PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
SERATUS EMPAT BELAS


Ramalan sang peramal benar terjadi, 'Pohon bakau, lautan merah'. Pangeran Zhan menjadi panglima perang yang berada di medan perang yang sudah penuh dengan darah semua mahluk yang sudah bercampur menjadi satu dan ia tetap berdiri dengan tegaknya tanpa tergoyah apapun yang akan menghalanginya. Ia berdiri di atas kudanya sembari membantu orang-orang melawan para goblin yang masih tersisa.


•••


Zhao masih tersenyum saat mengetahui pasukannya sudah mulai dibabat lagi oleh pasukan lima kekaisaran. Dari raut wajahnya terlihat ia masih sangat tenang meskipun ia juga tau jika tangan kanannya sudah mati di tangan pangeran Zhan.


"Zhao menyerahlah" ucap Xuan Lan sambil mengarahkan pedangnya ke leher milik Zhao.


Zhao masih tersenyum. Ia mengalihkan pedang milik Xuan Lan dengan pedangnya.


"Aku tidak akan menyerah sampai kapanpun" ucap Zhao mantap.


"Lihatlah pasukanmu sudah mulai mati terbawa angin!" ucap Xuan Lan.


"Sebaiknya kau yang menyerah Xuan Lan dan hiduplah bersamaku setelah semua ini berakhir" ucap Zhao masih dengan pendiriannya.


"Karena kalian semua tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Memang pasukanku terlihat sudah hilang tetapi mereka tau dimana tempat tuannya berada" ucap Zhao masih mengembangkan senyumnya.


Benar saja setelah Zhao berucap demikian para goblin kembali datang. Entah darimana mereka datang tetapi jumlah mereka terlihat semakin banyak.


"Bagaimana Xuan Lan?" tanya Zhao.


Xuan Lan menatap Zhao dengan pandangan tak terbaca. Ia kemudian kembali menyerang Zhao dengan seluruh tenaga yang ia punya.


"Aku tidak ingin menyakitimu Xuan Lan jadi aku bilang berhenti bertarung denganku" ucap Zhao.


"Apa kau tau aku juga tidak ingin menyakitimu Zhao tetapi kau yang membuat semua ini terjadi. Aku sudah melukaimu jadi lukailah aku juga. Kita sedang bertarung dan jangan melibatkan perasaanmu padaku!" teriak Xuan Lan yang masih terus beradu pedang dengan Zhao.


"Baiklah, kau yang memintanya Xuan Lan" ucap Zhao. Ia kemudian membalikkan serangan Xuan Lan kepadanya. Tangan kanannya menangkis dan terkadang menyerang Xuan Lan dengan pedang neraka yang dimilikinya sedangkan tangan kirinya terkadang mengeluarkan suatu cahaya lalu ia mengarahkannya kepada Xuan Lan.


Xuan Lan tak tinggal diam. Ia juga melakukan hal yang serupa apalagi saat Zhao mengarahkan cahaya berwarna ke tubuhnya, ia kemudian menangkisnya dengan cahaya berwarna yang keluar dari tangannya. Duel maut antara Xuan Lan dan Zhao tidak bisa dihindari bahkan mereka berada di tengah-tengah medan perang tanpa ada seorangpun yang berada di sekitar mereka. Orang-orang hanya bisa melihat dari jauh sambil berusaha melumpuhkan para goblin yang terus bertambah.


Mereka saling menyerang satu sama lain tanpa memperhatikan rasa sakit di dalam hati mereka saat mereka terpaksa menyakiti pasangannya sendiri. Mereka sama-sama terengah-engah dalam pertarungannya.


"Kau bisa mengimbangiku juga rupanya" ucap Zhao.


"Sudah aku katakan, aku Xuan Lan dan tidak ada yang tidak bisa aku lakukan" ucap Xuan Lan sebelum ia kembali menerima serangan dari Zhao.


Tubuh mereka sudah sama-sama terluka karena perkelahian ini tetapi mereka sama sekali tidak merasakan sakit itu. Mereka hanya fokus dengan pertarungannya.


Xuan Lan melirik dengan ekor matanya. Goblin milik Zhao mulai berkurang dan tidak bertambah lagi. Ia kemudian kembali menatap Zhao yang sudah terluka karena ulahnya. Keningnya mulai berkerut memikirkan rencana apa yang harus ia lakukan.


Xuan Lan kembali bertarung dengan Zhao terkadang mereka juga membawa tubuhnya ke udara dan bertarung di atas sana bersama dengan naga yang juga bertarung lumayan jauh dari tempat mereka berada.


Saat mereka masih bertarung terdengar suara teriakan yang memekikkan telinga. Semua orang lalu menoleh untuk mencari sumber suara itu. Ternyata naga api sudah tumbang dari atas langit karena pertarungannya dengan Ran tadi. Ia kemudian terjatuh ke bawah yang menghasilkan sedikit getaran juga bunyi dentuman yang sangat kuat saat tubuhnya menyentuh tanah.


"Pion utamamu sudah kalah Zhao" ucap Xuan Lan sambil memaksakan senyumnya.


Zhao kembali menatap Xuan Lan. Ia menggeleng pertanda ucapan Xuan Lan sama sekali tidak benar. Ran yang sudah mengalahkan naga api milik Zhao kemudian berbalik arah. Ia menyemburkan nafas es nya ke arah para goblin dan seketika semuanya membeku, tidak ada lagi goblin yang melawan pasukan lima kekaisaran.


"Zhao" ucap Xuan Lan namun Zhao malah kembali menyerang Xuan Lan. Xuan Lan yang masih dalam mode siaga membalas serangan Zhao. Mereka kembali bertarung dengan ganasnya.


