
Pangeran Zhan dengan ketidakrelaan hatinya akhirnya meninggalkan Xuan Lan sendiri di kamarnya. Ia keluar dengan langkah kaki yang perlahan. Xuan Lan kemudian kembali memejamkan matanya. Ia merasa masih sangat lemas setelah sadar.
•••
Xuan Lan baru merasakan tubuhnya segar kembali saat pagi hari. Ia benar-benar tidur seharian seperti perintah kakek Shi kemarin. Ia kemudian beranjak dari tempat tidurnya meskipun kepalanya terasa agak pusing saat berdiri.
"Sudah bangun?" ucap kakek Shi yang berjalan dari arah belakang Xuan Lan.
"Kakek" ucap Xuan Lan sambil tersenyum kikuk.
"Tidak masalah, tenang saja disini bukan istana yang akan mengekangmu untuk bangun siang" ucap kakek Shi sambil berlalu.
"Bagaimana kakek Shi bisa tau kalau aku dan Zhan gege dulunya tinggal di istana. apakah Zhan gege yang memberitahunya?" tanya Xuan Lan di dalam hatinya.
Setelah makan Xuan Lan kemudian pergi untuk menemui kakek Shi dan pangeran Zhan yang sedang membuat sesuatu di halaman depan.
"Xuan Lan, kemari" ucap kakek Shi kepadanya.
Xuan Lan menurut. Ia lalu mendekatkan dirinya ke arah kakek Shi.
"Ada apa kek?" tanya Xuan Lan.
"Segel yang berada di dalam dantianmu itu belum terbuka seluruhnya" ucap kakek Shi sambil memejamkan matanya.
"Apa?" ucap pangeran Zhan dan Xuan Lan bersamaan.
"Aku hanya sanggup merusak segel terluarnya saja. Ibaratnya baru seperempat segel yang bisa aku buka" ucap kakek Shi lagi.
Xuan Lan mencoba mencerna dengan baik. Rasa sakit kemarin hanya berhasil membuka seperempat saja lalu bagaimana jika ingin membuka seluruhnya?
"Lalu apakah kita akan melakukan hal yang sama seperti kemarin kek?" tanya Xuan Lan.
Kakek Shi tertawa, ia lalu berucap.
"Apakah kau ingin aku mati? Membuka segel yang kemarin saja sudah menghabiskan separuh lebih energiku" ucapnya.
Xuan Lan terdiam jadi yang merasakan sakit kemarin bukan hanya dirinya tetapi kakek Shi juga. Ia bahkan kehilangan banyak energi untuk merusak segel terluar yang berada di dantian Xuan Lan.
"Lalu bagaimana cara membuka seluruh segelnya?" tanya pangeran Zhan kemudian.
Kakek Shi menatap pangeran Zhan, ia tersenyum.
"Tenang saja, ada satu cara agar segelnya bisa terbuka seutuhnya" ucap kakek Shi.
"Cara apa itu?" tanya Xuan Lan penasaran.
"Nanti kau akan tau, sekarang persiapkan dirimu dulu lalu aku akan mengatakan bagaimana caranya kepadamu. Oh ya, apakah kau memiliki pakaian atau hanfu berwarna putih polos?" tanya kakek Shi.
"Hanfu putih polos?" gumam Xuan Lan. Ia mencoba mengingat-ingatnya kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Persiapkan dirimu dengan pakaian itu" ucap kakek Shi.
Xuan Lan lalu pergi ke dalam untuk mengganti pakaiannya dengan hanfu putih polos seperti yang kakek Shi minta. Ia tidak banyak membuang waktu setelah itu ia kembali menghampiri kakek Shi dan pangeran Zhan lagi di tempat semula.
"Xuan Lan, kau harus membuka segelmu sendiri. Aku hanya bisa membantu membuka segel terluarmu" ucap kakek Shi.
"Maksudnya?" tanya Xuan Lan.
"Ikut aku" ucap kakek Shi. Pangeran Zhan dan Xuan Lan kemudian mengikuti langkah kaki kakek Shi yang berhenti di dekat air terjun.
"Ayo kita masuk ke dalam" ucap kakek Shi lagi.
Mereka kemudian masuk ke dalam bersama-sama. Pangeran Zhan sedikit terkejut ternyata di balik air terjun ada ruangan seperti yang ia lihat sekarang.
"Xuan Lan, kau harus masuk ke dalam sana untuk membuka seluruh segelmu" ucap kakek Shi.
"Nanti kau akan dibimbing agar kau bisa membuka segelmu sendiri. Ingat, Xuan Lan jangan mau jika kau diminta membuat perjanjian apapun itu maupun itu perjanjian baik ataupun perjanjian buruk" ucap kakek Shi.
"Baik, kek" ucap Xuan Lan.
"Berapa lama adikku akan di dalam sana?" tanya pangeran Zhan.
"Aku juga tidak tau. Xuan Lan akan kembali jika dia sudah bisa membuka pintu ini sendiri" ucap kakek Shi.
"Xuan Lan, ikuti saja seluruh perintah yang ada di dalam tetapi seperti kataku lagi jangan sampai membuat janji apapun" ucap kakek Shi lagi.
