
Seno tersenyum mendapati sikap manja Wening yang sedikit malu-malu tapi terang-terangan. Gadis itu melentangkan kedua tangannya bersiap meminta gendong. Pria itu pun tentu langsung siaga satu menjadi suami idaman yang siap sedia membantu.
Pria itu menurunkan istrinya di lantai kamar mandi dengan pelan.
"Mas, keluar dulu, awas ya jangan ngintip!" ujar gadis itu memperingatkan.
"Tunggu di sini aja nggak pa-pa," jawab Seno santai lengkap dengan senyuman.
Masalahnya Wening yang tidak santai, yakali di kamar mandi ditungguin, jelas saja Wening tidak nyaman.
"Nggak mau, keluar Om!" tolaknya sembari mendorong dada pria itu agar menjauh. Tanpa diduga Seno malah nyosor ke bibirnya dengan cepat.
"Nah si, mulai deh mesumnya!" tukas Wening waswas. Gegara gojek di kamar mandi membuatnya celaka. Ia menjadi lebih waspada dan kalem.
"Kalau nggak mau dicium jangan panggil Om, panggil sesuai panggilan yang menyenangkan!" tegur Seno tersenyum.
Seketika Wening menyadari kesalahannya. Gadis itu hanya kagok saja lantaran belum terbiasa. Next time mungkin akan menjadi kebiasaan yang mewarnai rumah tangga mereka.
Seno pun menurut, keluar dari kamar menanti istrinya yang lumayan lama. Pria itu beranjak dari tempat duduk semula ketika mendapati pintu terbuka. Wening berjalan menggunakan satu kakinya, sunguh merepotkan sekali. Membuat Seno langsung membantunya hingga sampai ranjang.
"Mas, kayaknya perlu tongkat deh biar nggak pegel."
"Aku yang bakalan jadi kakimu untuk membuatmu nyaman berjalan."
"Haish ... serius lah, sehari dua hari mungkin, udah nggak begitu sakit, tapi tetep kalau buat jalan ngilu."
"Itu artinya suruh istirahat sebentar, jadi nikmati saja prosesnya."
"Nikmati sakitnya yang ada, orang nyeri gini. Dah sana Om balik, aku mau tidur!" usir Wening spontan.
"Kayaknya kamu ketagihan deh dicium aku, panggilannya Om melulu. Pengen banget dicumbu-cumbu ya?" Pria itu mengerling nakal.
"Apaan sih, aku belum terbiasa lah, jangan aneh-aneh!"
"Itu belum dimakan, masa udah mau tidur," ujarnya menunjuj nampan.
"Nanti aku makan, makasih udah dibawain ke kamar. Mas istirahat saja sana!"
"Nanti kalau aku balik ke kamarku, kalau butuh kamar mandi gimana?"
"Pikir nanti aja, yang jelas aku nggak nyaman kalau seranjang," ujar Wening jujur.
"Mulai deh, emang kenapa kalau seranjang? Aku jinak, Dek!" ujarnya gemas.
"Hihihi, kita lucu banget ya kalau panggilannya gini, berasa kaya pasangan romantis."
Seno menepuk jidatnya mendengar perkataan istrinya yang selalu tanpa tendeng aling-aling.
"Kan emang pasangan halal, harus banget tengkar terus, aku aja capek. Pulang kerja itu pinginnya tinggal yang adem dan damai, eh, kamunya banyak tingkah!"
Wening mulai menyambar piring di nampan. Lekas memasukkan suap demi suap ke mulutnya seraya menyimak keluh kesah suaminya yang mulai nyaman berbagi cerita.
"Bukannya kamu yang anti sama aku ya? Katanya nggak suka sama bocil, ngusir-ngusir loh kemarin?"
Astaga! Ini bocah masih ingat aja.
"Kamu diusir juga nggak mempan, mungkin sudah terlanjur nyaman," jawab Seno asal.
"Apaan, sakit hati loh Om digituin, nanti aku beneran bakalan pulang kok, kasihan Mbak Rara nggak jadi nikah," keluhnya sendu.
"Kasihan sama kakak kamu, tapi nggak kasihan sama aku. Keselku itu sangat wajar, ya kali nanamnya sama siapa nikahnya sama siapa?"
Wening terdiam beberapa saat, menatap Seno dengan datar. Membuat pria itu bertanya-tanya.
"Kenapa?" tanya pria itu serius.
