
Keduanya jelas kaget, dan pastinya tak terduga. Apalagi Seno, tidak pernah menyangka istri kecilnya itu mengenal teman suaminya.
"Pernah ketemu, nggak kenal tahu aja," jawab Wening benar adanya.
Afnan tersenyum lucu dengan tanggapan jujur gadis imut yang diduga pacar adik iparnya itu. Sekilas, ia begitu mirip dengan seseorang sehingga mencuri atensinya.
"Iya, pernah ketemu, kamu main ke rumah, Yuda bilang kamu pac—"
"Om ngapain di sini?" sela Wening cepat. Sebelum menyelesaikan perkataannya yang semakin ngawur saja.
Ya ampun ... dasar mulut ember kurang kerjaan. Aku baru aja manis nih sama suami, bisa perang lagi gegara om-om ngeselin pisan!
"Urusan bisnis, kalian kok bisa bareng? Eh tunggu, tadi lo bilang istri? Calon istri kah maksudnya?" tanya Afnan mengarah ke Seno.
Pria itu masih sedikit shock dengan jawaban keduanya, berusaha menahan diri untuk tidak mengambil hati. Nanti ia akan klarifikasi sendiri terhadap istri bocahnya yang terdeteksi nakal sekali. Bisa-bisanya main ke rumah cowok tanpa pamit. Sungguh ini bukan lelucon, Wening harus dijewer lebih keras lagi.
"Istri Bro, bukan calon, kenapa? Ada yang salah?"
"Eh, beneran? Tapi ... bukannya dia masih sekolah?" tanya Afnan penuh selidik.
"Lo ganti calon istri? Gimana sih maksudnya? Sorry, nggak ada maksud, tapi setahu gue lo mau nikah sama Rara, 'kan?"
"Iya, dia masih sekolah, tetapi faktanya kami sudah menikah. Dia adiknya Rara, pernikahan aku dan Rara batal karena suatu hal, dan Wening bersedia menjadi istri gue."
Obrolan mereka terjeda lantaran pesanan mereka datang. Sarapan romantis yang sudah digadang-gadang terancam ambyar gegara kemunculan manusia tak terduga itu.
"Kenapa gagal? Kenapa malah nikahin anak di bawah umur?"
"Ish ... aku udah gede lah, umurku udah delapan belas tahun. Om, jangan ngadi-ngadi!" jawab Wening kesal.
Seno tersenyum mendengar jawaban istrinya yang sebenarnya ditunjukkan pada dirinya. Gadis itu memang selalu menggemaskan dengan kejujurannya.
"Terus Rara gimana? Maksudku kenapa kalian gagal nikah?" tanya Afnan justru ingin tahu.
"Itu menjadi rahasia keluarga, yang jelas bukan jodohnya," jawab Seno tak ingin mengumbar aib mantan kekasih sekaligus kakak iparnya.
"Ada kendala gegara pria brengsek yang tidak mau tanggung jawab. Kejam sekali pria itu, habis manis sepah dibuang. Kurang ajar sekali, pasti kena karmanya," sindir Wening sembari menggertak sendok ke piringnya lantaran kesal. Menatap tajam pria terduga di depannya.
"Maksudnya?" tanya Afnan dengan wajah yang jelas berbeda. Menjadi tidak tenang, dan merasa ada sesuatu.
"Dek, makan!" titah pria itu lembut.
"Nggak napsu makan, kenyang," jawabnya dengan tatapan tajam pada Afnan.
"Mas, aku ganti menu, bisa tolong pesenin lainnya nggak? Ini tiba-tiba bikin aku mual!"
"Oke, bentar aku ganti menunya," ujar pria itu menekan sabar. Sebenarnya ia marah, tetapi tidak mungkin juga marah-marah di depan Afnan. Bisa mengira gagal move on dengan Rara lantaran menikahi gadis belia.
Setelah Seno beranjak, keduanya langsung saling tatap dengan wajah sengit dan tanda tanya.
"Kamu beneran adiknya Rara? Dia pindah ke mana? Kampung yang dulu kan di Bogor, ada suatu hal yang belum aku selesaikan? Bisa minta tolong minta nomor ponselnya?" pinta Afnan di luar ekspektasi.
"Beneran lah, muka aku aja mirip, makanya Om pas lihat aku pertama kali langsung notice. Mbak Rara diusir dari kampung, gegara pria brengsek yang menghamilinya dan tidak mau bertanggung jawab," jawab Wening setajam scapel.
Uhuks
Afnan sampai tersedak minuman yang sedang ia aliri ke mulutnya. Itu benar-benar ia dengar dengan nyata, dari mulut asli adiknya.
"Beneran? Bagi nomor ponselmu, nanti kirimi nomor kakakmu. Aku harus ketemu."
"Ada urusan apa?"
"Kalian ngapain?" tanya Seno menatap tajam istrinya kedapatan membagi kode QR pada sahabatnya.
"Nggak ada, ini si Om cuma mau minta nomor ponselku. Buat apa Om?" tanya Wening yang membuat Afnan melotot, demi mangkir dari kemurkaan suaminya.
Astaga! Istri orang jujur amat. Cepet tua pasti Seno nikah dengan bocah bar-bar ini.
"Iya nih, nggak pa-pa kan? Cuma nambah kontak teman, lagian udah tahu status kalian, nggak bakalan kenapa-napa," jawab pria itu cukup tenang.
"Kamu dalam masalah!" bisik Seno gemas.
"Iya Mas, aku pasrah kan seluruh hidupku, nanti bakalan aku jelasin," balas Wening berbisik.
Sarapan yang diwarnai dengan berkongsi hati tidak lah membuatnya kenyang melainkan serasa ingin muntah.
"Aku mual, udah kenyang," ujar Wening berdiri.
Pikirannya yang kacau sepertinya berhasil membuat asam lambung naik dan menyebabkan perasaannya kacau. Lengkap sudah diiringi mual, pusing, bercampur datang bulan, menyebabkan ingin meledak.
"Jangan-jangan istrimu hamil?" tanya Afnan menduga dengan seenak jidat.
"Hamil? Ya nggak masalah yang penting Mas Seno tanggung jawab, berani berbuat berani tanggung jawab. Menikahinya."
"Beneran hamilin adiknya? Gagal nikah sama kakaknya karena udah hamilin adiknya?" tanya pria itu cukup menohok sampai membuat atensi sekitar menyorot ke mejanya.
Seno jelas melotot garang, speechless dengan jawaban Wening dan tuduhan Afnan yang tak mendasar.
"Om yang harus tanggung jawab, ngeselin banget sih jadi cowok!" tuduh Wening emosi.