"Sekarang kau bisa masuk" ucap kakek Shi yang akan membukakan pintu untuk Xuan Lan.
"Kek boleh aku memeluk Xuan Lan?" tanya pangeran Zhan.
"Tentu" ucap kakek Shi.
Pangeran Zhan kemudian memeluk Xuan Lan dengan erat.
"Ingatlah selalu perkataan kakek" ucap pangeran Zhan sambil menyandarkan dagunya di bahu milik Xuan Lan.
"Baik gege. Mungkin sekarang waktunya aku masuk ke dalam sana" ucap Xuan Lan lalu mendekati pintu.
"Kau siap?" tanya kakek Shi dan Xuan Lan menganggukkan kepalanya.
Kakek Shi lalu membuka pintu itu dengan tenaganya yang tersisa. Xuan Lan lalu masuk ke dalam sana dengan cepat. Setelah Xuan Lan masuk, pintu tadi langsung tertutup dengan sangat keras.
"Apakah ia akan baik-baik saja kek?" tanya pangeran Zhan khawatir.
"Kau tenang saja. Bukankah kau lebih mengetahui adikmu daripada aku?" ucap kakek Shi lalu ia mengajak pangeran Zhan untuk keluar dari balik air terjun ini.
Xuan Lan yang sudah masuk ke dalam ruangan itu ternganga. Ia belum pernah melihat tempat seindah ini. Halaman rumput yang luas dengan sinar mentari cerah namun tidak terasa panas. Di sekelilingnya juga terdapat pohon dengan buah-buahan yang terlihat manis tak lupa dengan aliran air yang terlihat sangat segar dan menambah keindahan tempat ini. Xuan Lan yakin jika ia tidak akan kelaparan jika ia berada disini.
"Xuan Lan" terdengar suara berbisik memanggil namanya.
Xuan Lan membalikkan tubuhnya ternyata tidak ada apapun.
"Xuan Lan" bisikan itu datang lagi dan Xuan Lan kembali membalikkan tubuhnya ke arah samping tetapi masih tidak ada siapapun disana.
"Siapa kau?" tanya Xuan Lan lantang.
"Jika kau berani, maju kemari hadapi aku" ucap Xuan Lan lagi.
"Xuan Lan" bisik suara itu seperti tidak ada hentinya.
Xuan Lan yang jengah memilih duduk dan kemudian menyandarkan punggungnya di rumput hijau yang lembut itu. Ia kemudian menutup matanya menggunakan lengannya.
"Xuan Lan" bisikan itu kembali terdengar tetapi Xuan Lan tidak menghiraukannya.
"Xuan Lan" suara itu kembali memanggilnya tetapi si pemilik nama tampaknya sudah tertidur.
"Sialan, dia malah tertidur" ucap suara tadi berdecak kesal.
Di dalam mimpinya, Xuan Lan seperti merasa terjebak di suatu ruangan gelap. Ia nampak tidak bisa pergi kemanapun dan hanya ada satu cahaya yang menerangi tempat itu dan itu adalah tempat berdirinya Xuan Lan saat ini.
srekk terdengar suara seperti suara pedang yang diseret di atas lantai.
srekk suara itu semakin mendekat. Xuan Lan masih berdiri dengan tegak dan tidak memasang kuda-kuda tetapi ia sudah berada di dalam mode waspada.
"Siapa kau?" tanya Xuan Lan dengan dagu yang terangkat.
"Tidak penting siapa aku yang terpenting adalah kau" ucap sesosok mahluk yang menyeret pedang tadi dengan suaranya yang berat dan sangat serak.
"Memangnya ada urusan apa kau denganku?" tanya Xuan Lan lagi.
"Aku ingin kau mati" ucap mahluk itu sambil tertawa.
"Lalu kenapa kau masih terdiam jika kau ingin membunuhku?" tanya Xuan Lan.
Mahluk yang merasa terejek oleh Xuan Lan itu merasa marah. Ia langsung mengangkat pedangnya dengan tinggi. Xuan Lan hanya mendengar langkah kaki mahluk itu. Ia bahkan tidak bisa melihat apapun. Untung saja pangeran Zhan pernah mengajarinya melawan musuh menggunakan pendengaran bukan pengelihatan meskipun ia latihan hanya dalam waktu yang singkat.
"Mati" ucap sesosok misterius itu lagi.
Xuan Lan membalikkan tubuhnya. Ia merasa mahluk ini ada di belakangnya. Mahluk tadi mulai mengayunkan pedangnya namun Xuan Lan bisa menghindarinya. Xuan Lan kemudian berbalik menyerang mahluk tadi namun hanya angin yang ia serang.
"Kau akan mati" ucap mahluk itu kembali yang sekarang sudah berada di belakang Xuan Lan di sisi yang berbeda.
•••
**jangan lupa vote komen rate dan like.
yang minta ganti cover mungkin gabisa karena itu cover dari mangatoon/noveltoon sendiri dan bukan author yang ngasih itu semua diluar kendali author bcs karya ini sudah dikontrak.
gatau nanti bisa up lagi atau engga soalnya habis ini uh 2 mapel sekaligus😭😭**