"Penting banget aku jawab, udah jelas nyakitin gimana mau sukanya. Kalau sekedar kasihan mungkin iya, tapi kalau masalah perasaan udah nggak kayaknya."
"Secepat itu hilang? Kok mudah banget buat move on?"
"Terlanjur kecewa itu sakit, Dek, apa pun bentuknya, hati itu jelas terluka. Mungkin ini memang yang terbaik."
"Seandainya Mbak Rara hamil tanpa sengaja, apakah Mas bakalan berubah pikiran?"
"Maksudnya? Pelecehan gitu?"
"Aku nggak tahu kehidupan Mbak Rara di kota, Om yang paling deket karena pacarnya. Om bisa kasih tahu nggak, Mbak Rara berteman sama siapa aja."
"Emangnya kalau aku kasih tahu, kamu mau apa? Nggak usah ikut campur urusan orang dewasa."
"Om, nggak ngerti banget rasanya jadi ibu dan bapak, bahkan beliau sampai pindah rumah karena Mbak Rara hamil di luar nikah. Padahal berharap banget setelah Om gagal menikahi, ekspektasi aku ada seorang pria yang datang dengan senang hati mau bertanggung jawab, karena memang mengakui sebagai ayahnya. Sayang sekali haluku terlalu tinggi, ini pasti gegara sering baca novel gini nih."
"Orang tuamu pindah? Ke mana?"
"Ke rumah mbah yang di Jogja, jauh. Huhuhu, aku kalau pulang kampung sekarang lebih jauh. Kalau Mbak Rara, tetep nggak mau cerita, aku jadi makin sedih."
Rupanya gadis belia yang selalu petakilan, dan bar-barnya nggak ketulungan itu sungguh penyayang keluarga. Pantas saja Wening kalau Seno perhatikan akhir-akhir ini sering murung, apalagi setelah berkomunikasi dengan orang tuanya.
"Kalau suatu hari nanti Mbak Rara kasih tahu, atau Wening yang tahu sendiri siapa pria yang sudah membuatnya hamil, aku bakalan menyeretnya, membawa pria itu untuk bertanggung jawab."
"Emang berani? Kalau cowoknya nggak cinta, atau terlebih pria beristri gimana? Hayo!"
"Ih ... Om kok ngomongnya gitu, ya aku bakalan kasih tahu pokoknya kalau dia itu brengsek. Bikin hidup Mbak Rara berantakan, dan bikin orang tua aku malu, sedih juga."
"Kamu nggak usah mikir yang berat-berat, fokus aja sama sekolah, belajar yang bener buat ujian. Setelahnya mikirin juga hubungan kita."
"Apanya yang harus dipikirin tentang hubungan kita, biasa aja, Om masih galak dan mesum. Aku yang masih ingin begini-begini saja."
Lama-lama ngomong sama bocil memang membuat tengsi naik. Mudah stress, dan migran. Tidak juga melulu nurut, tapi perkataannya selalu mematahkan persendian yang mulai punya semangat hidup setelah patah hati yang meluluh lantahkan.
"Am om am om, buka!"
"Eh, jangan becanda deh, dimaafin aja, nanti beneran boleh kalau udah lulus, aku masih belum siap."
"Banyak kali yang ciuman doang, emang masalah?"
"Enggak juga sih, harus banget dipraktekin setiap hari, saat dan waktu kah?"
"Iya, lebih tepatnya kalau aku lagi pingin. Jadi makin deh romantisnya."
"Ngomong apaan sih, nanti nglunjak, nggak mau," ujar perempuan itu seraya menaruh piring yang isinya habis tak tersisa. Makan dengan mengobrol yang tadinya malas bisa lenyap juga.
"Dek," panggil pria itu menatap lembut.
Dih ... natapnya gitu banget. Please ... aku deg degan kalau gini.
"Apaan?" jawabnya kaku bin grogi.
"Aku tidur di sini ya, atau kamu mau pindah kamar aku aja."
"Nggak dimesumin, 'kan? Nanti aku lagi tidur digrepe-*****!"
"Nggak kayaknya, kan belum dicoba."
"Dih ... nggak bisa dipercaya banget dari nada bicaranya. Meresahkan!"
"Kamu lebih meresahkan, apa banget cuma bisa dilihat tanpa bisa disentuh. Kamu kira barang antik apa? Suami juga butuh asupan energi yang nyata."
"Emang perasaan Om sekarang ke aku gimana?"