Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 89


"Waalaikumsalam ....," jawab Wening senyam-senyum sendiri melepas keberangkatan suaminya.


Mood yang bagus membuat Seno maupun Wening mengawali hari ini dengan sumringah. Selepas dari kampus, Wening langsung pulang sesuai dengan mandat suaminya. Rehat sejenak karena merasa lelah, setelahnya baru packing barang yang akan dibawa ke Jogja, termasuk pakaian suaminya.


Wening sempat menelepon ibunya, namun tak kunjung diangkat. Membuat perempuan itu mendadak gelisah galau merana dan bertanya dalam hati.


"Ibu ngomong apa ya sama Mas Seno, ah bikin penasaran saja. Semoga ada kabar baik buat Mbak Rara," gumam Wening sedikit resah.


Kembali mengepack pakaian ke koper yang dijadikan satu dengan barang Ning. Usai berkemas, perempuan itu merasa lapar, sambil menunggu suami pulang, Ning ngemil sambil bersantai.


"Mbok, nanti nggak usah masak buat makan malam, saya mau ke Jogja sama bapak, bahkan nginep beberapa hari, titip rumah ya," pesan Wening pada asisten rumah tangganya.


"Mudik ya Non, senangnya, hati-hati di jalan!" ungkap Mbok Inah penuh doa.


"Iya Mbok makasih," jawab Wening sembari melanjutkan acara ngemilnya.


Usai mengisi perut dengan makanan ringan. Wening siap-siap mandi. Saat keluar hendak berganti, pas suaminya masuk ke kamar baru saja pulang dari kantor.


"Mas, sudah pulang?" sambut Wening mendekat. Membantu menarih tasnya lalu mencium tangan suaminya dengan takzim.


Seno membalasnya dengan ciuman sayang di pipinya dan bahunya yang polos menggoda lantaran hanya berbalut handuk sebatas dada.


"Wangi banget, baru mandi ya?" tanya pria itu mengendus mesra sembari melonggarkan dasinya.


"Iya, masih gini juga. Kamu mandi sekalian, udah aku siapin semuanya yang mau dibawa," ujar Wening membantu pria itu melepas dasinya.


"Oke, aku bersih-bersih dulu, nanti pesawatnya habis petang. Kita langsung berangkat."


"Siap Mas," jawab Wening sambil lalu menuju ruang ganti.


Usai membalut tubuhnya dengan rapih, perempuan itu juga menyiapkan ganti untuk suaminya. Derit pintu kamar mandi yang terbuka, mencuri atensi perempuan itu yang saat ini tengah sibuk di depan meja rias memasangkan liptint ke bibirnya.


"Ini ganti buat aku, Dek?" tanya pria itu memastikan pakaia yang tersedia di atas ranjang.


"Hem ... kamu pakai itu Mas," jawab Wening tanpa menoleh. Masih sibuk merias diri.


Pria itu ganti pakaian di tempatnya, Wening sempat melirik tubuh suaminya yang aduhai. Sedikit bikin gagal fokus, tetapi langsung cepat tahu diri dan membuang pikiran manjanya.


"Dek, belum?"


"Udah, tinggal ngerapihin doang," jawab Wening belum beranjak dari depan kaca.


"Sini aku keringin rambut kamu," ujar perempuan itu perhatian.


Seno menurut, duduk di kursi sementara Wening ganti berdiri. Mengusak lembut rambut suaminya dengan handuk kecil. Lalu menyisirnya sesuai gaya yang biasa dipakai suaminya.


"Done, udah ganteng," puji perempuan itu tersenyum.


Seno balas tersenyum, berdiri seraya menyambar satu kecupan.


"Berangkat?"


"Nunggu jemputan, Wahyu lagi otw. Sholat di jalan aja nggak pa-pa, waktunya nggak singkron, nanggung," ujar pria itu meneliti jam di tanganya.


Mereka menggunakan penerbangan malam jam setengah delapan. Baru sampai Jogja sekitar jam sembilan sampai rumah Bu Ana.


Rumah nampak sepi, hanya ada ibu dan suara tangisan bayi. Sudah tiga hari Emir dibawa pulang ke rumah. Sedang Pak Tomo tengah berganti jaga Rara di rumah sakit yang tak kunjung pulih.


"Assalamu'alaikum ... Bu!" salam Wening dan Seno memasuki rumah yang cukup sederhana namun terasa nyaman.


"Waalaikumsalam ... alhamdulillah sudah sampai," jawab Bu Ana dengan binar lega dan bahagia menyambut kedatangan putri dan menantunya.


