
"Apa kau tau siapa yang paling besar berperan dalam kematian ibuku?" tanyanya sedangkan kaisar Xiao hanya menggeleng lemah,
"Orang itu adalah kau!"
•••
Kaisar memandang Xiao Lan dengan tatapan aneh sebelum Xiao Lan kembali melanjutkan kata-katanya.
"Jika kau bisa menahan hasratmu maka ibuku tidak akan meninggal, tidak akan ada aku di dunia ini. Semua ini salahmu Xiao Nan" teriaknya dengan mata melotot tajam serta air mata yang tidak ada hentinya keluar dari kedua mata yang indah itu,
"Aku juga tidak ingin ibuku mati! Jika aku sudah bisa memilih saat itu aku akan memilih aku saja yang mati. Tapi apa yang bisa seorang bayi lakukan? Apa? Jawab aku Xiao Nan!" teriaknya lagi,
Teriakan di dalam ruang makan itu sontak mengejutkan kasim serta para penjaga yang berada di luar. Mereka membuka pintu dengan hati-hati.
"Kau benci kepadaku karena perbuatanmu sendiri dan sumber sebenarnya dari segala rasa bencimu adalah dirimu sendiri!" ia kembali menangis saat mengingat betapa tidak ada harganya ia di mata mereka semua,
Orang-orang yang berada di meja makan terdiam mereka meresapi kata-kata Xiao Lan. Mereka ikut terbawa suasana sedih dan meneteskan air matanya.
"Aku sangat muak kepada kalian semua! Sudah dua belas tahun aku memendam semua rasa sakit ini dan jangan harap kalian bisa meyakitiku lagi. Jika kalian menggangguku aku tidak akan segan-segan membunuh kalian" ucapnya mengeluarkan aura membunuh lalu menghapus kasar jejak air mata yang berada di pipinya, ia kemudian pergi meninggalkan mereka yang sedang duduk mematung disana.
Orang yang melihat kegaduhan tadi juga ikut terdiam. Mereka seperti merasakan rasa sakit yang Xiao Lan alami karena memang mereka melihatnya secara langsung tapi tidak dapat membantunya sama sekali.
Mereka juga tidak sadar jika Xiao Lan sudah berdiri di depan mereka dengan pandangan kosongnya,
"Minggir" ucapnya datar,
Orang-orang langsung berlari kocar-kacir saat menyadari Xiao Lan sudah ada di depan mereka. Xiao Lan kemudian mengambil langkah lesu keluar dari ruang makan.
BRAKK
Pangeran Xiao Zhan membalikkan meja yang berisi berbagai makanan itu,
"Puas kalian menyakiti adikku hah?" emosinya sudah tidak bisa dibendung lagi,
"Aku merasa gagal menjadi seorang kakak, aku tidak bisa melindungi adikku sendiri. Aku harus melindunginya secara sembunyi-sembunyi karena kalian semua! Jika aku ketawan melindunginya kalian akan menghukum adikku padahal dia tidak bersalah apapun. Brengsek!" ia mengepalkan tangannya kemudian meninju meja tadi sangat kuat sampai patah menjadi dua,
"Dengar ini kaisar Xiao Nan, aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ayahku lagi! Kau sudah berlaku tidak adil kepada keluargamu sendiri. Harusnya kau malu menyandang gelar kaisar keadilan karena sikapmu tidak mencerminkan hal itu sama sekali" ia tertawa sinis kemudian menyusul Xiao Lan,
Xiao Lan berjalan dengan lunglai, ia masih merasakan sesak di dadanya. Ia menahan tangisnya sebisa yang ia mampu tapi air dari matanya tidak mau berhenti mengalir.
"Lan'er" suara lembut itu mengagetkannya, ia berbalik memandang pangeran Xiao Zhan yang sedang menatapnya sendu,
Pangeran Xiao Zhan langsung memeluk adiknya itu. Ia sangat rindu akan kehadiran gadis yang sedang berada di dalam pelukkannya.
"Maafkan gege tidak bisa melindungimu" air matanya tumpah di bahu Xiao Lan,
"Gege" Xiao Lan membalas pelukan pangeran Zhan dengan erat,
Pangeran Zhan lalu mengajak Xiao Lan menuju kediamannya. Di gazebo kediamannya mereka masih berpelukan melepas rindu antar saudara yang tidak pernah terbalaskan.
