Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 57


Seno yang ingin istrinya tampil sempurna pun sampai memanggil MUA ke rumahnya. Wening sah-sah saja, tidak menampik sama sekali, tetapi masalahnya, dandan secetar ini untuk acara jamuan undangan siapa?


"Mas," panggil Wening setelah selesai di make over. Gadis belia itu terlihat begitu cantik, dan rupawan. Hingga membuat pria itu terpesona tanpa berkedip beberapa detik.


"Perfect! Realy beautifull!" ucap Seno tersenyum. Pria itu menuntun istrinya berjalan menuruni anak tangga.


"Sebenarnya kita mau ke mana sih, kasih bocoran dong," ujar Wening bertanya-tanya.


"Undangan makan malam bersama klien, kamu 'kan sekarang istri aku, jadi mungkin akan sering terlibat ke acara seperti ini," ujar Seno tenang.


"Kamu cantik banget, nggak kaya bocah lagi. Eh, emang nggak sih, udah sedikit pinter nyenengin aku. Ya walaupun masih aku paksa-paksa dikit," ujar Seno tersenyum.


"Baru tahu ya kalau aku cantik, dari lahir kali. Hehe." Wening balas tersenyum dengan gurauan.


"Kenapa sih, natapnya gitu banget. Aku kan jadi malu," ujarnya dengan wajah bersemu.


"Gemes, pingin aku gigit tuh leher, sayang banget dianggurin gitu," jawabnya menatap nakal.


"Tuh kan mesum lagi, dasar om-om meresahkan!"


"Apa sih, justru om-om gini tuh yang banyak tantangan dan warna. Contohnya kaya kita, hidupnya jadi penuh warna."


"Wah ... Noning cantik banget, pangkling!" sapa Wahyu yang datang menjemput.


"Dilarang memuji berlebihan istri orang, kamu bisa saya pecat!" ancam pria itu memasang wajah garang.


"Astaga! Hati-hati Ning, posesif!" cibirnya setengah bergurau.


"Kamu udah siapin semuanya Yu?"


"Aman, beres, siap terkendali," jawab pria itu yakin.


"Oke, kamu ikut nggak pa-pa, sebagai pengamat, nggak langsung tembak yang penting kena dulu orangnya. Dia main rapih, kita juga harus balas cantik," ujar Seno penuh strategi.


"Siap Boss, penawaran pertama sudah aku siapkan. Kerja sama ini untuk sebuah misi."


Dulu antara perusahaan Seno dan juga Afnan pernah juga kerja sama. Sepertinya kali ini bisa dilanjutkan untuk kali kedua, walaupun sempat merasa ragu, tetapi hanya dengan cara begini mereka secara tidak langsung akan terikat.


Setelah berbincang mematangkan obrolan, Seno menyusul Wening ke mobilnya. Wahyu mengemudi dengan kecepatan lebih elegan. Cukup santai, namun tak juga terlalu pelan.


Mereka turun di halaman restoran yang cukup mewah. Sekitaran hotel bintang lima. Nampaknya jamuan kali ini begitu spesial, siapakah klien penting itu.


"Sayang, gandeng tangan aku!" titah pria itu manis. Wening menggamit tangannya dengan mesra.


"Wah ... sudah lama menunggu, maaf kami baru datang!" sapa Seno sesumbar penampilannya. Membuat tiga pasang telinga yang mendengar langsung menoleh.


"Rara!" panggil Afnan cukup kaget sampai berdiri dari kursi.


Perempuan di samping Afnan yang diduga istri sahnya pun ikut kaget. Ia tidak menyangka akan dipertemukan dengan orang itu lagi yang hampir membuat rumah tangganya oleng.


Sama halnya dengan Yudha yang nampak pangkling. Pria itu tersenyum cukup lebar dengan wajah terpesona maksimal.


"Loh ... Yudha? Kok Om Afnan di sini? Ini kliennya, Mas?" tanya gadis itu sedikit pening dan cukup tak percaya.


"Semuanya bisa tenang, Sayang, duduk dulu," ujar Seno mempersilahkan. Tak jauh dari sana, Wahyu ikut bergabung.


"Selamat malam, Nyonya Afnan, Afnan, dan Adik Yudha. Perkenalkan ini istri saya, Kusuma Pawening, bukan Rara loh Nan," ujar pria itu lugas dan jelas.


"Wening, istri?" Yuda nampak kaget, pemuda itu sedikit shock. Wajah sumringah yang tadi tercipta langsung lenyap sudah berganti mendung dan tatapan dingin.


"Kayaknya saya salah tempat, nggak harusnya hadir dipertemuan ini," pamit Yudha beranjak. Mendadak seonggok daging yang pernah melambungkan angannya terasa ngilu. Wening sudah menikah, dan pria yang Yudha anggap sebagai omnya itu adalah suaminya, sungguh tak bisa dipercaya.


Mendadak ia sakit hati, awalnya sudah cukup bahagia, tentu saja kedatangannya tanpa alasan. Pertemuan kedua orang penting yang melibatkan dua keluarga, Yudha sempat berangan hubungan mereka akan lebih dekat, atau bahkan dijodohkan. Andai-andai yang bodoh, karena setelah mendengar kata istri, ingin rasanya pria itu memaki-maki.


Patah hati bahkan sebelum sempat memiliki. Bangs*t!


"Mas, sepertinya Yudha marah, boleh aku susul dia, aku butuh lima menit untuk meluruskan kesalahpahaman ini," pinta Wening mendadak tak enak hati melihat pria yang selalu dingin tapi baik itu.


"Tetap di sini jangan beranjak sedikit pun," peringat Seno cukup tenang.


"Maaf, adikku mungkin punya acara lain," sesal Naura yang sedari tadi merasa tidak nyaman.


"Tak mengapa, masih bisa dilanjutkan. Silahkan, sambil ngobrol santai saja," ujar Seno tersenyum ramah.


"Sayang, aku perlu ke toilet. Permisi sebentar!" pamit Afnan masih cukup shock. Apa maksud Seno, apa pria itu sengaja menjadikannya umpan untuk istrinya sendiri. Sial!


Beberapa menit berlalu, Afnan kembali duduk dengan wajah tenang. Walau tidak bisa dipungkiri, suasananya cukup menegangkan. Apalagi saat Naura, terang-terangan merasa tidak nyaman, karena wajah Wening begitu mirip dengan seseorang.


"Maaf, tapi kalian begitu mirip, aku kira adalah orang yang sama."


"Tidak masalah dimirip-miripin, asal jangan salah sebut nama, hanya orang yang pernah dekat sepertinya sampai hafal benar," sindir Seno menatap Afnan.


Ck, suamiku sok yes, dulu juga situ pernah salah manggil!