"Itu kenapa Emir rewel?" tanya Ning meneliti bayi mungil itu dalam gendongan ibunya.


Benar saja, perjalanan dari luar kadang membawa banyak kuman dan virus. Perempuan itu pun bebersih dulu sekalian lalu mengganti pakaiannya dengan yang bersih. Seno pun sama, mengikuti jejak istrinya, baru mendekati ibu yang tengah asyik mengobrol bersama Ning sambil menggendong baby Emir.


"Bisa Dek?" tanya Seno sedikit ragu. Mengingat di rumah masih begitu manja.


"Bisa, pasti bisa dikit-dikit, dia sangat lucu Mas," ungkap perempuan itu sembari memberi susu dalam botol.


"Bagaimana keadaan Rara, Bu?" tanya Seno membuka sesi perkataan.


"Belum ada kemajuan, kemarin bahkan sempet kritis dan tadi sore waktu bapak telepon belum ada perubahan."


"Semoga lekas sembuh, kasihan sekali baby Emir," ucap Seno tak tega juga membiarkan bayi mungil itu tanpa kasih sayang dari orang tuanya.


Kasihan ibu juga yang merawat, ditambah harus bolak-balik mengurusi Rara di rumah sakit.


"Kami siap jadi orang tua sambung Emir, Bu, insya Allah akan kami jaga dan urus dengan sepenuh hati," ungkap Seno begitu saja yang membuat Wening sedikit tercengang. Mereka bahkan belum membahas lagi sejak kemarin.


"Beneran Mas, kamu ngebolehin aku ngerawat Emir?" tanya Wening haru. Merasa berterima kasih pada suaminya yang sudah berbesar hati dan bersedia menjadi orang tua sambung untuk anaknya.


"Apa ada laki-laki yang datang, Bu, sejak kemarin?" tanya Wening memastikan. Siapa tahu saja Om Afnan menrmui keluarganya.


"Tidak ada, ibu sebenarnya masih sanggup merawat Emir, hanya saja mungkin tidak setlaten orang muda."


Wening menatap wajah renta yang bersahaja itu dengan mata berkaca-kaca. Kasihan ibunya yang tak lagi muda itu harus direpotkan dengan mengurusi bayi, pasti sangat kerepotan.


"Ibu tenang aja ya, kami yang akan merawat Emir," ucap Seno kembali menyakinkan.


Sejak kedatangannya baby Emir langsung ikut Wening. Bahkan mulai malam ini mulai tidur di kamarnya. Perempuan sembilan belas tahun itu mulai sibuk belajar cara meracik susu sesuai takaran. Yang tentu saja disesuaikan dengan suhu air hangat yang pas untuk bayi.


Semalam baby Emir tidak rewel, bahkan kata ibu, hari-hari sebelumnya jika malam selalu rewel. Membuat perempuan sepuh itu begitu prihatin, dan kadang tidak bisa istirahat.


Bahkan hingga pagi menjelang, baby Emir terlihat anteng dan tertidur pulas.


"Mas, bangun sudah siang," ucap Wening mengguncang bahu suaminya.


"Hmm ... sudah pagi ya?" ujar Seno bangkit terduduk.


"Kamu udah mandi?"


"Iya, kamu mau kopi atau teh," tawar Wening pada suaminya.


"Susu murni, ada?" seloroh pria itu sengaja.


"Ada, meres dulu tuh di rumah Pak RW, budidaya sapi perah," jawab Wening menunjuk salah satu perangkat dusun sambil tersenyum. Suaminya ada-ada saja kalau lagi mode kangen. Hahaha.


"Kamu mendadak perhatian banget kalau di kampung. Semalam tidur jam berapa? Apa Emir rewel?" tanya Seno yang pamit istirahat lebih awal.


"Enggak kok, kamu tidur aku nyusul, kasih susu Emir dulu. Alhamdulillah nggak rewel, mungkin merasa nyaman. Terima kasih Mas atas pengertiannya, sudah menerima Emir menjadi bagian dari keluarga kita."


"Sama-sama, semoga kita cepet juga ya diberi momongan, biar rumah kita nantinya makin ramai. Nggak usah di KB, repot sekalian, nanti aku cariin yang khusus buat asuh Emir," ujar Seno sudah mempertimbangkan dan menyiapkan semuanya.


.


Bersambung


.


Gaes sambil nunggu novel ini up, mampir di karya temanku yuk!