"Aku juga tidak ingin lahir di dunia yang kejam ini, apa aku pernah memintanya gege?" rancaunya,
"Kenapa harus aku yang merasakan semua ini gege?" tanyanya menangis pilu di pelukan pangeran Zhan,
Pangeran Zhan tidak menanggapi ataupun menjawab pertanyaan Xiao Lan yang ia pikirkan sekarang adalah Xiao Lan bisa tenang terlebih dahulu. Ia hanya bisa menepuk-nepuk pucuk kepala Xiao Lan dan membawanya ke pelukan yang lebih dalam lagi.
Kaisar Xiao, ibu suri dan putra mahkota hanya bisa menatap mereka berdua dari kejauhan. Sakit sekali hati mereka mendengar tangisan pilu seorang Xiao Lan, mereka ingin beranjak kesana ikut memeluk dan menenangkan Xiao Lan tapi mereka takut membuat Xiao Lan semakin membenci mereka.
Malam itu hanya ditemani dengan suara tangisan Xiao Lan bahkan jangkrik juga tidak berani menunjukkan suaranya seakan sadar bahwa malam ini adalah malam paling pilu dalam hidup mereka.
Setelah Xiao Lan berhenti menangis pangeran Zhan mendengar suara dengkuran halus di dalam pelukannya. Ia kemudian melihat wajah Xiao Lan, wajah yang dirindukannya wajah yang sama persis dengan wajah ibunya. Ia membelai wajah itu dengan lembut menggunakan punggung tangannya.
Ia menggendong Xiao Lan menuju kamarnya. Ia juga sudah memerintahkan kepada bawahannya agar mereka memberitahu orang yang berada di kediaman Xiao Lan agar mereka tidak mencarinya.
Saat melangkahkan kakinya sudah ada kaisar, ibu suri serta putra mahkota di depan kediamannya. Ia tidak menggubrisnya dan memilih melewati mereka begitu saja.
"Xiao Zhan tunggu" ucap kaisar Xiao,
Pangeran Zhan hanya menaikkan salah satu alisnya,
"Biarkan aku yang membawanya ke dalam kamarmu" ucap kaisar Xiao penuh harap,
"Selagi tubuh dan tanganku masih kuat mengangkat dan melindunginya, aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuhnya walaupun hanya seujung kuku, kaisar Xiao" ucapnya dengan nada menekan agar tidak membangunkan gadis manis yang berada dalam gendongannya,
"Dia juga tidak butuh kau gendong saat ini, yang ia butuhkan hanya gendongan dan kasih sayangmu di masa lalu. Ingat itu" ia masih menekan setiap ucapannya,
Ia menatap remeh mereka semua kemudian melenggang pergi masuk ke dalam kamarnya begitu saja tanpa memperhatikan tatapan memelas dari mereka bertiga.
Air mata kaisar Xiao kembali meluruh, ia tak menyangka malam ini akan terjadi. Ini semua memang salahnya seharusnya ia memberi Xiao Lan kasih sayang saat kecil dan juga memberinya keadilan. Memang ia sangat tidak pantas dijuluki kaisar keadilan.
Ibu suri memandang lurus ke depan, ia merasa sangat bersalah seharusnya saat itu ia bisa memanjakan dan menyayangi semua cucunya terutama Xiao Lan yang sudah ditinggal mati oleh ibunya sejak dia baru saja lahir tetapi ia malah termakan omongan orang sehingga ia menjadi sangat membenci Xiao Lan.
Putra mahkota Xiao menatap lurus pintu kamar yang sudah ditutup itu. Ia tak pernah sekalipun berusaha untuk melindungi Xiao Lan ia malah selalu menindasnya dan tidak pernah memperhatikannya. Hatinya hancur saat kedua adik yang ia miliki membencinya teramat dalam.
Malam itu dipenuhi dengan penyesalan dan tangisan orang-orang. Mereka baru menyadari bahwa semua yang telah terjadi adalah guratan takdir, mereka tidak bisa mencegah, menghalangi bahkan menghentikannya. Mereka seharusnya bisa menerima dengan lapang dada atas semua yang telah terjadi bukan malah menyalahkan orang yang tidak bersalah. Apalah daya nasi sudah menjadi bubur, masa lalu tidak bisa diulang kembali.
•••
JANGAN LUPA VOTE KOMEN RATE DAN LIKE
part ini part yang paling menguras emosi author, author aja sampe nangis bombay pas buat part ini, kalo kalian gimana?
TERIMAKASIH
chiccacaaa