Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 92


Innalillahi Wainnailaihi roji'un, telah berpulang Rachel Anastasya. Allahummagh firlahaa waa warhamhaa wa'aafihaa wa'fuanhaa. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya dan diampuni segala dosa-dosanya. Untuk keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keikhlasan.


"Mbak Rara!" pekik Wening menangis di dekat jenazah kakaknya.


Seno menenangkan istrinya yang masih nampak shock. Tidak menyangka akan kehilangan sosoknya paling berarti secepat ini. Bahkan sampai kematiannya, kasus yang sempat Wening selidiki tak mampu membuat pria itu bertanggung jawab menikahinya. Hatinya ikut sakit atas semua ini. Seakan semua luka hanya Rara seorang yang nanggung.


Perempuan itu tersedu di dalam dekapan suaminya, langsung dibawa keluar untuk ditenangkan. Sementara Pak Tomo terlihat tegar walau sudut matanya basah. Sedang Bu Ana, hampir tak sadarkan diri begitu menutup mushaf mengakhiri ayat suci setelah Rara dinyatakan benar-benar pergi.


"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullahaladzim." Wanita paruh baya itu tak berhenti beristighfar untuk menguatkan diri. Kehilangan putri tercintanya pergi untuk selamanya itu begitu berat, namun hanya iringan doa kebaikan yang bisa beliau panjatkan untuk meringankan jalan Rara.


Sedih, tentu saja berduka yang mendalam. Setelah mengurus ini itu keperluan jenazah, akhirnya tepat pukul setengah tiga sore jenazah tiba di rumah duka. Wening masih terus menangis sembari mendekap Emir. Ia berjanji pada diri sendiri akan merawat dan menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Air matanya tumpah, melihat bayi mungil itu ditinggalkan ibunya untuk selamanya.


"Selamat jalan Mbak, tenanglah kamu di tempat yang baru, semoga Allah mengampuni dosamu, dan ditempatkan di surga-Nya yang paling baik. Aamiin." Doa Wening dalam hati.


Suasana rumah masih begitu ramai, penuh orang-orang melayat dan mengirim doa untuk kepulangan Rara. Tepat saat jenazah hendak dibawa ke masjid untuk disholatkan. Seseorang yang tidak diharapkan datang dengan wajah mendung penuh penyesalan.


Dia Afnan, pria yang begitu besar andil dalam kesengsaraan Rara selama ini. Membuat Wening yang melihat itu menatap penuh kebencian dan ikut terluka.


"Maafkan aku, Bu, aku datang terlambat," sesal pria itu menghadap Ibu yang duduk bersimpuh dengan tegar.


Pria itu menangis meminta maaf, bahkan hingga detik-detik terakhirnya pun tak sempat mengucapkan salam perpisahan untuk perempuan yang pernah ada di hatinya.


"Maaf, aku turut berduka cita, ampuni diriku yang penuh dosa, dan cukup terlambat," mohon pria itu berurai air mata.


Bu Ana membuang muka sendu, entah seperti apa penyesalan pria di depannya, yang ibu tahu, ia tidak pernah datang menghadap dirinya dengan benar. Ketika tahu pria itulah ayah biologis Emir, hatinya malah sakit sejadi-jadinya.


"Maafkan aku, Ning, aku juga tidak menginginkan situasi sulit ini. Kumohon jangan usir aku, aku ingin mengantar peristirahatan Rara yang terakhir, dan ada banyak hal yang ingin aku bahas tentang bayi itu, anakku," ucap pria itu beranjak.


Afnan mengikuti iringan bapak-bapak yang mengantar almarhum ke masjid untuk disholati.


Sementara Seno sudah terlihat di antara bapak-bapak yang tengah bersiap ke makam untuk mengantar peristirahatan terakhir Rara usai disholati. Semua telah usai, tak ada lagi dendam atau apa pun yang mengganjal di hati. Pria itu juga menggumamkan doa kebaikan untuk almarhum kakak iparnya. Berjanji menjaga amanahnya dengan baik.


Usai pemakaman, di saat semua orang telah pulang satu persatu. Terlihat Pak Tomo masih duduk di samping pusara putrinya. Mengirim doa lagi dengan wajah sendu dan terlihat begitu kehilangan.


Afnan mendekat, mencoba memberanikan diri dan berdamai dengan hatinya yang sama juga kehilangan. Ia dihadapkan dalam posisi yang rumit antara istrinya dan juga almarhum Rara. Tak pernah terbesit untuk menyakiti keduanya, walau tetap berakhir sama-sama melukai dua wanita yang telah mengisi hatinya.


Sepanjang hidup, mungkin dirinya akan terus dihantui rasa bersalah yang mendalam. Merusak satu perempuan yang begitu baik, dan kini telah pergi meninggalkan putranya yang menjadi tanda, ada dirinya dan diri perempuan itu dalam diri putra mereka.


"Maafkan aku, Pak, aku salah, aku salah, dan aku menyesal tidak punya kesempatan untuk bertanggung jawab. Semoga Bapak sudi memaafkan diriku yang penuh dosa. Ampuni aku, Pak, sungguh aku menyesal," ucap pria itu tertunduk dalam. Ikut bersimpuh di depan makam Rara.


Pak Tomo terdiam, tidak menyahut sama sekali, hatinya jelas sakit walau berkali-kali pria itu memohon maaf padanya. Dirinya adalah saksi betapa Rara begitu menderita dan mencoba selalu terlihat tegar di mata kedua orang tuanya. Padahal hati Rara sama gelisah, dan merasa takut menghadapi ujian sedemikian rupa.


Pria paruh baya itu juga merasa gagal menjadi orang tua untuk putrinya. Hingga dalam kesehariannya meniti perjalanan yang berat karena gunjingan tetangga. Seorang ayah yang gagal, dan mencoba tetap tegar menerima tanpa penghakiman.


Pria itu menatap sekilas lalu pergi tanpa kata. Tak menjawab, ataupun menyahuti pria itu sedikit pun. Seno yang masih berdiri tak jauh dari situ, mencoba membimbing ayahnya untuk kembali pulang ke rumah. Mengerti betul dengan kondisi perasaannya saat ini.


Usai pemakaman, suasana rumah duka masih ramai orang melayat. Hingga malamnya kirim doa bersama acara tahlilan. Afnan yang tidak juga diterima pun nampak kembali hadir di tengah-tengah warga yang mengaji.


"Sen, aku ingin Emir pulang bersamaku, tolong bujuk istrimu dan keluarganya, aku sudah berniat bertanggung jawab sebelumnya. Namun, takdir telah membawa semuanya seperti ini," pinta Afnan menemui Seno setelah acara tahlilan usai.