PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
SERATUS DUA PULUH DUA (S2)


Xuan Lan kemudian berdiri. Ia menuju ke bagian belakang perpustakaan istana. Ia lalu menggeser sebuah buku sama seperti yang ia lakukan dulu dan benar saja ada sebuah pintu yang terbuka dari balik tembok itu. Xuan Lan lalu masuk ke dalamnya.


•••


"Hei mau kemana?" tanya Zhao menahan Xuan Lan yang ingin masuk ke dalam. Namun Xuan Lan tidak menggubris menjadikan Zhao yang harus mengikuti Xuan Lan dari belakang.


Zhao menyalakan senter dari ponselnya saat melihat ruangan yang terlihat gelap gulita itu. Xuan Lan terlihat beberapa kali terbatuk karena banyaknya debu yang ada di dalam ruangan ini.


"Pinjam ponselmu" ucap Xuan Lan sambil mengulurkan tangannya ke arah Zhao.


Zhao menyerahkan ponselnya ke arah Xuan Lan kemudian mengikuti kemanapun Xuan Lan pergi. Xuan Lan melihat rak-rak buku yang ada di dalam ruangan itu. Ia mengarahkan senter agar lebih mudah melihat judul buku yang ingin ia baca.


"Bagaimana kau bisa mengetahui ruangan ini?" tanya Zhao kepada Xuan Lan saat gadis itu sedang memilih buku yang akan dibacanya.


"Dulu aku sudah pernah masuk kesini sebelum aku mengakui jika aku adalah Xuan Lan kepada paman dan bibi" ucap Xuan Lan kemudian ia mengambil sebuah buku dan membacanya sambil berdiri.


Buku yang Xuan Lan ambil ternyata adalah buku yang ditulis sendiri oleh pangeran Zhan. Pangeran Zhan menuliskan kisah hidupnya dari ia kecil sampai akhir hayatnya. Ia bahkan menyapa Xuan Lan di tulisan itu, pangeran Zhan sangat berharap jika Xuan Lan menemukan buku yang ia tulis maka Xuan Lan harus membawa buku itu bersamanya.


Air mata Xuan Lan kembali meluruh. Zhao dibuat bingung dengan kelakuan gadis yang dicintainya ini.


"Kenapa kau menangis lagi?" tanya Zhao.


"Kenapa aku harus mati di zaman itu" ucap Xuan Lan sedih.


"Zhan gege sangat menyayangiku bahkan ia masih sangat berharap jika aku membaca buku ini dan membawanya pulang ke rumah. Aku sangat merindukan kasih sayang Zhan gege" ucap Xuan Lan sesenggukan.


Zhao yang merasa bersalah hanya bisa menatap Xuan Lan iba. Ia menyesali segala keputusannya saat berada di zaman kuno dulu. Zhao kemudian memeluk Xuan Lan dengan lembut.


"Maaf" lirih Zhao.


"Apa kau tau semenjak ibuku meninggal dan sahabatku menghilang aku tidak tau apa yang dinamakan kasih sayang sebuah keluarga. Aku sangat beruntung saat Xiao Lan mau memilihku membalas dendamnya karena dari sanalah aku merasakan kembali yang namanya kasih sayang sebuah keluarga" ucap Xuan Lan bersedih.


"Xuan Lan, lihat aku" ucap Zhao sambil mendongakkan kepala Xuan Lan agar bisa melihat ke arah matanya.


"Kau mengatakan jika mereka harus hidup bahagia dan mereka sudah melakukan hal itu tetapi kau disini malah bersedih memikirkan dirimu saat kau berada di zaman kuno. Apakah jika mereka melihatmu seperti ini maka mereka akan senang? Seharusnya kau juga hidup bahagia saat berada disini Xuan Lan seperti mereka yang juga bahagia saat hidup di zaman kuno" ucap Zhao sambil menatap mata Xuan Lan.


Xuan Lan terdiam. Ia menundukkan pandangannya sebelum netranya kembali menatap ke manik mata hazel milik Zhao.


"Kau benar" ucap Xuan Lan.


Mereka kemudian keluar dari ruangan itu dengan Xuan Lan yang menyembunyikan buku pangeran Zhan di dalam tasnya. Ia melakukan itu karena tempat ini adalah salah satu bukti sejarah lima kekaisaran yang masih tersisa. Jika Xuan Lan ketahuan membawa buku itu maka riwayatnya bisa habis dan akan masuk ke dalam jerusi besi dengan tuduhan pencurian salah satu sejarah berharga di istana kekaisaran Xiao.


Xuan Lan terus memandang buku itu saat mereka sudah berada di dalam mobil. Ia terlihat sesekali tersenyum getir saat mengingat kenangannya bersama orang-orang dari zaman kuno namun ia berusaha bersikap biasa saja agar Zhao tidak merasa bersalah.