Para pangeran serta para kaisar ingin membantu Xuan Lan tetapi gerakan mereka dicegah oleh Kuma. Ia sudah membawa Gold Tiger dari markasnya untuk mengobati para pasukan yang sudah terluka parah tetapi ada dua gadis yang diam-diam mengikuti mereka yaitu Wang Yu Yan dan Wang Yuan. Mereka sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak melihat kondisi perang ditambah ayah mereka yang dikabarkan terluka parah membuat mereka langsung menuju kesana.


"Kita tidak bisa terus seperti ini Zhao" ucap Xuan Lan di tengah-tengah pertarungannya dengan Zhao tetapi Zhao diam dan tidak membalasnya.


Mereka berdua masih terus bertarung sampai akhirnya pedang Swazi dan pedang Neraka milik keduanya sudah menancap di dada kiri mereka masing-masing.


"Maafkan aku Xuan Lan" ucap Zhao.


"Maafkan aku Zhao" ucap Xuan Lan sambil menahan tangisnya.


Mereka kemudian terjatuh dengan pedang yang sudah menancap di dada kiri mereka. Semua orang disana langsung menghampiri mereka berdua. Pangeran Zhan sudah mengeluarkan air matanya, ia meletakkan kepala Xuan Lan di atas pahanya.


Xuan Lan memiringkan kepalanya. Ia melihat Zhao yang mengeluarkan air matanya. Xuan Lan kemudian menggenggam tangan Zhao.


"Tidak mung-kin ada kehidupan kedua untuk-ku Zhao, kehidupan keduaku adalah di tempat ini" ucap Xuan Lan menangis.


"Kalian semua" ucap Xuan Lan memaksakan senyumnya.


"Lan'er jangan banyak bicara, cepat panggilkan tim medica!" teriak pangeran Zhan.


Tangan Xuan Lan beralih menggenggam tangan pangeran Zhan. Ia menggeleng lemah dengan wajahnya yang pucat.


"Sudah gege, aku tidak akan selamat" ucapnya membuat semua orang berteriak histeris.


"Lala apa yang kau katakan?" ucap Wang Yuan sambil menangis.


"Yuyu, aku titip Zhan gege"


uhukk


Xuan Lan memuntahkan darah dari mulutnya.


"Xuan Lan" teriak semua orang disana.


"Zhan ge, aku tau jika kau mencintai Yuyu jadi aku harap kalian bisa hidup dengan bahagia" ucap Xuan Lan.


"Aku juga tau kau lebih suka berada di markas Gold Tiger daripada berada di istana jadi aku melepaskan jabatan reine ku untukmu. Sekarang kaulah reine Gold Tiger" ucap Xuan Lan dengan lemah.


"Lan'er" lirih pangeran Zhan sambil menggenggam tangan Xuan Lan erat.


"Kaisar Xiao" panggil Xuan Lan.


"Kau sudah bisa meninggalkan jabatanmu sebagai seorang kaisar. Kau sekarang bisa menyerahkannya kepada pangeran Gui" ucap Xuan Lan.


"Lan'er tapi kau-" belum selesai kaisar Xiao berucap Xuan Lan kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Lanlan bertahanlah, aku mohon" ucap pangeran Xian terisak.


"Xian ge, menikahlah dengan Yu Yan. Aku tidak ingin Yu Yan menjadi permaisuri di kekaisaran selain kekaisaran Li" ucap Xuan Lan sambil sedikit terkekeh.


"Xuan Lan" lirih Wang Yu Yan.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu lagi Yaya" ucap Xuan Lan sambil menatap Wang Yu Yan.


"Kaisar Li, titipkan salamku untuk permaisuri Kaili dan selir Dyn katakan pada mereka jika aku sangat menyayangi mereka berdua" ucap Xuan Lan yang membuat kaisar Li semakin menitikkan air matanya.


"Kalian semua hiduplah dengan baik dan aku mohon kebumikan aku dan Zhao dengan layak. Bagaimanapun ia adalah kek-a-s-ih ha-ti-ku" ucap Xuan Lan sebelum akhirnya menutup matanya untuk selamanya.


"Xuan Lan!" teriak seluruh orang sambil menangis.


"Xuan Lan bahkan kau belum memaafkan ayah" ucap kaisar Xiao sambil terisak.


Pangeran Zhan masih memeluk tubuh kaku Xuan Lan meskipun pakaiannya sudah basah oleh darah. Ia menangis tidak bisa melindungi adiknya lagi.


Tempat medan perang menjadi hening. Mereka semua sudah menang tetapi sorak-sorak kemenangan seperti biasanya tidak terdengar namun yang tampak hanyalah kesedihan yang ada di wajah mereka. Memang terkadang jika ingin meraih kemenangan ada sesuatu yang mesti dikorbankan.


Seperti Xuan Lan, ia mengorbankan seluruh cinta dan hidupnya untuk melindungi seluruh negeri dari bahaya yang mengancam. Ia bahkan kehilangan nyawanya di tangan orang yang ia cintai namun tidak dipungkiri ia juga merasa bersalah saat ia juga harus mengakhiri nyawa orang yang dicintainya dengan tangannya sendiri.


Semua kisah tidak melulu harus memaksakan akhir yang bahagia. Akhir cerita yang sedih tentu membuat semua orang kecewa namun tidak ada yang bisa menghalangi kisah cerita masing-masing orang. Kini semua orang sadar jika putri yang dulunya dibuang dan tidak diinginkan bukanlah seorang putri biasa melainkan ia adalah putri berharga yang jasanya akan selalu dikenang oleh seluruh rakyat sampai kapanpun.


(END)