santai.
"Berarti ada yang sudah pernah kemari sebelum kami?" tanya pangeran Zhan.
"Betul bahkan orang pertama dan orang yang kedua masih memiliki hubungan darah" ucap kakek Shi.
"Zhan" panggil kakek Shi kepada pangeran Zhan.
"Iya kek?" tanya pangeran Zhan.
"Aku akan memberitahumu apa yang ada di dalam gua yang aku maksudkan tadi. Disana terdapat pedang surgawi. Aku memintamu dan Xuan Lan untuk mengambil pedang yang sudah menancap di batu itu karena kalian akan melawan orang yang memiliki pedang neraka di tangannya" ucap kakek Shi.
"Pedang neraka?" ulang pangeran Zhan.
"Kau tau bukan disamping tempatmu berkultivasi dulu ada sebuah batu yang hancur?" tanya kakek Shi yang dibalas anggukan oleh pangeran Zhan.
"Ada seseorang yang sudah mengambilnya dengan paksa dan dia adalah tamu keduaku. Ia menghacurkan batu itu dengan kekuatan naga yang dimilikinya. Pedang itu bukan haknya dan dia menggunakan pedang itu untuk kejahatan" ucap kakek Shi.
"Kejahatan apa yang kakek maksud?" tanya pangeran Zhan.
"Menghancurkan seluruh umat manusia di daratan ini" ucap kakek Shi sambil memandang lurus ke depan.
"Lalu kenapa kakek tidak menghentikannya?" tanya pangeran Zhan.
"Sudah aku katakan ia memiliki seekor naga jadi tidak mungkin aku bisa melawannya" ucap kakek Shi.
"Dia memiliki naga api" ucap kakek Shi lirih.
"Dia sudah mengajari naganya untuk menjadi jahat jadi aku akan mati jika bersikeras untuk mempertahankan pedang neraka itu" ucap kakek Shi.
"Baiklah kek. Aku dan Xuan Lan akan mengambil pedang itu tetapi bagaimana caranya?" tanya pangeran Zhan.
"Kalian berdua bisa mencoba untuk mencabutnya. Jika pedang itu bisa terlepas dari batu maka orang itulah pemiliknya" ucap kakek Shi.
"Baiklah kek, kita tinggal menunggu kedatangan Xuan Lan" ucap pangeran Zhan sambil tersenyum.
"Tapi entah kapan anak itu akan kembali" ucap pangeran Zhan sambil sedikit terkekeh.
"Sudahlah, ayo kita masuk. Hari sudah malam" ucap kakek Shi.
Mereka kemudian masuk ke dalam gubuk milik kakek Shi untuk mengistirahatkan dirinya. Saat tengah malam, pangeran Zhan bermimpi bertemu dengan Xuan Lan. Mimpi itu terasa sangat nyata bahkan ia memeluk Xuan Lan dalam mimpinya. Ia tertidur sambil tersenyum karena mimpinya.
Pagi harinya pangeran Zhan mengerjapkan matanya. Ia masih tersenyum tatkala mengingat mimpinya semalam. Ia lalu menyadari jika ia sedang memeluk sesuatu, ia lalu melihat ke benda yang sedang di peluknya. Matanya tiba-tiba terbuka lebar, ia spontan berteriak.
"Xuan Lan!"
•••
jangan lupa vote komen rate dan like