"Kita makan dulu ya" ucap Zhao kemudian menepikan mobilnya di salah satu restoran ternama yang ada di kota mereka.


"Mau pesan apa?" tanya Zhao saat mereka sudah mendudukkan bokongnya di kursi yang tersedia di restoran itu.


"Terserah, aku ikut padamu" ucap Xuan Lan sambil memandang ke arah luar restoran.


"Sabar Zhao" batin Zhao dalam hatinya.


Zhao kemudian memesan steak dengan tingkat kematangan medium well dan ice lemon tea tak lupa dengan air mineral yang selalu dipesannya dimana pun ia berada. Setelah itu Zhao menggenggam tangan Xuan Lan dan mengusapnya dengan lembut.


Setelah pesanan mereka datang, Zhao kemudian melepaskan genggaman tangannya. Ia kemudian mengambil salah satu piring steak itu dan mengirisnya lalu menukarnya dengan piring yang ada di hadapan Xuan Lan.


"Kau terlalu berlebihan" ucap Xuan Lan kemudian tanpa sungkan ia memakan steak yang sudah dipotongkan untuknya.


"Aku tidak tau jik ada steak yang seenak ini di daerah sekitar sini" ucap Xuan Lan masih fokus dengan steak yang ia makan.


"Apa kau suka?" tanya Zhao.


Xuan Lan menganggukkan kepalanya tanpa menatap ke arah Zhao. Setelah selesai makan Xuan Lan pamit ke toilet untuk mencuci tangan sedangkan Zhao memilih membayar tagihan makanan yang sudah mereka pesan.


"Tuan Zi Zhao" sapa seorang wanita yang melihat Zhao yang masih duduk di kursinya.


Zhao mendongakkan kepalanya menatap orang yang menatapnya.


"Ya, saya Zhao dan anda siapa?" tanya Zhao yang membuat wanita itu tersenyum riang karena pria di depannya benarlah Zhao yang ia kenal.


"Tuan lupa dengan saya? Nama saya Lin Hua rekan bisnis anda dari perusahaan X" ucap wanita yang bernama Lin Hua itu memperkenalkan dirinya.


"Oh, perusahaan X. Maaf, ingatan saya tentang wajah dan nama orang lain sangatlah buruk" ucap Zhao.


"Sebenarnya aku memang sengaja tidak ingin mengetahui nama kalian toh yang terpenting hanyalah tanda tangan kalian saja dan persetujuan yang keluar dari mulut kalian" batin Zhao membuang pandangannya ke arah lain.


"Ehm, bolehkah saya duduk disini tuan?" tanya Lin Hua karena daritadi ia hanya berdiri dan tidak dipersilakan duduk oleh Zhao.


"Tentu saja" ucap Zhao yang memperbolehkan wanita itu untuk duduk di hadapannya. Setelah duduk, wanita itu kemudian memesan makanannya. Tak lama kemudian Xuan Lan datang dengan menenteng tas yang dibawanya ke toilet tadi.


"Ayo kita pulang" ucap Xuan Lan tanpa melihat orang yang ia ajak bicara karena ia sibuk memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya itu.


"Ayo" ucap Zhao kemudian menarik tangan Xuan Lan.


"Tuan Zhao tunggu" ucap Lin Hua menahan Zhao dan Xuan Lan.


Dua sejoli itu kemudian berbalik badan melihat orang yang menahan mereka berdua agar tidak pergi.


"Ya, ada apa nona?" tanya Zhao.


"Kenapa anda langsung kembali? Bukankah anda ingin menemani saya makan?" tanya Lin Hua yang sukses memunculkan pelototan mata Xuan Lan yang ditujukan untuk Zhao.


Zhao melirik ke arah Xuan Lan. Ia lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum canggung.


"Saya tidak pernah mengatakan jika saya ingin menemani anda makan, nona. Saya hanya mengatakan jika anda ingin duduk di meja itu" ucap Zhao sedatar mungkin.


Lin Hua wajahnya perlahan berubah memerah menahan malu. Ia kemudian menatap wanita yang berada di sebelah Zhao.


"Lalu nona ini apakah adik tuan?" tanyanya lagi untuk memecah keadaan canggung yang sudah ia perbuat.


"Sebaiknya anda menjaga batasan anda dalam bertanya" ucap Zhao dingin kemudian meninggalkan Lin Hua begitu saja.


Lin Hua yang sedari tadi menahan nafas akhirnya bisa bernafas dengan lega. Ia melihat siluet dua orang berbeda kelamin itu keluar dari restoran ternama ini.


"Kenapa dia tidak menjawab pertanyaan dariku? Jika ia menjawabnya maka aku akan tau langkah yang akan kulakukan selanjutnya" gumam Lin Hua yang masih menatap ke arah pintu keluar restoran.


•••


jangan lupa vote komen rate dan like